Published On: Sat, Nov 11th, 2017

Muhammad SAW Sang Idola

Saat dunia dilanda keterpurukan dalam berbagai aspek kehidupan; aturan Ilahiyah dipalsukan, nafsu duniawi menguasai pandangan, pikiran dan perasan manusia, nilai kemanusiaan lenyap bahkan berubah menjadi nafsu kebinatangan, pembunuhan merajalela, bahkan anak sendiri dikubur hidup-hidup, saat itulah Muhammad SAW lahir bagai oase di tengah sahara, yang kelak mempersembahkan energi kehidupan bagi kebangkitan peradaban manusia.

Kehadiran Muhammad SAW di atas panggung kehidupan mengusung tugas sebagai penyelamat, seperti yang dijelaskan oleh beliau sendiri dalam sabdanya, “Saya bagaikan seorang yang menyalakan api. Ketika api itu menerangi ruangan sekitarnya, maka serangga dan binatang-binatang melata yang berada di sekitar api itu nyaris terjatuh ke dalam api, lalu orang tersebut berusaha menahan binatang-binatang tadi, tetapi mereka (binatang-binatang) itu justru menyerangnya, maka terjatuhlah. Demikianlah, aku berusaha menahan kalian agar tidak terjerumus ke dalam neraka, tetapi kalian justru menjerumuskan diri ke dalamnya.” (HR. Bukhari Muslim).

Dengan keluhuran pribadi Nabi Muhammad SAW, kebersihan jiwanya, kemuliaan akhlaq dan ketinggian moralitasnya (QS.68:4), tidak dapat dipungkiri telah mampu membangkitkan dunia dari keterpurukan. Menuntun manusia ke jalan yang lurus, mewujudkan keadilan, menumpas segala bentuk kezhaliman, menyebarkan kedamaian Islam dan memerangi berbagai penyelewengan.

 Sang Idola Itu Adalah Muhammad SAW

Satu bentuk dari kasih sayang Allah SWT kepada manusia adalah ketika mengutus Rasul dari golongan manusia (QS. 25: 20), dan bukan dari golongan malaikat (QS. 17:95). Karena manusia adalah tidak dapat menemukan jalan hidupnya sendiri kecuali melalui petunjuk seorang Rasul yang bisa diikuti dan diteladani. Maka bagi orang-orang beriman, Rasulullah SAW merupakan karunia Allah SWT yang harus disyukuri.

Oleh karena itu, mencontoh, meneladani dan mencintai Rasulullah SAW dengan kecintaan mendalam merupakan kelaziman bagi setiap muslim. Rasulullah SAW bersabda, “Demi Allah, tidak beriman seseorang di antara kalian sehingga mencintaiku lebih dari orang tuanya, anaknya dan semua manusia”. (HR.Bukhari Muslim)

Cinta kepada Rasulullah SAW adalah cinta imani, yaitu cinta yang motivasinya keimanan dan kecintaan kepada Allah SWT. Sedangkan mengikuti, meneladani dan mentaati ajaran Rasulullah adalah konsekuensi dari pengakuan dan perasaan cinta. Bukankah Allah SWT berfirman, “Katakanlah jika kalian cinta kepada Allah maka ikutilah aku”. (QS.3: 31).

Jadi, apalagi yang menghalangi kita untuk mencintai, mentaati, meneladani dan mengidolakan Rasulullah SAW, kalau bukan kebodohan, kekufuran dan keangkuhan. Maka jangan malu-malu dan ragu meyakini dan menyatakan: “ar Rasul Qudwatuna (Rasulullah Muhammad SAW adalah teladan dan idola kami ). Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah “. (QS.33: 21)

 Muhammad SAW Seorang Yang Berakhlak Mulia

Siapakah kiranya sosok laki- laki berbudi pekerti amat mulia, yang lahir dari rahim sejarah? Dialah Muhammad SAW. Ia produk ta’dib Rabbani (didikan Tuhan). Ummul Mu’minin A’isyah ra. Pernah ditanya tentang akhlaq Rasulullah SAW, maka ia menjawab, “Sesungguhnya akhlaq Rasulullah adalah Al Qur’an”.

Bagaimana tidak? Jika tujuan dari misi besar dakwahnya adalah seperti yang beliau tegaskan dalam sabdanya, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq”. (HR. Malik). Dan bagaimana tidak? Jika orang yang paling beliau cintai adalah, “ Orang yang paling baik akhlaqnya”. (HR. Ahmad)

Rasulullah SAW memiliki sifat sabar dengan segala ma’na yang dikandungnya; sabar menghadapi tekanan, penyiksaan dan hinaan musuh, sabar menghadapi musibah kematian kerabat dan sahabatnya, sabar menghadapi sakit, kelaparan dan kemiskinan. Beliau juga lembut, murah hati, penyayang, pemaaf di saat kuasa membalas.

