Published On: Tue, Mar 18th, 2014

Cara Mensucikan Jiwa

Cara Mensucikan JiwaMUKADIMAH
Penyakit jiwa dan dosa yang selalu mengotori pemikiran, pemilihan akal,  suara hati, dan tindakan organ tubuh manusia merupakan dinding tebal yang menghalangi mi’rajnya seseorang kepada Allah SWT . Sebab, ia merupakan virus ganas yang mampu mematikan cahaya keimanan dalam jiwa seseorang. Hati dan jiwa menjadi gelap gulita, ruang-ruangnya terasa hampa, dan bahkan mati. Selain itu, dosa-dosa tersebut membuat manusia terombang-ambing dalam lautan kehidupan, dan ia pula yang menyebabkan seseorang tertolak dihadapan Allah SWT. Oleh karenanya, Allah berfirman mengenai hal ini.

“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,” (asy-Syu’araa (26) : 88-89)

Ayat di atas mengisyaratkan kepada kita bahwa manusia yang dapat menghadap dan diterima oleh Allah hanyalah hamba-hamba-Nya yang memiliki jiwa yang bersih dan suci. Jiwa yang selamat dari dominasi syahwat yang selalu mengkhianati perintah dan larangan Allah; bebas dari syubhat yang senantiasa bertentangan dengan paradigma pemikiran Islam; dan bebas dari pengabdian-pengabdian kepada selain Allah SWT.

Allah SWT tidak akan memperhatikan dan menerima jiwa yang dikuasai nafsu amarah, nafsu lawwamah, dan waswasah syaitaniah. Mereka adalah jiwa yang senantiasa berpaling dari ayat-Nya dan selalu mengikuti jalan kesesatan.

“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus memenempuhnya.  Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai daripadanya.” (al-A’raaf (7) : 146)

Maka, hanya manusia yang memiliki jiwa yang tenang (nafsu muthmainnah) saja yang dipanggil masuk dalam hizbullah atau jemaah hamba-hamba Ar-Rahman, dan dipersilahkan memasuki surga yang telah dijanjikan kepadanya.

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku.” (al-Fajr (89) : 27-30)

“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (asy-Syams (91) : 8-10)

PEMBAHASAN

1. Cara Mensucikan Jiwa
Jiwa menjadi kotor karena ia masuk dan terjebak dalam perangkap-perangkap syubhat dan syahwat yang dipasang oleh gerakan setan. Ketika manusia terjerumus dalam kubangan syubhat dan syahwat ini, maka ia akan terperangkap dalam empat macam dosa, yaitu sebagai berikut. [1]

  • Dosa Mulkiah
  • Dosa Syaitaniah
  • Dosa Bahaimiah
  • Dosa Sabu’iah 

Pertanyaannya kemudian adalah: bisakah manusia keluar dari kungkungan dosa-dosa ini, dan sekaligus melakukan tazkiatun nafs (pensucian jiwa)?

Jawaban pertanyaan ini bukan hanya sekadar retorika lisan kita dengan menjawab “ya” atau “tidak”, tetapi diperlukan energi dan potensi jiwa untuk mampu membedol akar-akar dosa serta membabat perangkap-perangkap syubhat dan syahwat yang merupakan sumber dari penyakit jiwa itu sendiri.

Secara singkat, bisa kita katakan bahwa cara untuk mensucikan jiwa harus kembali kepada nilai-nilai kebenaran dan kebaikan Islam, yaitu dengan meningkatkan kualitas keimanan, keilmuan, dan amal ibadah kepada Allah SWT. Sebab, dengan kembali kepada nilai-nilai kebenaran Islam, jiwa akan bercahaya dan terasa tentram,  menemukan kehidupannya kembali (hayatan thoyibatan), semakin tegar, dinamis, dan progresif dalam kehidupan.

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (ar-Ra’d (13) : 28)

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.” (al-An’aam (6) : 122)

“Barangsiapa yang mengerjakan amal soleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (an-Nahl (16) : 97)

Ibnu Abbas berkata, “Sesungguhnya kebaikan itu melahirkan keceriaan wajah, cahaya hati, kelapangan rizki, kekuatan badan, dan mahabbah dalam hati manusia, dan sesungguhnya kejahatan (dosa) itu menimbulkan kepucatan pada wajah, kegelapan hati, sempitnya rizki, lemah badan, dan kebencian dalam hati manusia.” [2]

2. Syubhat dan Obatnya
Syubhat yang mewarnai setiap kisi lintasan pemikiran seseorang dan  mendominasi pemilihan dan keputusan hati akan melahirkan banyak pemikiran dan ide-ide nyleneh serta menyimpang dari paradigma yang telah dibangun oleh Islam. Dugaan atau hipotesa yang jauh dari kebenaran Islam akan dilihat  olehnya sebagai sebuah kebenaran mutlak. Hal ini terjadi setelah adanya “tazyin” (hiasan) atau “talbis” (pengkaburan), yang dihembuskan setan pada wilayah akal.

