Published On: Sun, Nov 24th, 2013

Pancaran Nur Ilahi (Surat An Nur)

Pancaran Nur Ilahi (Surat An Nur)A. Tentang Surat An Nur
Dalam surat An Nur disebutkan bahwa cahaya itu berhubungan langsung dengan Zat Allah, disebutkan pula dampak dan eksistensinya di dalam hati, sebagaimana tergambar dalam adab dan akhlak yang menjadi landasan bangunan surat ini. Yaitu akhlak individu, akhlak berkeluarga dan bermasyarakat, yang menyinari hati dan kehidupan. Dan Allah mengikat cahaya itu dengan cahaya yang menyinari alam semesta, karena keduanya bersumber dari Allah SWT, yang pertama menyinari ruh dan hati, sementara yang kedua menynari langit dan bumi.

Oleh karena itu, agar tetap sejalan antara dua cahaya, maka Allah SWT mewajibkan semua peraturan, batasan dan beban tentang adab dan akhlak untuk dijalankan oleh manusia sebagai makhluk yang pada dirinya terdapat hati dan ruh yang membutuhkan sinaran dan cahaya.

B. Akhlak Cahaya dan Cahaya Akhlak
Cahaya adalah energi yang menyinari semua ruang, kecuali pada ruang yang terhalangi oleh sampainya cahaya, kemudian energi itu mengalir dan berpindah kepada setiap makhluk yang ada pada ruangan itu, sehingga mereka mendapatkan kehidupan yang dinamis dan mampu menyesuaikan diri dengan setiap iarama musim yang sislih berganti. Demikian pula nur cahaya ilahi adalah energi bagi manusia, yang menyinari semua ruang hati dan kehidupannya, selama tidak ada hijab yang menglangi sampainya cahaya itu. Sehingga energi itu mengalir menjadi kekuatan iman yang mampu menghadapi setiap irama dinamika kehidupan.

Nah… dalam surat An Nur ini, Allah mewajibkan mengikuti semua petunjuk yang ada di dalamnya, agar cahaya Allah – yang akan menjadi kekuatan iman – tidak terhalangi oleh suatu apapun yang berpotensi menjadi hijab dalam menyinari hati dan ruh manusia. Adapun petunjuk-petunjuk itu adalah:

Pertama, hukum zina, berupa hukuman bagi yang melakukannya dan larangan bagi mukmin laki-laki dan perempuan menikah dengan orang-orang yang berzina.

Kedua, hukum menuduh orang lain berzina, berupa larangan menuduh, kecuali mampu mendatangkan empat saksi; dan petunjuk bagi suami yang menuduh isterinya berzina, dan petunjuk bagi istri yang menolak tuduhan suaminya.

Ketiga, hukum memilih pasangan hidup, yaitu laki-laki yang baik adalah pasangan perempuan yang baik pula, demikian sebaliknya, laki-laki yang jahat adalah pasangan perempuan yang jahat juga.

Keempat, adab-adab bertamu, yaitu keharusan meminta izin tuan rumah terlebih dahulu sebelum masuk, dan keharusan menerima keputusan tuan rumah, apabila ia tidak diizinkan bertamu; serta adab memasuki rumah yang tidak bertuan.

Kelima, adab-adab pergaulan antara laki-laki dan perempuan, yaitu perintah menundukkan pandangan tehadap lawan jenis, baik laki-laki maupun perempuan, dan adab-adab bagi perempuan dalam menggunakan perhiasan, serta kepada siapa saja yang boleh memperliatkan perhiasannya.

Keenam, perintah menikahkan laki-laki dan perempuan lajang yang saleh, tanpa memperhatikan aspek kondisi ekonomi mereka, sebab apabila mereka miskin, Allah berjanji membuat mereka jadi kaya; Allah juga melarang orang beriman memaksa budak-budaknya melacurkan diri.

Perhatikanlah, bahwa petunjuk pertama, kedua dan ketiga adalah pembersihan masyarakat orang-orang beriman dari hijab-hijab kotoran yang dapat menghalangi cahaya Allah ke setiap ruang hati, ruh dan kehidupan mereka. Sedang petunjuk keempat, kelima dan keenam adalah sarana pencegahan masyarakat orang-orang beriman dari muculnya hijab-hijab kotoran tersebut.

C. Dampak Cahaya Allah
Setelah orang-orang beriman menjalankan enam petunjuk di atas, dan setelah runtuh dan tercegah munculnya hijab-hijab penghalang cahaya, maka dapatlah kita menyaksikan dan merasakan betapa indah dan nikmatnya apabila dua cahaya bersatu berirngan dalam kehidupan ini. Cahaya pertama meberikan kehidupan kepada alam semesta, sehingga pohon-pohon tumbuh hijau dan berbuah, hewan-hewan dan manusia menikmati buah dan dedaunannya, demikian pula manusia menikmati hewan-hewan yang tumbuh sehat, sehingga pada gilirannya kehidupan ini akan tenteram dan damai, di mana makhluk hidup saling membutuhkan dalam sebuah hukum ekosistim yang telah ditetapkan Allah.

