Published On: Wed, Sep 25th, 2013

Pengalaman Militer Muhammad SAW

Nabi Muhammad saw diutus untuk menjadi qudwah atau suri teladan bagi seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk dalam dunia militer.

لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة

“Sungguh ada pada diri Rasulullah contoh yang baik.”

Kemiliteran dalam kehidupan manusia adalah sebuah keniscayaan, baik sebagai individu, anggota masyarakat, warga negara dan pemeluk agama. Karena dalam kehidupan telah menjadi keniscayaan pula adanya kawan dan lawan, karena itulah kemiliteran diperlukan untuk membela diri, masyarakat, negara dan agama dari lawannya masing-masing, apabila lawan atau musuh tersebut melakukan penyerangan secara fisik. Atau untuk menutup semua kesempatan bagi lawan untuk menyerang, yaitu dengan memperkuat pertahanan dan atau melakukan penyerangan terlebih dahulu.

Nabi Muhammad saw sebagai individu, anggota masyarakat Quraisy, warga dan pemimpin negara Madinah serta pembawa risalah agama Islam, tidak terlepas dari keniscayaan kehidupan, bahwa beliau mempunyai kawan dan banyak yang memusuhinya. Walaupun tidak tercatat dalam sejarah, bahwa siapakah yang pernah menjadi lawannya sebagai individu.

Tapi, beliau sebagai anggota masyarakat Quraisy dituntut memiliki solidaritas dan loyalitas kepada sukunya, sehingga Nabi pernah berperang bersama orang-orang Quraisy dan bahkan lebih jauh dari hanya sekadar berperang, yaitu ikut dalam perundingan perdamaian, hal itu terjadi pada masa kecilnya, dan akan kami jelaskan lebih lanjut.

Dan yang tidak mungkin dipungkiri, bahwa sangat banyak yang memusuhinya, adalah ketika beliau sebagai pemimpin agama di Mekah, dan sekaligus sebagai pemimpin negara di Madinah, dan bahkan yang sangat memusuhinya adalah kaum Quraisy sendiri, sehingga banyak sekali peperangan terjadi setelah Muhammad saw menjadi Nabi dan Rasul.

Oleh karena itu setiap individu muslim, harus mempersiapkan dirinya setiap saat dengan kemampuan dan kekuatan militer dalam rangka membela diri, bangsa dan agamanya, serta menjaga diri agar musuh-musuh Islam – kelak – tidak berani berniat untuk melawan umat Islam.

Agar dapat mengambil qudwah dari Rasulullah saw, khususnya tentang kemiliteran, marilah kita melihat satu-persatu pengalaman beliau dalam kemiliteran.

A. Pengalaman Militer Pada Masa Remaja
Sejak umur 15 tahun Rasulullah saw telah ikut berperang bersama pamannya, yaitu ketika terjadi perang Fijar yang berlangsung empat tahun antara Quraisy dan Kinanah melawan Qais ‘Ailan. Peran Rasulullah waktu itu ialah mengumpulkan anak-anak panah bagi paman-paman beliau untuk dilemparkan kembali kepada musuh.

Pengaruh peperangan ini mengacaukan sebagian dari kehidupan bangsa Quraisy, sehingga Al Ash mengkhianati sekutunya sendiri dari Zubaid dengan mengambil barang dagangannya tanpa membayar hak-haknya. Mendengarkan hal itu Az Zubair bin Abdul Muththalib mengumpulkan orang-orang di rumah Abdullah bin Jud’an, kemudian mengajak mereka membuat perjanjian untuk tidak menzhalimi dan tidak membiarkan seorang pun di Mekah teraniaya, siapa yang teraniaya akan dibela, dan siapa yang berbuat zhalim maka harus dihukum. Rasulullah saw hadir dalam perjanjian itu.

