Published On: Fri, Sep 13th, 2013

Membangun Ketahanan Keluarga

Kalimat Pembuka
Kebahagian, keharmonisan, produktif beramal Islami, keutuhan dan stabilitas keluarga adalah cita-cita kolektif setiap mukmin yang hendak menikah. Namun tidak semua keluarga muslim mampu merealisasikan cita-cita luhur itu. Bisa jadi karena  seorang ayah yang disibukkan dengan urusan nafkah sehinggi fungsi qowwam yang diamanahkan kepadanya mandul, karena memang ia harus bertanggung jawab atas kondisi ekonomi keluarga. Bisa jadi karena peran ibu yang disebut sebagai kampus utama juga mengalami karena pengetahuan minim yang dimilikinya tentang masalah agama dan yang lebih spesifik lagi adalah masalah kehidupan rumah tangga Islami. Bisa jadi kedua orang tuanya berpendidikan tinggi namun tidak lagi ada waktu untuk anak-anaknya sehingga mereka terkontaminasi dengan virus-virus kejahiliyahan dan westenisme. Jikalau ini yang terjadi secara kolektif dan terpadu seluruh anggota keluarga harus membuatan sebuah ketahanan keluarga. Sehingga tidak mudah keluarganya digoyang oleh virus-virus yang menghancurkan keutuhan rumah tangga.

Landasan Syar’i
“Wahai orang-orang yang beriman ! peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan“  (at-Tahrim : 6)

Inti gagasan
Ketahanan keluarga adalah konsep dalam menjaga kehidupan rumah tangga Islami dari virus kejahiliyahan dan westernisasi yang mengancam terhadap eksisitensinya dalam menjalankan amal-amal Islami

Kehidupan global  yang begutu dasyatnya memberikan dampat positif dan negative dalam kehidupan manusia. Aspek positifnya adalah manusia mampu mengakses setiap informasi dibelahan bumi manapun dengan cepat lewat media cetak, elektronik dan internet. Namun dampak negative juga dirasakan dengan terjadi kemajuan teknologi yang super canggih. Munculnya budaya permisif, style kehidupan versi barat tidak dipungkiri telah merasuk rumah tangga Islami. Sehingga sikap kehati-hatian dan kewaspadan mutlak diperlukan dengan membangun ketahanan rumah tangga.

Di sinilah pentingnya setiap individu muslim  untuk mengetahui dasar-dasar ketahanan keluarga agar keluarganya tidak mudah goyah dan rapuh. Dan dasar itu adalah visi dan misi hidup yang benar dari seluruh anggota keluarga, komitmen keislam yang kokoh, persepsi yang utuh tentang keluarga dari masing-masing anggota dan membangun keterpaduan dan kemitraan dalam keluarga.

Namun upaya membangun ketahanan keluarga itu juga tidak selalu mulus. Karena selalu ada rival-rivalnya yaitu, dari sisi internal anggota keluarga adalah lemahnya komitmen keislaman, style hidup hidonis dan permisif serta lemahnya komunikasi antar anggota keluarga dan secara eksternal adalah dasyatnya arus jahiliyah dan ghozwu al-fikri.

Berangkat dari realita inilah fungsi keluarga harus dioptimalisasikan yaitu fungsi psikologisnya, sosiologisnya, fisiologisnya dan fungsi tarbiyah dan da’wahnya.

Dasar-Dasar Ketahanan Keluarga

1. Visi dan Misi Hidup yang Benar
Pengetahuan yang dimiliki oleh sitaiap anggota keluarga tentang visi dan misi hidup akan menjadi dasar ketahanan rumah tangga. Hal itu akan menjadikan mereka lebih mudah mengatasi setiap masalah dan konflik yang terjadi dalam remah tangga karena mereka telah mengetahui dan menyadiri akan visi dan misi hidup. Bahwa visi dan misi hidup adalah given yaitu beribadah kepada Allah. Sehingga mereka tidak akan melandasi kehidupan rumah tangganya dengan hawa nafsunya. (Q.S adz-Dzariyat : 56)

2. Komitmen Keislaman Yang kokoh
Komitmen ini akan menjadi antibody dari setiap hal yang mengganggu terhadap soliditas kehidupan rumah tangga. Virus kejahiliyahan apapun yang ingin merongrong dan menghancurkan ketahanan rumah tangga akan mudah di atasi dengan komitmen ini. Rasullullah saw dalam menyelesaikan konflik rumah tangganya dengan istri beliau yaitu Aisyah saat terjadi hadistul ifki (berita bohong) beliau merujuk kepada wahyu yang dengannya masalah beliau menjadi cair dan selesai dengan baik.

