Published On: Tue, Dec 3rd, 2013

Kala Orang Kantoran Belajar Bahasa Arab

Kala Orang Kantoran Belajar Bahasa ArabDi kota-kota besar mulai marak orang belajar bahasa Arab. Motivasinya macam-macam: mencari kerja, studi lebih lanjut, mendalami al-Qur`an dan Islam.

Indra menoleh ke dinding. Tak terasa waktu sudah pukul 17.00 WIB. Ia bergegas merampungkan pekerjaan yang tersisa dan merapikan meja kantor. Keluar dari kantor, bukan rumah yang ditujunya, tapi sebuah lembaga kursus bahasa Arab bernama Indonesia Arabic Center di Universitas Al-Azhar Indonesia di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Walau letih karena bekerja dan penat karena jalannya macet, kakinya tetap melangkah ke majelis ilmu. Pria berusia 35 tahun ini sudah mengikuti kursus bahasa Arab Metode Mustaqilli sejak satu bulan yang lalu.

Setiap Selasa dan Rabu, Indra mengikuti kursus tersebut. Sebelumnya, ia juga pernah mengikuti kursus serupa tetapi tidak sampai selesai karena merasa kesulitan dengan metode yang diajarkan. “Saya pernah ikut belajar bahasa Arab terjemah al-Qur`ran di tempat lain, tapi tidak sampai selesai,” kata Indra kepada Suara Hidayatullah di sela-sela istirahat kursusnya.

Belakangan ini di Jakarta minat belajar bahasa Arab di kalangan pekerja kantoran, seperti Indra sedang berkembang. Indra tidak sendiri, tiga teman sekantornya juga ikut kursus dengan Metode Mustaqilli ini.

Ia tahu kursus bahasa Arab ini dari pesan singkat (sms) berantai yang mampir di ponselnya. Awalnya Indra tidak merespon. Karena baginya, semua lembaga kursus bahasa Arab itu sama saja metodanya, sulit dan siswa wajib kuat menghapal. “Di tempat saya belajar dulu metodanya agak sulit, karena dari awal sudah harus hafal kaidah nahwu dan sharaf (gramatika), makanya saya keluar,” aku Indra.

Namun sebelum mendaftar, ia mencari tahu lebih lanjut soal Metode Mustaqilli di internet. Dari situ ia tahu, buku karangan Agus Shohib Khoironi itu dijual perdana di situs jual-beli buku terkenal dunia.

Ia pun memutuskan ikut kursus tersebut. Setelah beberapa pertemuan, ia merasa mudah memahami pelajarannya. “Saya lebih paham, karena pada Mustaqilli ini yang dipelajari perbendaharaan kata dulu,” ujarnya.

Indra mengaku belajar bahasa Arab bukan untuk fasih bercakap-cakap atau untuk menunjang karir. “Saya ingin lebih mengerti makna yang ada di al-Qur`an dan al-Hadits,” katanya.

Cakra, 45 tahun, yang belajar bahasa Arab di Ma’had Al-Manar, Jakarta juga senada dengan Indra. Dia ingin mengerti setiap kata dalam al-Qur`an. Setelah lebih dari tiga bulan belajar, ia mengaku mulai memahami kitab suci yang dibacanya. “Sekarang saya bisa mengerti makna al-Qur`an secara global. Dua puluh lima persenlah,” kata Cakra, yang menjabat direktur dua perusahaan kayu di Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat ini.

Di tengah kesibukkan mengurus perusahaannya yang ada di luar kota, Cakra menyempatkan belajar bahasa Arab dua kali sepekan.

Cakra mengaku termotivasi belajar bahasa Arab setelah menjalankan ibadah haji dan umrah. Ia juga terdorong oleh nasihat dosennya saat kuliah pascasarjana, bahwa belajar bahasa Arab itu penting untuk memahami Islam.

“Dosen saya pernah bilang, tidak mungkin memahami Islam tanpa bahasa Arab,” kata insinyur kehutanan lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini.

Saat ini, Cakra sudah mulai belajar membaca, menulis, percakapan, dan ilmu nahwu dasar. Baginya, tidak ada yang sulit jika ada keinginan kuat untuk belajar bahasa Arab. “Saya percaya bisa berhasil kalau serius,” katanya singkat.

Alasan Indra dan Cakra diakui Alit Rosad Nurdin, Direktur Lembaga Pendidikan Bahasa Arab dan Studi Islam Ma’had Utsman bin Affan, Jakarta. Katanya, alasan orang yang ingin belajar bahasa Arab beragam. Dari yang berniat untuk mengerti al-Qur`an dan paham bacaan shalat, hingga yang ingin belajar ke Timur Tengah.

Bukan Santri

Ketua Divisi Pendidikan Ma’had Al-Manar, Amir Qosim mengatakan, semangat belajar bahasa Arab di kalangan awam mulai terlihat sejak 10 tahun belakangan. Katanya, hal ini seiring dengan meningkatnya kesadaran umat untuk mengamalkan ajaran Islam. “Kesadaran mereka baru muncul, dan waktu untuk belajar juga baru ada,” ujar Amir.

Katanya, saat dibuka tahun 1993, siswa yang belajar di Al-Manar adalah para lulusan pondok pesantren atau lulusan SMA yang ingin kuliah di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) di Jakarta, yang merupakan cabang dari Universitas Imam Ibnu Su’ud, Arab Saudi. Sekitar tahun 2000-an, baru mulai banyak karyawan dan pensiunan yang ikut kelas regular Sabtu dan Ahad.

Amir mengakui, kualitas peserta kursus intensif Sabtu-Ahad memang tidak sebaik yang belajar reguler lima hari sepekan. Tapi katanya, ada juga peserta kelas intensif yang berusia di atas 50 tahun bisa mahir berbahasa Arab. Kata Amir, setelah selesai di Al-Manar orang tersebut melanjutkan kuliah di LIPIA hingga lulus program sarjana syariah.

Lembaga kursus Indonsia Arabic Center yang dipimpin Agus Shohib Khaironi juga dipenuhi peserta dari kalangan pekerja, dan sudah berkeluarga. “Kebanyakan yang mendaftar dari masyarakat biasa, yang belum pernah belajar bahasa Arab,” kata Agus.

Di Lembaga Pendidikan Bahasa Arab dan Studi Islam Ma’had Utsman bin Affan Jakarta juga demikian. Namun jumlah pendaftar non-santri masih sedikit. Tetapi setiap tahunnya selalu ada yang mendaftar. “Pendaftar umum tiap semester bisa 10 sampai 20 persen tiap kelas. Bukan hanya dari aliyah, pesantren, tapi juga dari lulusan SMU biasa,” kata Alit menjelaskan.*SUARA HIDAYATULLAH MEI 2013

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Close
Dukung Kami !!!
Klik tombol dibawah ini, Terima Kasih