Published On: Wed, Jan 23rd, 2013

Kelahiran Sang Bintang

Kelahiran Sang BintangSesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu..”(QS. Al-Ahzab: 21).

Pada waktu itu, dunia dikuasai oleh dua Negara adidaya: Persia dan Romawi, kemudian menyusul India dan Yunani.

Persia adalah ladang subur barbagai khayalan (baca : khurafat) keagamaan dan filosofis yang saling bertentangan. Di antaranya adalah Zoroaster yang dianut oleh para penguasa. Di antara filsafatnya ialah mengutamakan perkawinan seseorang dengan ibu, anak perempuan atau saudaranya.

Di Persia juga terdapat Mazdakia. Menurut Imam Syahrastani, ajaran ini didasarkan pada filsafat yang menghalalkan wanita, harta dan menjadikan manusia sebagai serikat layaknya perserikatan mereka dalam masalah air, api dan rumput. 3 Ajaran ini memperoleh sambutan luas dari kaum pengumbar hawa nafsu.[1]

Sedangkan Romawi telah dikuasai sepenuhnya oleh semangat kolonialisme. Negeri ini terlibat pertentangan agama antara Romawi di satu pihak dan Nasrani di lain pihak. Negeri ini mengandalkan kekuatan militer dan ambisi kolonial dalam melakukan petualangan buruk demi mengembangkan agama Kristen dan mempermainkannya sesuai dengan keinginan hawa nafsu yang serakah.

Negeri ini, pada waktu yang sama tak kalah bejatnya dari Persia. Kehidupan nista, kebejatan moral dan pemerasan ekonomi telah menyebar ke seluruh penjuru negeri, akibat melimpahnya penghasilan dan menumpuknya pajak. Berbeda dengan Yunani, negeri ini sedang tenggelam dalam lautan khurafat dan mitos-mitos verbal yang tidak pernah mendatangkan manfaat sedikit pun.

Demikian pula India, sebagaimana dikatakan oleh ustadz Abul Hasan an-Nadawi dan telah disepakati oleh para penulis seja- bahwa negeri ini sedang berada pada puncak kebejatan dari segi moral maupun sosial. Masa seperti ini bermula sejak awal abad ke-enam Masehi. India bersama negara-negara tetangganya punya andil dalam kemerosotan moral dan sosial… . [2]

Sementara itu di Jazirah Arab, bangsa Arab hidup dengan tenang, jauh dari bentuk guncangan tersebut. Mereka tidak memiliki kemewahan layaknya peradaban Persia, yang memungkinkan mereka kreatif dan pandai menciptakan kemerosotankemerosotan, filsafat fermisif dan kejahatan moral yang dikemas dalam bentuk agama. Mereka juga tidak memiliki kekuatan militer Romawi, yang mendorong mereka melakukan ekspansi ke negara-negara tetangga. Mereka tidak memiliki kemegahan filosofis dan dialektika Yunani, yang menjerat mereka menjadi mangsa mitos dan khurafat.

Karakteristik bangsa Arab ini seperti bahan baku yang belum diolah dengan bahan lain. Masih menampakkan fitrah kemanusiaan dan kecenderungan yang se- hat dan kuat, serta cenderung kepada nilai kemanusiaan yang mulia, seperti setia, penolong, dermawan, harga diri dan kesucian.

Hanya saja, mereka tidak memiliki pengetahuan (ma’rifat) yang membimbing mereka ke arah sana. Karena mereka hidup dalam kegelapan, kebodohan dan dalam fitrah yang masih alami. Akibatnya, mereka tidak menemukan keindahan hidup. Mereka tidak mampu melindungi nilainilai kemanusiaan tersebut. Akhirnya mereka tersesat jalan tanpa ada bimbingan.

Kemudian mereka mengubur anak perempuan hidup-hidup dengan dalih kemuliaan dan kesucian. Memusnahkan harta kekayaan dengan alasan kedermawanan. Membangkitkan peperangan di antara mereka dengan alasan harga diri dan kepahlawanan. Kondisi inilah yang diungkapkan oleh Allah SWT dengan ”dhalal” dalam firman-Nya: ”Dan sesungguhnya kalian sebelumnya benar-benar termasuk orang-orang yang sesat” (QS. Al-Baqarah: 198).

Di saat dunia dalam kegelapan seperti itu, Allah mengirimkan ”seorang bintang” yaitu Muhammad saw. Bintang yang membuat dunia makin indah. Bintang yang menjaga dan melindungi masyarakat dan bintang yang membimbing penghuni dunia kepada kebahagiaan.

Fungsi Bintang.
Allah SWT telah berbicara tentang fungsi bintang dalam al-Qur’an, di antaranya adalah:

Bintang sebagai hiasan langit
Allah menciptakan langit dengan penuh keindahan. Tinggi tanpa tiang. Langit itu semakin indah dengan keberadaan bintangbintangnya (QS. Ash-Shafaat: 6). Allah juga berfirman: “Sesungguhnya kami telah menghiasi langit dunia dengan bintang-bintang” (QS. Al-Mulk: 5)

Bintang sebagai pelempar syetan
Allah SWT mencatat ketentuan-ketentuan dan rahasia Qodho’-Nya di Lauh Mahfudz. lalu dengan berjalannya waktu, satu demi satu ketentuan dan rahasia Qodho direalisasikan sebagai Taqdir. Maka syetan dari kalangan Jin berusaha untuk mencari tahu ketentuan dan rahasia Qhodho Allah di Lauh Mahfudz untuk kepentingan dirinya atau untuk dikabarkan kepada partnernya dari kalangan ahli nujum, para dukun atau para normal. Namun usaha-usaha mereka ini selalu digagalkan oleh Allah dengan cara mengirimkan bintang yang menyerang mereka dengan cahaya yang panas dan membakar (QS. Ash-Shafaat: 7-10). Maka bintang itu menjaga dan melindungi.

