Published On: Wed, Oct 2nd, 2013

Rahasia Keberhasilan Dakwah Rasulullah

Rahasia Keberhasilan Dakwah RasulullahMukadimah
Semua sorot mata peradaban dunia yang semakin mengalami stagnasi dan kehancuran pada waktu itu terbelalak dan terkagum-kagum menyaksikan cikal bakal peradaban baru dunia yang dimotori oleh seorang pemuda terpercaya yang sedang menerima firman-firman Allah, Muhammad bin Abdullah. Memang dunia sedang menunggu kehadiran “risalat rabbaniah” kembali. Dan Muhammad bin Abdullah adalah satu dari sekian juta manusia yang mukhtar dan musthafa dari sisi Tuhan Semesta Alam untuk mengemban amanat ilahiah sebagaimana yang diwahyukan dan yang disyari’atkan kepada Nabi-nabi sebelumnya. Allah berfirman;

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya:”Bahwasanya tidak ada Ilah(yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. (QS. 21:25)

“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya.Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya). (QS. 42:13)

Kemudian dengan kesempurnaan yang dimiliki Rasulullah, kekuatan bahasa dan kefasihannya, keimanan yang membara serta ghirah yang menyala-nyala dalam jiwanya, Ia mulai menancapkan tonggak-tonggak risalat yang dibawanya di atas bumi, Ia mulai menyapa dunia dengan peradaban baru dan mempersembahkan dunia kembali dengan “Ruhbanul lail wa fursanunnahar” (layaknya pendeta pada waktu malam dam penunggang kuda pada waktu siang), yaitu manusia ideal nan mempesona dengan nilai-nilai kebenaran, kebaikan dan keindahan. Dunia benar-benar terkesima melihat jangka waktu yang relatif pendek mampu melahirkan peradaban baru yang belum pernah ada sebelumnya. Hanya 22 tahun 2 bulan dan 22 hari, peradaban manusia yang unik ini menggantikan peradaban-peradaban manusia yang telah usang. Peradaban yang dibangun Rasulullah adalah sebuah peradaban manusia yang diwarnai dengan nilai-nilai luhur yang komprehensif nan integral, mencakup seluruh dimensi kehidupan manusia. Kehidupan individu, kehidupan berkeluarga, kehidupan sosial, kehodupan berbegara dan bahkan kehoidupan yang mengatur antar ummat beragama.

Keberhasilan dakwah Rasul ini tidak terlepas dari tadbir rabbani. Rekayasa dan iradah Allah SWT terhadap diri Muhammad dengan proses ta’liim (pengajaran) dan ta-diib (pendidikan) yang dirancang untuk melahirkannya sebagai sosok manusia yang sempurna.

Kekuatan di Balik Keberhasilan Dakwah Rasul       
Ada beberapa kekuatan baik yang bersifat rabbaniah maupun dzatiah yang dimiliki Rasulullah SAW yang mempunyai peran besar dalam keberhasilan dakwah-Nya. Dan kekuatan-kekuatan ini yang seharusnya juga dimiliki oleh generasi sesudahnya yang senantiasa meniti jalan dakwah-Nya. Kekuatan ini pula yang membedakan antara seorang da’I dengan da’I-da’I yang lainnya. Abbas Mahmud al-Aqqad menyebutnya dengan istilah “abqariatudda’I” (kegeniusan sang da’I)[1]

Ta’lim dan Tadbir Rabbani
Rasulullah Saw selain menerima wahyu yang selanjutnya diaplikasikan dalam bentuk ta’lim ayat-ayat dan hikmat terhadap ummatnya, ia juga mendapat bimbingan, pengajaran dan lindungan rabbaniah yang langsung dari Allah SWT. Tadbir rabbani ini berlaku sejak Muhammad sebelum diangkat menjadi Rasul. Sebagaimana yang dilukiskan dala sirah nabawiah bahwasanya dia mengalami proses “syaqqus shodr”(pembedahan dada) pada usia empat tahun, terjaga dari kemaksiatan yang telah membudaya pada waktu itu dengan dipejamkan dua matanya dari kemaksiatan yang sedang digelar oleh masyarakat Quraiys, pengalamam kerja menggembalakan kambing-kambing orang arab sebagaimana nabi-nabi sebelumnya, pengalaman bisnis, pengalaman militer dan pengalaman-penglaman lain yang telah diserap sejak usia muda. Perhatikan firman Allah berikut ini. Firman yang menggambarkan perlindungan dan penjagaan Allah dari kesesetan, kefakiran dan kecemasan.