Dari sini lahirlah banyak pemikiran dan ide yang menyimpang jauh dari bingkai nilai-nilai kebenaran dan kebaikan Islam, seperti contoh di bawah ini.

  • Pemisahan agama dari negara (sekulerisme)
  • Emansipasi wanita dalam segala hal
  • Ayat-ayat waris dan ayat poligami tidak relevan dengan zaman
  • Islam “yes”, politik “no”
  • Teologi adalah produk manusia
  • Semua agama sama

Ketika syubhat telah berkaitan erat dengan akal manusia, maka kita perlu mengisi ulang kembali akal kita dengan ilmu pengetahuan Islam, sebagaimana yang telah digariskan oleh generasi salafush shaleh. Dengan ilmu pengetahuan ini, jalan kita menjadi terang dan jelas; mampu membedakan yang haq dari yang bathil, bebas dari kebodohan, selamat dari syubhat.

“Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al-Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, ‘Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.’ Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” (Ali ‘Imran (3) : 7)

Karena urgensinya ilmu pengetahuan bagi setiap muslim, maka Ibnu Taimiah berkata, “Pencabutan amanat dan iman bukanlah berarti pencabutan ilmu. Karena manusia terkadang diberikan keimanan, namun tidak diberikan keilmuan. Keimanan seperti ini mudah hilang dari jiwanya, sebagaimana hilangnya imannya Bani Israil, tatkala mereka melihat anak sapi (yang disembah). Adapun orang yang diberikan ilmu serta iman, maka iman tidak akan hilang dari jiwanya dan ia tidak akan keluar dari Islam. Hal ini berbeda kalau hanya diberi Al-Quran atau iman saja. Iman semacam ini terkadang hilang, sebagaimana realitas yang ada dalam kehidupan. Akan tetapi, kebanyakan riddah (kemurtadan) yang kita temukan, terjadi pada orang yang hanya memiliki Qur`an, namun tanpa ada ilmu dan iman, atau orang yang memiliki iman, namun tanpa ada ilmu dan Quran. Maka, orang yang memiliki Al-Quran, iman, dan ilmu pengetahuan, niscaya iman tidak akan hilang dari jiwanya. Wallahu a’lam.(al-Fataawa 18/305) [3]

3. Syahwat dan Obatnya
Salah satu akar dosa dan penyakit hati adalah syahwat yang mendominasi ruang jiwa seseorang. Jiwa atau hati yang telah didominasi hawa nafsu akan memutuskan sesuatu yang tidak dibenarkan Islam. Adapun jiwa atau hati yang bersih selalu memutuskan kebaikan atau kebenaran dari semua pilihan yang telah ditawarkan oleh akal. Sebaliknya, jiwa atau hati yang kotor akan memutuskan sesuatu yang menyimpang dari pilihan-pilihan yang ditawarkan akal.

Maka, untuk membentuk kesolehan jiwa dan hati, seorang muslim harus membangunnya dengan faktor-faktor berikut ini.

Iman yang Kokoh
Apabila seorang muslim imannya lemah, maka ia tidak akan pernah merasakan nikmatnya iman tersebut. Ia senantias terombang-ambing dalam panggung kehidupan, dan tidak memiliki jati diri lagi sebagai muslim yang sebenarnya. Sebaliknya, seorang  muslim yang memiliki kekuatan iman yang sebenarnya—bukan hanya sebatas keyakinan saja—akan merasa ketentraman, kedamaian, percaya diri, dan bahkan mampu melukiskan karya-karya besar dalam kanvas kehidupannya. Inilah hamba-hamba Allah yang dijanjikan-Nya mewarisi bumi-Nya. Perhatikan ayat-ayat berikut ini.

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”(an-Nuur (24) : 55)

“Yang selalu merasakan nikmat iman adalah orang yang rela menjadikan Allah sebagai Robb, menjadikan Islam sebagai agama, dan Muhamad sebagai Nabi.” (HR. Muslim)

“Tiga perkara yang dimana seseorang memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman: Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai daripada yang lain; seorang yang mencintai orang lain, dan ia tidak mencintainya kecuali karena Allah; dan orang yang benci dikembalikan ke dalam kekufuran, sebagaimana ia benci dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. al-Bukhari dan Muslim) [4]

Maka kelemahan dan penurunan iman ini otomatis mempengaruhi kwantitas dan kwalitas kesalehan dan kebaikan seseorang. Semakin kuat iman dalam jiwa seseorang semakin kuat pula amal seseorang dan sebaliknya, semakin lemah iman seseorang semakin lemah pula kwantitas dan kwalitas amal seseorang. Dan bahkan semakin terombang-ambing dalam lautan syahwatnya. 

Ikhlas
Keikhlasan seseorang bisa meluruskan niat dan motivasi yang ada dalam jiwanya. Mmembersihkan hatinya dari syirik dan ketakutan kepada thaghut, serta  menyelamatkannya dari semua bentuk penyimpangan hati.