Sehingga beliau bersabda pada masa Islam “Aku pernah mengikuti sebuah perjanjian yang dikukuhkan di rumah Abdullah bin Jud’an, suatu perjanjian yang lebih kusukai dari pada keledai yang terbaik. Seandainya saya diundang untuk perjanjian itu semasa Islam, tentu aku akan memenuhinya.”

Jadi dengan demikian Nabi Muhammad saw telah mendapatkan dua pengalaman militer pada masa mudanya, yaitu peperangan dan perjanjian perdamaian.

B. Pengalaman Militer Pada Fase Mekah
Pada fase ini Rasulullah tidak pernah melakukan peperangan, karena walaupun ia dimusuhi oleh banyak pembesar Quraisy, tapi beliau dan keluarganya dari Bani Hasyim serta para sahabatnya yang masuk Islam adalah masih warga dan sub koordinat dari bangsa Quraisy.

Dan bahkan agar dakwah Islam yang baru lahir, dan muncul di tengah-tengah orang-orang Quraisy tetap selamat dan tidak mendapatkan perlawanan yang sengit dari Quraisy, yang dapat berakibat pada ‘matinya’ dakwah sejak dini, maka Allah SWT melarang Rasulullah dan sahabatnya melakukan perlawanan atas nama kaum muslimin. Tapi jika ada perlawanan atas nama individu dipersilahkan saja, seperti Umar bin Khattab yang berkelahi dengan musuhnya.

Saya kira, walaupun tidak ada peperangan, ini merupakan pengalaman militer juga, karena salah satu yang dituntut dari kemiliteran adalah kesabaran, termasuk sabar untuk tidak melawan apabila situasinya tidak menguntungkan.

C. Pengalaman Militer Pada Fase Awal Hijrah sampai dengan Fase Pasca Perjanjian Hudaibiyah
Pada fase ini, terjadi banyak peperangan, tapi peperangan, namun musuhnya berfokus pada orang-orang kafir Quraisy dan sekutu-sekutunya. Peperangan pada fase ini ada 2 macam, yaitu saraya dan gazwah. Saraya adalah pasukan-pasukan kecil yang dibentuk oleh Rasulullah saw untuk melakukan pengintaian terhadap pergerakan orang-orang kafir Quraisy dan kafilah dagangnya. Dalam melakukan tugas saraya, Rasulullah saw tidak memimpin secara langsung melainkan mengangkat panglima pada setiap pasukan saraya.

Adapun gazwah adalah peperangan besar yang dipimpin  langsung oleh Nabi Muhammad saw. Tidak banyak gazwah yang terjadi pada fase ini, yaitu perang Badar, perang Uhud dan perang Khandaq atau Ahzab, serta serangan-serangan Rasulullah terhadap suku-suku Yahudi yang melakukan pengkhianatan terhadap Piagam Madinah.

Pada fase ini Rasulullah saw banyak membuat perjanjian dengan suku-suku yang ada di Madinah dan sekitarnya, serta berakhir dengan perjanjian Hudibiyah. Adapun perjanjian pertama yang dibuat oleh Nabi adalah Piagam Madinah yang mengikat seluruh penduduk Madinah yang terdiri dari Muslimin Arab Muhajirin dan Anshar, musyrikin Arab dan orang-orang Yahudi.

Apabila kita memperhatikan sejarah masing-masing peperangan dan perjanjian, kita dapat membuktikan ketangguhan Rasulullah saw sebagai pemimpin militer, sekaligus sebagai pemimpin sipil, sehingga senmakin lengkaplah keteladanan beliau untuk diikuti oleh setiap pemimpin di dunia ini, baik muslim maupun non muslim.

D. Pengalaman Militer Pasca Perjanjian Hudaibiyah
Pada fase ini, semakin bertambah pengalaman kemiliteran Rasulullah saw, yaitu bukan hanya peperangan, tapi beliau mengirim surat kepada raja-raja yang ada di sekitar jazirah Arabiyah untuk mengajak mereka masuk Islam, menikmati masa perdamaian dengan orang-orang kafir Quraisy, menyebarkan dakwah di seluruh jazirah Arabiyah, dan mengantisipasi pengkhianatan orang-orang kafir Quraisy terhadap perjanjian Hudaibiyah.

