Published On: Thu, Dec 5th, 2013

Menumbuhkan Kemauan

Menumbuhkan KemauanMukadimah

Kekuatan kehendak adalah salah satu induk akhlak yang mendasar dan terpuji, yang ada dalam diri manusia. Oleh karena itu, akhlak ini akan menurunkan sifat-sifat terpuji lainnya, seperti sikap optimis, tegas, berinisiatif, serius, tegar, disiplin, mampu mengendalikan diri, dan lain sebagainya. Sebaliknya, jika seseorang tidak memiliki kekuatan kemauan, maka itu pun akan menciptakan sifat-sifat buruk dalam dirinya.

Manusia ibarat sebuah negara atau kerajaan, yang memiliki lembaga eksekutif, legislatif, dan rakyat (yang harus dilayani) serta dewan penasihat yang berfungsi mengarahkan kepada kebaikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Lembaga legislatif dalam diri manusia, diibaratkan akal pikiran yang berfungsi sebagai pemberi peringatan, pemberi petunjuk, menciptakan hukum, undang-undang, dan administrasi kenegaraan. Maka ,akal dalam wilayah tugasnya ini, bersandar pada  berbagai sumber rujukan dan referensi. Di antaranya adalah hikmah dan pengetahuan yang Allah berikan kepada akal tersebut, pengalaman hidup, pengetahuan yang dipelajari dari orang terdahulu, dari syariat dan aturan Allah yang terdapat dalam Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah saw..

Lembaga eksekutif, diibaratkan kemauan yang melekat dalam diri seseorang. Kekuasaan itu dimiliki bila ia mempunyai kekuatan rasional yang luar biasa. Namun, bila kekuatan itu lemah, maka ia akan rendah dan hina di hadapan rakyat atau harus mengikuti kehendak rakyatnya. Bahkan, ia harus melapangkan jalan bagi seorang di antara mereka yang memiliki kekuatan dan memberi kekuasaan itu kepadanya.

Adapun rakyat dalam kerajaan manusia, diibaratkan kumpulan hawa nafsu, syahwat, keiinginan, dan insting. Setiap orang memiliki keinginan dan kemauan yang beragam, baik dan buruk, soleh dan jahat, dan sebagainya. Bahkan, keinginan itu kadang bertentangan dengan logika akal. Maka, tidak mungkin seluruh kehendak dan permintaan rakyat itu dipenuhi oleh karena ia akan menciptakan kekacauan, kerusakan, dan kehancuran dalam kerajaan manusia. Oleh karena itu, kemauan yang kuat hanya akan mengabulkan permintaan yang sesuai dengan lembaga yudikatif (akal). Bila bertentangan dengannya, maka permintaan itu harus ditolak dan dibuang jauh-jauh. Sesungguhnya, kejahatan dan keburukan bertentangan dengan perintah dan larangan Allah SWT.

Kita juga bisa mengukur konsistensi akhlak terpuji setiap orang melalui kekuatan kemauannya, sebagaimana kita dapat melihat kehancuran akhlak seseorang karena lemah dan hilangnya kemauan akibat hawa nafsu yang selalu diperturutkan. Pada saat seperti itu, hawa nafsu , ketamakan, dan keinginannya mendominasi dirinya, mengalahkan kekuatan kehendaknya.

Syarat Menumbuhkan Kekuatan Kehendak

Kemauan yang kuat hanya akan menjadi akhlak terpuji bila disertai dengan ilmu, kejernihan akal, dan bijak dalam bertindak. Bila tidak, ia akan menjadi senjata berbahaya bagi diri manusia.

Saat kehendak yang kuat bergandengan dengan pengetahuan dan kecerdasan akal, maka perilaku atau pribadinya menjadi baik dan interaksi sosialnya akan bijak serta bermanfaat bagi masyarakat. Namun, pada saat kemauan melemah atau tidak berlandaskan pada pengetahuan dan kemampuan akal, maka perilakunya sebagai pribadi dan makhluk sosial tidak disertai kebijakan dan tidak mengandung kebaikan.

Kekuatan kehendak yang tidak diiringi pengetahuan yang memadai serta logika yang baik akan menjadi petaka bagi diri seseorang. Bahkan, bisa menjadi petaka bagi siapa pun yang berinteraksi dengannya. Kemauan semacam ini hanya akan mengantar pemiliknya kepada jurang kebinasaan dan kehancuran.

