Published On: Wed, Feb 5th, 2014

Pasukan Gajah – Surat Al-Fiil

Share This
Tags

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ(1)أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ(2)وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ(3)تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ(4)فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ(5)

Pasukan Gajah - Surat Al-Fiil  “Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Robb-mu bertindak terhadap tentara bergajah. Bukankah Dia telah menjaadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka,bah ) itu sia-sia?dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun (kering) yang dimakan ulat.” (QS AL Fiil ayat 1 – 5)

Ini merupakan salah satu surat Makkiyah, yang menjelaskan salah satu tema historis paling masyhur sepanjang sejarah jazirah Arab. Yaitu penghancuran pasukan bergajah yang ingin menghancurkan Ka’bah di Mekah di bawah pimpinan Abrahah, raja Habsyah yang ditugaskan memimpin Yaman (waktu itu Yaman berada di bawah kekuasaan Habsyah – AL-Najasyi – setelah mereka berhasil mengalahkan penguasa sebelumnya Dzu Nuwas)

Kisah konspirasi penghancuran Ka’bah itu telah dibahas dalam banyak buku sejarah lama, yang ringkasnya sebagai berikut:

Dalam suatu pergolakan politik, Dzu Nuwas berhasil menggulingkan Raja Yaman sebelumnya. Setelah berkuasa, ia membabat habis seluruh lawan-lawan politiknya yang dianggapnya korup, amoral dan tidak beragama. Dalam sebuah perjalanan ke Yastrib, ia sempat bertemu dengan para pemuka Yahudi dan kagum terhadap agama tersebut. Ia sendiri dikenal zuhud dan cinta agama.

Selanjutnya, Dzu Nuwas menjadi penganjur agama Yahudi yang gigih. Ia tidak segan-segan membasmi siapa saja yang menolak dakwahnya. Termasuk ketika mendengar kabilah Najran yang sudah memeluk Nashrani dan enggan memeluk agama Yahudi. Akhirnya ia menyerang kabilah itu dan mengalahkannya. Tapi salah seorang dari kabilah itu sempat lolos dan mengadu kepada raja Romawi. Tapi karena pertimbangan wilayah Arab jauh dari kekuasaan mereka, akhirnya ia menyurati penguasa Habsyah  yang telah memeluk agama Nashrani, AL-Najasyi untuk membantu kabilah Najran menghadapi Dzu Nuwas.

Walhasil, Al-Najasyi segera mengirimkan pasukan dan berhasil mengalahkan pasukan Dzu Nuwas. Ia kemudian merebut Yaman dan menjadikannya sebagai salah satu wilayah kekuasaannya. Ia mengutus Abrahah sebagai raja Yaman.

Ketika Abrahah berkuasa, ia melihat bahwa orang-orang Arab dan Yaman sangat mencintai Ka’bah, mengunjunginya setiap musim haji. Maka –dalam rangka penyebaran agama Nashrani -  ia membangun sebuah gereja besar yang sangat mewah.  Tapi itu nampaknya tak membuat penduduk Arab dan Yaman bergeming dari agama mereka. Akhirnya ia memutuskan untuk menghancurkan ka’bah.

Dan berangkatlah ia bersama dengan sebuah pasukan besar dengan mengendarai gajah-gajah besar pula. Ketika berita konspirasi invasi ke Ka’bah tersebar luas, beberapa orang Yaman di bawah pimpinan Dzu Nafar mencegatnya. Tapi mereka dapat dikalahkan dengan mudah dan Dzu Nafar ditawan. Kemudian perlawanan itu dilanjutkan dengan sebuah pasukan Arab yang terdiri dari dua kabilah dibawah pimpinan Nufael bin Habib Al-Khats’amy. Namun pasukan inipun kalah. Bahkan Nufael kemudian dijadikan sebagai petunjuk jalan menuju Makkah.

Ketika pasukan Arab sampai ke Tho’if, warga negara itu mengatakan bahwa Ka’bah bukan di daerah mereka , tapi di Mekkah. Warga Tho’if  pun mengirim seorang penunjuk jalan menuju Mekkah. Ketika pasukan itu sampai di Mughammas, sebuah tempat antara Mekkah dan Tho’if, mereka merampas sebagian besar harta benda warga Tihamah dari suku Quraisy. Termasuk diantaranya 200 ekor onta milik Abdul Muththalib, kakek Rasulullah SAW.

Abrahah kemudian mengutus seorang utusan untuk menanyakan siapakah pemimpin Quraisy. Utusan itu lalu dipertemukan dengan Abdul Muththalib.

Kepada Abdul Muththalib, utusan Abrahah mengatakan: “Kami datang bukan untuk berperang. Kami hanya ingin menghancurkan Ka’bah. Karena itu, jika anda tidak menghalangi kami, kami tidak akan menyerang anda. Dan jika anda mengambil sikap ini, raja Abrahah akan bertemu dengan anda.”

