Published On: Mon, Oct 7th, 2013

Amanah Dalam Bingkai As-Sunnah

Amanah Dalam Bingkai As-SunnahPendahuluan

Kandungan Al-Qur’an mencakup semua aspek kehidupan manusia. Al-Qur’an tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan sesamanya, bahkan dengan alam sekitar. Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang aqidah, ibadah dan akhlak saja, tetapi juga berbicara tentang ekonomi, sosial, politik, budaya dan sebagainya.

Dari sekian banyak yang dibicarakan Al-Qur’an, amanah merupakan salah satu bagian yang penting dari yang dibicarakan oleh Al-Qur’an. Dikatakan penting, karena amanah merupakan salah satu ciri ketaatan seseorang kepada Allah dalam keislamannya. Sementara sifat khianat yang merupakan lawan dari sifat amanah merupakan salah satu ciri pembangkangan seseorang terhadap Allah yang bisa jadi akan membawanya pada keadaan cacat keislaman dan keimanannya. Dalam hal ini Abdurrahman Hasan Habannakah mengungkapkan: “Sesungguhnya Islam telah mewajibkan kaum muslimin untuk memiliki sifat amanah, dan mengharamkan mereka menempuh jalan khianat. Orang yang memiliki sifat amanah berarti ia taat kepada Allah, dan orang yang memiliki sifat khianat berarti ia berbuat maksiat kepada Allah, dan bisa jadi ia sampai pada suatu keadaan dimana keislaman dan keimanannya manjadi cacat.”[1]

Dari ungkapan Habnnakah diatas jelas bahwa ada hubungan yang erat antara amanah dengan keimanan. Hal ini pun sebetulnya telah diungkapkan oleh Rasulullah SAW dalam haditsnya:

لا إيمان لمن لا أمانة له

“Tidak (sempurna) iman seseorang yang tidak amanah.” (HR. Ahmad).

Jelas sekali bahwa amanah merupakan sifat orang-orang yang beriman.  Orang yang menunaikan amanah berarti memiliki sifat orang-orang yang beriman. Sebaliknya orang yang khianat berarti memiliki sifat orang munafik. Ini merupakan bukti bahwa amanah memiliki urgensi yang sangat tinggi dalam Islam.

Pengertian Amanah

Secara bahasa, amanah berasal dari kata bahasa Arab : أَمِنَ يَأْمَنُ أَمْناً  yang berarti aman/tidak takut.[2] Dengan kata lain, aman adalah lawan dari kata takut. Dari sinilah diambil kata amanah yang merupakan lawan dari kata khianat. Dinamakan aman karena orang akan merasa aman menitipkan sesuatu kepada orang yang amanah.

Secara istilah, ada sebagian orang yang mengartikan kata amanah secara sempit yaitu menjaga barang titipan dan mengembalikannya dalam bentuk semula. Padahal sebenarnya hakikat amanah itu jauh lebih luas. Amanah menurut terminologi Islam adalah setiap yang dibebankan kepada manusia dari Allah seperti kewajiban-kewajiban agama, atau dari manusia seperti titipan harta.[3]

Amanah yang merupakan sifat orang yang beriman mempunyai cakupan yang sangat luas. Amanah tidak hanya berkaitan dengan masalah harta, tetapi juga berkaitan dengan selain masalah harta, atau menurut istilah M. Quraish Shihab, amanah bukan sekadar sesuatu yang bersifat material, tetapi juga non material dan bermacam-macam.[4]

Luasnya ruang lingkup amanah disebutkan juga oleh Sayyid Sabiq dalam bukunya Islamuna: “Amanah adalah segala sesuatu yang wajib dipelihara dan ditunaikan kepada orang yang berhak menerimanya. Amanah adalah kata yang pengertiannya luas mencakup segala hubungan. Konsisten dalam keimanan serta merawayatnya dengan faktor-faktor yang menyebabkan berkembang dan kekalnya adalah amanah, memurnikan ibadah kepada Allah adalah amanah, berinteraksi secara baik dengan perorangan dan kelompok adalah amanah; dan memberikan setiap hak kepada pemiliknya adalah amanah.[5]

Ruang Lingkup Amanah

Dari uraian diatas, jelas sekali bahwa amanah mencakup ajaran Islam secara keselurahan, bukan seperti pemahaman sebagian orang bahwa amanah itu sebatas menjaga dan mengembalikan titipan orang lain.

