Published On: Fri, Mar 15th, 2013

Membaca – Ilmu & Perubahan Sosial

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ(1)خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ(2)اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ(3)الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ(4)عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ(5)

membacaBacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.  (QS: Al-‘Alaq : 1-5).

Awal Dari Sebuah Perubahan Besar
Riwayat-riwayat yang benar dan shahih menyatakan bahwa inilah lima ayat pertama yang turun dari Al-Qur’an. Misalnya riwayat panjang Imam Ahmad bin Hanbal dari ‘Aisyah r.a. tentang bagaimana proses turunnya wahyu pertama kepada Rasulullah saw di Gua Hira dimana ‘Aisyah menyebut kelima ayat tersebut diatas. Para ulama telah menyepakati hal ini.

 Mengapa harus perintah membaca yang pertama kali diturunkan Allah swt kepada Rasulullah saw? Tidak adakah perintah lain yang lebih penting dan strategis dari kegiatan membaca? Jika membaca itu penting, bagaimanakah aktivitas membaca itu akan mempengaruhi kehidupan umat manusia? Mampukah aktivitas membaca itu mengubah arah dan realitas kehidupan manusia dan memberinya kualitas yang lebih baik, melebihi semua yang dapat diberikan oleh aktivitas lain?

Begitulah seharusnya setiap Muslim bertanya setiap kali ia membaca ayat ini. Sebab inilah peristiwa paling penting yang pernah terjadi dalam sejarah kemanusiaan; saat dimana Allah swt berkenan memberi kunci kehidupan kepada umat manusia, yang dengan kunci itulah manusia memulai sebuah era baru dalam sejarahnya, mengubah dan membentuk ulang rumah peradabannya. Itulah jenak-jenak paling agung dalam sejarah kemanusiaan; jenak-jenak yang menyimpan ribuah hikmah.

Sayyid Quthub mengatakan: “Ia merupakan peristiwa agung. Teramat agung, dan keagungannya tanpa batas. Bahkan betapapun gigihnya kita berusaha untuk memahami seluruh sisi keagungannya, selalu saja akan ada sisi lain dari keagungan itu yang takkan pernah kita jangkau. Ia diluar jangkauan kita.”  (Zhilal: VI/3936).

Ketika perintah membaca itu diturunkan masyarakat Arab tidak pernah menyadari bagaimana perintah itu akan merubah seluruh kehidupan mereka secara revolusioner. Tidak ada sesuatu yang segera berubah pada mulanya di “alam kenyataan”. Karena perubahan itu pertama kali terjadi di “alam pikiran”. Tapi dari situlah sesungguhnya proses perubahan besar pada “alam kenyataan” bermula.

Perintah membaca itu pertama kali bekerja dengan cara mengaktifkan instrumen penerima dan prosessor informasi dalam diri manusia, yaitu pancaindra dan akalnya. Maka cakrawala pemikiran manusia segera terbuka lebar, wawasan mereka segera terbentang luas, dan alam benda di sekeliling mereka tiba-tiba berubah menjadi “fenomena lain”, dan alam jiwa dalam diri mereka tiba-tiba berubah menjadi “suasana lain”. 

Manusia bertindak dalam lingkaran pikiran-pikirannya, maka perilaku seseorang adalah cermin dari pikiran-pikirannya. Anak-anak pikiran yang lahir dalam benak seseorang segera akan membentuk perasaan-perasaan baru dalam jiwanya, dan tindakan-tindakannya kemudian akan lahir dalam kerangka suasana jiwa itu. Jadi apa yang kita sebut dengan kepribadian sesungguhnya adalah kata yang menghimpun tiga anasir sekaligus: pikiran, emosi dan tindakan. Dengan begitu setiap perubahan yang terjadi pada alam pikiran seorang individu, dengan sendirinya akan berdampak pada perubahan perilakunya.

