Published On: Tue, Dec 17th, 2013

Mukjizat Al-Qur’an

Mukjizat Al-Qur’anMukadimah

Sesungguhnya, dalam memahami kehidupan, kita akan memperbincangkan tentang mukjizat. Bahwasanya, mukjizat adalah ilmu tentang kenabian. Tidak ada kenabian tanpa mukjizat. Mukjizat berfungsi sebagai pembenaran terhadap seorang nabi, sekaligus sebagai dalil adanya Khalik (Pencipta). Jadi, apabila setiap orang yang menyatakan dirinya adalah nabi, tanpa disertai adanya mukjizat, maka kenabiannya bersifat batil. Nabi kita, Muhammad saw., adalah seorang Nabi Allah yang telah membuktikan kepada  umat mukjizat yang dibawanya, dan Al-Qur`an adalah mukjizatnya yang paling besar.

Definisi Mukjizat

Menurut bahasa, kata mukjizat berasal dari akar kata عجز lemah, yang kemudian terjadi penambahan sehingga memiliki pola أعجز . Perubahan pola kata ini menimbulkan perubahan makna. Pada pola kata عجز  tidak dibutuhkan objek (intransitif) yang bermakna ‘lemah’, tetapi setelah mengikuti pola أعجز dia berubah menjadi transitif, sehingga maknanya ‘melemahkan’. Kata mukjizat adalah isim fa’il (kata benda yang menunjukkan pelaku sebuah pekerjaan) dengan pola kata مفعلة. Maka, kata mukjizat berarti ‘membuat yang lemah’. Ketika kita mengatakan Al- Qur`an adalah mukjizat, berarti  Al-Qur`an membuat orang lemah untuk menandinginya.

Menurut terminologi Islam, mukjizat adalah sesuatu di luar kebiasaan, yang disertai dengan tantanngan kepada orang yang mengingkarinya, yang Allah tampakkan kepada seorang nabi atau rasul sebagai pembenaran atas pengakuannya sebagai nabi, dan orang-orang yang dijadikan obyek risalah itu tidak mungkin menandinginya.

Perbedaan antara Mukjizat dan Abqariyyah ( Kejeniusan yang Luar Biasa)

Abqariyyah berarti kemampuan yang dimiliki oleh seseorang dalam menghadapi sesuatu. Dia memiliki pendapat yang jitu, otentik, tepat, dan solutif, yang mengalir secara alami. Pendapatnya visioner dan tidak bisa ditandingi oleh orang lain. Sifat ‘abqari ini sudah diberikan oleh Rasulullah kepada Umar bin Khaththab, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam sahihnya. Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah saw. menyebutnya dengan istilah muhaddats, yang berarti ‘yang mendapatkan ilham untuk mencapai kebenaran selain kenabian’. Dengan demikian, sifat abqariyyah ini cocok dikenakan oleh orang yang memperoleh inspirasi untuk mendapatkan kebenaran dari para sahabatnya, seperti Umar, Mu’awiyah, Khalid bin Walid,  Abu ‘Ubaidah, dan yang lainnya, dari orang yang memiliki sejarah hidup yang bersih dan berakhlak.

Adapun Nabi Muhammad saw., ia berada di atas sifat abqariyyah itu. Beliau melebihi orang jenius, lebih agung daripada setiap pemimpin yang hebat, lebih berani daripada seluruh pahlawan, lebih besar daripada setiap reformer di mana pun dia berada. Beliau, Rasulullah, sudah memiliki semua kelebihan dan kebaikan. Beliau berada di atas semuanya. Beliau adalah seorang nabi yang diberi wahyu. Beliau menyampaikan ajaran dari Allah SWT untuk seluruh umat manusia dan jin. Dari semua itu, jelaslah bagi kita bahwa mukjizat berbeda dengan abqariyyah.

Al-Qur`an Mukjizat Khalidah

Allah SWT telah menantang kaum kufar untuk membuat Al-Qur`an melalui tiga tahapan. 

