Published On: Wed, Dec 11th, 2013

Menuju Tangga Kesempurnaan Islam

Menuju Tangga Kesempurnaan IslamAllah Yang Menamai Anda Muslim
Beruntunglah anda, karena ternyata Allahlah yang menamai anda sebagai muslim sejak dahulu. Perhatikan Firman-Nya berikut ini; “Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (QS 22:78)

Hal ini apabila anda melakukan serangkaian variable seperti ini; memilih Islam sebagai agama dan jalan kehidupan dengan kesadaran akal yang penuh dan dengan dorongan persaan yang tulus dan ikhlas, serta menjalaninya sebagai sikap dan prilaku dalam kehidupan pribadi, keluarga, social dan pekerjaan. Inilah yang dimaksud Firman Allah SWT berikut ini; “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS 2:208)

Manusia muslim harus tunduk dan patuh pada nilai-nilai kebenaran yang ada dalam ajaran Islam, ia harus berserah diri dan siap untuk mengikuti segala ketentuan dan kebijakan yang telah digariskan Oleh Rabbul Jalil dalam setiap ayat-ayat-Nya dan ia harus senantiasa mengimplementasikan sunnah-sunnah Rasul-Nya dalam lembaran kehidupannya. Ia tidak pernah mengenal syi’ar (slogan) lain dalam hidupnya kecuali syi’ar ini, “Sami’naa wa ‘Atha’naa” (kami dengar dan kami ta’ati) 

Nilai-nilai luhur Islam harus mengkristal dalam seluruh unsur yang ada dalam diri seorang muslim yaitu; akal, jiwa dan prilaku. Apa yang dipahami dan dipilih harus selaras dengan kebenaran Islam. Apa yang diyakini harus mengakar pada nilai-nilai keimanan dan apa yang diaplikasikan dan yang diimplementasikan harus benar-benar lahir dari pemahaman dan keyakinan akan nilai-nilai kebenaran, kebaikan dan keindahan Islam yang ada dalam Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Dari sini seorang muslim akan menjadi mukmin haqqan dan model manusia ideal. Seorang mukmin yang akalnya tidak terjangkit penyakit “syubhat”, yang jiwanya bebas dari penyakit “syahwat” dan yang prilakunya sejalan dan selaras dengan nilai-nilai ilahiah. Apapun jabatannya dan siapapun orangnya, ia akan tampil mempesona dengan pribadi luhur yang telah tershibghat (tercelup) nilai-nilai kebenaran Islam.

Tiga Tangga Kesempurnaan Berislam   
Untuk mengaktualisasikan Islam dalam berbagai dimensi kehidupan atau untuk menuju muslim ideal dan menjadi mukmin yang sebenarnya, setiap kita harus melalui tiga tangga ini; Tangga Afiliasi, Tangga Partisipasi dan Tangga Kontribusi.

Tangga Afiliasi
Dalam tangga ini, seorang muslim harus memahami dengan baik, mengapa ia memilih Islam sebagai agama dan jalan hidup, yang akhirnya mampu membentuk komitmen akidah terhadap nilai-nilai Islam itu sendiri; memahami satuan-satuan ajaran Islam sebagai system dan tatanan kehidupan sehingga ia mampu membaca dan memahami berbagai peristiwa dan masalah kehidupan dalam kaca mata Islam, yang akhirnya mampu membentuk komitmen syari’ah dalam dirinya; menjadikan Islam sebagai akhlak dan prilaku sehari-hari, sebagai pribadi, dalam keluarga, dalam masyarakat dan dalam pekerjaan, yang akhirnya mampu membentuk komitmen akhlak dalam dirinya. Inilah tahapan iman dan amal shaleh. Dan di sini seorang muslim menjadi shaleh untuk dirinya sendiri atau “nafi’un linafsihi” (bermanfaat untuk dirinya sendiri). Maka perlu dibutuhkan tangga berislam selanjutnya yaitu; tangga partisipasi.

