Published On: Tue, Oct 8th, 2013

Piagam Madinah

piagam madinahYastrib adalah nama kuno dari kota Madinah Munawwarah, daerah oase berlembah yang subur dan dikelilingi oleh batu-batu hitam. Di sebelah timur daerah ini bernama Harrah al-Waqim, dan Harrah al-Wabarah di sebelah baratnya. Penduduk di daerah timur lebih banyak dari daerah barat karena lebih subur.

Sebelum Rasulullah saw. hijrah, secara umum kota ini dihuni oleh penduduk yang terdiri dari orang-orang Yahudi dan Arab. Orang-orang Yahudi yang datang ke kota ini berasal dari negeri Syam. Pada abad pertama dan kedua Masehi, negeri ini dikuasai  imperium Romawi. Mereka lalu melarikan diri ke daerah semenanjung Arabia—yang sebenarnya kurang mereka sukai—setelah mereka gagal dalam pemberontakan melawan Romawi pada tahun 70 M dan 125 M. Selain di kota ini, komunitas Yahudi juga ada di daerah Hijaz.

Di kota ini terdapat banyak suku Yahudi. Suku yang terbesar adalah Bani Nadhir dan Quraizah yang menetap di Harrah Waqim. Suku  lainnya adalah  Bani Qainuqa. Untuk Bani Qainuqa ini ada yang mengatakan bahwa mereka bukanlah bangsa Yahudi yang berimirgasi ke Hijaz, melainkan bangsa Arab yang menganut Yudaisme. Diperkirakan, keseluruhan populitas Yahudi dari ketiga suku tersebut ada dua ribu laki-laki dewasa ditambah dua puluh suku yang kecil-kecil.

Orang-orang Yahudi ini lebih unggul dari orang lainnya sehingga mereka menguasai bidang ekonomi, politik dan intelektual. Dalam bidang ekonomi, selain mengusai jalur perdagangan dan ekonomi, mereka juga mempengaruhi bangsa Arab yang hidup di sekitarnya dengan  tradisi berkebun dan kerajinan tangan. Namun, diantara sesama mereka tidak bisa hidup rukun, karena dipenuhi rasa ashabiyah (kesukuan) yang kuat. Konflik diantara mereka begitu sengit sehingga melibatkan suku-suku Arab lainnya. Sebelum Islam datang di kota ini, perseteruan yang berlarut-larut terjadi antara Bani Nadhir, yang berkoalisi dengan Bani Quraizhah, melawan Bani Qainuqa. Masing-masing kubu melibatkan suku-suku Arab seperti suku Aus dan Khazraj.

Adapun suku-suku Arab yang ada di Yatsrib, yaitu suku Aus dan Khazraj  menetap di daerah gurun-gurun.Hal ini karena kedatangan mereka didahului oleh orang-orang Yahudi. Mereka berasal dari orang-orang A’ad di Yaman, yang kemudian berimigrasi akibat dominasi Romawi terhadap Laut Hitam. Daerah tempat tinggal suku Aus lebih dekat dengan orang Yahudi dari Bani Nadhir dan Quraizah, sedangkan suku Khazraj bertetangga dengan Bani Qainuqo. Sejak awal, sudah ada persaingan antara suku Aus dan Khazraj.

Kedatangan suku Aus dan Khazrak ke Yatsrib diperkirakan pada tahun 300 dan 492 M. Kedua suku ini mampu mendominasi kota. Jumlah populitas mereka tidak diketahui secara pasti, namun mereka mengirimkan empat ribu  orang mujahid saat bersama-sama Rasulullah saw. menundukan kota Mekah pada tahun ke-8 H.