Pertama, Allah menantang mereka untuk membuat Al-Qur`an tandingan secara keseluruhan. Allah berfirman, “Katakanlah: ‘Sesungguhnya, seandainya manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur`an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lainnya.’” (al-Israa`: 88)

Meskipun orang-orang Arab itu ahli bahasa, mereka tidak mampu menjawab tantangan ini, padahal ayat ini diulang-ulang setiap pagi dan sore dalam keramaian manusia, seolah-olah menabuh genderang tantangan. Namun, tetap saja orang-orang Arab tersebut tidak mampu melakukan apa pun terhadap Al-Qur`an dan menjawab tantangannya.

Kedua, Allah SWT menantang orang Arab untuk membuat sepuluh surah saja, seperti surah-surah dalam Al-Qur`an, seandainya mereka mampu dan berada di pihak yang benar. Allah SWT berfirman,

“Bahkan mereka mengatakan, ‘Muhammad telah membuat-buat Al-Qur`an itu.’ Katakanlah, ‘Kalau demikian, maka datangkanlah sepuluh surah-surah yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup memanggilnya selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar.’” (Huud: 13)

Mereka mengatakan bahwa Al-Qur`an merupakan buatan Muhammad, namun ketika mereka ditantang dengan ayat tadi, tidak seorang pun dari mereka yang mampu melakukannya.

Ketiga, ketika tantangan membuat sepuluh surah tidak mampu mereka lakukan, maka Allah menantang dengan jumlah yang lebih sedikit dari sebelumnya, yakni satu surah saja. Allah berfirman, “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang  Al-Qur`an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surah (saja) yang semisal Al-Qur`an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (al-Baqarah: 23)

Jelas, di sinilah letak kelemahan manusia untuk membuat surah yang serupa dengan Al-Qur`an, sekalipun surah yang terpendek, karena tidak seorang pun dari orang-orang ahli bahasa yang dapat membuatnya. Malahan, mereka mulai “rontok” di hadapan kemukjizatan Al-Qur`an.

Hal yang disebutkan di atas merupakan tahapan-tahapan tantangan Allah kepada manusia untuk membuat yang seperti Al-Qur`an. Telah nyata dan jelas bahwa tidak seorang pun dari mereka yang mampu melakukannya. Adapun tantangan itu masih berlaku sampai sekarang dan sampai hari akhir nanti. Semua ini menjelaskan kepada kita bahwa Al-Qur`an adalah mukjizat yang khalidah.

Kemukjizatan Al-Qur`an

Al-Imam al-Qurthubi, dalam tafsirnya, menjelaskan bahwa terdapat sepuluh bentuk bentuk kemukjizatan Al-Qur`an, yaitu sebagai berikut.

  1. Struktur linguistiknya (bahasa) yang indah, yang berbeda jauh dengan struktur bahasa Arab biasa.
  2. Gaya bahasanya yang berbeda dengan seluruh gaya bahasa orang Arab.
  3. Kekuatan bahasa yang dipergunakannya tidak mungkin dipakai oleh siapa pun dari makhluk-Nya.
  4. Pengayaan bahasa Arab, sehingga seseorang tidak mungkin berbuat sesuatu demi untuk disinkronisasikan dengan yang lainnya dalam penempatan satu kata atau huruf dalam sebuah kalimat.
  5. Pemberitaan tentang hal-hal yang telah terjadi kepada seseorang yang buta huruf, baik kisah-kisah para nabi maupun kisah-kisah umat-umat yang terdahulu.
  6. Tepat janji dengan hal-hal yang dapat diindra, seperti kemenangan dalam pertempuran, dan lain-lain.
  7. Pemberitahuan hal-hal yang gaib, yang tidak bisa dideteksi selain melalui wahyu.
  8. Al-Qur`an mencakup ilmu pengetahuan dan teknologi.
  9. Hukum-hukum dalam Al-Qur`an tegas oleh karena kuantitas dan kemuliaannya tidak mungkin dibuat oleh manusia.
  10. Tidak terdapat pertentangan sekecil apa pun dalam muatannya.      

Dari kesepuluh bentuk i’jaz qur’ani di atas, kita dapat mengelompokkannya menjadi dua bentuk:

Pertama, i’jaz yang berkaitan dengan Al-Qur`an itu sendiri;

Kedua, ash-sharfah (memalingkan manusia untuk menandinginya).

