Published On: Mon, Jan 28th, 2013

Bukti Cinta Pada Rasul

 

Bukti Cinta Pada RasulKegandrungan diri kepada seorang sosok itulah cinta. Bisa jadi kegandrungan itu berangkat dari kekaguman terhadap figur yang dianggap ideal. Terkadang juga hanya berlatar belakangan tradisi semata.

Apapun, cinta adalah urusan “keterikatan jiwa” yang hanya bisa dirasakan namun efeknya kelihatan. Yang mengagumkan, justru cintalah yang menggerakkan sejarah peradaban manusia, menciptakan orang-orang besar atau sebaliknya. Alhasil, kecintaan seseorang merupakan mesin penggerak atau terkadang menjadi pengendali seseorang. Tindakan seseorang pada hakikatnya adalah ekspresi cinta seseorang. Atau bisa dibalik, kecintaan harus diekspresikan.

Meski sudah berlalu, bagi umat Muhammad Sallallu Alaihi wa Sallam, Rabiul 3 Awal biasanya menjadi bulan momentum mengekspresikan cinta mereka kepada nabi. Bisa dalam bentuk peringatan mauled nabi dengan seremonial khas yang dibalut dengan berbagai tradisi bernuansa lokal.

Meski tidak ada tuntutan secara khusus dari Rasulullah Sallallu Alaihi wa Sallam soal ekspresi cinta kepada beliau, namun itulah cara mereka membuktikan cinta mereka. Bagi mereka, cinta kepada Rasulullah harus dimeriahkan dan harus dirayakan. La wong cinta sesama manusia saja harus dikeramatkan apatah lagi cinta kepada sang pengulu para utusan. Ini alasan orang yang bermadzhab legalitas mauled nabi. Apapun dalihnya, maulid atau tidak maulid, seseorang harus membuktikan, mengekspresikan, dan menjadikannya sebagai momentum untuk memperbaharui komitmennya dalam napak tilas Rasulullah.

Jadi, cinta kepada Rasulullah dan komitmen untuk mengikutinya adalah dua hal yang tidak bisa terpisahkan. Ketika seseorang mengaku cinta kepada beliau, maka ini memiliki konsekwensi agar tidak menjadi cinta gombal alias cinta sebatas di bibir. Pada saat kita berikrar “asyhadu anna muhammadar rasulullah” (aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah) bukan hanya kita bersumpah, berjanji, bersaksi atas kebenaran risalahnya namun sekaligus menanam benih cinta kepada beliau dan sejak itu kita komitmen untuk mengikuti, membela beliau dan risalahnya, mengidolakan, dan memperjuangkan misinya.

“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil Perjanjian dari Para nabi: “Sungguh, apa saja yang aku berikan kepadamu berupa kitab dan Hikmah kemudian datang kepadamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”[209].

Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai Para Nabi) dan aku menjadi saksi (pula) bersama kamu.” (Ali 5 Imran : 81)

Karena syahadat rasul di atas menjadi satu dengan syahadat tauhid, maka cinta dan komitmen mengikuti Rasulullah menjadi bukti bagi kecintaan kepada Allah. Maka berhati-hatilah dari pernyataan cinta yang tidak ada pembuktiannya. Sebab hal itu bisa jadi tidak beda dengan pengakuan orang-orang munafik ketika berikrar dan bersumpah di depan beliau namun dalam kenyataannya justru memusuhi beliau.

“Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah (sunnah/ petunjuk)ku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali Imran: 31)

Bukti kecintaan kepada Rasulullah adalah sebagai berikut:

1. Sering mengingat dan menyebutnya.
Orang yang mencintai kekasihnya maka ia akan sering mengingatnya, menyebutnya dalam setiap momen dan forum. Terkadang seseorang membawa atau memasang gambar sang idola agar ia sering mengingatnya. Bahkan kekasihnya sering dia ‘bawa’ dalam mimpinya.

2. Mempelajari sirah (biografi bibliografi) Rasulullah.
Cinta itu berawal dari mengenal. Melalui buku-buku atau pengajian sirah-lah kita mengenal Rasulullah. Dari sanalah kecintaan itu bermula. “Tak kenal maka tak sayang”, kata pepatah.

Sayangnya, sebagian besar kita tidak mengenal Rasulullah kecuali namanya. Kita tidak kenal siapa nama ayahnya, ibunya, paman dan kakeknya. Apalagi perjalanan detail beliau berikut pelajaran dan ibrah yang bisa kita petik darinya. Tak heran bila kehidupan kita jauh dari bimbingan Rasulullah. Semakin dalam kecintaan kita kepada Rasulullah seharusnya menuntun kita untuk semakin dalam pengetahuan kita dengan kehidupan beliau.