Orang-orang Yahudi kemudian berusaha mengambil kembali dominasi mereka dengan cara membuat perang antara suku Aus dan Khazraj. Peperangan yang terjadi antara kedua suku ini berlangsung selama berabad-abad. Perang yang terakhir adalah perang Bu’ath, yaitu perang yang terjadi menjelang kedatangan Islam. Pada perang ini, suku Aus berhasil mengalahkan suku Khazraj, yang sebelumnya selalu menjadi pemenang. Namun, suku Aus khawatir jika mereka berhasil menghancurkan musuhnya, Yahudi akan kembali mengambil alih dominasi Yatsrib. Akhirnya, mereka sepakat mencari penyelesaian damai dengan cara   mengangkat calon raja kota Yatsrib dari suku Khazraj yang bernama Abdullah bin Ubay bin Salul. Hal ini menunjukkan bahwa bangsa Arab mampu mempertahankan keunggulan mereka di kota Yatsrib atas dominasi orang-orang Yahudi.

Peperangan yang berlarut antara dua suku Arab ini melahirkan kepedihan dan kepahitan di kedua belah pihak, sekaligus membangkitkan keinginan adanya kehidupan yang penuh kedamaian. Perasaan ini berhubungan erat dengan penerimaan mereka terhadap Islam.      Bukhari meriwayatkan dari A’isyah ra., ia menegaskan,“Perang Bu’ath ditakdirkan Allah terjadi sebelum kedatangan utusan-Nya. Ketika utusan Allah datang ke Madinah, mereka (Aus dan Khazraj) terpecah menjadi . dua kelompok yang berperang. Orang-orang tua mereka telah dilukai atau dibunuh. Allah mentakdirkan hal terjadi ini sebelum kedatangan utusan-Nya sehingga mereka siap memeluk Islam.” Selain itu, Al Qur’an juga menyebutkan tentang mereka,

“….Dan ingatlah akan ni’mat Allah kepadamu  ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, lalu menjadilah kamu karena ni’mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan  kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya….” (Ali’Imron:103)

Rasulullah saw dan kaum Muslimin tiba di kota Yatsrib  pada tahun ke-622 M. Mereka mengganti nama kota ini menjadi al-Madinah al-Munawarah.. Rasulullah saw. kemudian membuat langkah-langkah strategis untuk mengokohkan masyarakat Islam yang baru tumbuh di kota ini. Langkah-langkah itu ialah membangun masjid, mempersaudarakan orang-orang Islam  kaum Muhajirin (pribumi) dan kaum Anshar (pendatang), dan juga membuat perjanjian damai dan hidup rukun dalam satu kesatuan masyarakat Madinah dengan orang-orang non muslim, khususnya Yahudi yang ada di Madinah. Langkah terakhir ini kemudian dikenal dengan nama as-Shahifah al-Madaniyyah.atau Piagam Madinah. Piagam ini kemudian menjadi  dasar-dasar negara Islam Madinah. Adapun teks piagam tersebut adalah:

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Ini adalah piagam dari Muhammad, Nabi saw., dan berlaku untuk kaum Mukminin dan Muslimin yang berasal dari suku Quraisy, Yatsrib (Madinah), dan orang-orang yang mengikuti, menggabungkan diri dan berjuang di jalan mereka:

  1. Sesungguhnya mereka adalah satu umat, lain dari komunitas yang lain;
  2. Kaum Muhajirin dari suku Quraisy, sesuai dengan kebiasaan mereka, tolong-menolong membayar diat dan membayar tebusan tawanan perang dengan cara yang adil dan baik  di antara kaum Mukminin;
  3. Bani A’uf, sesuai dengan kebiasaan mereka yang berlaku sebelumnya, tolong-menolong membayar diat, dan setiap suku membayar tebusan tawanan perang dengan cara yang adil dan baik di antara kaum Mukminin;
  4. Bani Saidah, sesuai dengan kebiasaan mereka yang berlaku selama ini, tolong-menolong membayar diat, dan setiap suku membayar tebusan tawanan perang dengan cara yang adil dan baik di antara kaum Mukminin;
  5. Bani Harts, sesuai dengan kebiasaan mereka yang berlaku selama ini, tolong-menolong membayar diat, dan setiap suku membayar tebusan tawanan perang dengan cara yang adil dan baik di antara kaum Mukminin;
  6. Bani Jusyam, sesuai dengan kebiasaan mereka yang berlaku selama ini, tolong-menolong membayar diat, dan setiap suku membayar tebusan tawanan perang dengan cara yang adil dan baik di antara kaum Mukminin;
  7. Bani Najjar, sesuai  dengan kebiasaan mereka yang berlaku selama ini, tolong-menolong  membayar diat, dan setiap suku membayar tebusan tawanan perang dengan cara yang adil dan baik di antara kaum Mukminin;
  8. Bani Amr bin Auf, sesuai dengan kebiasaan mereka yang berlaku selama ini, tolong-menolong membayar diat, dan setiap suku membayar tebusan tawanan perang dengan cara yang adil dan baik di antara kaum Mukminin;
  9. Bani Nabit, sesuai dengan kebiasaan mereka yang berlaku selama ini, tolong-menolong membayar diat, dan setiap suku membayar tebusan tawanan perang dengan cara yang adil dan baik di antara kaum Mukminin;
  10. Bani Aus, sesuai dengan kebiasaan mereka yang berlaku selama ini, tolong-menolong membayar diat diantara mereka, dan setiap suku membayar tebusan tawanan perang dengan cara yang adil dan baik di antara kaum Mukminin;
  11. Sesungguhnya kaum Mukminin tidak boleh membiarkan seorang diantara mereka  menanggung beban hutang yang berat, melainkan membantunya baik dalam pembayaran tebusan tawanan perang maupun  diat;
  12. Seorang mukmin tidak diperkenankan membuat persekutuan dengan sekutu mukmin yang baru tanpa persetujuan dari sekutu mukmin yang telah ada;
  13. Orang-orang mukmin yang bertakwa harus menentang orang yang mencari atau menuntut sesuatu dengan cara jahat,  melakukan kerusakan atau permusuhan,  dan lalim di kalangan kaum Mukminin. Kekuatan mereka harus bersatu dalam menentangnya, sekalipun perbuatan-perbuatan itu datang dari anak salah seorang di antara mereka;
  14. Seorang mukmin tidak boleh membunuh mukmin lain, dikerenakan ia  membunuh orang kafir. Seorang mukmin tidak boleh juga membantu orang kafir untuk membunuh orang beriman;
  15.  Jaminan Allah SWT itu satu, yaitu (perlindungan) yang diberikan kepada mereka  yang dekat (lemah). Sesungguhnya sesama mukmin itu saling membantu dan tidak tergantung kepada pihak lain;
  16. Sesungguhnya orang-orang Yahudi yang mengikuti kita (umat Islam), berhak atas pertolongan dan santunan  selama(kaum Mukminin) tidak mereka lalimi.
  17.  Perdamaian untuk kaum Mukminin hanya ada satu.  Oleh karena itu, seorang mukmin tidak boleh melakukan perdamaian secara mandiri dalam suatu peperangan di jalan Allah SWT, tanpa mengikutsertakan mukmin yang lain, kecuali jika perdamaian yang dibuat itu mengandung hak-hak yang sama dan mengandung prinsip-prinsip keadilan;
  18. Setiap pasukan yang berperang bersama kita (umat Islam) harus tolong-menolong satu sama lainnya;
  19. Kaum Mukminin wajib membela seorang  mukmin lainnya  yang terbunuh dalam peperangan di jalan Allah SWT. Orang-orang yang beriman dan bertakwa berada dalam petunjuk yang lurus dan terbaik;
  20. Kaum musyrikin Madinah dilarang melindungi harta dan jiwa kaum musyrikin Quraisy, dan mereka(musyrikin Madinah) tidak boleh campur tangan ketika kaum Mukminin berperang dengan musyrikin Quraisy;
  21. Barang siapa membunuh seorang mukmin, dan hal itu didukung oleh bukti yang kuat, maka kepada pembunuh tersebut  dijatuhi hukum bunuh pula, kecuali wali mukmin yang terbunuh rela(pemafkan pembunuh). Seluruh kaum Mukminin harus bersatu dalam melaksanakan hukuman bunuh(terhadap pembunuh) ini;