“Demi waktu matahari sepenggalan naik, dan demi malam apabila telah sunyi,

Tuhanmu tiada meninggikan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu, dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan. Dan kelak pasti Tuhanmu memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Adapun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta maka janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur). (QS. 93:1-11)   

Tiga Keistimewaan
Selain “tadbbir rabbani” yang berjalan terhadap diri Rasulullah SAW, Allah SWT telah memberikan beberapa keistimewaan atau khashais nabawiah kepada Muhammad SAW. Khashais yang tidak pernah diberikan kepada Nabi-nabi sebelumnya. Sebagian khashais itu disebutkan dalam salah satu hadits Rasulullah berikut ini;

“Aku diutus dengan “jawami’ul kalim” (kalimat pendek yang  mengandung banyak makna) dan aku ditolong dengan rasa takut (yang ditanamkan dalam jiwa musuh-musuh sepanjang satu bulan perjalanan). Tetkala aku tidur, aku bermimpi bahwasanya aku diberi kunci-kunci gudang bumi (kemenangan-kemenangan) dan diletakkan di atas telapakku.” (HR Bukhari)[2]

Hadits di atas menjelaskan kepada kita bahwa Rasulullah SAW diberi Allah SWT tiga khashais yaitu; jawami’ul kalim (al-Quran atau kalimat yang mengandung banyak makna), an-nashr bir ru’bi (kemenangan dengan adanya rasa takut yang dicampakkan ke dalam jiwa musuh-musuh) dan mafaatih khazainil ardli (kunci-kunci kemenangan, expansi wilayah dawah).

Fashohah Lughawiah
Boleh jadi ada seseorang yang fasih dalam berbahasa akan tetapi tidak fasih dalam pengucapannya. Ada kalanya yang fasih dalam berbahasa dan berucap akan tetapi tidak memiliki kefasihan dalam memilih tema-tema yang pas dan yang sesuai dengan  kebutuhan audien.

Namun kefasihan bahasa yang dimiliki Rasulullah adalah kefasihan yang mencakup tiga hal tersebut yaitu; berbahasa, berucap dan memilih tema-tema yang sesuai. Mengenai bahasa Beliau bersabda:

“Aku adalah orang Quraisy dan aku pernah disusui di Bani Sda’ad bin Bakar.”

Dan mengenai tema-tema yang sesuai dengan kebutuhan audien, Allah berfirman;

“Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak keliru, (dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli. (QS. 53:1-6)

“Aisyah ra berkata: “Rasulullah SAW tidak pernah bicara panjang lebar sebagaimana pembicaraan kalian ini. Akan tetapi Beliau bicara dengan bahasa yang jelas nan gamblang dan semua orang yang duduki di sisi-Nya mampu memahaminya dan menghafalkannya.”[3]

Pribadi Yang Menarik dan Terpercaya
Muhammad bin Abdullah SAW memiliki daya tarik yang kuat terhadap siapapun yang mengenalnya. Lawan maupun teman sangat mengagumi pribadinya yang menarik., Kepribadiannya yang sangat agung dan sikapnya yang elegan membuat semua orang menghargai dan mencintai. Karena akhlaknya adalah al-Quran, akhlak agung yang terbingkai nilai-nilai kebenaran, kebaikan dan keindahan. Allah berfirman tentang akhlaknya dalam satu ayat berikut ini;

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. Maka kelak kamu kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir)pun akan melihat, siapa di antara kamu yang gila. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dia-lah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. 68:4-7)

Selain dikagumi dan dicintai lawan maupun kawan, ia juga sangat dipercaya oleh manusia-manusia yang ada disekitarnya. Orang yang tidak beriman kepada risalat yang dibawanya namun ia masih sukan mempercayakan barang-barang berharganya kepada Muhammad. Wajar ketika ia terpilih menjadi orang yang berhak untuk meletakkan Hajar Aswad ke tempatnya demi maslahat dan kesatuan semua tokoh Quraisy yang sedang bertikai pada waktu itu. Maka gelar al-amin sangat layak baginya. Ia memang berhak dengan gelar ini lantaran akhlak dan budi pekertinya yang sangat mempesona. Kekuatan akhlak inilah yang juga ikut andil dalam menssukseskan dakwah sialmiah yang dibawanya.