3. Mendahulukan dan mengutamakan beliau dari siapapun.
Diantara bentuk mendahulukan dan mengutamakan beliau dari siapapun adalah yaitu jika ada pendapat orang yang menjadi rujukannya, bertentangan dengan hadits Nabi Muhammad Shollallahu ‘Alaihi wasallam maka wajib untuk membuang jauh-jauh pendapat orang tersebut dan wajib mengikuti hadits Nabi. Karena tidaklah ada syari’at melainkan datangnya dari beliau. Ini berlaku bagi siapa pun tanpa memandang apakah perkataan tersebut berasal dari perkataan orang yang dianggap alim, pejabat, tokoh masyarakat, dan lainlain.

Ali bin Abi Thalib pernah ditanya, “Bagaimana cinta kalian kepada Rasulullah?” Sunguh – demi Allah – Rasulullah lebih kami cintai dari harta kami, anak-anak kami, ayah-ayah kami, ibu-ibu kami, dan lebih kami cintai daripada air dingin saat kami haus.”

4. Taat kepada Rasulullah Sallallu Alaihi wa Sallam.
Ketaatan adalah bukti dan tanda kecin- taan, sekaligus syarat dan buah dari kecintaan seseorang kepada Rasulullah Sallall  Alaihi wa Sallam.

Imam Al Qadhi ‘Iyadh Al Yahshubi berkata, “Ketahuilah bahwa barangsiapa yang mencintai sesuatu, maka dia akan mengutamakannya dan berusaha meneladaninya. Jika tidak demikian, berarti dia tidak dianggap benar dalam cintaanya dan hanya bisa mengklaim tanpa bukti yang nyata.

Orang yang benar dalam mencintai Rasulullah jika ia bisa membuktikan kecintaan tersebut pada dirinya sebagai sebuah indikator. Bukti cinta kepada Rasulullah yang utama adalah meneladani, mengamalkan sunnahnya, mengikuti semua ucapan dan perbuatannya, melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangannya, serta menghiasi diri dengan adab-adab (etika) yang beliau (contohkan), dalam keadaan susah maupun senang dan lapang maupun sempit.” (Asy-Syifa bi Ta’riifi Huquuqil Mushthafa, 2/24)

5. Mengagungkan dan menghormati Rasulullah Sallallu Alaihi wa Sallam.
Setiap orang mencintai kekasihnya, dia pasti mengidolakan dan mengagungkannya karena dia meyakini yang dicintai lebih sempurna dari dirinya.

Allah berfirman, “Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka Itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-A’raf : 157)

Abu Bakar bin Al-Arabi berkata, “Kehormatan Rasulullah saat sudah mati seperti kehormatannya semasa hidup. Ucapannya yang ma’tsur setelah beliau wafat, seperti halnya ucapannya yang didengar saat beliau hidup. Jika ucapan dan hadits Rasulullah dibacakan maka tidak ada seorang pun yang meninggikan suaranya sebagaimana ketika beliau hidup.”

6. Mengangungkan sunnah Rasulullah Sallallu Alaihi wa Sallam dan menyebarkannya.
Para salafus shalih jika disebutkan hadits Rasulullah, maka mereka mengagungkan dan merasa segan sebagaimana layaknya tatkala beliau masih hidup di sisi mereka.

Di antara kesempurnaan cinta dan pengagungan kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ialah berkeinginan kuat untuk menyebarkan ajaran (sunnah)nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.”

7. Membaca shalawat kepada Rasulullah Sallallu Alaihi wa Sallam.
Pujian yang paling mendalam ialah pujian yang diberikan oleh Rabb-nya dan pujian beliau terhadap dirinya sendiri, dan yang paling utama adalah shalawat dan salam kepada beliau. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang bakhil (pelit) adalah orang yang apabila namaku disebut di sisinya, dia tidak bershalawat kepadaku.”

8. Mencintai keluarga Rasulullah Sallallu Alaihi wa Sallam dan sahabatnya.
Rasulullah Saw bersabda, “Wahai manusia sesungguhnya aku tinggalkan dua perkara besar untuk kalian. Yang pertama adalah kitabullah (Al-Quran) dan yang kedua adalah (keturunan) Ahlulbaitku.

Barangsiapa yang berpegang teguh kepada keduanya, maka tidak akan tersesat selamanya hingga bertemu denganku di telaga al-Haudh.” (HR. Muslim dalam Kitabnya Sahih juz. 2, Tirmidzi, Ahmad, Thabrani dan dishahihkan oleh Nashiruddin Al-Albany dalam kitabnya Silsilah Al-Hadits Al-Shahihah)

Rasullah juga bersabda, “Jangan kalian mencaci-maki sahabatku. Demi Allah yang jiwaku dalam genggamannya, andai kata salah seorang di antara kalian menyedekahkan emas sebesar bukit Uhud,maka sedekah itu tidak akan mampu menyamai satu mud sedekah mereka dan tidak pula menyamai setenganya” (HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Latest posts by admin (see all)

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Close
Dukung Kami !!!
Klik tombol dibawah ini, Terima Kasih