Kepribadian pada individu kita sebut budaya pada masyarakat. Jika kepribadian dibentuk oleh anasir pikiran, emosi dan tindakan, maka budaya dibentuk oleh tiga anasir yang paralel: nilai-nilai yang membentuk pikiran kolektif masyarakat, mentalitas yang menggambarkan emosi kolektif mereka, dan tradisi yang menggambarkan perilaku kolektif mereka. Maka setiap perubahan yang terjadi pada alam nilai-nilai yang membentuk pikiran kolektif suatu masyarakat dengan sendirinya akan berdampak perubahan tradisi mereka. Dengan begitu, akar perubahan pada individu dan masyarakat ada pada pikiran dan nilai-nilai. Dan inilah yang dimaksud Allah swt dalam firman-Nya yang menjadi kaidah emas perubahan sosial:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sampai mereka merubah apa-apa yang ada dalam diri mereka sendiri.” (QS: 13: 11).

Membaca adalah jalan menuju pengetahuan. Dan pengetahuan  adalah akar dari pohon peradaban. Itulah sebabnya agama Islam ini sering disebut “ilmu” dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Sedang kata “ilmu” dalam Qur’an terulang 841 kali. Dan beberapa kata lain yang berkaitan dengan ilmu juga terulang puluhan kali. Misalnya, kata akal terulang sebanyak 49 kali, kata bashar (penglihatan) terulang sebanyak 149 kali, kata sam’u (pendengaran) terulang sebanyak 185 kali, kata nazhar (pandangan) terulang sebanyak 129 kali, fiqh (memahami) terulang sebanyak 20 kali, kata Al-Albab terulang sebanyak 16 kali, kata fikir terulang sebanyak 18 kali, kata burhan (bukti atau alas an) terulang sebanyak 8 kali, kata qalb (hati) terulang sebanyak 148 kali, kata Al-Nuha (akal) terulang sebanyak 2 kali. (Al-Mu’jam Al-Mufahras Li Alfaz Al-Qur’an, Muhammad Fuad Abdul Baqi, Daar Al-Fikr, Beirut.

Bila ruang ilmu terbentang begitu luas dalam Qur’an, maka ruang ilmu dalam hadits Rasulullah saw juga terbentang sama luasnya. Imam Bukhari meletakkan Kitab Ilmu dalam Shahihnya setelah kisah permulaan turunnya wahyu dan Kitab Iman. Di situ terdapat 86 hadits marfu’ dan 22 hadits mauquf tentang ilmu. Imam Muslim dalam Shahihnya juga meletakkan Kitab Ilmu yang memuat 16 hadits. Kitab Ilmu dalam At-Tirmizi memuat 42 hadits. Kitab Ilmu dalam buku Al-Targhib Wal Tarhib karangan Al-Munziri memuat 141 hadits. Sedang Al-Darimi dalam Sunannya memuat 425 hadits tentang ilmu. Walaupun banyak diantara hadits itu yang dimuat secara berulang atau bersamaan dalam kitab-kitab tersebut, namun masih banyak hadits tentang ilmu yang dimuat dalam bahasan (kitab) lain dalam buku-buku tersebut di luar kitab ilmu.

Kalau kita melompati rentang waktu dakwah beliau dan ayat terakhir dari lebih 6000 ayat Qur’an dalam waktu 22 tahun 2 bulan dan 22 hari, maka kita akan bertemu dengan ayat ini:

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (QS: 4: 3)

Awal dakwah untuk melakukan perubahan-perubahan besar itu adalah perintah membaca, dan penghujungnya adalah pernyataan langit bahwa pekerjaan itu telah selesai secara sempurna. Kalau ujung pekerjaan itu adalah kesempurnaan, maka mngertilah kita bahwa perintah membaca itu adalah awal dari perjalanan menuju kesempurnaan.

