Published On: Sun, Jan 13th, 2013

Agar Shalat Menjadi Penenang Hati

Agar Shalat Menjadi Penenang Hati Salah satu alasan bagi mereka yang malas atau tidak mau melakukan ibadah shalat adalah bahwa ia tidak merasakan dampak dan manfaat apapun dari shalat yang dia lakukan. Memang sering terjadi, sesuatu yang semestinya cukup menjadi tidak cukup, kematian misalnya, yang semestinya cukup menjadi sebuah nasehat namum kerap kali seseorang tidak mampu menghadirkan nasehat itu kedalam relung jiwanya.

Padahal berita tentang kejadian kematian terlalu sering berseliweran melintasi gendang telinganya, tayangan berita yang menghabarkan kematian berkali-kali singgah di kornea matanya, namun tetap saja terasa hambar. Semua itu berlalu tanpa rasa, tanpa mampu menyentuh jiwanya dan nasehat yang tajam itu seakan menjadi tumpul. Maka 3 pasti ada yang salah dalam diri orang tersebut. Begitupula shalat, ketika pelakunya tidak merasakan dampak apapun dari shalatnya maka pasti bukan shalat itu yang salah, namun ada yang salah dalam cara penyikapan pelakunya terhadap shalat. Demikianlah seharusnya shalat member dampak positif

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat”. (Al-Ma`arij: 19-22)

Agar Shalat Menjadi Penenan Hati

Agar shalat yang kita dirikan dapat menjadi penenang hati dan penenteram jiwa, inilah sembilan langkah yang perlu dilakukan:

Bersihkan hati, lakukanlah dengan keikhlasan

Ketika seseorang melakukan ibadahnya dengan penuh keikhlasan ia akan menjadi tenang karena hatinya hanya tertuju kepada Allah swt, hanya pujian-Nya yang ia damba. Maka disaat itu ia tidak lagi disibukkan oleh keresahan hati ketika manusia tidak memujianya, tidak menyanjungnya, hatinya akan merasa tenang karena semua yang dilakukanya adalah lillahi ta‘ala bukan karena manusia.

“Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu baginya;dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (QS. Al-An’aam: 162-

163)

Sadari Shalat sebagai sarana komunasi

Dalam satu hadits Qudsi yang termaktub dalam kitab shohih muslim, tergambar satu dialog antara Allah dengan hamba-Nya ketika shalat”.

“Allah swt berfirman, ‘Aku membagi shalat menjadi dua bagian, antara Aku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta. Jika seorang hamba membaca: “Alham- 5 dulillahirabbil ’alamin” -segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam’, maka Allah berfirman, ‘Hamba-Ku memuji-Ku’

Jika dia membaca: “Arrahmaanirrahiim” ‘yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang’

Allah berfirman, “Hamba-Ku menyanjungku”

Jika dia membaca: “Maaliki yaumiddin” ‘pemilik hari pembalasan’

Allah berfirman: ‘Hambaku mengagungkanku’

Jika dia membaca:”Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin” ‘hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan’

Allah berfirman: ‘Ini untuku-Ku dan untuk hamba-Ku, dan hamba-Ku (mendapat) apa yang dia minta’.

Dan jika dia membaca: “Ihdinashiraathal mushtaqiim.. Shiraathalladzi an’amta ‘alaihim ghairil maghdhu bi’alaihi wa ladhaaallin… ‘ tunjukilah kami jalan yang lurus, (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat’.

Maka Allah berfir’man: ‘Ini untuk hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta.” (Hadist Qudsi, riwayat Imam Muslim)

Hadirkan Hati

Segala aktifitas tanpa kesertaan hati didalamnya akan terasa hambar. Maka emosi dan hati perlu dihadirkan, seperti seseorang yang sedang menikmati satu tayangan cerita, dia menikmatinya karena ikut larut dalam suasana cerita tersebut, sadar atau tidak ia sedang menggunakan emosinya untuk merasakan alurnya. Demikian pula shalat, semakin terpadu kesertaan gerak fikir,fisik dan ruhani kita maka dampak dari shalat akan lebih bisa dirasakan, shalatpun tidak lagi terasa sebagai beban namum akan terasa sebagai kebutuhan primer yang menenteramkan.

