Published On: Thu, Oct 3rd, 2013

Petualangan Akidah Sang Pencari Kebenaran (Nabi Ibrahim as.)

Petualangan Akidah Sang Pencari Kebenaran (Nabi Ibrahim as.)Pendahuluan
Pada prinsipnya, manusia lahir dengan fitrah. Sebuah gambaran bathiniah yang duliputi oleh pengenalan terhadap pemilik kebenaran (baca : Allah). Karenanya manusia lahir ke dunia dengan sebuah tanggung jawab untuk menegaskan penghambaan. Suatu tugas yang mengharuskan wujudnya kebenaran setelah mengenal sang maha kebenaran itu sendiri, yaitu Allah swt. Namun demikian, kehidupan tidaklah selamanya berjalan linear tanpa adanya hambatan. Di sana ada pihak-pihak yang menghendaki kebenaran tidak menjadi fenomena pribadi dan kemasyarakatan. Karena itulah, sejumlah hal dilakukan untuk memalingkan manusia dari rel kebenaran menuju penyimpangan. Sedikit demi sedikit kepekaan manusia terhadap kebenaran dikikis dan diformat ulang dengan keyakinan dan prilaku yang bersifat hewani. Ketika sebuah kesalahan menjadi karakter manusia dan menjadi cerminan pribadinya maka kebenaran akan tampak salah dan kesalahan menjadi tampak benar.

Demikianlah sikap dan prilaku mendominasi manusia. Ikhtiarnya untuk berpihak kepada kebenaran akan menggiringnya menuju kebenaran. Sebagaimana pilihannya pada jalur yang menyimpang akan menegaskan penyimpangannya. Jika pada golongan pertama Allah menegaskan dengan firman-Nya, “Orang-orang yang bersungguh-sungguh meniti (jalan) kami maka pasti kami tunjukkan kepadanya jalur (kebenaran) kami”, maka golongan yang kedua dijelaskan oleh Allah swt penyebab ketidakmampuan mereka untuk melirik jalan yang benar (al-qur’an). Firman Allah swt, “Yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat kami, ia berkata: “Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu. Sekali-kali tidak (demikian), Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka”. (QS al-Muthaffifin : 13-14).

Karena adanya potensi sebuah kesalahan untuk menutupi kepekaan manusia terhadap kebenaran maka dibutuhkan sebuah usaha untuk menemukan kebenaran tersebut. Petualangan untuk mencari kebenaran tidaklah selamanya menjadi alur kehidupan manusia biasa saja. Bahkan tiga nabi besar ; Nabi Ibrahim, Nabi Musa dan Nabi Muhammad, yang merupakan pokok tiga agama besar, juga mengalami petualangan yang sama. Nabi Ibrahim mencari dibalik bintang, bulan dan matahari. Nabi Ibrahim terus bertanya dan mencari sehingga ia akhirnya menemukan apa yang selama ini mengusik kebersihan jiwanya. Hal serupa juga terjadi pada Nabi Musa. Ia manapaki gunung Sinai dan mencari keyakinan akan Allah swt. Musa bekata, “Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan kami) pada waktu yang Telah kami tentukan dan Tuhan Telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar Aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi Lihatlah ke bukit itu, Maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu[565], dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, Aku bertaubat kepada Engkau dan Aku orang yang pertama-tama beriman”. (QS al-A’raf : 143). Dengan demikian, Musa pun memahami eksistensi Allah dan mendapatkan keyakinan tentang-Nya.

Pencarian juga dialami oleh nabi kita, Muhammad saw. Beliau digelisahkan oleh kehidupan masyarakatnya yang tampak seperti dunia binatang. Kekuatan menjadi symbol segalanya sehingga eksistensi hanya terjamin jika didukung oleh keperkasaan. Pada kondisi demikianlah lelaki menjadi sentral dalam kehidupan dan wanita terpinggirkan. Bahkan mereka hanya berfungsi sebagai mainan di tengah cengkraman orang-orang kuat. Rasulullah pun sering-sering menjauh dari masyarakatnya dan berusaha menjernihkan pikirannya dengan harapan dapat memperoleh makna kebenaran dan hakikat kehidupan. Puncak pencarian itu menemukan titik terang ketika Jibril datang menemuinya dengan membawa pesan pertama dari Allah swt. Pesan tersebut berbunyi, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,  Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. (QS al-Alaq : 1-5).