Boleh jadi ada orang yang sangat dikagumi dan dicintai, akan tetapi tidak ada seorangpun yang mempercayainya. Karena ia kurang amanat, tidak memiliki kejujuran dan tanggung jawab. Ada pula orang yang dipercaya, tetapi sebatas kepercayaan saja tanpa ada rasa cinta dan kekaguman kepada dirinya. Namun Rasulullah mampu menggabungkan keduanya, ia dicintai dan dipercaya oleh kaumnya. Perhatikan sabda Beliau ketika mengumpulkan mereka di bukit Shofa;

“Tahukah kalian apabila aku kabarkan kepada kalian bahwasanya ada pasukan kuda di lembah ini yang ingin menyerang kalin, apakah kalian membenarkan (ucapanku)? Mereka menjawab: “Ya, kami belum pernah menemukan kamu kecuali hanya kejujuran saja.” (HR Bukhari)

Gelora Iman dan Bara Semangat
Salah satu kekuatan di balik kesuksesan Rasulullah dalam dakwah adalah gelora iman dan bara semangat yang tidak pernah padam dalam menyeru manusia-manusia yang ada di sekitarnya. Ayat-ayat dakwah terus-menerus turun seiring dengan perjuangan dan pengorbanannya. Dimulai dari lima ayat surat al-Alaq, kemudian ayat-ayat al-Mudatsir, lalu ayat al-Hijr yang memerintahkan untuk menjahrkan dakwahnya dan berpaling dari orang-orang musyrik. Cahaya iman yang memancar dan bara semangat yang menyala-nyala mengiringi perjuangan sampai akhir hayatnya. Dua puluh delapan kali peperangan yang dipimpin langsung oleh Beliau menunjukkan kesungguhan dalam mengibarkan panji-panji Islam di jagat raya jahiliah pada waktu itu. Oleh karenanya Allah berfirman;

“maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat), dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal). (QS. 15:98-99)

Abqariatu Muhammad (Kegeniusan Muhammad)
Selain “tadbir rabbani” dan kegeniusan mengolah dan merancang dakwah, dalam diri Rasulullah SAW bermuara tiga keginiusan lain yaitu al-abqariat al-askariah (kegeniusan militer), al-abqariat as-siasat (kegeniusan strategik) dan al-abqariat al-idariah (kegeniusan menegerial). Hal ini termasuk faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan dakwah Beliau.

Penutup
Hidup Rasulullah adalah hidup yang sarat misi, beban dan berakhir dengan hasil yang luar biasa. Hidup yang penuh dengan gelora perjuangan dan keagungan pengorbanan sampai akhir hayatnya. Perjuangan yang tidak pernah mengenal lelah dan tadlhiat (pengorbanan) yang tidak mengenal balasan yang dibingkai dengan kecerdasan, kegeniusan dan tadbir rabbani, inilah yang mengantarkan kesuksesan dakwah islamiah.  Semoga kita termasuk ummatnya yang mewarisan keagungan Beliau.



[1] Abqariatu Muhammad saw, Abbas Mahmud al-Aqqad, hal 20, Shaidaa Bairut.

[2] Fathul Bary, Ibnu Hajar al-Asqalany juz vi, hal 158, bab al-Jihad, Daar al-Kutub al-Ilmiah

[3] Fathul Bary, Ibnu Hajar al-Asqalany juz vi, hal 703, Kitab al-Manaqib, Daar al-Kutub al-Ilmiah

 

 

Latest posts by admin (see all)

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Close
Dukung Kami !!!
Klik tombol dibawah ini, Terima Kasih