Published On: Wed, Nov 8th, 2017

Takut Dan Harap Dalam Islam

Takut dan harap adalah ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Keduanya juga adalah fitrah manusia, yang senantiasa ada dalam diri setiap individu. Sisi yang pertama tidak akan berarti tanpa adanya sisi yang ke-duanya, demikian pula sebaliknya keduanya saling berhubungan erat.

Islam menyeru kepada manusia agar senantiasa takut hanya kepada Allah semata, dan bukan kepada yang lainnya perhatikanlah ayat Allah. Allah berfirman: “Mengapa kamu tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janjinya), padahal mereka telah keras untuk mengusir Rasul dan mereka yang pertama kali memulai memerangi kamu Mengapa kamu takut kepada mereka, padahal Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang-orang beriman. (QS. 9:13)

Ayat tersebut menggambarkan betapa rasa takut pada Allah itu mutlak harus ada pada diri orang orang yang mengatakan dirinya telah beriman kepada-Nya. Sebab manusia yang paling takut kepada Allah adalah manusia yang paling tahu tentang dirinya dan Tuhannya, itulah sebabnya Rasulullah mengatakan: “Demi Allah! Aku adalah orang yang paling tahu tentang Allah di antara kamu, dan paling takut pula kepada-Nya (HR. Bukhari)

Seorang mukmin sejati, seharusnya memilikiruh keberanian untuk mengatakanyang benar adalah benar, dan mengerjakannya,demikian pula sebaliknya mengatakankebatilan adalah batil lalu meninggalkannya,tanpa rasa takut kepada satumakhluk pun di dunia.

 

Takut Kepada Allah

Tidak terbayangkan seandainya ada seorang mukmin yang tidak punya rasa takut kepada Allah, betapa pun lemah imannya. Semakin tebal keimanan seseorang yang berbanding lurus dengan makrifatnya kepada Allah, semakin besar pula rasa khauf  yang ada pada dirinya kepada Allah. Rasulullah saw menggambarkan ganjaran yang dijanjikan Allah swt kepada hamba-Nya yang senantiasa menangis karena takut kepada-Nya.

“Seorang hamba yang menangis berderai air mata lantaran takut kepada Allah ta’ala, tidaklah akan masuk neraka sehingga air susu bisa kembali ke sumbernya” (HR.Turmudzi)

Dalam hadits yang lain Rasulullah bersabda: “Dua mata yang tidak akan tersentuh oleh api neraka, yaitu mata yang senantiasa menangis karena takut kepada Allah, dan mata yang tidak tidur (di malam hari) karena berjaga-jaga di jalan Allah”(HR. Muslim).

Takut kepada Allah tidaklah berarti kita harus mengeluarkan air mata sederas-derasnya lalu kita usap, lalu menangis, kemudian menghapusnya lagi. Akan tetapi takut kepada Allah adalah meninggalkan suatu perbuatan yang memang sudah dilarang oleh Allah dan kita takut akan azab yang ditimbulkannya.

Abul Qosim al Hakim ra, berkata: “Barang siapa yang takut kepada sesuatu, ia akan menjauhinya, tetapi barang siapa yang takut kepada Allah maka ia akan mendekati-Nya”.

Rasa takut kepada Allah, akan senantiasa menjauhkan kita dari hawa nafsu untuk melakukan kejahatan atau kemaksiatan. Kita akan selalu mengingat bahaya hukuman yang akan ditimpakan Allah. Segala pikiran, tindakan, dan ucapan kita akan terkontrol dengan baik karena adanya khauf ini, sebagaimana pula segala daya dan upaya kita kerjakan agar selalu merasa dekat kepada Allah.

