Published On: Mon, Dec 17th, 2012

Degradasi Kesolehan Dan Sebab-Sebabnya

Mukadimah
Setiap muslim pasti tidak menginginkan keimanan yang bersemayam dalam relung kalbunya mengalami kelemahan. Akibatnya amal ibadah dan kesalehan yang merupakan barometer keimanannya mengalami degradasi atau penurunan. Karena itu, setiap muslim tentu menginginkan kesalehan dan kebaikannya senantiasa ekses dalam ruang kepribadiannya dan kemudian menjelma dalam ruang sosialnya.

Namun, kesolehan dan kebaikan ini bisa bertahan, atau bahkan berkembang   dengan ditentukan oleh kondisi keimanannya. Sejauh mana ia berusaha  menyuburkan keimanannya dengan ketaatan dan kesolehan. Oleh karenanya, Rasulullah dalam sebuah hadisnya mengajarkan kepada kita sebuah doa sebagai berikut.

“Ya Allah, Engkau lah teman dalam perjalanan dan khalifah dalam keluarga. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari beratnya perjalanan dan keburukan kondisi, dari kekurangan setelah kesetabilan, dari doa orang yang terdzalimi, dan dari buruknya pemandangan terhadap keluarga dan harta.” (HR. At-Tirmidzi, hadits hasan shahih)

Dalam hadist ini, makna berlindung dari kekurangan adalah isyarat kepada setiap muslim untuk khusyuk berdoa agar keimanannya tidak mengalami penurunan, dan agar kesolehan dan kebaikannya dari hari ke hari semakin berkembang dan berbuah.

Namun, dalam realitas kehidupan muslim, tidak dapat dipungkiri adanya degradasi keimanan, kesolehan, dan kebaikan. Pada akhirnya hal ini melahirkan penyimpangan dan kesesatan dalam kehidupan. Kondisi dan fenomena ini pernah dialami oleh kaum sebelum kita. Secara eksplisit, Al-Qur`an menggambarkannya dalam ayat berikut ini.

“Maka, datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (Maryam: 59)

Oleh karena itu, munculnya generasi terbiasa menyia-nyiakan shalat dan mengikuti hawa nafsu—seperti yang disebutkan dalam ayat di atas, disebabkan oleh tidak adanya perhatian dari generasi sebelumnya. Pendahulunya tidak memberikan pemahaman dan pembinaan terhadap mereka secara kontinyu. Karena, apabila manusia tidak memiliki pemahaman yang baik tentang agamanya, ia cendrung mengikuti apa yang diinginkan hawa nafsunya. Itulah sebabnya, ketika ia memiliki pemahaman yang tidak baik, atau adanya intervensi syubhat dalam paradigma pemikirannya, atau adanya dominasi syahwat yang berlebihan, ia akan mempunyai kecendrungan meyimpang dari jalan kebenaran.

Dalam Madaarijus Salikin dan Zaadul Ma’aad, hal ini ditegaskan oleh Ibnu Qayyim al-Jauziah, ia berkata ”Bahwasanya akar penyimpangan dan kesesetan seseorang bermuara pada dua faktor yaitu, syubhat dan syahwat”. Oleh karenanya, Allah SWT mengingatkan Nabi Daud as. untuk berlaku adil, menegakkan seluruh nilai kebenaran, dan tidak mengikuti libido atau hawa nafsunya, tatkala diberikan amanah sebagai khalifah di muka bumi ini. Perhatikan ayat berikut ini.

“Hai Daud,   sesungguhnya  Kami  menjadikan  kamu   khalifah (penguasa)  di muka bumi,  maka  berilah keputusan  (perkara)  di antara  manusia dengan  adil dan  janganlah  kamu mengikuti  hawa nafsu,   karena  ia  akan  menyesatkan  kamu  dari  jalan  Allah. Sesungguhnya  orang-orang  yang  sesat  darin  jalan  Allah  akan mendapat  azab   yang  berat,    karena  mereka   melupakan  hari perhitungan.” (Shaad: 26)

Oleh karena itu, sangatlah urgen bagi seorang muslim untuk memahami sebab-sebab degradasi kesolehan dan keimanan. Satu hal yang dapat mengakibatkan kita terombang-ambing dalam lautan kesesatan.