3. Persepsi yang utuh tentang rumah tangga
Pengetahuan dari masing-masing anggota keluarga tentang esensi rumah tangga Islami menjadi modal dasar terhadap ketahanan keluarga. Bahwa rumah tangga bukanlah hanya kumpulan dari ayah, ibu dan anak-anak semata. Lebih dari itu keluarga memiliki tugas kolektif untuk merealisasikan nilai-nilai Islam dalam rumah tangganya untuk kemudia ditransfer kepada masyarakatnya.

4. Keterpaduan dan Kemitraan dalam rumah tangga
Allah swt berfirman : “Istri-istri itu adalah pakaian bagimu dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka“   (al-baqarah : 187)

Faktor-faktor yang Melemahkan Ketahanan Keluarga

1. Komitmen keislaman yang rendah.

Kekokohan sebuah keluarga sangat ditentukan oleh pengetahuan dan pengamalan keluarga terhadap Islam. Semakin rendah pemahaman dan pengamalan anggota keluarga terhadap islam maka semakin rapuhlah ketahanan keluarganya.

2. Arus kehidupan jahiliyah
Arus kejahiliyahan yang masuk dibilik-bilik rumah kita lewat media televisi, internet dan semisalnya sangat mempengaruhi terhadap sikap hidup satu keluarga. Apalagi jikalau keluarga tidak memilki filter yang kuat yaitu ponadasi agama. Maka ia akan menjadi sumber kelemahan bagi keluarga.

3. Style kehidupan yang hedonis dan permisif
Hedonisme dan permisifme akan menjadi sumber malapetaka keluarga. Hal itu dikarenakan mereka hanya berfikir tentang kenikmatan duniawi dan pemenuhan hawa nafsunya. Dari sinilah pandangan dan sikap harus dibingkai dengan nilai-nilai Islam agar kekayaan yang dimilikinya menjadikannya kalap dengan gemerlap dan keglamoran duniawi.

4. Arus infasi pemikiran yang tidak terantisipasi
Kejahatan dan kemaksiatan yang terorganisir yang sengaja dibidikkan ke arah keluarga-kelurga muslim inilah yang patut mendapatkan perhatian setiap muslim. Karena selalu ada tangan-tangan yang bermaik dibalik deharminisasi keluarga-keluarga Islam yaitu lewat al-Gazwu al-Fikri (infasi pemikiran)

5. Komunikasi keluarga yang minim
Tuntutan ekonomi tinggi bisa jadi akan menjadi mala petaka jikalau kemudian setiap keluarga mengalami kemandulan komunikasi. Segangkan komunikasi adalah cara yang paling efektif dan termurah dalam menyelesaikan masalah. Maka menjalin komunikasi adalah kewajiban bagi pecinta harmoni keluarga.

6. Lemahnya tarbiyah ’ailiyah  (pembinaan keluarga)
Mementens adalah sikap yang p[aling bijak agar keluarga kita tetap memiliki ketahanan rumah tangga. Sehingga tarbiyah keluarga adalah solusi bagi ketahanan rumah tangga. Meninggal hal ini berarti merobohkan sendiri bangunan keluarga.

Fungsi Keluarga dalam Perspektif Islam

1.      Fungsi Psikologis
Maksud dari fungsi ini adalah bagaimana kita memberlakukan semua anggota keluarga secara wajar, apa adanya dan mereka  mendapatkan kenyamanan serta dukungan untuk berkembang secara psikologis

2.      Fungsi Sosiologis
Maksudnya adalah bagaimana keluarga harus difungsikan untuk tempat semua anggota keluarga mendapatkan lingkungan yang terbaik dan sekaligus menjadi jembatan interaksi positif di antara mereka.

3.      Fungsi Fisiologis
Fungsi ini memerankan bagaimana agar semua anggota keluarga mendapatkan tepat berteduh yang baik dan nyaman.

4.      Fungsi Tarbiyah dan Da’wah
Maksudnya adalah keluarga merupakan obyek pertama yang harus menerima nilai-nilai da’wah untuk kemudian dijadikan sebagai model keluarga ideal bagi masyarakatnya dan memberikan kontrinusi da’wah secara aktif dan maksimal.

Maka, disinilah keluarga akan mendapatkan antibody dari berbagai kejahatan dan kemaksiatan.

Kalimat Penutup.
Di tengah style kehidupan masyarakat yang cenderung hedonis dan permisif, wajib bagi setiap keluarga muslim untuk membangun ketahanan dalam rumah tangganya. Karena dengan melaksanakan hal ini berarti kearga telah memberikan kontribusi besar terhadap agama dan bangsa. Dengan terpeliharanya keluarga dari berbagai virus kejahiliyahan yang sangan membahayangan berarti kita telah menyelamatkan islam dan generasinya begitu juga bangsa dan generasinya.

 

 

Latest posts by admin (see all)

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Close
Dukung Kami !!!
Klik tombol dibawah ini, Terima Kasih