Di bawah ini kita akan membahas i’jaz yang berkaitan dengan Al-Qur`an itu sendiri, yang meliputi seperti berikut.

a. I’jaz Lughawi (Bahasa)
Allah SWT berkehendak untuk menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa kitab-Nya, dan ternyata, bahasa ini memiliki tabiat yang tidak dimiliki oleh bahasa lain. Komposisi bahasa Arab begitu  baku. Komposisi dan tata bahasa serta gaya bahasa Al-Qur`an sangat  berbeda dengan yang lainnya. Pembentukan sebuah kata, sebuah kalimat, frase, atau sebuah karya sastra selalu melalui lima proses:

  1. Penggabungan huruf yang satu dengan yang lainnya sehinggga membentuk sebuah kata, baik itu kata benda, kata kerja, ataupun kata bantu;
  2. Penggabungan kata-kata dengan sebagian yang lainnya sehingga membentuk kalimat sempurna. Kalimat-kalimat itu biasa digunakan orang untuk mengungkapkan kebutuhan mereka dalam kehidupan sehari-hari;
  3. Penggabungan kalimat-kalimat sempurna sehingga menjadi sebuah alinea dan akhirnya, membentuk sebuah komposisi bahasa yang baik;
  4. Apabila sudah terbentuk sebuah karya tulis, maka  kegiatan puitisasi mengalir sesuai dengan keahlian bahasa; dan
  5. Karya tulis  yang bersajak itu mengikuti kaidah-kaidah sastra yang disepakati oleh para ahli bahasa serta berlaku umum. Dengan demikian, sempurnalah sebuah karya sastra dengan lima tingkatan prosesnya, yang akhirnya akan menghasilkan karya yang monumental, baik berbentuk puisi, prosa, cerita, karya ilmiah, dan sebagainya.

Adapun Al-Qur`an tidak keluar dari proses tersebut. Al-Qur`an Al-Karim mengungguli kebaikan semua proses itu. Akan tetapi, kita mungkin saja mengatakan bahwa Al-Qur`an adalah puisi, prosa, atau karya ilmiah. Namun, Allah sendiri memberi nama: Kitabullah. Allah berfirman,

“… dan sesungguhnya, Al-Qur`an itu adalah kitab yang mulia, yang tidak datang kepadanya (Al-Qur`an) kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha  Bijaksana lagi Maha Terpuji.” (Fushshilat: 41-42)

b. I’jaz Ghaibi (Hal-hal Gaib)
Allah telah memberitakan kepada kita tentang beberapa hal yang gaib. Jika Dia mengatakan akan terjadi, maka terbukti hal itu terjadi, sebagaimana diberitakan. Perihal kejadian itu diketahui oleh semua orang, baik mukmin ataupun kafir. Di antara berita itu adalah sebagai berikut.

  1. Berita kemenangan kaum Muslimin, kemudian mereka menguasai
    Allah berfirman, “Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul, (yaitu) sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan. Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang.” (ash-Shaaffaat: 171-173)
  2. Berita kemenangan muslimin atas Rumawi dan Persia
    Pada pertempuran Khandaq, manakala kaum Muslimin menggali parit, mereka menemukan sebuah batu yang besar, yang mereka tidak mampu mengangkatnya. Mereka pun melaporkannya kepada Rasulullah saw.. Selanjutnya, Rasulullah mengambil martil dan mulailah beliau memukul batu itu seraya menyebut nama Allah. Maka, pecahlah sebagian batu tersebut. Beliau pun membaca takbir seraya berkata, “Kami diberi kunci-kunci negeri Syam. Demi Allah, aku melihat istananya yang merah, insya Allah.” Kemudian, beliau memukul untuk yang kedua kalinya, dan pecahlah sebagian yang lainnya. Beliau pun berkata seraya bertakbir, “Aku diberi kunci-kunci negeri Persia. Demi Allah, aku melihat istana Madain yang putih.” Kemudian, beliau  memukul untuk yang ketiga kalinya, dan beliau berkata sambil bertakbir, ”Aku diberi kunci-kunci negeri Yaman. Demi Allah, aku melihat pintu-pintu kota San’a.” Beliau menjanjikan kepada umatnya bahwa sesungguhnya kerajaannya akan sampai ke tempat-tempat yang disebutkan seraya mengulang-ulang firman Allah,

