Published On: Fri, Sep 6th, 2013

Apa Arti Saya Berislam?

Apa Itu Islam?

Pertanyaan ini  penting untuk dijawab, bukan saja untuk meluruskan berbagai pemahaman tentang Islam yang selama ini salah, keliru atau kurang sempurna, tetapi juga untuk membangun komitmen keislaman yang lebih utuh dalam kehidupan sehari-hari kita. Yang terjadi selama ini adalah bukan saja ada kesenjangan antara pemahaman Islam kita dengan pemahaman generasi sahabat Rasulullah saw. mengenai Islam, tetapi juga ada kesenjangan antara Islam yang kita yakini sebagai “agama atau jalan hidup”, dengan perilaku sehari-hari kita sebagai “kenyataan hidup”.

Adapun Islam, secara  akar kata dalam Bahasa Arab, mempunyai arti sebagai berikut.

- Ketundukan                                                                     – Penyerahan diri

- Keselamatan                                                                   – Kedamaian 

- Kesejahteraan

Makna Islam yang berarti ketundukan dan penyerahan diri, akan kita temukan lewat ayat di bawah ini.

أفغير دين الله يبغون وله أسلم من في السموات والأرض طوعا وكرها وإليه يرجعون

“Maka, apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nyalah tunduk (menyerahkan diri) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada Allah-lah mereka dikembalikan.” (Ali ‘Imran: 83)

Adapun makna Islam yang berarti keselamatan, akan  kita temukan  dalam ayat di bawah ini.

يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيم

Dengan kitab itulah, Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (al-Maa-idah: 15-16)

Begitu pula mengenai makna  kedamaian dalam Islam, akan kita temukan—sebagai salah satu contoh, dalam ayat ini.

وَإِنْ جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ(61)

“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Anfaal: 61)

Sementara itu, makna kesejahteraan dalam Islam, akan kita temukan dalam ayat di bawah ini.

دَعْوَاهُمْ فِيهَا سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلَامٌ وَءَاخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ(10)

“Doa mereka di dalamnya ialah, “Subhanakallahumma” (Maha Suci Engkau, wahai Tuhan Kami), dan salam penghormatan mereka ialah, “Salam” (sejahtera dari segala bencana). Doa penutup mereka ialah “Alhamdulillahi Rabbil ‘aalamin”(segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam).” (Yunus: 9-10)

Oleh karena itu, berislam, berarti menundukkan dan menyerahkan diri sepenuhnya secara mutlak kepada Allah,  dan untuk Ia atur sesuai dengan kehendak-Nya. Adapun kehendak-kehendak Allah SWT itu tertuang secara utuh dalam agama yang Ia turunkan kepada umat manusia. Agama-Nya adalah petunjuk abadi dalam menjalani kehidupan manusia di muka bumi, yang diturunkan melalui perantara seorang Rasul, yaitu Muhammad saw. Kemudian, Allah SWT memberi nama agama itu “Islam”.

Maka dari itu, asas ketundukan dan penyerahan diri itu adalah pengakuan yang tulus dari lubuk hati, bahwa kita dan seluruh alam semesta adalah ciptaan Allah SWT. Oleh karena seluruh alam semesta adalah ciptaan Allah SWT, maka Ia pula yang berhak mengatur segenap ciptaan-Nya sesuai dengan kehendak-Nya.

Ruang Lingkup Islam

Selanjutnya, Allah SWT menjelaskan kehendak-kehendak-Nya dalam dua bentuk.

Pertama, kehendak Allah SWT yang bersifat pasti, mutlak, dan mengikat seluruh ciptaan-Nya, baik manusia maupun alam. Inilah yang kemudian kita sebut dengan “Sunnah Kauniyah”. Dalam pengertian ini, seluruh makhluk di jagad raya ini, telah menyatakan ketundukan dan penyerahan dirinya (berislam) kepada Allah SWT. Perhatikan firman Allah SWT berikut ini;

 “Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, pohon-pohon, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? Dan banyak diantara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Allah, maka tidak seorang pun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.”  (al-Hajj: 18)

Kedua, kehendak Allah SWT yang bersifat pilihan, yaitu yang berupa aturan-aturan dan pranata sistem bagi kehidupan manusia. Inilah yang kemudian kita sebut “Syariat atau Agama”, sebagaimana yang dimaksud Allah SWT  dalam firman-Nya.

ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

“Kemudian kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (al-Jaatsiyah: 18)

Melalui penjelasan di atas, manusia dan alam tidak bisa melepaskan diri dari kodratnya sebagai ciptaan Allah. Karena itu, setiap penolakan terhadap kehendak-kehendak Allah SWT—baik yang “kauniyah” maupun yang “syariah”, berarti pembangkangan terhadap Sang Pencipta, penyimpangan dari garis kebenaran, isolasi, dan berbenturan dengan alam. Ujung dari pembangkangan itu adalah bahwa manusia selamanya akan tertolak oleh Allah, alam semesta, dan  mengalami disharmoni dalam hubungan antar sesama manusia.

Simaklah, bagaimana Allah SWT menolak mereka yang membangkan dari-Nya.

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali ‘Imran: 85)

Simaklah juga, bagaimana alam menjadi pelit terhadap mereka.

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (al-A’raaf: 96)

Karenanya, kehendak-kehendak Allah SWT yang diturunkan dalam bentuk syariat atau aturan, dan pranata sistim bagi kehidupan manusia, maka itu berarti Islam—yang menjadi nama bagi syariat tersebut—adalah jalan hidup, atau sistem yang diturunkan Allah, supaya manusia menata kehidupannya dengan sistem tersebut.

Jadi, Islam bukan hanya ritual-ritual belaka yang kita lakukan sebagai bentuk ketundukan kepada Allah SWT. Islam jauh lebih luas daripada sekedar ritual belaka. Ia adalah sistem kehidupan yang lengkap dan paripurna, serta bersifat universal. Ia mengatur kehidupan kita, sejak kita bangun dari tidur, sampai kita tidur kembali. Ia menata kehidupan kita, baik sebagai individu maupun anggota masyarakat. Ia menata ibadah kita, seperti ia menata ekonomi dan politik kita. Ia menata hukum kita, seperti ia menata kehidupan sosial budaya kita. Ia adalah Qur`an dan pedang, masjid dan pasar, agama dan negara, iman dan ilmu, serta ibadah dan seni.

Latest posts by admin (see all)

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Close
Dukung Kami !!!
Klik tombol dibawah ini, Terima Kasih