Amanah sendiri terdiri dari beberapa macam, sebagaimana yang disebutkan oleh Wahbah Az-Zuhayli, yaitu: pertama, menjaga amanah yang ada pada hak-hak Allah SWT. Hal ini terdiri dari melaksanakan segala perintah-Nya, menjauhi segala larangan-Nya, menggunakan segala perasaan dan anggota badan pada sesuatu yang dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kedua, menjaga amanah yang ada pada hak-hak diri sendiri. Yaitu bahwa seseorang tidak melakukan perbuatan kecuali yang bermanfaat baginya baik dalam agama, dunia dan akhirat. Tidak melakukan suatu perbuatan yang membahayakannya di dunia dan akhirat; menjaga diri dari hal-hal yang menyebabkan sakit; serta melakukan kaedah-kaedah ilmu kesehatan. Ketiga, menjaga amanah pada hak-hak orang lain; yaitu dengan mengembalikan barang-barang titipan dan pinjaman, tidak curang dalam melakukan transaksi, dan tidak menyebarkan rahasia dan cacat orang lain.[6]

A. Amanah terhadap Allah

Amanah terhadap Allah terbagi dalam tiga hal, yaitu:

Amanah Iman kepada Allah
Iman kepada Allah adalah amanah fitrah yang diberikan Allah kepada manusia sejak lahir. Artinya, manusia dapat mengenal dan beriman kepada Allah berdasarkan niat, kehendak, dan usahanya. Amanah fitrah ini khusus diberikan Allah kepada manusia, karena selain manusia beriman dan taat kepada-Nya berdasarkan pemberian Allah, bukan berdasarkan niat, kehendak dan usahanya.[7]

Amanah iman ini berdasarkan firman Allah Ta`ala, yang artinya :

“Sesungguhnya kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh.” (QS. Al-Ahzab: 72)

Iman kepada Allah, menerima dan melaksanakan perintah-Nya merupakan fitrah manusia. Dalam arti manusia diciptakan oleh Allah mempunyai potensi atau kesiapan untuk hal itu. Potensi atau kesiapan itu berbentuk kehendak, upaya, kesungguhan dan semacamnya. Sementara makhluk lain tidak diciptakan Allah untuk mempunyai potensi dan kesiapan untuk hal itu. Kepatuhannya hanya sebatas melaksanakan kehendak Allah, bukan lahir dari kehendak, usaha dan kesungguhannya.

Iman kepada Allah sebagai fitrah ini sesuai dengan hadits Rasulullah SAW:

ما من مولود إلا يولد على الفطرة, فأبواه يهودانه وينصرانه ويمجسانه

“Tidak ada seorang pun yang dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. (Muttafaq Alaih).

Fitrah yang dimaksud dalam hadits di atas adalah Islam yang termasuk di dalamnya iman, bukan bagaikan kertas putih sebagaimana diartikan oleh sebagian orang.

Keadaan iman sebagai fitrah sesuai juga dengan keadaan amanah sebagai fitrah. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah SAW, “…..amanah masih kuat dalam lubuk hati manusia. Kemudian turunlah Al-Qur’an, maka mereka mulai mempelajari Al-Qur’an dan As-Sunnah.”

Sabda Rasulullah bahwa amanah masih kuat dalam lubuk hati manusia mengisyaratkan bahwa amanah merupakan sifat fitrah manusia, yang melekat kuat dalam lubuk hati manusia. Sifat amanah ini tidak akan melekat pada lubuk hati kalau bukan sifat fitrah. Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah setelah itu: “Kemudian turunlah Al-Qur’an, maka mereka mulai mempelajari Al-Qur’an dan As-Sunnah.” Sabda ini menunjukkan bahwa petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah terhadap amanah datang setelah melekatnya sifat amanah dala lubuk hati manusia. Keberadaan sifat amanah dalam hati mendahului petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah tidak terjadi kecuali sifat itu memang sudah ada secara fitrah.

Amanah Ibadah
Ibadah hanya kepada Allah merupakan bagian dari amanah yang harus ditunaikan seseorang, karena ibadah kepada-Nya merupakan salah satu perintah konsekwensi iman kepada Allah dan merupakan tujuan utama manusia diciptakan. Hal ini sesuai dengan firman Allah Ta`ala yang artinya :

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Tugas ini adalah amanah dari Allah yang harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya oleh manusia. Arti dasar ibadah adalah ketundukan dan kepasrahan. Dan yang dimaksud dengan ibadah adalah untuk mentauhidkan Allah, malaksanakan ajaran-ajaran agama-Nya, dan tidak melakukan penyembahahan selain kepada-Nya.

