Published On: Wed, Oct 23rd, 2013

Al-Qur’an Membangaun Masyarakat Ideal

Al-Qur’an Membangaun Masyarakat IdealMukadimah
Dakwah Al Qur’an  bertujuan untuk mendirikan komunitas manusia yang dalam menata kehidupannya senantiasa mengacu kepada nilai-nilai dan manhaj-manhaj yang diturunkan oleh Allah Sebagai Pencipnya Yang Maha Mengetahui karakter ciptaan-Nya. Masyarakat yang dibina oleh dakwah Al Qur’an itu adalah komunitas manusia yang anggotanya memiliki kesholehan pribadi yang merupakan akumulasi dari keyakian kepada ketuhanan Allah SWT semata yang berlandaskan atas ilmu, dan keyakinan itu diaplikasaikan dalam bentuk sikap ( amal sholeh ). Dan masyarakat ini tidak ditugaskan untuk memonopoli kebaikan dan cahaya  bagi dirinya sendiri. Sebaliknya, setelah ia mendapatkan cahaya  Allah SWT, ia bertugas memberikan cahaya hidayah itu kepada orang lain, sehingga mereka sama-sama mulia di hadapan Allah. Dan masyarakat ( umat ) yang tampil tidak hanya bagi kebaikan dirinya sendiri, namun ia membawa kebaikan, hidayah, memperbaiki, keadilan, dan senantiasa berusaha semaksimal mungkin untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan  menuju cahaya Allah. Dan dengan karakter itulah Allah memberikan kebaikan padanya dan menjadi masyarakat ideal. Allah berfirman: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.….” ( QS.al Imron: 110 )

Metode dakwah Al Qur’an dalam membangun masyarakat ideal
Dalam rangka menunaikan tugasnya untuk membentuk masyarakat ideal, dakwah Al Qur’an melakukan  beberapa hal yang sekaligus merupakan metodologinya untuk mencapai tujuan itu, yaitu:

1. Membebaskan manusia dari perbudakan sesama manusia
Prinsip pertama ini adalah bahwa Islam dengan prinsip dakwahnya untuk menegakkan tauhid secara murni dan memerangi kemusyrikan secara tuntas, dan membebaskan penghambaan manusia kepada sesama manusia dan atau terhadap benda, hukum, pemikiran, aliran, golongan dan malahan terhadap diri sendiri.

Islam datang untuk menjelaskan kepada mnusia tentang tuhan-tuhan palsu dan ketidak berdayaan mereka untuk memberikan kemanfaatan dan menolak kemadhorotan. Dan oleh karenanya, penghambaan manusia terhadapnya merupakan penghambaan yang bathil.

Allah SWT berfirman: “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan-Tuhan selain Allah, dan (juga mereka menjadikan Tuhan ) Al-Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Ilah Yang Maha Esa; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.”  (QS. at Taubah: 31)

Dan ayat yang dijadikan penutup oleh Rasulullah saw ketika mengirim surat kepada para penguasa, Caesar, Mukaukis, Najasyi, dan pemimpin-peminpin nasrani lainnya adalah firman Allah SWT: “Katakanlah:”Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Ilah selain Allah.Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka:”Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (QS. al Imron: 64)

2. Persaudaraan dan persamaan manusia
Ketika prinsip keesaan Allah sudah diterima secara benar dan mengkristal menjadi keyakinan yang berlandaskan atas ilmu, maka Al Qur’an mengikat pengikut tauhid itu dengan satu ikatan persaudaraan yang sangat kokoh. Dan karena tauhid itulah manusia akan memiliki kesamaan di hadapan Tuhan Yang Esa Allah SWT. Persaudaraan ini dibangun di atas dua hal:

Pertama, bahwa seluruh manusia adalah hamba Allah Yang Esa. Dialah yang menciptakan manusia dengan baik dan manusia sejajar dalam tingkat penghambaan terhadap-Nya.

Kedua, seluruh manusia adalah anak-anak dari bapak yang satu. Manusia adalah anak cucu Adam as. walaupun berbeda warna kulit, bahasa, suku bangsa.

Prinsip inilah yang disampaikan oleh Rasulullah kepada umat Islam dalam haji wada’, haji perpisahan. Rasulullah saw bersabda: “Wahai manusia, sesungguhnya Tuhanmu satu, nenek moyangmu satu, kalian semua berasal dari Adam, dan Adam dari tanah. Tidak adakeistimewaan seorang Arab atas non-Arab, dan tidak pula si kulit putih terhadap sikulit hitam kecuali dengan taqwa.”  ( HR. Ahmad )

Allah berfirman:“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”(QS.al Hujuraat: 13)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Zaid bin Arqom bahwa Rasulullah saw membaca pada akhir setiap shalat doa ini:

“ Ya Allah Tuhan kami, dan Tuahn segala sesuatu dan Pemiliknya, aku bersaksi bahwa Engkau adalah Allah Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Mu.”