Sebagian orang menikmati kekuatan kehendaknya. Hanya saja, dia itu bodoh, tidak memiliki pengetahuan memadai, atau tidak membingkai perilakunya dengan kebijakan. Manusia semacam ini adalah virus bagi dirinya sendiri dan bagi masyarakat. Misalnya, bila ada yang mengingatkan agar ia melepaskan diri dari aktivitas ibadah yang memberatkan dan menyusahkannya, karena ibadah itu tidak disyariatkan oleh Allah kepada hamba-Nya, maka dengan penuh percaya diri dia akan menolak. Ia menganggap sulit dan beratnya beban ibadah yang dilakukan adalah perilaku terpuji di mata Allah dan dapat semakin mendekatkannya kepada Allah, padahal Allah SWT tidak meninggikan derajat seorang hamba hanya karena ibadah yang dilakukan itu berat dan sulit.

Sisi Kehidupan yang Membutuhkan Kekuatan Kehendak

Setiap manusia membutuhkan kekuatan kehendak untuk melawan pengaruh penyimpangan yang lahir dari dalam atau luar dirinya. Kekuatan kehendak dibutuhkan untuk:

  1. Melawan syahwat dan hawa nafsunya serta bisikan-bisikan setan yang melintas dalam pikiran;
  2. Menahan diri dari kecenderungan kepada dosa yang bisa bersumber dari harta, anak-anak, wanita, kedudukan, dan kekuasaan serta segala kemewahan dunia;
  3. Melawan kecenderungan hati terhadap keinginan untuk berleha-leha, bermalas-malasan, dan membuang-buang waktu;
  4. Melawan ketakutan terhadap petaka dan bala yang mungkin menimpa dirinya;
  5. Melawan penyesalan yang muncul dalam dirinya karena tidak mampu  meraih keberuntungan atau kebaikan yang sangat diharapkan;
  6. Melawan kesedihan yang berlarut-larut karena cita-cita yang tidak teraih;
  7. Melawan angan-angan yang tidak mungkin terwujud di masa datang; dan
  8. Melawan bisikan-bisikan manusia, setan, dan jin.

Maka, ada beberapa terapi yang harus dilakukan untuk melumpuhkan penyakit-penyakit di atas, yakni keberanian, optimisme, ambisi, dan kesabaran.

Perbedaan Kekuatan Kehendak pada setiap Orang

Setiap orang berbeda kadar kekuatan dan kelemahan kehendaknya. Ibarat sebuah tangga, seseorang akan dapat tiba di puncak tangga itu dengan segala usaha dan pengorbanan, bila memiliki kekuatan kehendak. Sebaliknya, ia akan berada pada dasar tangga sesuai kadar kelemahan kemauannya.

Menguatkan Kemauan yang Lemah

Setiap orang yang merasa kemauannya lemah dapat menguatkannya melalui langkah-langkah berikut ini.

  1. Menguatkan keimanan kepada Allah SWT, asma’ dan sifat-Nya, qadha dan qadar-Nya, serta senantiasa bertawakal dan berbaik sangka kepada-Nya. Memperkuat seluruh variabel keimanan ini adalah sarana terbaik untuk mendapatkan kemauan kuat, yang tentunya datang dari Allah SWT.
  2. Melatih diri menghadapi godaan hawa nafsu dan berusaha menaklukkan keinginan duniawi manakala keinginan itu bergelora dalam dada.
  3. Membiasakan diri melakukan aktivitas ibadah yang baik, benar, dan beragam.
  4. Menjaga diri untuk senantiasa taat kepada perintah Allah dan menjauhi larangannya.
  5. Tenang menghadapi setiap masalah atau sebelum memutuskan sebuah perkara. Keputusan itu pun diambil tanpa ragu karena telah jelas kebenarannya. Saat itu pula, rasa was-was dan ragu harus disingkirkan karena akan melemahkan kehendak. Namun, apabila ada yang lebih benar, maka itulah yang harus diikuti tanpa mempertahankan pendapat atau keputusan yang salah oleh karena itu adalah sebuah kebodohan.

Jadi, kekuatan kehendak seseorang didasarkan pada kemampuannya menjaga dirinya dari kekalahan menghadapi hawa nafsu, bisikan manusia, jin dan setan, serta mampu mengalahkan godaan kenikmatan dunia. Sebaliknya, orang yang kekuatan kehendaknya lemah adalah yang terpengaruh oleh rayuan setan, godaan duniawi, dan menghambakan dirinya di hadapan hawa nafsunya.

