Published On: Thu, Mar 20th, 2014

Manajemen Waktu Dan Produktifitas Seorang Muslim (Tafsir Surat Al-Ashr)

بسم الله الرحمن الرحيم

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3

Manajemen Waktu Dan Produktifitas Seorang Muslim (Tafsir Surat Al-Ashr)“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran “. (QS. Al-Ashr:1-3)

Mukadimah
Surah al-Ashr adalah surat ke 103 dalam Al-Quran, dan termasuk salah satu surah yang diturunkan di Mekah (Makkiyah).

Imam Al-Thabrani menyebutkan: “Apabila ada dua orang pada masa Rasululla saw bertemu, mereka tidak berpisah sampai salah satu di antara mereka membacakan surat ini kepada yang lainya “.

Imam syafi’iy juga mengatakan: “Apabila seluruh manusia mempelajari surat ini, maka cukuplah ia sebagai petunjuk”.

Dalam surah ini, Allah memulai dengan bersumpah dengan waktu Ashr  atau waktu senja. Yang mengisyaratkan tentang urgensi waktu dalam kehidupan semua orang dalam dunia ini. Dan jika Allah bersumpah dengan salah satu makhluk-Nya, itu menunjukkan bahwa makhluk itu memiliki kedudukan yang sangat penting dalam pandangan Allah SWT. Maka apabila seseorang tidak segerah menggunakan waktu itu dengan semestinya, maka ia akan dalam kerugian yang sangat luar biasa kecuali dengan tiga syarat sekaligus, pertama, iman, kedua, amal shaleh dan ketiga, saling berpesan dengan kebaikan dan kesabaran.

Pengertian Al Ashr   
Al-Asrr” artinya masa, zaman, sore dan hal memerah atau memeras.

Ibn Katsir  mengatakan: Al-Ashr adalah rentang waktu yang di situ terjadi aktivitas manusia anak Adam, baik atau buruk.

Pertama, Waktu adalah kehidupan.
Waktu adalah kehidupan. Dan kehidupan adalah batas masa kerja yang membentang dari kelahiran hingga kematian. Itulah yang kita sebut umur atau usia. Setiap manusia yang hidup mendapatkan karunia umur sebagai batas masa kerja. Jumlahnya berbeda pada setiap orang. Akan tetapi, perbedaan itu tidaklah penting, karena  pertanggungjawabannya tidak terletak disitu. Namun, yang akan kita pertanggungjawabkan adalah muatan umur itu atau cara kita menjalani kehidupan kita. 

Setiap satu satuan waktu berlalu, setiap itu pula satu bagian dari kehidupan kita berlalu. Cara kita memberikan arti dan harga bagi kehidupan kita ditentukan dari cara kita menggunakan waktu, serta cara kita menyusun aktivitas dan menyimpannya dalam wadah waktu. Jadi, nilai dari setiap satu satuan waktu adalah kegiatan yang mengisinya, dan nilai dari total kehidupan kita adalah total kegiatan yang mengisi kehidupan kita.

Kedua, Sumber daya yang tidak terganti.
Waktu, dengan berbagai kondisi dan momentumnya, tidak mengalami pengulangan. Ia merupakan sumber daya yang tidak tergantikan. Kita hanya bisa mengenang masa-masa umur yang telah kita lalui, tetapi tidak bisa menghadirkannya kembali. Kita hanya bisa menghadirkan masa lalu dalam ingatan, tetapi tidak bisa menduplikasi dan mengulanginya.

Karena sifatnya yang tidak tergantikan, maka setiap satuan waktu atau umur yang kita lalui, berarti satu pengurangan pada jatah kita. Umur kita sesungguhnya tidak pernah bertambah, tetapi berkurang. Sebab, umur adalah “jatah tetap” yang kita habiskan setiap hari.

Apabila disini Allah bersumpah dengan waktu, maka sadarlah kita betapa pentingnya waktu dalam kehidupan kita. Waktu adalah batas masa kerja yang membentang antara kelahiran dan kematian. Maka itulah jatah hidup kita. Sementara hidup adalah ujian.

Dalam kerangka ujian itu, Allah menyebutkan syarat sukses bagi setiap manusia; iman dan amal, serta dakwah dan sabar.

Maka  waktu itu akan semakin berharga kalau ia kita gunakan untuk merumuskan kehendak-kehendak Allah SWT.