“Ya Allah Tuhan kami, Tuhan segala sesuatu dan Pemiliknya, aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Mudan utusan-Mu.”

“Ya Allah Tuhan kami, Tuhan segala sesuatu dan Pemiliknya, aku bersaksi bahwa hamba-hamba seluruhnya bersaudara.”

Dari doa nabi tadi mengandung tiga persaksian:

Pertama, persaksian kepada Allah atas keesaan-Nya.

Kedua, persaksian kepada Muhammad saw sebagai hamba Allah dan pengemban Risalah.

Ketiga, persaksian bahwa manusia seluruhnya adalah bersaudara. Dan persaudaraan ini sifatnya umum. Persaudraan yang terjalin atas tiga hal, yaitu kasih sayang, persamaan, dan saling menolong dan membantu.

Dan adapula persaudaraan yang sifatnya khusus, yaitu persaudaraan yang berlandaskan pada keimanan dan tauhid. Dan persaudaraan itu disebut ukhuwah imaniyah.

Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara” ( QS. al Hujurat: 10 )

Rasulullah bersabda: “ Seorang muslim adalah saudara muslim yang lainnya.” ( HR. Muslim )

3. Keadilan bagi seluruh manusia
Prinsip lain yang merupakan tugas Al Qur’an untuk menegakkannya adalah prinsip keadilan bagi seluruh manusia. Dalam penegakan keadilan ini, keadilan harus betul-betul diterapkan dengan tidak mebedakan suku, keturunan, status sosial dan jargon-jargon yang lain buatan manusia yang membedakan kelas manusia.

Allah berfirman: “Sesungguhnya Kai telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.” ( QS. al Hadiid: 25 )

Keadilan dalam  hukum pun harus diwujudkan saat memutuskan suatu perkara di antara manusia, walaupun dia bukan seorang muslim, malahan dengan musuhpun keadilan tetap harus tegak.

Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” ( QS. an Nisa: 58 )

dalam ayat lain Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang akamu kerjakan.” (QS. al Maidah: 8 )

Kaum muslimin telah mengejawantahkan  keadilan ini bagi bangsa-bangsa seluruhnya, pada masa kenabian, dan pada abad-abad pertama sejarah Islam yang merupakan abad-abad yang paling baik , secara umum. Kita mendapatkan Umar bin Khoththob memerintahkan seorang  koptik Mesir untuk membalas sebagai qishosh terhadap anak seorang gubernur Mesir saat itu, yaitu Amru bin Ash. Ia berkata kepada Amr dengan ucapan yang dicatat oleh sejarah sebagai bukti penegakan keadilan yang sebenarnya yang berbunyi,” Wahai Amru, sejak kapan engkau memperbudak manusia, padahal mereka dilahirkan oleh ibu-ibu mereka dalam keadaan merdeka.”

Perkataan Umar secara spontan ini akhirnya menjadi pembuka konvensi Hak-Hak Azasi manusia ( HAM ), dan undang-undang negara maju pada era kontemporer.

4. Perdamaian dunia
Misi lain yang harus ditegakkan oleh Al Qur’an adalah perdamaian, sebagai pengganti perang dan permusuhan. Dan misi perdamaian itu tercermin dari nama agama yang bersumber dari Al Qur’an itu sendiri yaitu al Islam, as Silmu, yang berarti damai.

Sejarah dakwah Islam menegaskan bahwa Islam mewasiatkan pemeluknya untuk bersabar menahan tindakan-tindakan aniyaya yang mereka alami selama empat belas tahun lamanya di Mekkah. Mereka mendatangi Rsulullah saw, di antara mereka ada yang dipukuli dan disiksa oleh kaum musyrikin, mereka berkata kepada Rasulullah saw,” Izinkanlah kami, wahaoi Rasulullah untuk membela diri kami.” Rasulullah saw, menjawab permintaan mereka itu dengan membaca firman Allah: “Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat..!”  ( QS. an-Nisa: 77 )

Kaum muslimin bukanlah orang-orang yang haus darah, ssebagaimana digambarkan oleh sebagian musuh Islam, namun mereka berperang hanyalah mereka lakukan untuk membela diri, membela agama yang diinjak-injak kehormatannya, para pengikutnya diusir dari kampung halaman mereka, hartanya dirampas, dan kampung halaman yang mereka huni diserang dari luar, sebagaimana terjadi pada perang Uhud dan perang Khondaq, Al Qur’an mengomentari tentang perang Khondaq, “Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun.Dan Allah menghindarkan orang-orang mu’min dari peperangan.Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. al-Ahzab:25)