Fahami Bacaannya

Memahami setiap bacaan yang ada didalam shalat akan memudahkan seseorang 7 untuk menjadikan shalat sebagai sarana komunikasi, lebih mudah menjiwai makna dan pesan yang terkandung didalamnya. Disana ada pujian, ada dzikir, ada permohonan, ada sholawat, bahkan ada janji, semua itu betapa akan sangat memberikan efek penenangan pada setiap jiwa yang dengan penuh kesadaran dan kefahaman akan apa yang ia baca.

Rasakan setiap gerak dan jangan terburu-buru

Ada banyak pembiasaan sikap mulia yang diajarkan oleh shalat yang kita lakukan, diantaranya adalah ketenanngan yang sering disebut dengan ’tuma‘ninah’, hal ini mesti dilakukan pada setiap gerak shalat. Kita dilarang melakukan gerakan dalam shalat seperti gerakan ayam yang sedang mematuk makanan dengan paruhnya, harus ada kejelasan jeda antara setiap gerakan. Karena terburu-buru dalam gerakan shalat hanya akan membuat pelakunya tidak mampu merasakan dampak ketenangan dari shalat. Bahkan ketika hendak menuju ke masjidpun Rasulullah saw meminta kita untuk berjalan dengan tenang tidak tergesa-gesa. Ini adalah proses pembiasaan yang baik dari agama ini.

Seorang penyair ternama Ahmad Syauqiy melantunkan bait syairnya:

Duhai..

Andaikan shalat bukanlah penghulu ibadah

Niscaya ia, kan menjadi kebiasan dan adat terindah

Barengi dengan Kesabaran

Banyak orang yang shalat namun mereka tidak menyertakan sabar didalamnya; tidak sabar menunda pekerjaan yang lain, tidak sabar ketika ruku’, ketika bersujud, ketika membaca surah, tidak sabar ketika imam sedikit memanjangkan bacaannya, bahkan begitu selesai salam langsung angkat kaki dan langsung pergi, tidak sabar untuk sejenak duduk berdzikir seperti yang diajarkan Rasulullah saw. Maka bagaimana seseorang bisa menjadikan shalatnya sebagai sarana untuk meraih solusi ketenangan bagi dirinya, jika tidak menyertakan kesabaran didalamnya. Maka renungkanlah firman Allah ini; “Wahai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu”.(Al-Baqarah: 153) bahkan Allah swt mendahulukan kata sabar dari pada kata shalat. Maka bersabarlah untuk melakukan setiap syarat dan rukunnya, sabarlah untuk berupaya melakukannya diawal waktu.

Jadikan Shalat sebagai Cahaya

Dalam salah satu sabdanya Rasulullah saw menyatakan bahwa “As-Shalatu Nuur” shalat itu adalah cahaya. Maka cahaya adalah sesuatu yang akan memberikan penerangan bagi seseorang dalam melewati perjalanan hidupnya, ia mampu membedakan mana jalur indah yang baik untuk dirinya dan mana kubangan yang akan mencelakakan dirinya. Shalat ini akan benar-benar menjadi cahaya bagi pelakunya jika ia juga berupaya menegakkan nilai shalat itu di luar shalat, dan diluar shalatlah akan terukur kualiatas shalat seseorang. Maka shalat benar-benar akan menjadi cahaya penerang hidup jika pelakunya menjauhkan dan menjaga dirinya dari melakukan keburukan “dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan–perbuatan) keji dan munkar”. (Al-‘Ankabut:45)

Mintalah untuk dimudahkan

Dari salah satu do’a yang diajarkan oleh Al-quran, adalah apa yang dipintakan oleh Nabiyullah Ibrahim as dimana Rasulullah saw pun diminta mengambil pelajararan dari sang kholilullah-kekasih Allah- ini, demikian senandung doanya kepada Allah swt. “Ya Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Rabb kami, perkenankanlah do’aku”. (QS. Ibrahim: 40)

Tetaplah Beristiqamah

Beristiqamah, tetap komitment dalam menjaga keimanan dan melakukan nilainilai ibadah termasuk didalamnya shalat akan membuat seseorang meraih ketenangandari Allah swt sebagaimana janji-Nya; “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan Tuhan kami ialah Allah, kemudian mereka istiqamah maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS. Fushilat:30)

Demikianlah beberapa langkah yang dapat kita lakukan agar shalat kita menjadi penenang hati, penentram ruhani dan penyejuk jiwa baik dalam mengarungi kehidupan dunia atau kelak di kehidupan akherat, semoga shalat kita tetap menjadi cahaya, semoga Allah swt memudahkan kita untuk benar-benar menjadi hamba-Nya.

 

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>