Tapi, cahaya pertama tidak cukup apabila cahaya kedua tidak menyinari hati manusia yang mendapatkan hak pengelolaan dan penggunaan alam dari Allah, karena kehidupan yang semestinya damai, akan menjadi kacau oleh perilaku manusia yang tidak taat aturan, karena memang demikian ‘bawaan’ manusia sejak awal penciptaannya, cenderung berbuat baik, dan cenderung pula berbuat jahat. Dan agar ia cenderung kepada yang pertama dan menjauhi yang kedua, ia membutuhkan petunjuk dan lingkungan, Allah SWT telah menyediakan petunjuk berupa cahaya-Nya, dan manusia yang berkewajiban mengadakan lingkungannya, yaitu taat kepada petunjuk tersebut.

Dan – sekali lagi – apabila telah seiring antara dua cahaya Allah dalam kehidupan manusia, maka Allah SWT menggambarkannya seperti pada ayat-ayat berikut ini.

الله نور السموات والأرض ، مثل نوره كمشكوة فيها مصباح ، المصباح في زجاجة ، الزجاجة كأنها كوكب دري يوقد من شجرة مباركة زيتونة لاشرقية ولاغربية يكاد زيتها يضيء ولو لم تمسسه نار ، نور على نور ، يهدي الله لنوره من يشاء ، ويضرب الله الأمثال للناس ، والله بكل شيء عليم .

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.Perumpamaan cahaya-Nya, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar.Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api.Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. 24:35)

في بيوت أذن الله أن ترفع ويذكر فيها اسمه يسبح له فيها بالغدو والآصال .

Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, (QS. 24:36)

رجال لاتلهيهم تجارة ولابيع عن ذكر الله وإقامم الصلاة وإيتاء الزكاة ، يخافون يوما تتقلب فيه القلوب والأبصار .

laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan membayarkan zakat.Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (QS. 24:37)

ليجزيهم الله أحسن ماعملوا ويزيدهم من فضله ، والله يرزق من يشاء بغير حساب .

Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka.Dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas. (QS. 24:38)

D. Dampak hilangnya Cahaya Allah
Sementara itu, apabila tidak seiring antara dua cahaya, maka kerusakan akan terjadi, alam yang teratur nan indah tidak lagi dapat dimanfaatkan dengan maksimal, melainkan cendrung memberontak, tidak bersahabat dengan manusia, cahaya Allah yang menyinari alam, yang tadinya adalah energi yang menghidupkan makhluk telah berubah menjadi energi yang menghancurkan, seperti apa yang kita saksikan dan rasakan dewasa ini.

Terjadinya pemanasan gelobal, mencairnya gunung-gunung salju di kutub utara dan selatan, ekstrimnya hujan yang menyebabkan banjir, ekstrimya kemarau yang mengakibatkan kekeringan dan kebakaran hutan, dan bergesernya siklus musim dari bulan-bulan biasanya adalah dampak ketidak seimbangan alam, dampak berubanhya fungsi energi cahaya Allah yang menyinari alam.

Sementara cahaya Allah yang menyinari hati manusia menghilang dari praktek kehidupan, ia hanya menjadi kitab suci yang disaklarkan, disimpan di lemari-lemari yang indah, ditulis dengan tinta emas, dilagukan pada musabaqah-musabaqah, dan pada akhirnya manusia hidup dalam keadaan tanpa aturan, kehidupan seperti inilah yang digambarkan Allah pada ayat-ayat berikut ini.

والذين كفروا أعمالهم كسراب بقيعة يحسبه الظمآن ماء حتى إذا جاءه لم يجده شيئا ووجد الله عنده فوفاه حسابه ، والله سريع الحساب .

Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun.Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amalnya dengan cukup dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya. (QS. 24:39)

أو كظلمات في بحر لجي يغشاه موج من فوقه سحاب ظلمات بعضها فوق بعض إذا يده لم يكد يراها ، ومن لم يجعل الله له نورا فما له من نور .

Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, hampir-hampir dia tiada dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun. (QS. 24:40)

E. Pesan Cahaya Allah
Maka apakah kita memilih dua cahaya Allah berdampingan, seiring dan seimbang menyinari kehidupan, dan kita hidup dalam kedamaian. atau memilih membut keduanya berpisah dan hanya ada satu cahaya yang menyinari alam, dan cahaya yang menyinari hati, kita tidak berkepentingan dengannya, sehingga kehidupan menjadi tidak terkendali. Terserah…. Silahkan pilih! Wallahu a’lam.

 

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Close
Dukung Kami !!!
Klik tombol dibawah ini, Terima Kasih