Bintang sebagai pembimbing
Ketika dalam kegelapan malam atau di tengah lautan, saat arah perjalanan ke arah timur, barat, utara dan selatan tidak lagi diketahui, saat itulah bintang sangat dibutuhkan. Bintang bisa berperan sebagai penunjuk arah. Laju bahtera menjadi terarah dan kepanikan nahkoda pun sirna seketika.

Allah berfirman: “ Dan dengan bintangbintang itulah mereka mendapat petunjuk” (QS. An-Nahl: 16).

Rasulullah Saw. Adalah Sang Bintang
Kelahiran Muhammad saw di muka bumi ini merupakan kelahiran seorang bintang yang membuat indah wajah dunia yang sebelumnya tampak suram. Bintang yang menjaga dan melindungi dunia dari kejahatan dan ambisi syetan yang dimiliki penghuninya. Bintang yang memberi petunjuk dan mengarahkan penghuni dunia untuk mendapatkan kebahagian.

Sinar bintang Muhammad saw selamanya tidak akan redup atau tenggelam. Sementara sinar bintang yang di langit dunia ada saatnya untuk redup dan tenggelam. Dalam konteks ini, Allah menurunkan surat an-Najm, yang berarti bintang.

”Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang diucapkannya (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapan itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)”. (QS. An-Najm: 1-4)

Kembali kepada kualitas
Dengan demikian, jelaslah bahwa kualitas dalam pembinaan itu lebih penting. Lantas, jika begitu, apakah kita bisa seenaknya? Kan, yang penting kualitas? Nah, ini sikap yang salah juga, apalagi sampai mengambil kesimpulan seperti itu.

Sebuah cerita di zaman Rasulullah saw, bisa menjadi contoh. Tiga orang sahabat datang ke rumah Rasulullah saw. Mereka bertemu dengan Aisyah ra untuk bertanya tentang cara ibadah Rasulullah saw.

Usai mendapat jawaban Aisyah, sahabat pertama berkata; bahwa dia akan shalat terus-terusan setiap malam. Sahabat kedua berniat akan puasa terus dan tidak akan berbuka. Sementara sahabat ketiga berkata; dia akan mendedikasikan hidupnya bagi Allah SWT dan tidak akan menikah.

Saat Rasulullah SAW mengetahui hal ini, beliau menasehati ketiga sahabat tersebut. Bahwa beliau beribadah itu SEIMBANG ANTARA KUALITAS DAN KUANTITAS. Beliau berkata, bahwa beliau shalat tapi juga ada waktunya untuk mencari dunia (kerja). Beliau tidak terus menerus berpuasa, tapi ada saatnya berbuka. Dan beliau tetap menikah, tidak lantas mengasingkan diri.

Dan cukuplah sebagai spirit, ketika Rasulullah saw memberikan strategi kepada kita:

”Aktifitas-aktifitas yang paling baik dan disukai Allah SWT ialah yang terusmenerus meskipun sedikit”. (HR. Bukhari).

Dalam hadits itu, kembali kita bisa baca secara gamblang, terus-menerus itu bermuara kepada kuantitas, dan sedikit itu miniatur dari kualitas.

Setiap Kita Adalah Bintang.

Setiap kita bisa menjadi bintang. Bintang bagi keluarga, tetangga, masyarakat bahkan umat manusia. Mereka butuh contoh sosok Islam yang indah, wibawa kekuatan Islam yang melindungi dan semangat ruh Islam yang menuntun dan mengarahkan mata dunia. Itulah pesona bintang, seperti yang pernah dimiliki nabi Yusuf as yang membuat iri dunia. “(Ingatlah) ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, Matahari dan Bulan, aku lihat semuanya bersujud kepadaku”. (QS. Yusuf: 4).

Semoga kita tidak lagi terjebak untuk ‘membabi buta’ mencari kuantitas, sementara kualitasnya terbengkalai. Kuantitas perlu, terutama ketika umat Islam mulai masuk di alam demokrasi dan terlibat dalam politik praktis sebagai salah satu instrumen dakwah. Tetapi kualitas lebih penting untuk menjaga mutu umat yang besar ini, baik untuk tataran hidup di dunia atau di akhirat. Karena Rasulullah saw bangga akan hal itu. Seperti keterangan Abu Said al-Khudhri ra, sesungguhnya Nabi saw bersabda: “Saya memiliki telaga yang luasnya seperti antara Ka’bah Baitul Makdis, berwarna putih seperti susu, tempayan-tempayannya sebanyak bintang. Dan saya adalah nabi yang paling banyak pengikutnya pada hari Kiamat nanti” (HR. Ibnu Majah. No. 4291).

Latest posts by admin (see all)

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Close
Dukung Kami !!!
Klik tombol dibawah ini, Terima Kasih