Manusia terdorong untuk mencari, mengapa ia tidak puas dan mengapa ia tidak bahagia. Dorongan demikianlah yang membuat manusia mencari melalui dunia ini sehingga di tengah peroses pencariannya mereka berkiblat ke dunia semata.  Walaupun pada dasarnya, ketika itu, mereka sedang dalam peroses pencarian.untuk menemukan makna kehidupan. Memang tidak banyak orang menyadari bahwa ia sedang mencari. Tetapi beberapa di antaranya sadar sejak awal bahwa ia sedang dalam fase pencarian. Sehingga out put yang dihasilkan antara kedua golongan tersebut berbeda. Jika yang pertama mendapatkan makna dan tidak berubah secara ekstrim maka kelompok kedua biasanya berubah dengan sangat drastis.

Nabi Ibrahim Berpetualang
Jika kita menelusuri jejak hidup nabi Ibrahim, kita mendapati sebuah realitas pencarian. Pencarian yang sesunguhnya untuk menegaskan fitrahnya. Fitrah yang mengatakan bahwa Sang Maha Kuasa adalah yang berhak untuk dijadikan tumpuan harapan, tempat berkeluh kesah, berlindung dan karenanya Ia berhak disembah, dicintai dan ditaati. Fitrah Nabi Ibrahim terusik dengan sangat kuat ketika ia mendapati kakaeknya, Azar, menjadikan berhala sebagai tuhan yang disembah. Sebuah kebiasaan yang telah mendarah daging pada komunitas yang melingkupinya. Ketika itulah, dengan nada menegur, Beliau mengatakan kepada kakeknya, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya Aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al-An’am : 74 ).  

Sebenarnya pernyataan Ibrahim ini merupakan refleksi fitrahnya. Sungguh ia sebelumnya belumlah mendapatkan konsep ketuhanan yang transenden dengan pemahaman dan kesadarannya. Tetapi sedari awal fitrahnya tidak menerima keberadaan bintang, matahari dan bulan sebagai tuhan. Yaitu tuhan yang dalam benak Ibrahim berhak dicintai, ditaati dan disembah, ditempati berharap dan dijadikan sebagai entitas yang pantas ditakuti. Tuhan dalam fitrah Ibrahim tidaklah mungkin berwujud bintang, matahari dan bulan. Tidaklah mungkin pula tuhan yang sebenarnya itu adalah berhala yang terbuat dari kayu ataupun sesembahan yang berwujud batu. Karena semuanya tidaklah memiliki kemampuan mencipta, menghidupkan, mematikan, memberi rezki dan mengatur seluruh jalanya aktifitas alam raya. Dan memang fakta yang terlihat secara kasat mata bahwa mereka semuanya tidak mampu memiliki karakter Tuhan yang ditemukan Ibrahim pada fitrahnya.

Dengan petualangan pemikiran ini, Ibrahim menegaskan keberpihakannya kepada fitrahnya yang suci sekaligus menjadikannya landasan untuk mengingkari  dan menolak praktek-praktek kemusyrikan yang dilakukan oleh kakek dan masyarakatnya secara masip. Perkataanya kepada kakeknya, ““Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya Aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata, tampak tegas, padahal -berdasarkan informasi al-Qur’an- ia adalah orang bijak, lemah lembut, berakhlak mulia dan diliputi oleh kesadaran penuh. Namun ketika permaslahnnya berada pada wilayah aqidah, hubungan kekerabatan sebagi anak, sebagai saudara, sebagai teman memudar dan sikap lemah lembut, bijak dan penuh pengertian menjadi tidak pantas. Apalagi peristiwa ini terjadi terhadap orang yang direkomendaskan oleh Allah unutk dijadikan teladan dalam prinsip akidah dan perjuangan membelanya.