Sebab Sebab Degradasi Kesolehan
Degradasi atau penurunan kesolehan dan keimanan seseorang tidak lahir begitu saja tanpa  faktor-faktor penyebab. Hal ini kembali kepada tabiat yang dimiliki “iman” itu sendiri, yaitu sifat fluktuatif. Terkadang ia mengalami penambahan dan penguatan yang luar biasa, namun di saat lain ia mengalami penurunan yang drastis. Ibnu Hajar Asqolani, dalam Fathul Baary, Syarah Shahih al-Bukhari menyatakan bahwa  semua ulama sependapat bahwa iman itu dapat bertambah dengan ketaatan, dan dapat berkurang dengan kemaksiatan.

Di dalam Al-Qur`an, banyak terdapat ayat yang berkaitan dengan fluktuasi imam seseorang.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (al-Anfal: 2)

“Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata,  “Siapakah diantara kamu yang bertambah imannya dengan (turannya) surat ini?” Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, disamping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir.” (at-Taubah: 124-125)

Adapun sebab-sebab degradasi kesolehan seseorang adalah sebagai berikut.

Pertama, lemahnya iman.
Apabila seorang muslim lemah imannya, maka ia tidak akan pernah merasakan nikmatnya iman tersebut. Ia senantisa terombang-ambing dalam panggung kehidupannya, dan tidak memiliki jati diri lagi sebagai muslim yang sebenarnya. Sebaliknya, manusia muslim yang memiliki kekuatan iman yang sebenarnya—bukan hanya sebatas keyakinan saja, ia akan merasa tentram, damai, percaya diri, dan bahkan mampu melukiskan karya-karya besar dalam kanvas kehidupannya. Inilah hamba-hamba yang dijanjikan Allah sebagai pewaris bumi-Nya, sebagaimana dinyatakan ayat-ayat berikut ini.  (Qs 24 : 55)

“Orang yang selalu merasakan kenikmatan iman adalah orang yang rela menjadikan Allah sebagai Robb, Islam sebagai agama, dan Muhamad sebagai Nabi.” (HR. Muslim)

“Ada tiga perkara, yang jika seseorang memilikinya, ia akan merasakan manisnya iman, yaitu mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih  daripada yang lain, menncintai orang lain karena Allah, dan benci kepada kekufuran, sebagaimana ia benci dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Maka, kelemahan dan penurunan iman secara otomatis mempengaruhi kuantitas dan kualitas kesolehan dan kebaikan seseorang. Semakin kuat iman dalam jiwa seseorang, semakin kuat pula amal seseorang. Sebaliknya, semakin lemah iman seseorang, semakin lemah pula kuantitas dan kualitas amalnya.

Kedua, Tidak memiliki ilmu pengetahuan.
Kekuatan dan kemenangan umat yang selalu dijanjikan Allah SWT kepada mereka, bukan hanya bertumpu pada sisi aqidah atau ibadah saja, melainkan harus diiringi dengan ilmu pengetahuan Islam dan ekspansi kebaikan atau amal islami dalam kehidupan. Namun, kekuatan dan kemenangan itu baru akan tegak kokoh jika berdiri di atas tiga pilar, yang satu sama lainnya tidak boleh terpisahkan, yaitu iman, ilmu, dan amal (ibadah). Saat ini, ketika umat mulai meninggalkan tsaqafah islamiah dan ilmu pengetahuan lainnya yang bermanfaat, maka kekuatan dan kemenangan tersebut berangsur-angsur akan hilang, dan akhirnya berganti dengan ketidakberdayaan serta kelemahan. Sebagaimana yang Allah nyatakan dalam firman-Nya.

 “…Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakal lah yang dapat menerima  pelajaran.” (az-Zumar: 9)

 “…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (al-Mujaadilah: 11)

Mengenai hal ini, Imam Syafi’i berkata, “Demi Allah, sesungguhnya jati diri seorang pemuda ada dalam ilmu dan ketakwaannya. Apabila keduanya tidak ada dalam dirinya, maka ia bukanlah pemuda sebenarnya.”