Abdul Muththalib: “Kami juga tidak akan memeranginya. Sebab kami tidak punya kekuatan apa-apa untuk melawannya.”

Maka berangkatlah Abdul Muththalib menemui Abrahah. Kakek Rasulullah SAW ini memiliki postur tubuh yang besar, gagah, tampan dan sangat berwibawa. Ketika Abrahah melihatnya, ia langsung terpesona dan terdorong untuk menghormatinya. Ia kemudian menggelar permadani, dan duduk di atas singgasananya seperti biasa, lalu mempersilahkan Abdul Muththalib untuk duduk di sampingnya.

Kepada Abdul Muththalib –melalui penerjemahnya- Abrahah menanyakan maksud kedatangannya. Abdul Muththalib menjawab: “Saya datang untuk meminta 200 ekor unta saya yang dirampas oleh pasukan anda.”

Abrahah menjawab: “Ketika saya melihat anda, saya langsung terpesona. Dan ketika saya mendengar anda berbicara, saya benar-benar tidak berselera menyerang anda. Tapi, anda tiba-tiba saja berbicara tentang 200 ekor unta, padahal saya ingin menyerang Ka’bah, tempat suci agama anda dan nenek moyang anda.”

Abdul Muththalib menjawab: “Saya adalah pemiliki unta. Sedang Ka’bah juga mempunyai pemilik yang akan menjaganya.” Akhirnya Abrahah mengembalikan unta Abdul Muththalib, untuk kemudian kembali ke Mekkah.

Setibanya di Mekkah, ia segera menyuruh seluruh penduduk Mekkah untuk meninggalkan meninggalkan Mekkah dan pergi berlindung   ke gunung-gunung. Sebelum meninggalkan Mekkah, Abdul Muththolib bersama beberapa orang pembesar Quraisy sempat mendatangi Ka’bah dan meminta pertolongan Allah dalam menghadapi Abrahah.

Sementara Abrahah memimpin pasukannya menuju Ka’bah. Dalam perjalanan itulah Allah mengirimkan pasukan-Nya, yang terdiri dari sekelompok burung-burung, yang membawa tanah berisi racun, kemudian melempari pasukan itu hingga binasa. Abrahah sendiri terluka. Ketika sebagian besar pasukannya telah mati, ia menyuruh yang tersisa untuk kembali. Ketika tiba di Shan’a, Abrahah tewas dengan dada terbelah dan jantung tercabik-cabik.

Hari penghancuran pasukan abrahah itu bertepatan dengan hari kelahiran Rasulullah saw, pada hari Senin. Ini adalah kesepakatan jumhur ulama dan ahli sejarah (riwayat Imam Muslim, Abu Daud dan Ahmad). Sedang tanggalnya diperdebatkan antara 12 Rabiul Awal (Ibnu Ishaq), 10 Rabiul Awal (al-Waqidy) dan 2 Rabiul Awal (Abu Ma’syar al-Sanady). Sedang tahunnya disepakati oleh para sejarawan lama dan modern, termasuk para orientalis, yaitu tahun 570 atau 571 M. Tahun inilah yang dikenal dengan Tahun Gajah (Amul Fiil).

Peristiwa Ashhabul Fiil adalah peristiwa politik, militer dan keagamaan paling besar dan spektakuler sepanjang sejarah jazirah Arab. Tak satupun dari individu bangsa Arab yang dapat melupakan ini. Bahkan untuk mengenangnya, Tahun Gajah kemudian diabadikan sebagai batasan tahun mereka. Misalnya, mereka sering mengatakan, si Fulan lahir sebelum Tahun Gajah atau sesudah Tahun Gajah. Peristiwa itu juga diceritakan secara turun temurun oleh bangsa Arab. Oleh karena itu, ketika surat Al-Fiil turun, peristiwanya sendiri sangat segar dalam ingatan bangsa Arab.

Surat ini dimulai dengan pertanyaan bernada “takjub” (keheranan)”Apakah kamu belum melihat bagaimana Tuhanmu menindaki pasukan bergajah itu”? Keheranan itu muncul karena pembangkangan bangsa Arab, khususnya suku Quraisy, makin menjadi jadi. Surat ini, dengan nada tanya seperti ini, agaknya bertujuan mengingatkan bangsa Arab dan suku Quraisy, akan semua nikmat besar yang menyelamatkan mereka dari kehancuran dan kepunahan dalam sejarah mereka. Dalam dialog antara Abdul Muththalib dan Abarahah menjelang penyerangan atas Ka’bah, kita melihat bagaimana ketidak berdayaan bangsa Arab menghadapi invasi Abarahah. Dengan begitu, Allah seakan menutup peluang bagi kaum musrikin untuk membela Ka’bah, agar mereka tidak merasa bangga dan mudah melecehkan agama Allah yang akan diturunkan kemudian.