    “Allah telah menetapkan: ‘Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang.’ Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa.”
    (al-Mujaadilah: 21)

    “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal soleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar  akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (an-Nuur: 55)
  3. Berita kemenangan Romawi atas Persia
    Berita ini tidak ada kaitannya dengan orang Arab dan Semenanjung Arabia, meskipun termasuk rentetan kabar dari kedua berita yng terdahulu. Akan tetapi, berita ini berkaitan dengan perjalanan sebuah negara besar di masa itu serta perseteruannya dengan negara yang lain, yaitu negara Romawi dan Persia, yang akhirnya dimenangkan oleh Romawi. Allah berfirman,

    “Alif Laam Miim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang dalam beberapa tahun lagi. Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman.”
    (ar-Ruum: 1-4)
  4. Pemberitahuan tentang ishmah (penjagaan) Allah terhadap Rasul dari kejahatan manusia
    Allah memberitahukan kepada Nabi-Nya bahwa sesungguhnya Dia memeliharanya dari manusia, sehingga Nabi tidak takut kepada manusia. Allah berfirman,

    “…Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”
    (al-Maa-idah: 67)
  5. Pemberitahuan tentang Allah yang memelihara Al-Qur`an hingga hari kiamat
    Allah berfirman, “Sesungguhnya, Kami-lah yang menurunkan Al-Qur`an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (al-Hijr: 9)
  6. Pemberitahuan tentang ketidakmampuan manusia menandingi Al-Qur`an
    Allah berfirman, “Katakanlah: ‘Sesungguhnya, jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur`an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lainnya.” (al-Israa`: 88)
  7. Pemberitahuan tentang masuknya Nabi bersama sahabat ke kota Mekah
    Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil-Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka, Allah mengetahui apa yang  tiada kamu ketahui dan Dia memberikan  sebelum itu kemenangan yang dekat.”
    (al-Fat-h: 27)

c. I’jaz ‘Ilmi (Ilmu pengetahuan dan teknologi/iptek)
Dalam dunia yang semakin mengecil, sebagai akibat dari pesatnya perkembangan iptek dewasa ini, persaingan global semakin ketat dan pesat pada segala sektor kehidupan. Dalam persaingan global itu, hanya bangsa yang memiliki kemajuan iptek-lah yang mampu bersaing serta mengambil peran yang berarti. Di sini, umat Islam dituntut untuk berusaha dengan sungguh-sungguh dalam memanfaatkan iptek. Kesadaran akan iptek ini, bagi umat Islam, sangat berkaitan erat dengan keyakinan terhadap Al-Qur`an yang memiliki kemukjizatan yang bersifat iptek. Maka, sangatlah diharuskan bagi umat Islam mengetahui, mengkaji i’jaz ilmi dalam Al-Qur`an oleh karena pengertian iqra` (bacalah)—sebagaimana diisyaratkan di dalam surah Al-Qur`an yang pertama kali diturunkan— mengandung makna penelitian dan pendalaman, yang memicu, mendorong, serta membuahkan  berbagai kreasi dan inovasi dalam kehidupan umat manusia. Oleh karena itu, kaum Muslimin selain diwajibkan mampu membaca Al-Qur`an secara harfiah, juga diharapkan mampu memahami dan menghayati maknanya. Dengan demikian, umat akan dapat mengamalkan ajaran Islam dalam porsi dan posisi  yang setepat-tepatnya, sebenar-benarnya, dan sebaik-baiknya.

Sementara itu, begitu banyak informasi iptek yang terkandung di dalam Al-Qur`an yang dapat digali dan diselami secara ilmiah. Beberapa di antaranya adalah yang berhubungan dengan ilmu filsafat, astronomi, matematika, fisika, kimia, kesehatan, biologi, ekonomi, psikologi, hukum, arsitektur, geologi, strategi, dan kepemimpinan.

Di sini, kami akan memberikan beberapa contoh ayat yang berhubungan dengan iptek.

1. Isyarat-isyarat Al-Qur`an tentang geologi. Misalnya:

  • Ayat-ayat yang merujuk tentang gunung kepada suatu tanah yang terangkat secara tinggi, misalnya al-Baqarah: 260 dan Huud: 43;
  • Peranan gunung sebagai stabilisator permukaan luar bumi (atau lapisan kulit), misalnya al-Hijr: 19;
  • Bentuk bumi yang bulat, yakni pada Luqman: 29, al-A’raaf: 54, dan az-Zumar: 5.