Amanah Dakwah dan Jihad
Tugas dakwah dan jihad adalah amanah yang harus dipikul oleh orang muslim. Setiap muslim harus menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW : “Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemunkaran maka cegahlah dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka cegahlah dengan lisannya, dan jika ia tidak mampu juga maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim)

B. Amanah terhadap sesama Manusia

Amanah terhadap sesama manusia memiliki cakupan yang luas, baik dari sisi orang yang menjadi sasaran amanah maupun dari sisi bentuk-bentuk amanah. Di antara bentuk-bentuk amanah adalah:

Amanah dalam harta
Harta adalah amanah dari Allah yang harus dikelola dan dipergunakan untuk kebaikan. Allah telah memberikan petunjuk kepada kita untuk menunaikan amanah dalam harta, termasuk pula yang berkaitan dengan titipan, pinjaman, wasiat dan lain sebagainya.

Di antara amanah dalam harta yang harus ditunaikan seseorang adalah memberikan nafkah terhadap orang yang menjadi tanggungannya seperti isteri, anak, orang tua, dan pembantu, baik dalam bentuk makanan, pakaian, biaya pendidikan dan lain sebagainya.

Memberikan nafkah kepada keluarga merupakan jenis nafkah yang paling utama, karena memberikan nafkah kepada keluarga termasuk wajib, sedangkan yang lainnya termasuk sunnah. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits Rasulullah SAW : “Satu dinar yang kamu infakkan di jalan Allah, satu dinar yang kamu infakkan untuk membebaskan budak, satu dinar yang kamu sedekahkan kepada orang miskin, dan satu dinar yang kamu infakkan kepada keluargamu, maka yang paling besar pahalanya adalah apa yang kamu infakkan kepada keluargamu.” (HR. Muslim)    

Begitu juga harta yang ada di dalam kendali seseorang dalam sebuah yayasan, organisasi atau negara yang bukan milik pribadinya, melainkan milik yayasan, organisasi atau negara tersebut, maka ia harus memeliharanya atau memberikannya kepada yang berhak. Berkaitan dengan ini Ibnu Taimiyah berkata di dalam bukunya As-Siyasah Asy-Syar`iyyah: “…Bagi setiap penguasa dan wakilnya dalam pemberian hendaknya memberikan setiap hak kepada pemiliknya, dan para pengurus harta itu tidak boleh membagikannya menurut keinginannya sendiri seperti pemilik harta membagikan hartanya, karena mereka adalah orang-orang yang diberikan amanah dan para wakil bukan pemilik.”[8]

Sebagai amanah, maka orang yang menerima harta orang lain akan berurusan dengan Allah sebelum ia berurusan dengan orang yang memberikan amanah kepadanya. Jika dalam menerima amanah tersebut ia mempunyai niat untuk mengembalikannya, maka Allah pun akan membantunya untuk dapat mengembalikannya. Tapi jika ia mempunyai niat untuk tidak mengembalikannya, maka Allah pun akan membinasakannya. Jika ini dipahami dan diyakini oleh semua orang, maka tidak akan pernah terjadi korupsi di negeri ini.

Amanah dalam fisik dan nyawa
Termasuk amanah terhadap orang lain adalah menahan diri untuk tidak menyakiti dan mengganggu fisik dan nyawa orang lain, seperti menghina, menyakiti, membunuh dan semacamnya. Rasulullah SAW bersabda,

المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده

Orang muslim (sejati) adalah apabila orang-orang muslim disekitarnya merasa aman dari lisan dan tangannya.”

Amanah dalam Kehormatan
Termasuk amanah terhadap orang lain adalah menjaga nama baik atau kehormatan orang lain, tidak mencemarkan nama baik atau merusak kehormatannya. Di antara perbuatan yang dilarang berkenaan dengan amanah ini adalah berghibah, mengadu domba, menuduh orang lain berzina, dan semacamnya.