Setiap manusia tidaklah luput dari kesalahan yang diperbuatnya, dan itu juga bisa terjadi pada orang beriman kepada Allah, bahkan sejarah mencatat di kalangan generasi sahabat ada juga yang berbuat kesalahan, seperti melakukan zina, hanya saja ia cepat menyadari kesalahannya tersebut, dan rela untuk dijatuhkan hukuman rajam kepada dirinya sebagai sanksi atas perbuatannya. Tentu saja itu dilakukannya karena keimanan sahabat tersebut yang kemudian memunculkan rasa takut pada dirinya akan azab Allah yang akan menimpanya di akhirat kelak, serta berharap akan mendapatkan ampunan Allah di akhirat

nanti dengan menjalani hukumannya di dunia.

 

Berharap Kepada Allah

Harapan akan ampunan Allah yang disertai dengan usaha-usaha atau langkahlangkah untuk mencapainya inilah yang disebut sebagai roja’ atau optimis. Roja’ (optimis) sudah pasti berbeda dengan anganangan kosong. Orang yang beranganangan kosong lalu ia yang berharap akan mendapatkan sesuatu, sedang ia tidak melakukan suatu usaha untuk mencapainya. Ia ingin mendapatkan rezki tetapi berdiam diri saja, yang tentu saja mustahil untuk mendapatkannya. Maka harapan yang benar adalah, bila setiap mukmin mempunyai harapan kepada Allah dan harapannya itu membuat dirinya menjadi taat dan mencegahnya dari kemaksiatan, akan tetapi bila harapannya hanya angan-angan saja, sementara dirinya tenggelam dalam kemaksiatan maka harapannya itu sia-sia dan percuma saja. Dan orang seperti inilah yang dimaksud oleh Rasulullah saw, sebagai orang yang bodoh, kebalikan dari orang yang cerdas. Dalam sabdanya Beliau menyebutkan:

“Orang yang cerdas itu, adalah orang yang membersihkan dirinya dari “kotoran”, lalu melakukan amal perbuatan kebaikan untuk mendapatkannya -hasilnya- di hari setelah kematian, sedang orang yang dungu itu, adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya kemudian berangan-angan (bukan berharap, pen) kepada Allah –mendapatkan ampunan dan kenikmatan-. (HR. Turmudzi)

Renungkanlah perkataan Yahya bin Muadz berikut ini sehubungan dengan kalimat di atas: “Di antara ketertipuan yang paling besar adalah terus menerus berbuat dosa sambil mengharapkan ampunan tapi tanpa penyesalan, mengharapkan untuk dekat dengan Allah tanpa diiringi ketaatan kepada-Nya, menanam benih neraka tetapi mengharap panen surga, ingin tinggal bersama orang-orang yang taat tapi dengan cara berbuat maksiat, menunggu-nunggu pahala tanpa berbuat amal kebaikan”.

Demikianlah nasib orang-orang yang suka berangan-angan kosong. Mereka bukanlah orang yang beruntung, akan tetapi mereka adalah orang yang tertipu karena kebodohannya sendiri.

Untuk mencapai kesempurnaan sikap roja’, maka ada tiga perkara yang harus diperhatikan seperti berikut:

Cinta

Yaitu mencintai Allah dan Rasul-Nya atas segala yang lainnya, dimana ada tiga maqam yang harus dimiliki, yaitu:

Pertama, maqam takmil (maqam penyempurnaan). Yaitu hendaklah Allah dan Rasul Nya lebih ia cintai daripada yang lainnya, yang berarti pula tidak hanya bermakna sekedar cinta, tapi cinta yang sebenar-benarnya cinta atau sampai pada kesempurnaan cinta.

Kedua, maqam tafriq (maqam pembedaan), yaitu, mencintai seseorang hanya karena Allah semata, dan juga sebaliknya membenci seseorang baik berupa perkataan maupun perbuatan, semata hanya karena hal tersebut dibenci oleh Allah.

Ketiga, maqam daf’ul al-naqidh (maqam penolakan atas lawan iman). Yaitu hendaklah membenci segala sesuatu yang berlawanan dengan iman dengan kebencian yang melebihi kebenciannya bila dilemparkan ke dalam neraka.