2. Isyarat-isyarat Al-Qur`an tentang hukum pemisah permukaan laut, misalnya al-Furqaan: 53, ar-Rahmaan: 20-21.

3. Isyarat-isyarat Al-Qur`an tentang hukum gravitasi (ar-Ra’d: 2).

4. Isyarat-isyarat Al-Qur`an tentang astronomi (Yaasiin: 40, al-Furqaan: 62, Nuh: 16, Yunus: 5).

5. Isyarat-isyarat Al-Qur`an tentang kehidupan binatang (al-An’aam: 38).

6. Isyarat-isyarat Al-Qur`an tentang proses penciptan alam semesta (al-Anbiyaa`: 30).

7. Isyarat-isyarat Al-Qur`an tentang teori pengembangan alam semesta (adz-Dzaariyaat: 48).

8. Isyarat-isyarat Al-Qur`an tentang perubahan tekanan udara di daerah tinggi (al-An’aam: 125).

9. Isyarat-isyarat Al-Qur`an tentang biologi (adz-Dzaariyaat: 49, an-Najm: 45, az-Zukhruf: 12, ath-Thaariq: 5-7, az-Zumar: 6).

d. I’jaz Tasyri’i   (Perundang-undangan)
Umat manusia telah mengenal—sepanjang masa sejarah—berbagai doktrin, paradigma, sistem, dan tasyri’i (perundang-undangan) yang bertujuan tercapainya  kebahagiaan individu yang utama. Namun, tidak ada satu pun  darinya yang mencapai keindahan dan kebesaran seperti yang dicapai Al-Qur`an dalam kemukjizatan tasyri’i-nya.

Al-Qur`an memulai dengan pembinaan individu karena individu merupakan batu-bata masyarakat. Penegakan pendidikan individu ini di atas penyucian jiwa dan pemikulan rasa tanggung jawab. Dalam proses ini, Islam memulainya dari akidah seorang muslim, karena akidah yang bersih akan menyelamatkan dirinya dari kemusyikan. Apabila akidah seorang muslim sudah benar, maka ia wajib menerima segala syariat Al-Qur`an, baik menyangkut kewajiban ataupun ibadah, baik ibadah mahdhah maupun ghairu mahdhah. Semua ibadah itu bertujuan membentuk mukmin yang soleh, yang kesolehannya tidak dibatasi oleh batas geografis, waktu dan situasi. Di mana pun, kapan pun, bersama siapa pun, dia tetap soleh.

Dari pendidikan individu, Islam pindah  ke pembangunan  keluarga karena keluarga merupakan benih masyarakat. Maka, disyariatkan  perkawinan sebagai sarana pemenuhan gairah seksual dan kelangsungan populasi jenis manusia, yang ditegakkan atas dasar cinta yang suci, ketenteraman jiwa, dan pergaulan yang baik antara suami istri, dengan memelihara fungsi masing-masing.

Kemudian, datanglah sistem pemerintahan yang mengatur masyarakat Islam. Al-Qur`an telah menetapkan kaidah-kaidah pemerintahan Islam ini dalam bentuk yang paling ideal dan baik. Al-Qur`an juga menetapkan hukum hubungan internasional, dalam masa perang atau damai. Muamalah yang ditetapkan Islam ini merupakan sistem yang paling tinggi, yang dikenal pada masa peradaban manusia.

Ringkasnya, Al-Qur`an merupakan dustur tasyri’ paripurna yang menegakkan kehidupan manusia di atas dasar konsep yang paling utama. Kemukjizatan tasyri’-nya ini, bersama kemukjizatan ilmiah dan kemukjizatan bahasa serta ghaibi, akan senantiasa eksis untuk selamanya. Tidak seorang pun dapat mengingkari bahwa Al-Qur`an telah memberikan pengaruh besar yang dapat mengubah wajah sejarah dunia.

Latest posts by admin (see all)

About the Author

-

Displaying 1 Comments
Have Your Say
  1. iwan says:

    izin share admin…

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Close
Dukung Kami !!!
Klik tombol dibawah ini, Terima Kasih