“…kecuali  hamba-hamba Engkau  yang mukhlis di antara mereka.”  (al-Hijr (15) : 40)

Cinta Allah
Orang melakukan kemaksiatan, kemungkaran, dan dosa dalam kehidupannya karena kecendrungannya yang kuat untuk mengikuti hawa nafsunya. Ia mencintai hawa nafsunya atau syahwatnya dalam segala hal, dan pada waktu yang sama, ia berpaling dari nilai-nilai kebenaran Allah SWT. Ia membenci aturan-aturan yang telah digariskan dengan melakukan penyimpangan dan pelanggaran terhadap aturan-aturan tersebut. Oleh karenanya, untuk mengobati penyakit syhawat, seseorang harus kembali mencintai Allah dalam segala bentuk kehidupannya.

“Katakanlah,  ‘Jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (at-Taubah (9) : 24)

Rasa Takut dan Harap
Rasa takut akan siksaan Allah dan rasa harap atas rahmat dan magfirah-Nya dalam kehidupan akan mendorong seorang muslim melakukan taqarrub kepada Allah SWT. Ia  sekaligus juga menjauhi hawa nafsu atau syahwat yang menyesatkan dirinya dalam belentara kemaksiatan, dan menjadikannya terperangkap dalam jaring dosa.

“Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Ali ‘Imran (3) : 175)

“Maka, apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah, kecuali orang-orang yang merugi.” (al-A’raaf (7) : 99)

“Ibrahim berkata, ‘Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat.’”  (al-Hijr (15) : 56)

Adapun rasa takut serta harap bisa terbangun bila seorang hamba mengingat keburukan dosa dan ancaman yang dijanjikan pada hari kiamat. Ia harus meyakini bahwa boleh jadi ia tidak akan pernah bertaubat dari dosa-dosanya, dan menyaksikan seluruh nikmat dan ihsan Allah SWT terhadap dirinya.

Mengingat Kematian
Mengingat kematian adalah salah satu obat yang mujarab untuk mencegah dan menghentikan penyakit syhawat yang bersarang dalam jiwa dan hati seseorang. Karena, dengan senantiasa mengingat kematian, seseorang akan menyadari kembali adanya pertanggungjawaban dihadapan Allah; sadar akan adanya pertanyaan kubur, dan  akan membangun benteng-benteng kebaikan dalam kehidupannya. Oleh karenanya, Rasulullah saw. bersabda—ketika ditanya para sahabatnya tentang orang yang kuat dan cerdas dalam mensikapi kehidupan—, “…orang yang cerdas adalah orang yang mampu menundukkan hawa nafsunya, dan yang senantiasa beramal untuk hari setelah kematian.” (HR at-Timidzi) [5]

Seorang penyair berkata mengenai kematian :

Berbekallah terhadap suatu yang harus terjadi

Kematian adalah muara para hamba

Relakah kamu bersama kaum, di mana mereka semua memiliki bekal

Sedangkan kamu tanpa bekal apapun

Istiqamah
Konsintensi dan komitment terhadap nilai Islam dalam kehidupan akan menjadikan seseorang terus meniti jalan yang telah digariskan Islam. Dalam kehidupannya, hanya ada slogan ini, “sami’naa wa atha’naa” terhadap seluruh perintah dan larangan Allah. Manusiaa tidak akaan mengikuti hawa nafsu, apabila ia kembali pada nilai-nilai Islam. Karena, tidak mungkin orang yang memegang teguh nilai-nilai kebenaran ini akan terkekang oleh hawa nafsu. Bahkan, hawa nafsulah yang akan menjadi tawanan orang-orang yang selalu menegakkan nilai istiqamah dalam dirinya. Hawa nafsu tidak akan pernah menjadi raja pada wilayah jiwa orang beriman yang istiqamah. Perhatikan beberapa ayat Qur`an yang terkait dengan urgensi konsistensi dalam kehidupan.

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim, yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (Huud (11) : 112-113)

Wallahu a’lam bish-shawwab.


[1] . Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Al Jawabul Kaafi li Man Sa-ala ‘an ad-Dawa-I as-Syaafi. Dar al-Kitab al-Arabi, hlm 185-186

[2] . Al-Jauziyah, hlm. 99

[3] . Ibnu Taimiyyah. Fataawa.. Juz 18. Maktabah Ibnu Taimiyyah, hlm.305

[4] . Shahih Bukhari. Jilid I Juz 1. Beirut: Daar al-Fikr, hlm 9-10

[5] . Imam Ahmad bin Hambal. Musnad. Juz 4 Beirut: Daar al-Fikr, hlm. 124;  Sunan at-Tirmidzi. ash-Shahih. Juz 4 Bab 25. Beirut: Dar al-Fikr, hlm 550

 

Latest posts by admin (see all)

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Close
Dukung Kami !!!
Klik tombol dibawah ini, Terima Kasih