  22. Tidak dibenarkan bagi seorang mukmin yang mengakui piagam ini, dan percaya kepada Allah SWT dan hari akhir, membantu dan memberikan tempat perlindungan kepada  pembunuh. Barang siapa membantu atau memberikan perlindungan, akan mendapat kemurkaan dan kutukan dari Allah SWT di hari kiamat, dan penyesalan serta tebusannya tidak diterima Allah SWT;
  23.  Apabila terjadi suatu perselisihan di antara kamu, maka penyelesaiannya  harus sesuai dengan ketentuan Allah SWT, dan keputusan Nabi Muhammad saw.;
  24. Kaum Yahudi memikul biaya perang bersama kaum Mukminin;
  25. Kaum Yahudi dari Bani Auf adalah satu umat dengan mukminin. Untuk Yahudi agama mereka, dan untuk kaum Mukminin agama mereka. Begitu pula untuk sekutu-sekutu dan diri mereka sendiri, kecuali bagi orang berbuat kelaliman dan kejahatan, karena kelaliman dan kejahatan itu hanya akan merusak diri mereka sendiri;
  26. Kaum Yahudi  dari Bani Najjar diperlakukan sama sebagaimana Yahudi dari Bani Auf;
  27. Kaum Yahudi dari Bani Hars diperlakukan sama sebagaimana Yahudi dari Banu Auf;
  28. Kaum Yahudi dari Bani Saidah diperlakukan sama sebagaimana Yahudi  dari Banu Auf;
  29. Kaum Yahudi  dari Bani Jusyam diperlakukan sama sebagaimana Yahudi  dari Banu Auf;
  30. Kaum Yahudi dari Bani Aus diperlakukan sama sebagaimana Yahudi dari Banu Auf;
  31. KaumYahudi dari Banu Sa’labah diperlakukan sama sebagaimana Yahudi dari Banu Auf, Akan tatapi, bagi mereka yang berlaku lalim dan berkhianat akan dijatuhi hukuman. Hukuman mereka  hanya akan mengena diri dan keluarga mereka sendiri;
  32. Suku Jafnah dari Bani Sa’labah  diperlakukan sama  dengan Bani Sa’labah;
  33. Bani Syutaibah diperlakukan sama seperti Bani Auf. Sesungguhnya kebaikan(kesetiaan) itu berbeda dari kejahatan(khianat);
  34. Sekutu-sekutu Bani Sa’labah diperlakukan sama dengan Bani Sa’labah;
  35. Kerabat kaum Yahudi di luar kota Madinah  diperlakukan sama dengan mereka;
  36. Tidak seorang pun diperbolehkan ke luar untuk berperang,  kecuali seizin Muhammad saw.;
  37. Bagi Kaum Yahudi ada kewajiban biaya, dan bagi kaum Mukminin ada kewajiban biaya pula. Mereka bantu-membantu dalam menghadapi musuh piagam ini. Mereka saling memberi saran dan nasihat, juga memenuhi janji tanpa berkhianat. Seseorang tidak menanggung hukuman  yang diakibatkan kesalahan sekutunya, dan pembelaan akan diberikan kepada pihak yang teraniaya;
  38. Kaum Yahudi memikul biaya bersama kaum Mukminin selama dalam peperangan;
  39. Tanah Yastrib itu haram(suci) bagi warga piagam ini;
  40. Orang yang mendapat jaminan, akan diperlakukan sama dengan orang yang menjamin. Hal ini berlaku selama mereka tidak bertindak merugikan dan berkhianat;
  41. Jaminan perlindungan tidak boleh diberikan kepada seseorang, kecuali dengan seizin warga Madinah.
  42. Apabila terjadi perselisihan antara pendukung piagam ini, yang dikhawatirkan akan menimbulkan bahaya, maka penyelesaiannya diserahkan kepada ketentuan Allah SWT dan keputusan Muhammad saw. Sesungguhnya Allah SWT memelihara dan memandang baik isi piagam ini;
  43. Sesungguhnya tidak ada perlindungan bagi kaum Quraisy(Mekah), dan juga bagi pendukung mereka;
  44. Para pendukung piagam ini bahu membahu dalam menghadapi penyerangan kota Yatsrib.
  45. Apabila para pendukung piagam ini diajak berdamai,  lalu pihak lawan memenuhi  dan memelihara perdamaian, maka perdamaian itu harus dipatuhi. Jika mereka(para pendukung piagam Madinah)  diajak berdamai seperti itu, maka kaum Mukiminin wajib memenuhi ajakan dan melaksanakan perdamaian itu. Namun, hal ini tidak berlaku  bagi  orang-orang yang menyerang agama. Setiap orang wajib melaksakana kewajibannya sesuai dengan tugasnya masing-masing;
  46. Kaum Yahudi  dari Bani Aus, sekutu, dan diri mereka memiliki hak dan kewajiban seperti kelompok lain dari pendukung piagam ini.  Mereka akan menerima perlakuan yang baik  dan penuh dari semua pendukung piagam ini. Sesungguhnya kebaikan(kesetiaan)  berbeda dari kejahatan(pengkhianatan).Setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya. Sesungguhnya Allah SWT membenarkan dan memandang baik piagam ini;
  47. Sesungguhnya piagam ini tidak membela orang yang lalim dan khianat. Adapun orang yang keluar(bepergian) dijamin aman, dan orang yang berada di Madinah  juga dijamin aman, kecuali orang yang lalim dan khianat. Allah SWT  dan Nabi Muhammad saw. adalah penjamin bagi orang-orang  yang berbuat baik dan takwa;