Adapun peperangan yang terjadi pada fase ini adalah peperangan yang bersifat manuver bukan bertahan, sedang peperangan sebelum ini adalah lebih banyak bersifat bertahan, kecuali manuver-manuver beliau terhadap suku-suku Yahudi yang mengkhianat. Di antara peperangan itu adalah perang Khaibar, perang Mu’tah, perang pembebasan kota Mekah, perang Hunain, perang Tabuk, dan lain sebagainya dalam bentuk saraya.

Sedang raja-raja yang dikirimi surat oleh Rasulullah saw adalah:  Raja Habasyah, Raja Mesir, Kisra Raja Persia, Kaisar Raja Romawi, Al Mundzir bai Saw, Haudzah bin Ali Al Hanafi pemimpin Yamamah, Al Harits bin Abu Syamr pemimpin Damaskus, dan kepada Raja Oman. Masing-masing raja dan pemimpin berbeda dalam mensikapi kedatangan surat Rasulullah saw. Ada yang menerima dengan baik, ada yang menolak dengan cara halus, ada yang menolak dengan cara yang kasar dan ada pula yang membunuh utusan Rasulullah saw. Berdasarkan sikap merekalah masing-masing, Rasulullah saw bersikap, ada yang disikapi dengan mengutus juru dakwah, ada yang cukup dengan perjanjian dan ada pula dengan peperangan.

Pada masa ini dakwah menyebar ke seluruh jazirah Arabiyah, sehingga orang-orang berbondong-bondong masuk Islam, mereka pun banyak yang bergabung dalam pasukan-pasukan jihad Rasulullah saw, sehingga pada puncaknya pembebasan kota Mekah, karena pengkhianatan orang-orang kafir Quraisy terhadap perjanjian Hudaibiyah, pada perang itu pasukan Rasulullah saw sebesar 10.000 tentara.

Rasanya sejak Rasulullah saw diizinkan berperang oleh Allah pada tahun ke 2 Hijrah, umurnya tidak pernah lepas dari peperangan, apabila dihitung dengan jumlah perang yang ada, hampir setiap bulan ada perang, bahkan sebelum meninggalnya pun beliau masih menyiapkan pasukan untuk dikirim ke negeri Syam yang dipimpin oleh Usamah bin Zaid.

Catatan yang penting dalam peperangan-peperangan ini, Rasulullah memberikan contoh yang baik yang disebut dengan akhlak perang, yang mungkin tidak pernah terjadi dalam sejarah peradaban manusia sebelumnya, atau sangat sulit kita temukan penerapannya sekarang. Yaitu:

  1. Pada peperangan beliau yang bersifat manuver, Rasulullah saw dan pasukannya menawarkan tiga hal sebelum penyerangan, (1) Masuk Islam, (2) Bayar Jizyah dan (3) Apabila penawaran 1, dan 2 ditolak maka tawarannya adalah perang.
  2. Pasukan muslim tidak boleh membunuh anak-anak, orang tua, perempuan dan orang-orang yang tidak ikut perang, termasuk dilarang menyerang orang yang sedang beribadah di gereja dan tempat ibadah lainnya.
  3. Pasukan muslim tidak diizinkan menebang pohon, kecuali untuk kebutuhan masak, dilarang pula merusak bangunan, kecuali sebagai konsekuensi perang.
  4. Pada setiap peperangan yang diikuti Rasulullah saw, beliau terjun langsung dalam kancah peperangan, bukan hanya sekadar memberi komando dari jauh.

Demikian makalah kecil ini, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bisshowab.


Latest posts by admin (see all)

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Close
Dukung Kami !!!
Klik tombol dibawah ini, Terima Kasih