Dengan ketegasan Ibrahim dalam masalah akidah ini dan ketulusannya membela keyakinannya yang benar, basirah-nya mampu menyingkap kedalaman sanubarinya untuk dapat memahami banyak rahasia yang tersembunyi dibalik alam raya ini. Rahasia yang mampu mengarahkan dirinya untuk memperoleh bukti-bukti ketuhanan secara nyata. Firman Allah, “Dan Demikianlah kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin.” (QS. Al-An’am : 74 ).  Dengan fitrah yang suci, basirah yang terbuka, dan totalitasnya terhadap kebenaran membuat Ibrahim diperlihatkan rahasia dibalik apa yang terpampang di dalam jagad raya ini. fitranya, hatinya dan bukti-bukti keesaan Allah swt terhubungan secara total sehingga ia pindah dari kebersihan fitrah yang menolak kebenaran tuhan-tuhan palsu menuju keyakinan yang kokoh tentang Tuhan sesungguhnya. Demikianlah petualangan Ibrahim, dan pada jalan tersebutlah ia menemukan Allah swt. Ia mendapatinya dalam kalbunya, sebagaimana sekarang ia telah menemukannya dalam pikiran dan kesadarannya. Hal yang makin mengasah dan mempertajam basirah-nya. Itulah yang menyatukan antara tuhan yang didapatinya selama ini dalam fitrahnya dengan tuhan yang mengisi pandangan dan basirahnya secara apik dan integral.         Namun demikian, petualangannya tidaklah berhenti di sini saja. Potongan waktu masih akan mengisi jejek langkahnya dengan hipotesa mendalam mengenai tuhan yang didapatinya dalam fitrah sucinya. “Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.” (QS. Al-An’am : 75 ). Inilah merupakan gambaran psikologis Ibrahim yang sedang diliputi keraguan tentang apa yang disembah oleh kakeknya beserta kaumnya. Bahkan bukan sekedar keraguan saja, tetapi juga pengingakaran yang begitu tegas. Kini permasalahan akidah selalu menggerayuti perhatiannya dan mengisi sendi-sendi khidupannya. Bukan kali ini saja Ibrahim mengetahui bahwa kaumnya menyembah bintang-bintang dan rembulan. Tetapi malam itu, tampaknya bintang-bintang itu seolah lain dari biasanya dalam pandangan Ibrahim. Nampaknya ada kemiripan dengan sesuatu yang sedang meresahkannya ketika itu. Makanya ia mencoba mengatakan, “Inilah Tuhanku”. Yakni dengan cahaya dan gemerlapnya, seolah bintang itu dekat dan pantas unutk dijadikan tuhan, jika dibanding dengan berhala batu atau kayu sebelumnya. Tetapi tidak ! ia sendiri mengelakkan dirinya.  “Tetapi tatkala bintang itu tenggelam, dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.” Sungguh, bintang itu pun menghilang. Ia benar-benar menghilang dengan jauh dari alam raya. Jika demijian, siapa yang akan mengurusi seluruhnya ?! Jika demikian, ia berarti bukanlah tuhan yang sebenarnya. Tuhan yang sesungguhnya tentu tidaklah hilang dari mahluk-Nya, kapan pun dan di mana pun. Bagi Ibrahim masalah ketuhanan adalah masalah hati yang mencintai dan Ibrahin tidak mencintai sesuatu yang menghilang dari mahluknya. Hipotesa awal ini akhirnya gagal.

“Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, Pastilah Aku termasuk orang yang sesat.” (QS. Al-An’am : 76 ).  Hipotesa kedua kembali dilanjutkan. Seoleh-oleh sebelumnya Ibrahim belum pernah melihat bulan sebelumnya. Tapi kali ini, sebagaimana pikirannya sedang terusik oleh pertanyaan besar, ia melihat bulan dengan padangan lain. Malam ini betapa sinar rembula lebih tajam dari lainnya. Sinar itu seolah penuh kasih sayang dan mendekap siapa pun dalam kesendirian. Karena itu, Ibrahim pun berucap, “Inilah Tuhanku”. Namun ketika ia hilang pula, kembali Ibrahim kecewa dengan kehilangan itu. Ia tidak lebih dari percobaan pertama yang gagal karena masalah serupa. Saat demikianlah, Ibrahim merasakan kebutuhan yang sangat terhadap petunjuk Allah yang seungguhnya, yang ditemuinya dalam fitra dan hatinya, tetapi belum ditemuinya lewat kesadaran dan pengetahuannya. Karena itulah, dengan penuh kepasrahan ia berucap, “ Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, Pastilah Aku termasuk orang yang sesat.”

Pada fase salanjutnya, perhatian Ibrahim mengarah kepada matahari sebagai hiasan bumi terbesar. Dengan hipotesa serupa ia mulai menjajakinya, “Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, Ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, Sesungguhnya Aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. (QS. Al-An’am : 76 ). Kebesaran matahari sebagai benda langit dijadikan alasan sementara unutk mengetahuinya sebagai tuhan. Di samping itu, cahaya yang membakar, memberi kehidupan terhadap mahluk lain berupa binatang dan tumbuh-tumbuhan. Hari ini betul ia berusaha mejejaki segala hal di sekitarnya dengan segala potensinya unutk mendapatkan tuhan yang bisa menenangkan kehausan pikirannya dan dapat menghapus kegalauannya. Namun sayang, yang diharapkannya itu juga terbenam sebagaimana kedua hipotesa sebelumnya. Pada saat itulah seberkas sinar terang merasuki hati sanubarinya, mengisi basirahnya dan menghubungkan keyakinan harinya dengan Tuhan yang sesungguhnya, yang selama ini ia cari lewat akal dan kesadarannya. Saat itulah Ibrahim mendapati Tuhannya, tetapi bukan pada bintang yang berpendar, bukan pula pada rembulan yang bercahaya lembut dan tidak pula pada matahari yang besinar terang. Ia tidak menemukannya melewati pandagan matanya yang digunakan unutk menyelidiki, buka pula lewat perasaan yang meliputinya. Ia mendapatinya pada kedalaman hatinya dan pada ftrahnya. Ia menemukannya lewat akal dan kesadarannya bahwa Ia ada pada semua wujud yang melingkupi dirinya. Ia mendapati Tuhannya itu sebagai pencipta segala yang dipandang oleh mata semua yang dirasakan leh perasaan dan yang diketahu oleh akal.

