Published On: Mon, Dec 24th, 2012

Bersiap Menghadapi Kematian

           Akhir kematian manusia hanya ada dua macam, yaitu husnul khatimah (akhir yang baik) dan su’ul khatimah (akhir yang buruk). Terserah kita akan memilih yang mana, yang pertama ataukah yang kedua. Jika kita memilih yang pertama, artinya kita harus mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapinya. Karena balasan husnul khatimah adalah surga, dan untuk menuju surga diperlukan perjuangan yang cukup berat. Bahkan Nabi menyebutkan bahwa surga adalah barang dagangan Allah yang sangat mahal harganya.

            Adapun jika memilih yang kedua, maka kita tidak perlu repot-repot mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Karena bagaimanapun juga berbuat kemaksiatan lebih mudah dari pada berbuat taat. Akan tetapi kita harus sadar betul bahwa pilihan ini sama saja dengan mengantarkan diri ke neraka. Artinya, apakah kita mau masuk neraka yang di dalamnya terdapat berbagai macam siksaan yang amat penih dan apinya sangat panas membara ? jawabannya tentu tidak !.

Rahasia Kematian

            Kematian adalah sebuah keniscayaan yang tidak seorangpun mampu lari darinya. Allah berfirman tentang hal ini : ”Katakanlah,  sungguh kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu..” (al-jumu’ah (63) : 8)

            Peristiwa yang terjadi di Yogyakarta dan Jawa Tengah merupakan pelajaran yang sangat mahal. Ketika saudara-saudara kita yang ada di sekitar gunung Merapi berusaha untuk menyelamatkan diri dengan cara bereksodus mencari zona aman yang agak jauh dari gunung tersebut. Namun apa yang terjadi, saat mereka merasa aman dari bencana tersebut, ternyata Allah kirimkan musibah lain yang mengakhiri hidup mereka yaitu terjadinya gempa bumi yang berkekuatan 5,8 skala ricter.

            Itu rahasia kematian, tidak ada seorangpun yang bisa menduga, mengasumsikan dan juga menghindar dari kematian ketika ia datang. Di sinilah rahasia kematian, sehingga kedatangannya yang tidak pernah menmberi informasi kepada kita inilah yang seharusnya kita sering  mengingatnya. Ibnu Umar radiyallahu ’anhu berkata :

”Aku datang menemui Nabi saw –bersama sepuluh orang- lalu salah seorang Anshar bertanya : ”Siapakah orang yang paling cerdas dan paling mulia wahai Rasullullah ? Nabi saw menjawab : ”Orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya ; mereka itulah orang-orang yang cerdas, mereka pergi dengan membawa kemuliaan dunia dan kehormatan akhirat.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah secara ringkas dan Ibnu Abu Dunya secara lengkap dengan sanat jayyid).

Dasyatnya Sakaratul Maut

            Detik-detik datangnya kematian pasti akan dijalani setiap manusia. Itulah yang disebut dengan sakaratul maut. Setiap kita pasti akan mencicipinya. Kita akan mereguknya sebagaimana yang dialami oleh para penguasa dan rakyat biasa, oleh si kaya dan si miskin papa.

            Marilah kita simak ungkapan-ungkapan para salafus saleh tentang sakaratul maut.

Amru bin Ash ra sebagai seorang yang cerdik dan ahli strategi perang ditanya oleh putranya yang bernama Abdullah : ”Wahai ayah, ceritakanlah kepadaku tentang kematian karena engkau adalah orang yang paling jujur dalam melukiskannya”. Amru bin Ash bertutur, ”Wahai putraku, demi Allah, seakan-akan gunung menimpa dadaku dan sepertinya aku bernafas dalam lubang jarum !”.

            Ibnu Rajab menyebutkan bahwa Ka’ab Al-Ahbar diminta oleh Umar ibnu Khattab untuk menceritakan tentang kematian. Ka’ab berkata’ perumpamaan kematian itu tidak lain seperti seseorang dipukul dengan batang berduri dari pohon bidara. Seluruh durinya menusuk urat, lalu batang duri itu ditarik kembali sampai setiap urat tertarik bersamanya.

            Hasan Al-basri menasehati anak-anak dan murid-muridnya dendan mengatakan, ”Para dokter tidak ada yang berdaya menghadapi kematian”.

            Sungguh sakaraul maut adalah kejadian maha dasyat, Allah telah menetapkan sematian ini bagi semua yang hidup. Allah berfirman :

Semua yang ada di bumi akan binasa. Dan tetap kekal wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan” (Ar-Rahman : 26-27)

Yang Mengingatkan Kita Kepada Kematian

            Dr.’Aidh Abdullah Al-qarni dalam bukunya ”Wa jaat sakarat al-maut bi alhaq” menutur tentang hal-hal yang mengingatkan kita kepada kematian, yaitu :

Ziarah kubur

            Inilah yang harus sering kita lakukan. Masalahnya adalah manakala aktivitas kita yang begitu padat dan lebih berorientasi pada dunia akan melupakan kita pada orientasi akherat. Sehingga cara yang paling tepat adalah kita harus menyediakan waktu untuk melakukan ziarah kubur sebagai realisasi akan kecintaan kita terhadap sunnahnya dan sekaligus membangun antibodi keimanan pada diri kita agar tidak jatuh pada lembah kemaksiatan yang menyebabkan hidup kita hina dina.