Amanah dalam Rahasia
Apabila seseorang menyampaikan sesuatu yang penting dan rahasia kepada kita, itulah amanah yang harus dijaga. Rasulullah bersabda,

إذا حدث رجل رجلا بحديث ثم التفت فهو أمانة (رواه أبو داود)

“Apabila seseorang membicarakan sesuatu kepada orang lain (sambil) menoleh ke kiri dan ke kanan (karena yang dibicarakan itu rahasia) maka itulah amanah (yang harus dijaga). (HR. Abu Dawud)

Dalam sebuah keluarga, suami isteri harus menjaga rahasia keluarga, lebih-lebih lagi rahasia ranjang. Masing-masing tidak boleh membeberkan rahasia ranjang keluarganya kepada orang lain, kecuali kepada dokter, penasehat perkawinan atau hakim pengadilan untuk tujuan yang sesuai dengan bidang tugas mereka masing-masing. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya amanah yang paling besar disisi Allah pada hari kiamat ialah menyebarkan rahasia isteri, misalnya seseorang laki-laki bersetubuh dengan isterinya, kemudian ia membicarakannya kepada orang lain tentang rahasia isterinya.” (HR. Muslim)

Begitu juga pembicaraan dalam sebuah pertemuan atau hasil keputusan yang dinyatakan rahasia, tidak boleh dibocorkan kepada orang lain yang tidak berhak mengetahuinya. Dalam hal ini Rasulullah bersabda, “Majelis pertemuan itu harus dengan amanah kecuali pada tiga majelis: Di tempat pertumpahan darah yang dilarang, di tempat perzinahan, dan di tempat perampokan.” (HR. Abu Dawud)

Amanah dalam kekuasaan
Di antara amanah dalam kekuasaan ialah seseorang tidak menggunakan kekuasaan yang diberikan kepadanya untuk mendapatkan keuntungan pribadi atau keluarganya. Ia tidak boleh mengambil tambahan dari gaji yang telah ditentukan untuknya dengan cara yang tidak benar, seperti menerima suap, atau menerima suap dengan nama hadiah, korupsi, kolusi, nepotisme dan sebagainya, karena semua itu adalah merupakan bentuk pengkhianatan dan penipuan yang akan membahayakan umat keseluruhan, yang jelas-jelas diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang kami angkat menjadi pekerja untuk mengerjakan sesuatu, dan kami beri upah menurut semestinya, maka apa yang ia ambil lebih dari dari upah yang semestinya, maka itu adalah korupsi.” (HR. Abu Dawud).

Di antara amanah dalam kekuasaan adalah memberikan suatu tugas atau jabatan kepada orang yang paling memiliki kapabilitas dalam tugas dan jabatan tersebut. memberikan tugas atau jabatan kepada orang yang tidak kapabel atau kepada seseorang yang dianggap kapabel padahal ada orang yang lebih kapabel lagi, disebabkan karena ada hubungan kerabat atau persahabata, satu daerah, suku, golongan, partai, atau karena suap dan semacamnya, berarti ia telah berbuat khianat dan akan menyebabkan kehancuran. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi:

إذا وسد الأمر إلى غير أهله فانتظر الساعة

“Apabila suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah datangnya kehancuran.”  (HR. Al-Bukhari)

Suatu ketika, Abu Dzarr menghadap kepada Rasulullah dan meminta jabatan, maka Rasulullah pun bersabda kepadanya, “Wahai Abu Dzarr, sesungguhnya kamu itu adalah orang yang lemah, dan jabatan itu adalah amanah yang pada hari kiamat akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang dapat melaksanakan tugas kewajibannya dan memenuhi tanggungjawabnya.” (HR. Muslim)

Termasuk amanah juga, orang yang tidak memiliki kapabilitas dalam memegang suatu tugas atau jabatan kepemimpinan tidak boleh memintanya. Dalam tradisi masyarakat yang berpegang teguh kepada Islam, tidak ada seorang pun yang meminta jabatan kepemimpinan.