Komentar Al Qur’an ini,” Dan Allah menghindarkan orang-orang mu’min dari peperangan,” menjelaskan bahwa ini adalah nikmat bagi kaum muslimin, ketika Allah menolak musuh-musuh mereka dan tidak memuluskan kehendak mereka dalam peperangan. Allah SWT menahan terjadinya peperangan yang mengancam kaum muslimin serta memenangkan mereka dari pengaruh dan efek peperangan itu. Tidak mungkin komentar yang agung ini keluar dari sosok teroris, dari umat yang haus peperangan dan senang melihat darah musuh mengalir dengan deras.

Rasulullah bersabda: “ Nama yang paling buruk adalah harb (prang) dan muroh (pahit).” ( HR. Abu Daud )

Hadits ini menunjukkan dengan sejelas-jelasnya bahwa Nabi Muhammad pembawa risalah Al Qur’an sangat membenci peperangan. Dan sebaliknya menganjurkan kepada umatnya untuk menebarkan salam perdamaian.

5. Toleransi dengan Non Muslim
Di antara prinsip yang merupakan misi Islam adalah bertoleransi dengan non muslim, dan berinteraksi sosial dengan mereka dengan semangat kemanusiaan yang mulia, tidak fanatik, dan tidak membenci orang yang berbeda pendapat. Sikap ini dipraktekkan terhadap orang-orang non muslim yang berbeda sikap. Sementara Ahli Kitab Yahudi dan Nasrani-diperlakukan tersendiri dengan melihat mereka sebagai pemeluk agama langit juga. Oleh karena itu, Al Qur’an memberi nama mereka dengan “ Ahlulkitab “, dan membolehkan kaum muslimin memakan sembelihan mereka, serta mengawini wanita-wanita mereka.

Allah berfirman: “ Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberikanAl-Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al-Kitab sebelum kamu..” (  QS. al-Maidah: 5 )

Kita tidak menemukan toleransi yang sangat tinggi yang kita temukan sebagaimana yang kita temukan dalam Islam.

Al Qur’an membedakan dengan tegas dalam berinteraksi sosial antara dua golongan non muslim. Pertama, adalah kelompok al-muharibin, yaitu non muslim yang memerangi dan senantiasa menabuh genderang perang dan permusuhan dengan segala bentuknya terhadap kaum muslimin. Kedua, adalah non muslim yang damai terhadap kaum muslimin, dan tidak terlibat baik langsung maupun tidak langsung  dalam tindakan-tindakan permusuhan. Hal ini terdapat dalam dua ayat Al Qur’an yang menjadi undang-undang yang kuat dalam menentukan sikap dikala berinteraksi sosial kaum muslimin dengan non muslim.

Allah berfirman: “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.” ( QS. al-Mumtahanah: 8-9 )

Dua ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang musyrik dari kalangan paganis, seperti yang diterangkan dalam sebab turunnya ayat ini. Para Ahli Kitab lebih berhak mendapatkan perlakuan baik  dan keadilan disbanding orang-orang musyrik.

Penutup
Setelah cita cermati misi Al Qur’an dalam membangun masyarakat ideal melalui kajian yang sangat singkat dan sederhana ini, maka  semakin dalamlah keyakian kita bahwa masyarakat yang kita idam-idamkan selama ini hanya bisa terwujud dan terealisasi melalui pembinaan metode Al Qur’an. Dan masyarakat itulah yang kita butuhkan saat ini, dikala masyarakat yang ada tidak lagi menjadikan penyembahan terhadap Sang Pencipta Allah SWT menjadi misinya yang utama, bahkan menjadikan manusia, materi, kekuasaan berubah menjadi tuhan-tuhan palsu yang mereka jadikan sebagai tandingan dan sekutu bagi Allah, dan Maha Sucu Allah dari yang mereka lakukan, di samping itu api permusuhan mudah menyala dan persaudaraan hilang, nilai perdamaian diabaikan, keadilan tidak lagi ditegakkan yang berakibat pelanggaran HAM terus terjadi di setiap saat dan tempat, toleransi palsu digembor-gemborkan, namun hakikatnya kecurigaan selalu mereka tanamkan. Dan semuanya itu berakibat tatanan hidup masyarakat komtemporer carut marut dan  berantakan. Maka, solusinya adalah Al Qur’an, ia adalah pembentuk masyarakat yang ideal.

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Close
Dukung Kami !!!
Klik tombol dibawah ini, Terima Kasih