Merumuskan Kehendak-kehendak Allah
Rumusan paling sederhana dan jelas dari kehendak-kehendak Allah itu kita temukan dalam kandungan surah al-‘Ashr. Dalam surah itu, Allah membuat sebuah general statement bahwa semua manusia pasti akan merugi, kecuali jika ia melakukan empat hal: beriman, beramal soleh, serta berwasiat kepada kebenaran dan berwasiat kepada kesabaran.

Iman
Iman adalah pengetahuan dan keyakinan tentang Allah dan kebenaran-kebenaran yang diturunkan-Nya. Tidak ada artinya sebuah pengetahuan bila tidak berujung dengan keyakinan. Akan tetapi, keyakinan tidak dapat dibangun tanpa dasar pengetahuan, dan pengetahuan  terkait dengan dimensi akal, sedangkan keyakinan terkait dengan dimensi hati.

Amal Shaleh
Adapun amal soleh adalah pembuktian terhadap pengetahuan dan keyakinan tersebut melalui tindakan dan perilaku keseharian. Iman yang terdiri pengetahuan dan keyakinan itu selamanya akan tetap ‘gelap’ sampai ia menjadi nyata melalui tindakan fisik. Dengan demikian, iman dan amal soleh mengintegrasikan tiga dimensi kepribadian kita; akal, hati dan fisik. Sampai di tahap ini, kata Ibnu Qayyim, seseorang telah dianggap mencapai kesempurnaan pribadi.

Berwasiat Kepada Kebenaran dan Berwasiat Kepada Kesabaran
Akan tetapi, Allah tidak menginginkan seorang muslim berhenti pada kesempurnaan pribadinya saja. Ia harus melangkah lebih jauh, menuju masyarakat dan menjadi partisipan kebajikan yang aktif, serta menjadi distributor kebaikan dan rahmat yang gesit, melalui kegiatan saling berwasiat kepada kebenaran dan kesabaran. Hal tersebut mengaharuskan seorang muslim melebur dengan masyarakatnya. Ia harus berintegrasi, bekerjasama, dan bersinergi dengan mereka dalam mendukung semua proyek kebajikan, dan melawan semua proyek kerusakan; menegakkan kehidupan yang bersih, adil dan makmur; kehidupan yang dipenuhi cahaya langit dan berkat bumi, kedamaian jiwa dan kemakmuran meteri. Sampai disini, kata Ibnu Qayyim, seorang muslim dianggap telah melengkapi kesempurnaan pribadinya dengan kesempurnaan sosial.

Pada saat seorang muslim telah mencapai kesempurnaan pribadi dan sosialnya, maka hanya ada satu hal lagi yang dia perlukan, yaitu bagaimana bertahan dalam kesempurnaan itu sampai akhir hayat. Sebab, nilai seseorang tidaklah ditentukan di awal hidupnya, tidak juga di pertengahan hidupnya, tetapi justru di akhir hidupnya. Itulah makna istiqamah atau konsistensi. Dan kekuatan yang dapat membuat kita tetap konsisten adalah kesabaran.

Namun, hal yang dapat membuat kita sabar adalah efesiensi dan efektivitas dalam hidup. Dalam proses partisipasi sosial, kita tidak dapat menjadi segalanya, atau melakukan segala hal. Jadi, kita harus bisa menghemat energi agar kita dapat mencapai output maksimum dengan keterbatasan energi yang kita miliki. Caranya adalah memilih peran yang tepat, yang sesuai dengan kompetensi inti kita. Hanya dengan demikian kita bisa menjadi ulung. Sebab, Allah SWT telah berfirman, “Katakanlah, tiap-tiap bekerja menurut keadaan (diri)-nya masing-masing.” (Surah al-Isra’: 84), dan Rasulullah saw bersabda, “Setiap orang dimudahkan melakukan sesuatu yang untuknya ia diciptakan.”

Penutup
Dengan konsep di atas kita berharap untuk bisa menjadi muslim yang komitmen dengan aqidahnya, memahami satuan-satuan ajaran Islam sebagai sistem dan tatanan kehidupan sehingga kita mampu membaca dan memahami berbagai peristiwa dan masalah kehidupan dalam kacamata Islam, yang membentuk komitmen metodologi kita kepada Islam, menjadikan Islam sebagai akhlak dan prilaku sehari-hari, sebagai pribadi, dalam keluarga dan dalam masyarakat.

 

Latest posts by admin (see all)

About the Author

-

Displaying 1 Comments
Have Your Say
  1. ahmad riyadi says:

    kata بِالْحَقِّ yg tertulis diatas,apakah tdk salah tulis
    yang saya ingat itu harusnya BIL-HAQQI,mohon ditanggapi

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Close
Dukung Kami !!!
Klik tombol dibawah ini, Terima Kasih