Dengan lahirnya Piagam Madinah ini, Nabi Muhammad saw. telah melakukan sesuatu yang revolusioner, khususnya mengenai pasal-pasal yang mengandung prinsip-prinsip perdamaian dan keadilan. Pasal-pasal tersebut merombak total sikap ashabiyah dan fanatisme suku yang telah mendarah daging dalam masyarakat Arab. Dengan demikian, seluruh bentuk kelalilam, pengkhianatan, kejahatan, permusuhan, dan makar tidak dapat dibela lagi oleh sekutu-sekutu mereka yang melakukan kejahatan tersebut. Atas dasar inilah, Piagam Madinah  dikatakan mengandung prinsip-prinsip Al-Qur’an yang berkaitan dengan pembinaan kehidupan bermasyarakat, sekaligus sebagai potensi-potensi politik dari ide-ide Al-Qur’an.

Nurcholis Majid, seorang cendekiwan Muslim mengatakan, “Isi naskah konstitusi Piagam Madinah itu sangat menarik. Konstitusi itu memuat pokok-pokok pikiran yang dari sudut tinjauan modern pun mengagumkan. Dalam konstitusi itulah, untuk pertama kalinya dirumuskan ide-ide yang kini menjadi pandangan hidup modern di dunia. Diantaranya adalah prinsip-prinsip hidup berdampingan dengan damai, stabilitas sosial, politik, ekonomi, persamaan hak di depan hukum, dan prinsip-prinsip keadilan yang menghilangkan berbagai kepentingan pribadi dan kelompok.”

Wallahu ‘alam bish-shawab.       

 

Referensi:

1. Sirah Nabawiya, Al-Buthi.

2. Ensiklopedi Hukum Islam, PT Ichtiar baru Van Hoeven, Jakarta

Latest posts by admin (see all)

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Close
Dukung Kami !!!
Klik tombol dibawah ini, Terima Kasih