Metode dan Objek
Perintah membaca dalam kelima ayat ini tidahlah berdiri sendiri. Ada perintah lanjutannya: “Bacalah dengan nama Tuhanmu”. Kegiatan membaca harus dilakukan dengan nama Tuhan atau dengan cara Tuhan atau dengan metode Tuhan atau dengan sistim Tuhan.

Apakah artinya membaca dengan metode Allah? Yaitu berusaha memahami segala sesuatu sebagaimana Allah mempersepsikan hal itu kepada kita, sehingga membaca dengan cara ini selalu akan berujung dengan pengakuan akan ketuhanan dan keesaan Allah, dengan ketundukan kepada kekuasaan Allah sepenuh hati, dengan sujud yang tak pernah selesai. Ujung dari ilmu pengetahuan yang benar adalah keimanan yang dalam dan kuat kepada Allah swt. Dan inilah yang dimaksud Allah swt dalam firman-Nya:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya adalah para ulama (orang-orang yang mempunyai ilmu pengetahuan).” (QS: 35: 28).

Semua pengetahuan yang tidak berujung dengan ketundukan kepada Allah swt berarti melakukan aktivitas berpengetahuan di luar dari cara yang diinginkan Allah swt. Karena kegiatan itu dilakukan tidak dengan cara Allah swt, maka Allah menyesatkan para pelakunya. Allah swt berfirman:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS: 45:23).

Yang sedang kita lakukan hidup ini adalah berjalan menuju Allah swt. Dan ilmu pengetahuan yang benar itulah yang menjadi lentera penerang jalan dan pembimbing yang setia.  Maka apabila ujung dari dari ilmu pengetahuan yang benar adalah  keimanan yang kuat dan dalam, maka ilmu pengetahuan yang benar pastilah senantiasa akan berujung dengan kehormatan di sisi Allah swt. Simaklah firman Allah swt:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah mengangkat orang-orang beriman dan orang-orang yang telah diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS:  Al-Mujadalah:11 ).

Kalau kita telah mengetahui hakikat ini, mengertilah kita mengapa Allah swt membedakan posisi orang yang berilmu dengan tidak berilmu:

هُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ فِي الْأَرْضِ فَمَنْ كَفَرَ فَعَلَيْهِ كُفْرُهُ وَلَا يَزِيدُ الْكَافِرِينَ كُفْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ إِلَّا مَقْتًا وَلَا يَزِيدُ الْكَافِرِينَ كُفْرُهُمْ إِلَّا خَسَارًا

“Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barangsiapa yang kafir, maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. Dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka.” (QS: 35: 39)

Tapi apakah hakikat dari membaca itu? Hakikat membaca itu adalah mengerahkan segenap daya dan upaya untuk memahami berbagai objek…Dan objek yang harus dipahami itu adalah Tuhan, manusia, alam dan kehidupan. Tuhan telah disebutkan pada ayat pertama, sedang manusia, alam dan  kehidupan disebutkan pada ayat sesudahnya: “Bacalah dengan nama Tuhanmu, yang telah menciptakan. Ia menciptakan manusia dari segumpal darah.” Disini Allah menyebut ciptaan-Nya sebagai objek: manusia, alam dan kehidupan. Tapi Allah juga memberi penekanan khusus kepada manusia sebagai objek, karena pentingnya objek terakhir ini.

Apakah yang kita peroleh dari pengetahuan tentang semua objek itu? Yang kita peroleh adalah pemahaman yang menyeluruh tentang semua anasir yang membentuk kehidupan kita. Pengetahuan tentang Allah (ma’rifatullah) memberi kita pemahaman tentang tujuan dan arah serta cara kita menjalani hidup. Pengetahuan tentang manusia memberi kita pemahaman tentang pelaku kehidupan itu sendiri. Pengetahuan tentang alam memberi kita pemahaman tentang tempat dimana kita berpijak dan menegakkan khilafah sekaligus sebagai sumber dari semua kebutuhan materi kita. Sedang pengetahuan tentang kehidupan memberi kita pemahaman bagaimana cara interaksi antara semua anasir yang membentuk kehidupan tadi.