Maka cinta kepada Allah sesungguhnya tidaklah akan sempurna kecuali dengan menyerahkan semua loyalitasnya hanya kepada-Nya saja, tentu saja dengan menyesuaikan dirinya dengan apa yang Allah suka dan benci, dengan kata lain bahwa ia mencintai apa yang dicintai Allah dan begitu juga ia membenci apa yang Allah benci. Sesungguhnya cintalah yang menggerakkan kehendak hatinya dan setiap kali tuntuta hatinya itu menguat, setiap itu pula ia selalu melaksanakan apa yang dicintai Allah.

Takut harapannya hilang

Setiap orang yang mengharap adalah juga orang yang takut pada saat yang sama. Bahwa orang yang mengharap mendapatkan ridha dan ampunan-Nya, maka pada saat itu pula ia akan senantiasa merasa takut melakukan pekerjaan yang tidak disukai oleh Allah swt. Untuk membina rasa takut kepada Allah, ada tiga hal yang patut dicermati:

Pertama, mengetahui dosa-dosa dan keburukannya serta akibat dari perbuatan dosa tersebut.

Kedua, meyakini kebenaran akan ancaman Allah, bahwa Allah swt telah menyediakan siksaan atas setiap dosa yang dilakukan manusia.

Ketiga, memahami bahwa boleh jadi ia tidak akan pernah bisa melakukan taubat dari dosa-dosa yang telah diperbuatnya.

Kuat dan lemahnya rasa takut kepada Allah dalam diri seorang hamba, bergantung pada kuat atau lemahnya ketiga hal itu dalam dirinya. Dengan rasa takut akan memaksa seorang hamba untuk berlari kembali kepada Allah. Merasakan ketenteraman di haribaan-Nya. Itulah rasa takut yang disertai dengan kelezatan iman di hatinya. Juga ketenangan hati, ketenteraman jiwa dan cinta yang senantiasa memenuhi ruang hatinya.

Berusaha untuk mencapainya

Untuk mendapatkan sesuatu yang diharapkan seorang hamba pada Allah swt, tentulah dengan usaha yang sungguh-sungguh. Di samping dengan rasa cinta dan takut ia akan berusaha dengan semaksimal mungkin untuk mendapatkan harapannya tersebut.

Ketiga hal tersebut di atas menjadi penting karena raja’ yang tidak dibarengi dengan tiga perkara di atas, maka itu hanyalah ilusi dan hayalan. Sebab orang yang berharap adalah juga orang yang takut, seperti orang yang ingin sampai di suatu tempat dengan tepat waktu, tentu ia takut untuk terlambat.

***

Begitulah selayaknya seorang mukmin, menjadikan rasa takut dan menggantungkan harapannya hanya kepada Allah. Dengan rasa takut kepada Allah, maka ia akan mampu menahan organ tubuhnya dari segala kemaksiatan. Kemudian di saat yang sama ia senantiasa berharap atas ampunan dan ridho-Nya, maka dengan begitu akan menjadikannya sebagai hamba yang akan selalu menggantungkan dan menyerahkan dirinya kepada Allah.

Wallahu a’lam bisshawab

 

Latest posts by admin (see all)

About the Author

-

Displaying 2 Comments
Have Your Say
  1. bobi says:

    Pak bagaimana dengan orang yang terkena istidraj, dan telah menanggung dosa besar selama puluhan tahun, tapi dia baru tersadar, gambarannya seperti surat Al An’am ayat 44, apakah masih bisa mendapat ampunan Allah?

  2. syukran artikelna….
    ++ plus2 ++

    istidraj?allah huwa
    arrohman arrohim…

    cb tuntun kawan kita itu kepada jalan Allah
    bawa kepada yg lebih faham ttg agama,….

    selayaknya bagi org awam(qta)
    hrs mndekat kpd yg ahli(sumber dan faham),
    tdk hnya trbtas pd textual trjmahan…..

    wallahu’alam bishowab

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Close
Dukung Kami !!!
Klik tombol dibawah ini, Terima Kasih