Ketika masyarakat Thaif menyiksa dan menghinakannya, malaikat penjaga bukit menawarkan untuk menghancurkan mereka dengan bukit, tapi beliau menolak seraya bersabda, “Ya Allah, ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui”, sembari terus berharap keislaman mereka dan anak cucunya. Ketika futuh Mekah, beliau bersikap di luar dugaan musuh yang sedang ketakutan. Beliau hanya mengatakan apa yang pernah dikatakan Nabi Yusuf kepada saudara- saudaranya, “Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kalian, mudah- mudahan Allah mengampuni kalian, dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang” (QS.12:92)

Rasulullah SAW juga pemberani yang penuh patriotisme. Di puncak kebesaran dan kekuasaannya yang pernah membuat iri raja-raja dunia, Rasulullah sangat tawadhu’, jauh dari sifat sombong. Aisyah berkata, “Beliau biasa menambal terompahnya, menjahit bajunya, mengerjakan sesuatu dengan tangannya sendiri seperti seorang di antara kalian dalam rumahnya, mencuci pakaiannya, memerah air susu dombanya dan membereskan urusannya sendiri.”

Jika umat dan bangsa ini ingin merajut kembali simpul- simpul moralitasnya yang sudah pudar, maka kepribadian Rasulullah SAW adalah cermin yang paling bening. Beliaulah gudangnya sift-sifat kesempurnaan. “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS.68:4).

 Muhammad SAW Seorang Kepala Rumah Tangga

Di saat banyak bahtera rumah tangga hancur dihantam badai kekerasan, percekcokan dan perceraian, maka rumah tangga Rasulullah SAW adalah cerminan “surge dunia.” Beliau adil kepada semua istrinya dalam memenuhi kebutuhan sandang, pangan

dan papan, juga waktu tinggal, ziarah dan kebutuhan biologis lainnya. Bahkan ketika dalam sakit menjelang wafat harus tinggal di salah satu rumah istrinya, hal itu tidak beliau lakukan kecuali setelah mendapat ridha dari semua istrinya. Begitu besar perhatian dan kehati-hatian Rasulullah SAW dalam bersikap adil. Meski demikian beliau selalu memohon ampun kepada Allah SWT atas keterbatasannya dalam hal yang hanya menjadi kuasa-Nya seraya berucap, “Ya Allah, inilah pembagian yang hamba mampu lakukan, maka ampunilah atas apa yang hamba tidak mampu lakukan”. (HR. Ashabus Sunan)

Rasulullah SAW telah memposisikan wanita di tempat terhormat di saat semua peradaban menghinakannya, memberikan hak-haknya di kala dunia merampasnya. Beliau benar-benar telah membumikan firman Allah, “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS.2: 228)

 Rasulullah SAW siap bermusyawarah,berdiskusi dan mengambil pendapat istriistrinyajika kebenaran di pihak mereka.Beliau tidak segan ketika di rumah harusmemenuhi kebutuhannya sendiri, bahkankebutuhan istrinya sebagai bentuk baktisuami kepada istri. Rasulullah SAW bersabda, “Baktimu kepada istrimu adalah sadaqah.”

Sebagai seorang suami, di mata istriistrinya beliau sosok yang berparas menarik, murah senyum, murah hati, pandai bercanda dengan berkata benar. Tetapi beliau juga bijak dalam meredam api kecemburuan di antara istri-istrinya, bahkan tegas menghadapi tuntutan mereka dalam hal materi seperti ditegaskan dalam firman Allah. (QS.33: 28-29).

Muhammad SAW Seorang Pendidik

Mengajar dan mendidik adalah tugas asasi Rasulullah SAW, seperti beliau tegaskan sendiri dalam sabdanya, “Sesungguhnya aku diutus sebagai pendidik. Bahkan Al Qur’an sejak awal telah menjelaskan hal itu secara gamblang dalam firman Allah SWT, “Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayatNya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benarbenar dalam kesesatan yang nyata.” (QS.62: 2).

Sehingga tidak mengherankan jika Rasulullah SAW menghabiskan sebahagian besar kehidupannya untuk mengajarkan Kitab Allah dan As Sunnah serta mendidik kaum muslimin berdasarkan keduanya. Dengan proses ta’lim dan tarbiyah (mengajar dan mendidik) pesan-pesan langit itu membumi. Kebaikan dan kebenaran mengakar dalam kehidupan masyarakat. Beliau mampu menggali potensi yang dimiliki oleh masing-masing sahabat, sehingga pada kepribadian mereka terjadi perubahan yang signifikan bila dibandingkan dengan sebelum mereka berada di bawah naungan ajaran dan didikan Rasulullah SAW. Sebut saja Umar bin Khattab ra. di masa jahiliyah; pola pikir, karakter dan perasaannya terbelakang, wawasannya terbatas, hobinya santai dan mabuk-mabukan.

Kiranya benar apa yang pernah diungkapkan oleh salah seorang panglima perang Persia ketika melihat kaum muslimin, “Sungguh Umar memakan jantung hatiku karena telah mengajarkan kepada mereka akhlaq mulia. Sebenarnya bukan Umar yang mengajarkannya, tetapi Muhammadlah yang mengajarkannya kepada Umar dan mereka.” (ar Rasul hal.160-165). Sungguh, kepribadian Rasulullah SAW adalah ayat Allah yang tidak akan pernah habis. (QS.18: 109).

Latest posts by admin (see all)

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Close
Dukung Kami !!!
Klik tombol dibawah ini, Terima Kasih