Published On: Thu, Nov 21st, 2013

Tekanan Hidup

Tekanan HidupTidak ada orang yang menyukai tekanan. Semua kita akan selalu berusaha menghindari segala bentuk tekanan hidup. Tekanan mencabut kenyamanan hidup kita, dan dalam banyak hal, membatasi ruang gerak kita, serta menyulitkan proses kreativitas kita.

Tapi sejarah justru membuktikan, bahwa karya-karya kepahlawanan sebagian besar malah lahir di tengah tekanan-tekanan hidup yang berat dan kompleks. Sejarah tampaknya tidak ingin memberikan gelar kepahlawanan dengan mudah. Ia memaksa setiap orang membayar harga yang mahal untuk itu.

Kenyataan sejarah itu sebenarnya dapat dijelaskan. Tekanan-tekanan hidup, secara psikologis, sebenarnya justru berguna untuk merangsang munculnya potensi-potensi yang terpendam dalam diri seseorang, serta merangsang terjadinya proses kreativitas yang intensif. Hidup dalam situasi yang normal biasanya malah membuat orang jadi malas, kurang kreatif dan kurang produktif. Bukan situasi normal itu yang jadi masalah. Tapi manusia memang pada dasarnya membutuhkan stimulan yang kuat untuk bergerak. Dan tekanan hidup merupakan salah satu stimulan itu.

Jadi apabila dalam konteks kecenderungan manusiawi kita tidak menyukai tekanan hidup, maka dalam konteks pengembangan kepahlawanan, kita justru membutuhkan rangsangan tekanan hidup untuk meledakkan potensi-potensi kita yang terpendam. Walaupun kenyataannya tidak semua orang bisa sukses melewati tekanan, tapi para pahlawan mukmin sejati selalu muncul dari balik tekanan-tekanan hidup yang kompleks.

Tampaknya memang ada rahasia yang tersebunyi disini. Para pahlawan mukmin sejati itu selalu dapat mempertahankan kunci-kunci yang membentuk daya hidup mereka; mereka selalu dapat mempertahankan harapan dan optimisme hidup, pikiran positif dan kegembiraan jiwa, obsesi kepahlawanan dan semangat perlawanan. Seakan-akan di dalam jiwa mereka, ada bunker yang menjadi tempat persembunyian kunci-kunci daya hidup itu, yang selamanya tidak akan tersentuh oleh serangan bombardir tekanan-tekanan hidup.

Itulah rahasia yang menjelaskan mengapa Sayyid Quthub bisa menyelesaikan tafsir Fii Zhilalil Qur’an selama berada dalam penjara. Atau mengapa Hamka sanggup merampungkan tafsir Al-Azhar-nya selama tiga tahun dalam penjara. Atau mengapa Ibnu Taimiyah  melahirkan sangat banyak bukunya dalam penjara.

Mereka semua adalah pahlawan-pahlawan yang mengerti bagaimana menikmati tekanan hidup. Suatu saat mereka mungkin juga mengeluhkan beratnya tekanan-tekanan hidup itu. Tapi yang membuat mereka jadi pahlawan adalah karena mereka telah berhasil membangun bunker dalam jiwa mereka, tempat kunci-kunci daya hidup mereka bersembunyi dengan aman.

Itulah yang membuat mereka selalu tampak santai dalam kesibukan, tersenyum dalam kesedihan, tenang di bawah tekanan, bekerja dalam kesulitan, optimis di depan tantangan, gembira dalam segala situasi.

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Close
Dukung Kami !!!
Klik tombol dibawah ini, Terima Kasih