Amanah dalam Ilmu Pengetahuan
Di antara amanah dalam ilmu pengetahuan adalah menyebarluaskannya kepada masyarakat dan menerangi hati mereka. Orang yang menyembunyikan ilmunya berarti telah berbuat khianat terhadap ilmu tersebut dan Rasulullah mengancam orang yang bersikap demikian:

من سئل عن علم فكتمه, ألجمه الله بلجام من نار يوم القيامة

“Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu lalu ia menyembunyikannya, maka Allah akan mengekangnya dengan kekangan api neraka pada hari kiamat nanti.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Di antara amanah dalam ilmu adalah kembali kepada yang benar setelah yang benar itu jelas. Seperti jika ada orang yang mengemukakan suatu pendapat, kemudian dia melihat bahwa ada dalil yang lebih kuat berbeda dengan pendapatnya, maka ia hendaknya mencabut pendapatnya dan beralih kepada dalil yang lebih kuat. Hal ini disinggung oleh Rasulullah dalam haditsnya: “Barangsiapa bersumpah dengan sebuah sumpah lalu ia melihat ada yang lebih baik selainnya, maka hendaklah ia mengambil yang lebih baik dan membayar kaffarah terhadap sumpahnya.”

Di antara amanah dalam ilmu adalah tidak malu menjawab dengan kalimat “Saya tidak tahu”, jika memang ia tidak mengetahui tentang suatu masalah.

C. Amanah terhadap Diri Sendiri

Amanah terhadap diri sendiri adalah bahwa seseorang tidak melakukan sesuatu kecuali yang paling baik dan paling bermanfaat bagi dirinya. Rasulullah SAW bersabda,

من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه

“Dari kesempurnaan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi, Malik dan Ahmad)

Semua nikmat yang Allah berikan kepada manusiaharus dijaga dan dimanfaatkan dengan baik, seperti umur, kesehatan, dan bahkan seluruh organ yang ada pada tubuh manusia adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan dihadapan Allah kelak. Sebagaimana yang dijelaskan di dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra: 36)

Abdullah bin Amru bin Al-Ash berkata, “Kemaluan itu adalah amanah, telinga adalah amanah, mata adalah amanah, lidah adalah amanah, ucapan adalah amanah, tangan adalah amanah, kaki adalah amanah, dan tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki sifat amanah.”[9]

Kesimpulan

Amanah adalah sifat dan sikap yang wajib dimiliki oleh setiap muslim karena tidak ada iman tanpa amanah. Pada dasarnya, seluruh hidup kita selama di dunia ini sebenarnya adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat. Sehingga merugi dan celakalah orang yang tidak menunaikan amanah ini dengan sebaik-baiknya.

Cukuplah Rasulullah sebagai sosok manusia yang paling amanah, sampai kawan dan lawan pun merasa aman dan tenang hidup dan bermuamalah bersama dengan beliau. Sungguh bumi ini akan damai dan sejahtera jika setiap penghuninya melaksanakan semua kewajibannya dengan penuh rasa amanah. Rasulullah SAW bersabda,

كلكم راع وكلكم مسؤول عن رعيته

“Setiap dari kalian adalah pemimpin dan setiap dari kalian akan dimintai pertanggungjawaban dari yang dipimpinnya.”

 


[1] Abdurrahman Hasan Habannakah Al-Maydani, Al-Akhlaq Al-Islamiyyah wa Ususuha, (Damaskus: Dar Al-Qalam, cet. 2, 1407 H/1987 M), jld. 1, hal. 647.

[2] Ibrahim Muthafa, Al-Mu`jam Al-Wasith, (Istambul: Al-Maktabah Al-Islamiyyah, tth), h. 28.

[3] Wahbah Az-Zuhayli, At-Tafsir Al-Munir fi Al-Aqidah wa Asy-Syariah wa Al-Akhlak, (Beirut: Daar Al-Fikr Al-Muashir, 1418 H/1998 M), jld. 9, juz 8, hal. 9.

[4] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, (Ciputat: Lentera Hati, 1421 H/2000 M), cet. 1, vol. 2, hal. 458.

[5] Sayyid Sabiq, Islamuna, (Beirut: Daar Al-Kitab Al-Arabi, tth.) hal. 166-167.

[6] Wahbah Az-Zuhaily, jilid. 3, juz 5, hal. 123

[7] Sayyid Quthub, Fi Zhilal Al-Qur’an, jilid 2, hal. 688.

[8] Ibnu Taimiyah, As-Siyasah Asy-Syar`iyah fi Islah Ar-Rai`I wa Ar-Raiyyah, Daar Al-Ma`rifah, tth, hal. 9-10.

[9] Al-Qurthubi, Al-Jami` Li Ahkaam Al-Qur’an, jilid 3, hal. 166.

Latest posts by admin (see all)

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Close
Dukung Kami !!!
Klik tombol dibawah ini, Terima Kasih