Maka, kuat dan lemahnnya kemauan seseorang akan tampak pada dua bingkai kriteria ini. Oleh karena itu, bagian dari pendidikan Islam ialah mengajarkan dan mengarahkan pemeluknya agar mampu mengalahkan hawa nafsu duniawi dan membebaskan diri dari belenggu setan yang terkutuk.

Bagaimana Membangun Motivasi dan Kemauan?

Langkah pertama: mengumpulkan tenaga

Kemauan adalah jembatan yang menghubungkan pikiran dengan tindakan. Oleh karena itu, kemauan bergantung pada tenaga fisik dan jiwa sekaligus. Jika tenaga fisik dan jiwa kuat, maka kemauan juga akan menguat. Inilah langkah-langkahnya.

  1. Kesadaran yang jelas, kuat, dan terus-menerus akan tujuan hidup atau titik akhir yang ingin dicapai dalam hidup. Hal ini hanya mungkin terjadi jika tujuan hidup serta target-target jangka panjang, jangka menengah, dan jangka pendek terdefinisi dengan jelas.
  2. Mengetahui manfaat dari suatu perbuatan atau pekerjaan oleh sebab manfaat itu memiliki daya dorong yang tinggi  terhadap jiwa. Manfaat itu bisa bersifat duniawi dan ukhrawi.
  3. Jangan membuang tenaga secara percuma. Ada beberapa hal yang sering menguras tenaga saraf dan jiwa secara berlebihan, misalnya marah, terlalu banyak berbicara, dan mencari-cari penghargaan dari orang lain. Karena itu, Rasulullah saw. bersabda, “Jangan marah! Dan engkau akan masuk surga,” dan sabda beliau yang lain, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” Adapun prinsip ikhlas mengajarkan bahwa penghargaan seseorang atas kerja yang dilakukan bukanlah tujuan.
  4. Meninggalkan masalah-masalah sepele oleh karena masalah-masalah besar dan penting jauh lebih banyak. Nabi saw. bersabda, “Di antara tanda-tanda baiknya keislaman seseorang adalah ia meninggalkan perkara yang tidak penting baginya.”
  5. Kemampuan berkonsentrasi oleh karena kemauan dan pikiran yang pecah akan menguras banyak tenaga fisik dan pikir, yang akhirnya melelahkan.

Langkah kedua: menggunakan tenaga

Ada beberapa prinsip yang perlu dilakukan di sini, yaitu sebagai berikut.

  1. Keteraturan. Ini adalah salah satu nilai Islam yang mengharuskan adanya schedule yang jelas bagi seluruh aktivitas kita. Penjadwalan yang baik adalah schedule yang dipelajari dan dibangun di atas suatu visi. Karena itu, Ali bin Abi Thalib mengatakan, ”Kebenaran yang tidak terorganisasi akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisasi.”
  2. Keseimbangan. Artinya, seluruh dimensi kehidupan harus diberi haknya secara seimbang.
  3. Moderasi. Artinya, sifat pertengahan dalam segala hal serta menghindari sifat berlebihan, termasuk dalam beribadah. Rasulullah saw. bersabda, “Hanya dengan sifat pertengahan (sederhana) kamu akan sampai (tujuan).”
  4. Fokus. Prinsip ini mengharuskan kita untuk menentukan target sebagai fokus yang ingin dicapai. Sebab, keberadaan fokus sangat membantu dalam berkonsentrasi dan dalam memusatkan pemakaian tenaga.

Langkah ketiga: mengembalikan tenaga

Setelah menggunakan tenaga, kita harus mampu mengembalikannya melalui cara berikut.

  1. Khalwat
    Khalwat adalah kegiatan yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah saw. dan yang beliau lakukan selama tiga tahun menjelang kenabian. Ini berguna untuk mengembalikan kesegaran jiwa dan konsentrasi.
  2. Muhasabah
    Muhasabah merupakan evaluasi yang sangat membantu dalam melakukan perbaikan untuk kegiatan selanjutnya.
  3. Perjalanan
    Rihlah atau travelling berguna dalam memberi inspirasi dan tambahan wawasan.
  4. Penjadwalan ulang
    Mengubah dan menjadwal ulang semua kegiatan akan memberi penyegaran jiwa dan semangat baru.           

Latest posts by admin (see all)

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Close
Dukung Kami !!!
Klik tombol dibawah ini, Terima Kasih