Dengan penemuan yang meyakinkan itu, ia mendapati dirinya berlepas diri secara total dari semua bentuk kemusyrikan yang dilakukan oleh kaumnya. Semua gaya hidup dana tatanan kehidupan yang berporos pada tuhan-tuhan palsu yang disembah ditinggilkan oleh Ibrahim dengan tegas. “Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, Sesungguhnya Aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya Aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan Aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS al-An’am : 78-79). Inilah bentuk keyakinan yang secara total mengarah kepada Allah swt sebagai pencipta langit dan bumi. Keyakinan yang menyingkap secara apik persesuaian antara apa yang ada dalam fitrah dengan apa yang ada dalam akal pikiran. Inilah sebauh pemandagan akidah yang sedang mendominasi Ibrahim. Suatu kondisi yang menyampaikannya kepada kesimpulan yang membuat hatinya tenang. Pada petualangan ini ia merasakan pertolongan Allah yang mengarahkannya kepada-Nya berkat kesungguhan yang dicurahkan.

Kini tibalah saatnya keyakinan yang diangap baru oleh komunitasnya itu diuji dengan kedatangan para pembela status kuo. Mereka datang dengan mengkritisi kesmipulan yang diperoleh oleh Ibrahim salam petualangannya, sekaligus mengingatkanya tetang bahaya mengingkari tuhan-tuhan yang mereka sembah, jika seandainya murka  kepada Ibrahim. Tetapi tidak ada yang mereka dapati pada diri Ibrahim kecuali hujjah yang kokoh, yang lahir dari keyakinan yang tak tergoyahkan.    “Dan dia dibantah oleh kaumnya. dia berkata: “Apakah kamu hendak membantah tentang Allah, padahal Sesungguhnya Allah Telah memberi petunjuk kepadaku”. dan Aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) ?. Bagaimana Aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukanNya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak memperoleh keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui?” (QS al-An’am : 80-81).

Ketika kepatuhan terhadapa tradisi dibangun pada kebiasaan semata, tanpa dibarengi dengan upaya intelektual maka cendrung lemah dan tidak punya unsure penguat. Walaupun sekedar unutk mempertahankannya. Sementara di pihak lain, Ibrahim telah melewati proses spiritual yang menyampaikannya kepada keyakinan. Dalam perjalanan itu, ia merasakan betapa Allah mengarahkanya dan menjemputnya dengan tangan terbuka. pada kondisi demikianlah mereka datang unutk menguji kesimpulan Ibrahim. “Apakah kamu hendak membantah tentang Allah, padahal Sesungguhnya Allah Telah memberi petunjuk kepadaku”. Yakni, mengapa kalian mendebatku tentang Allah padahal keberadaan-Nya sangat nyata. Dalam diriku terdapat bukti-bukti keberadaan-Nya sehingga aku tidak butuh bukti lain.

Sedang tetang ancaman mereka akan bahaya yang menimpa Ibrahim jika tetap pada keyakinannya, maka ia melihat bahwa apa yang kalian agung-agungkan itu melebihi kadar sesungguhnya. Mereka tidak lain adalah tuhan-tuhan plasu yang tidak pantas ditakuti. Mengapa harus terhadap mereka, padahal kalian sendiri tidak pernah takut kepada Tuhanku, padahal dalah yang mampu menimpakan bahaya kepada siapa pun yang dikhendakinya. Kalian mempersekutukan-Nya dengan tuhan lain yang, jauh dari karakteristik ketuhanan. Jika demikian halnya, siapa di antara kita yang seharusnya merasa takut dan siapa pula yang pantas merasa aman. Bagi seorang mukmin, selama mereka jauh dari kesyrikan maka sejauh itu pula mereka pantas merasa aman. Karena keyakinannya terhadap Allah sebagai pelindung akan menegaskan hatinya. Allah menegakan hal ini, “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”.  (QS. al-An’am : 82).     

Demikianlah petualangan akidah sang nabi dalam rangka mendapatkan keyakinan. Semoga kita mendapatkan kebenaran yang meneegaskan hati kita untuk dapat berjalan pada rel kebenaran hingga datangnya panggilan Allah swt. Amin.

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Close
Dukung Kami !!!
Klik tombol dibawah ini, Terima Kasih