Bila hal ini dikaitkan dengan ketepatan kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan peristiwa bergajah itu, maka mukjizat penjagaan dan perlindungan Ka’bah oleh Allah secara langsung,juga menunjukkan betapa kehadiran Rasulullah SAW telah diisyaratkan sejak awal melalui peristiwa sebesar itu. Dan kerena itu, tak ada alasan untuk mengingkari kenabian Rasulullah SAW.

Kenikmatan bagi bangsa Arab dan isyarat kenabian Rasulullah, Muhammad SAW dalam kasus Al-Fiil terasa sangat kental, bila kita melihat, bagaimana proses pembinasaan itu berlangsung. Bagian ini dilukiskan dalam ayat 2,3,4, dan 5 dalam surat tersebut.

أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ(2)وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ(3)تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ(4)فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ(5)

“Bukankah Ia (Allah) telah menjadikan tipu daya mereka sia-sia. Dan Ia mengirimkan kepada mereka burung yang berkelompok-kelompok, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Ia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).”

Proses pembinasaan pasukan gajah Abrahah dengan hanya sekelompok burung yang melempari mereka dengan tanah liat yang terbakar, merupakan sesuatu yang sama sekali baru dalam sejarah pengetahuan bangsa Arab. Nampaknya, dengan cara ini Allah hendak memperjelas kemahakuasaan-Nya, kehebatan-Nya, dan ketidakberdayaan bangsa Arab. Dalam kaitan ini mungkin perlu dijelaskan, bahwa kita tidak perlu membuat rasionalisasi terhadap pembinasaan tersebut. Seperti yang dilakukan beberapa kalangan rasionalis, yang mencoba menafsirkan burung-burung itu sebagai semacam lalat yang membawa mikroba dan bakteri, menularkan penyakit sejenis kusta dan kolera sehingga mereka semua binasa.

Bila kita kembali mencermati latar belakang penghancuran Ka’bah oleh pasukan bergajah yang dipimpin Abarahah, maka kita akan menemukan bagaiamana kecemburuan religius  telah mendorong lahirnya sebuah rekayasa politik dan militer yang amat sangat berbahaya. Sama seperti penghancuran suku Najran yang menganut agama Nashrani oleh raja Yaman, Dzu Nuwas, yang menganut agama Yahudi.

Bila tema historis, politik,militer dan keagamaan ini diangkat dalam satu surat penuh dalam Al-Qur’an, apalagi dalam periode Makkiyah, dan dimulai dengan sebuah pertanyaan bernada ‘takjub’ (keheranan), tentu saja ada sasaran tarbawiyah (pendidikan) yang hendak dicapai dibalik itu. Sasaran itu antara lain:

  1. Menyadarkan kita akan satu kesadaran penting terhadap watak ‘integralitas’ tematik Al-Qur’an dalam menganalisa suatu permasalahan. Surat Al-Fiil ini, secara integral, membahas beberapa tema sekaligus; sejarah, politik, militer dan aspek sosiologis keberagamaan kita. Gaya bertanya yang digunakan Allah untuk memulai pembahasan dalam surat ini,mengisyaratkan arti penting kesadaran historis, sekaligus mengisyaratkan urgensi mengkristalisasikan keimanan kita dalam menganalisa masalah sosial politik danm militer dalam proses menegakkan Agama Allah di muka bumi.
  2. Ketepatan antara hari lahir Rasulullah SAW dengan peritiwa ini, disamping mengisyaratkan tanda-tanda kenabian beliau, sebenarnya juga mengisyaratkan, bagaimana berbagai konspirasi internasional telah melingkupi dan menanti agama ini, sejak nabi yang ditugaskan membawanya lahir. Bagian ini mungkin bahkan lebih relevan secara tarbawiyah untuk kita resapi. Tema surat Al-Fiil, yang secara sepintas terkesan diaksentuasikan pada masa sejarah, dengan begitu, ternyata sarat dengan muatan politik, yang tidak saja bertujuan meningkatkan kesadaran politik dan ketahanan mentalitas kita dalam menghadapi berbagai bentuk konspirasi, tapi juga memberi arahan bagi generasi mukmin pertama, dan selanjutnya adalah kita, bagaimana mengkristalisasikan aqidah kita dalam bentuk format analisa politik islami. Dan ini semua merupakan sebentuk ‘tarbiyah siyasiyah’(pendidikan politik) yang perlu segera kita kembangkan lebih jauh.
  3. Nada Tanya dalam ayat pertama, “Apakah kamu belum melihat bagaimana Tuhanmu menindaki pasukan bergajah?” mengisyaratkan titik yang menjadi dasar analisa sosial politik dan militer, yaitu, ‘Masholihu Dinillah’ (kepentingan-kepentingan agama Allah). Dan ini secara mutlak, menuntut adanya emosional dan rasional antara seorang analis politik Muslim dengan kepentingan-kepentingan agama Allah itu. 

 

Latest posts by admin (see all)

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Close
Dukung Kami !!!
Klik tombol dibawah ini, Terima Kasih