Tahapan Bentuk Pengetahuan
Tapi kematangan pengetahuan itu mempunyai tingkatan yang berbeda-beda. Pada mulanya pengetahuan itu tersusun secara structural dalam akal manusia. Pada tahapan ini pengetahuan itu bersifat abstrak dan tidak mempunyai bentuk. Selanjutnya pengetahuan menemukan bentuknya pada ungkapan atau lafaz yang diucapkan. Pada tahap ini pengetahuan sudah menemukan bentuknya yang bersifat bunyi dan kemudian kita sebut dengan bahasa. Pada tahapan ketiga, pengetahuan menemukan bentuknya yang lebih maju dan matang, yaitu gambar. Maksudnya bunyi bahasa yang terucap itu dapat divisualisasikan dalam bentuk tulisan.

Yang terakhir inilah yang disebut dalam Qur’an ketika Allah mengatakan:

الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ

“Yang mengajar dengan pena.”

Ibnu Katsir mengatakan bahwa ilmu pengetahuan itu ada yang bersifat ‘aqli (ada dalam akal dan bersifat abstrak), lafzhi (lafaz yang menimbulkan bunyi dan disebut bahasa), rasmi (visualisasi dalam bentuk gambar atau tulisan). Allah langsung menyebut yang terakhir dalam kata al-qalam.

Sumber Pengetahuan dan Proses Pembelajaran
Selanjutnya Allah menyebutkan bahwa Dia adalah satu-satunya sumber ilmu pengetahuan. Karena Dialah “Yang mengajari manusia apa-apa yang tidak diketahuinya.” Dan dalam ayat lain Allah mengatakan:

وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

“Dan tiadalah kamu diberi pengetahuan kecuali hanya sedikit.” (QS: Al Isra Ayat 85)

Tetapi Allah mempunyai dua cara dalam mentrasfer ilmu-Nya kepada manusia. Pertama, pengajaran yang bersifat langsung.  Cara ini dilakukan melalui dua bentuk: pertama adalah wahyu kepada para nabi, dan kedua adalah ilham yang diberikan hamba-hamba-Nya selain nabi yang Ia kehendaki. Kedua, pengajaran tidak langsung. Cara ini mempunyai dua bentuk: pertama, kemampuan menalar yang diberikan Allah kepada akal manusia sehinga ada banyak hakikat ilmiah yang dapat diketahui oleh manusia dengan menggunakan akalnya misalnya pengetahuan tentang nilai-nilai, keindahan, dan masalah-masalah social secara umum. Kedua, fakta-fakta ilmiah yang diketahui oleh manusia melalui pembuktian empiris, misalnya dalam ilmu-ilmu eksakta. Cara kedua ini sepenuhnya bertumpu pada usaha-usaha manusia.

Pengajaran dalam bentuk wahyu sekarang sudah terhenti. Tapi dalam bentuk ilham, penalaran ilmiah dan pembuktian empiris terus berlanjut sampai hari kiamat. Jadi dengan proses pembelajaran manusia merupakan proses yang berkesinambungan dan sekaligus menjadi kunci tingkat pertumbuhan dan kemajuan peradaban manusia. Itulah sebabnya Allah menyatakan:

عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

“Yang mengajari manusia apa-apa yang tidak diketahuinya.”

Dan pengajaran atau proses pembelajaran merupakan salah satu rahmat Allah yang paling berharga bagi manusia, karena dengan itulah Allah menjadikan kehidupan manusia menjadi lebih baik. Maka Rasulullah saw mengatakan:

طلب العلم فريضة على كل مسلمين و مسلمات

“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim dan Muslimah.”

 

- والله أعلم بالصواب -

Latest posts by admin (see all)

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Close
Dukung Kami !!!
Klik tombol dibawah ini, Terima Kasih