Ketiga, meremehkan dosa dan kemaksiatan.
Ketika seseorang menganggap remeh dosa dan kemaksiatan, maka kesolehan dan kebaikannya akan mengalami degradasi. Bahkan, dengan meremehkan dosa dan kemaksiatan,  ia akan mudah terjebak dalam kubangan kemaksitan. Karena, tabiat dosa atau kemaksiatan adalah senantiasa mengajak dan menggiring manusia untuk melakukan dosa lagi. Mengenai masalah ini, Rasulullah saw. bersabda, “Takutlah kalian akan meremehkan dosa-dosa, karena sesungguhnya dosa-dosa tersebut akan berkumpul, dan akhirnya mencelakakannya. Perumpamaan dosa-dosa ini seperti kaum yang menuruni lembah dan setiap orang membawa sebatang kayu bakar. Mereka mengumpulkannya dan menjadikannya tumpukan, kemudian dinyalakan api dan semua yang dilemparkan ke dalamnya menjadi matang.” (HR Ahmad dan at-Thabrani)

Selain menambah dosa dan kemaksiatan, meremehkannya dapat mengakibatkan seseorang jauh dari jalan taubat, melemahkan hati untuk berjalan menuju Allah, dan bahkan  di Hari Akhirat nanti dapat menjadi penghalang menuju ke haribaan-Nya.

Ibnu Abbas berkata, “Sesungguhnya kebaikan melahirkan kecerahan di wajah, cahaya di hati, kelapangan rizki, kekuatan badan, dan kecintaan di hati manusia lain. Adapun kemaksiatan menimbulkan kepucatan di wajah, kegelapan di hati, kelemahan badan, serta kesempitan dan kebencian di hati manusia.”

Abdullah bin Mubarak berkata dalam syairnya.

Aku melihat dosa-dosa itu mematikan hati, Membiasakannya bisa mewariskan kehinaan,

Sementara, meninggalkan dosa-dosa adalah kehidupan bagi hati dan kebaikan bagi jiwa,

Tidak ada yang merusak agama ini, kecuali para raja dan cedekiawan yang rusak 

Keempat, lemahnya tarbiyah.
Rasulullah saw. diutus ke bumi dengan mengemban misi khusus, yaitu untuk membacakan ayat-ayat-Nya, serta mentazkiah dan mengajarkan Al-Kitab dan Al-Hikmah kepada ummatnya. Hal ini dilakukan agar mereka memahami visi dan misi kehidupannya, agar mata mereka terbuka akan peradaban yang ada di sekitarnya, dan agar mereka menjadi saksi-saksi kebenaran dan kebaikan atas umat yang lain.

Maka, ketika ta’lim dan tarbiyah (pendidikan dan pembinaan), yang sesuai dengan minhaj salafus shalih tidak dilirik kembali oleh ummat Islam, dan bahkan ditinggalkan sama sekali, niscaya akan muncul syubhat pemikiran di tengah-tengah ummat, merajalelanya syahwat dalam kehidupan, dan kebodohan mewarnai masyarakat. Inilah makna degredasi keimanan yang sesungguhnya.

Oleh karenanya, Allah menyerukan setiap mukmin untuk selalu melakukan amar makruf dan nahi munkar.

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali ’Imran: 104)

Kelima, dominasi syahwat
Kesesatan dan jauhnya seseorang dari jalan petunjuk dan kebenaran bisa disebabkan oleh salah satu diantara dua faktor ini, yaitu syubhat dan syahwat. Syahwat yang mendominasi kehidupan seseorang akan memasung akalnya, menjadi raja kecil dalam dirinya, dan akan menjadikannya tunduk kepada setiap perintahnya. Semua organ tubuhnya digerakkan oleh keinginan hawa nafsu dan harapan libidonya, sekalipun ia sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan Islam.

Maka, tatkala dominasi syahwat sangat kuat dalam jiwa dan diri seseorang, niscaya cahaya kebaikan dan kesolehannya akan semakin redup, dan bahkan sama sekali tidak tampak. Ia akan berjalan di tengah-tengah masyarakatnya dengan kegelapan, kemaksiatan, dan kemungkaran. Sebaliknya, orang yang mampu menahan hawa nafsunya akan berjalan dengan cahaya kehidupan di tengah-tengah masyarakatnya. Hal ini telah Allah nyatakan dalam Surat Al-An’am Ayat 122.

 SOLUSI
Untuk menyelamatkan umat dari kesesatan, penyimpangan dan degradasi kesolehan, maka setiap individu muslim harus menguatkan;

  • Tarbiah imaniah
  • Ikhlas dan jujur kepada Allah
  • Menguatkan ilmu pengetahuan
  • Takut akan keburukan akhir hidup (su’ul khatimah)
  • Beramal shalih secara kontinyu

Latest posts by admin (see all)

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Close
Dukung Kami !!!
Klik tombol dibawah ini, Terima Kasih