Tangga Partisipasi
Setelah seorang muslim melalui tahapan diri sendiri dalam lingkaran khusyu’ iman dan amal shaleh, ia mulai terlibat dalam kehidupan social masyarakat muslim sebagai salah satu peserta social yang sadar dan proaktif. Ada tiga hal yang harus dilakukan olehnya dalam tangga ini;

  1. Memiliki rasa keprihatinan yang tinggi terhadap masalah-masalah kaum muslimin, sebab Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang tidak memperhatikan urusan kaum muslimin, maka ia bukan dari golongan mereka.” (HR ) “Orang yang berjalan kepada para janda dan fakir miskin (pahalanya) seperti orang yang berjihad di jalan Allah…” (Muttafaqun ‘Alaih dari Abi Hurairah)
  2. Memiliki sejumlah social-humaniora yang dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat, agar keterlibatannya dilakukan secara sadar, terarah dan dewasa. “Berilmulah sebelum beramal”, kata Imam Al-Bukhari.
  3. Ia juga harus mengetahui dan menguasai peta dan medan lingkungan social budaya di mana ia hidup, agar ia tahu cara memasuki dan merubah masyarakat ke arah Islam. Di sini, ia menjadi shalih mushlih, muslim yang senantiasa memperhatikan dan memainkan peran seorang da’I dalam situasi dan kondisi apapun. Jiwanya tidak pernah tenang sebelum melakukan amar ma’ruf nahi munkar, matanya tidak pernah bisa terpejam selama dalam lembaran kehidupan sosial di sekitarnya masih ada noda kemaksiatan dan kemungkaran dan waktu istirahatnya telah berlalu di saat ia meyakini bahwa setiap kebenaran yang diyakini harus ditransfer dari ruang kepribadiannya menuju ruang sosial dan setiap kebaikan yang dilakukan harus menjadi kebaikan kolektif.    

Maka untuk melengkapi peran seorang muslim yang terjun dalam bidang dakwah, ia harus senantiasa memiliki zaad (bekal) atau kontribusi-kontribusi positif yang selalu dibutuhkan dalam masyarakatnya. Oleh karena itu, ia harus melangkah menuju tangga berikutnya yaitu, tangga kontribusi.

Tangga Kontribusi
Dalam tangga ini, ia harus memiliki kontribusi-kontribusi positif yang bisa disumbangkan kepada masyarakatnya. Karena ia tidak bisa menjadi segalanya, dan takkan pernah sanggup melakukan segalanya, ia harus tahu di mana letak strength point untuk mulai memberi karya yang berarti bagi Islam dan ummatnya. Ada empat bidang kontribusi yang memungkinkan seorang muslim memiliki strength point di antaranya. Empat bidang kontribusi itu adalah

  1. kontribusi pemikiran/ilmiah (menjadi pemikir atau ulama)
    “….niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa
    yang kamu kerjakan.” (QS 58:11)
    “…Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima  pelajaran.” (QS 39:9)
  2. kontribusi managerial (menjadi pemimpin)
    “Hai Daud,   sesungguhnya  Kami  menjadikan  kamu   khalifah (penguasa)  di muka bumi,  maka  berilah keputusan  (perkara)  di antara  manusia dengan  adil dan  janganlah  kamu mengikuti  hawa nafsu,   karena  ia  akan  menyesatkan  kamu  dari  jalan  Allah. Sesungguhnya  orang-orang  yang  sesat  darin  jalan  Allah  akan mendapat  azab   yang  berat,    karena  mereka   melupakan  hari perhitungan.” (QS 38:26)
  3. kontribusi finansial (menjadi entrepreneur)
    “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS 2:195)
  4. kontribusi amaliah (menjadi professional).
    “Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS 9:105)

Di sini seorang muslim menjadi mujahid dalam sepanjang hidupnya. Dan setelah manusia muslim meniti tiga tangga di atas, ia benar-benar menjadi cahaya yang senantiasa memberikan pencerahan pada dirinya dan bermanfaat bagi masyarakatnya. Ia benar-benar telah mengkristalkan nilai-nilai Islam dalam seluruh ruang kehidupannya. Ia shalih untuk dirinya, mushih bagi orang lain dan mujahid untuk menegagakkan ajaran agamanya. Di tannga terakhir inilah, ia menjadi model muslim yang ideal dan mempesona. Mempesona di hadapan Raab-Nya dan di tengah-tengah masyarakatnya. Perhatikan ayat di bawah ini;

“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia.” (QS. 8:74)

Semoga anda salah satu dari model-model muslim ideal ini.

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Close
Dukung Kami !!!
Klik tombol dibawah ini, Terima Kasih