            Suatu ketika Umar bin Abdul Aziz, seorang khalifah yang terkenal dengan zuhudnya melaksanakan shalat Id dengan masyarakatnya. Ketika beliau pulang dari shalat Id melewati suatu kuburan, ia berhenti dan menangis lama. Lalu ia berkata :”Saudara sekalian, ini adalah kuburan kakekku, kuburan bapakku, saudara-saudaraku serta tetanggaku. Tahukah kalian apa yang diperbuat kematian terhadap mereka ?” Ia menangis lama.

            Sebagian yang hadir berkata, ”Apa yang diperbuat kematian kepada mereka, wahai Amirul mukminin?”.  Umar menjawab, ”Kematian itu mengatakan : Aku telah menghancurkan biji mata, melumat kedua alat penglihatan, aku telah putuskan telapak tangan dari lengan, aku telah pisahkan lengan bawah dari lengan atas, aku ceraikan lengan dari bahunya, aku telah memutuskan tumit dari betis, aku telah pisahkan betis dari lutut dan aku hancur-remukkan segalanya !. Lalu Umar kembali menangis sehingga menangislah semua manusia yang baik dan yang durhaka.

Tilawah Al-Qur’an

            Di antara kandungan Al-qur’an adalah ayat-ayat yang bertemakan tentang surga dan neraka serta  kenikmatan dan azab. Para salafus saleh selalu berinteraksi secara maksimal dengan ayat-ayat tersebut. Karena ayat-ayat itu menjadi energi tersendiri dalam memotifasi amal-amal Islami.

            Umar ibnu Khattab seorang sahabat Rasullullah yang memiliki masa lalu kelam karena kebenciannya yang mendarah daging terhadap Islam. Beliau mampu melakukan perubahan hidupnya dengan memaksimalkan berinteraksi dengan ayat-ayat Al-Qur’an terutama ayat-ayat yang bertemakan azab. Beliau sempat berlinang air mata bahkan tak kuasa menahan tangisnya tatkala mendengar firman Allah :

”Sungguh azab Tuhanmu pasti terjadi” (Ath-Thur (52) : 7)

            Di sinilah kita temukan bahwa ayat-ayat azab menjadi energi kebaikan bagi para pecinta Al-Qur’an.

 Bergaul dengan orang-orang saleh

            Hal yang menjadikan orag-orang saleh mengingatkan kita kepada kematian adalah karena mereka orang yang memenuhi aktivitas hidupnya dengan nilai-nilai islami, jauh dari permainan dan hiburan yang melalaikan manusia dari kematian. Di sinilah orang-orang saleh akan menjadi magnet bagi kia untuk melakukan amal-amal Islami.

            Maka Allah memerintahkan kita untuk memfilter patner interaksi kita serta memerintahkan kita untuk belajar dari penyesalan hambanya yang salah dalam pergaulannya. Allah berfirman :

”Wahai, celaka aku! Sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan si Fulan itu teman akrab (ku)” (Al-Furqan (25) : 28)      

Jalan Menuju Surga

            Komitmen terhadap risalah Islam itulah jalan menuju tempat yang terbaik dan terindah yaitu surga. Dengan risalah inilah kita harus isi jiwa kita. Imam Ibnu Taimiyah mengatakan, bahwa setiap jengkal tanah yang tidak disinari cahaya risalah, maka ia adalah tempat yang terkutuk. Dan setiap hati yang tidak mengambil petunjuk agama ini, maka ia adalah hati yang dibenci Allah.

            Oleh karena itu, Muadz bin Jabal sebagai seorang yang tumbuh dalam ilmu, kekuatan, cinta dan cita-cita tinggi, ia berkata, ”Aku pernah berjalan bersama Rasyullullah di tengah malam yang gelap gulita. Disaat itulah saya bertanya kepada beliau, ”Wahai Rasullullah tunjukkanlah kepadaku satu amalan yang jika aku mengerjakannya, Allah memasukkan aku ke surga dan menjauhkan aku dari neraka”. Nabi menjawab, ”Sesungguhnya engkau telah menanyakan sesuatu yang sangat besar padahal ia ringan bagi orang yang diberi keringanan oleh Allah untuk mengamalkannya”. Lantas Rasullullah bersabda, ”Sembahlah Allah dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan haji ke Baitullah bila mampu”. Kemudian Rasullullah melanjutkan ucapannya dengan menggugah hati. ”Apakah engkau mau aku tunjukkan pokok segala perkara, tiang dan puncaknya ? Pokok segala perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat sedang puncaknya adalah jihad fi sabilillah

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Close
Dukung Kami !!!
Klik tombol dibawah ini, Terima Kasih