Published On: Fri, Dec 21st, 2012

Faktor Penguat Iman

Faktor Penguat ImanMukadimah
Dunia adalah perhiasan. Di dalamnya penuh kemewahan, yang menjadikan manusia tertarik kepadanya. Namun, sebagai seorang Muslim, kita harus segera menyadari bahwa dunia yang penuh dengan kemewahan itu hanyalah tempat beristirahat atau terminal untuk melepaskan kelelahan. Dari sana, kita harus melanjutkan kembali perjalanan hidup kita yang masih jauh sampai nanti kita tiba pada satu tujuan yang sebenarnya.

Agar kita tiba dengan selamat di tempat tujuan tersebut, kita harus memiliki iman yang kuat sebagai bekal agar tidak mudah tergoda oleh kemewahan dunia yang sementara dan fana itu. Sebagaimana Allah berfirman :  “…Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa….” (al-Baqarah: 197)

 Setiap manusia tidak bisa menjalani kehidupan yang baik atau mencapai sesuatu yang bermanfaat bagi kemanusiaan dan peradaban manusia, tanpa memiliki keimanan atau keyakinan. Sebab, manusia yang tidak memiliki keimanan akan menjadi manusia yang sepenuhnya hanya mementingkan diri sendiri, ragu-ragu, goyah, dan tidak mengetahui tugas serta kewajibannya sebagai hamba dalam kehidupan ini.

Itulah sebabnya, keimanan menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi seorang Muslim. Karenanya, ia menjadi modal utama agar dapat menjalani kehidupan yang lurus, seperti yang telah ditunjukkan oleh Allah SWT.

Adapun iman yang dimaksud adalah sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits Rasulullah saw.. berikut ini. Nabi bersabda : “Iman itu ialah engkau beriman kepada Allah, kepada malaikat-malaikat-Nya, kepada kitab-kitab-Nya, kepada rasul-rasul-Nya, kepada hari akhir, dan engkau beriman kepada qadha dan qadar, yang baik dan yang buruk.” (HR Bukhari dan Muslim)

Iman bukanlah sekadar percaya dan membenarkan saja. Kepercayaan dan pembenaran memerlukan pembuktian yang menunjukkan sah atau tidaknya iman tersebut. Karena itu, iman yang sekadar melekat di hati bukanlah iman yang sempurna. Sebab, iman berarti juga pengungkapan dengan lisan dan pembuktian dengan amal perbuatan. Dengan demikian, terdapat tiga unsur keimanan yang mesti ada, yaitu:

  1. Membenarkan dengan hati;
  2. Mengucapkan dengan lisan; dan
  3. Membuktikan dalam amal perbuatan nyata.

Iman yang tidak meliputi ketiga unsur di atas tidak dapat  diterima oleh Allah SWT. Bahkan, seseorang bisa disebut munafik atau kafir jika salah satu unsur tersebut tidak dimiliki, atau bahkan tidak satupun yang ada dalam dirinya.

Sebagaimana telah dijelaskan di atas, bahwa tiang pokok dari iman itu adalah membenarkan keberadaan Allah, malaikat, kitab, rasul, hari akhir, dan ketentuan baik atau buruk yang ditetapkan Allah SWT bagi manusia. Seorang Mukmin adalah yang meyakini semua informasi, petunjuk, dan bimbingan Allah dan Rasul-Nya, kemudian ia melaksanakannya dengan berdasar atas iman dan penghambaan kepada Allah SWT.  Semua hal yang diperbuat diperhitungkan dengan nilai ukhrawi yang pasti, dan tidak akan meleset.

Iman sejati bukanlah sekadar angan-angan dan ucapan di mulut saja, tetapi teruji dalam bentuk sikap dan amaliah yang selalu konsisten pada jalan Allah. Allah tidak akan membiarkan seseorang mengatakan beriman sebelum ia diuji. Firman Allah SWT : “Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (al-Ankabuut: 2-3)

Ketika Allah menguji manusia, baik berupa kesenangan ataupun kesusahan, saat itu pula akan terlihat mana yang benar-benar emas dan siapa yang loyang; siapa yang benar-benar beriman dan siapa yang munafik. Ujian Allah itu sesungguhnya berbanding lurus dengan tingkat keimanan seseorang. Makin tinggi keimanan seseorang, maka akan semakin tinggi pula berat cobaan yang akan dihadapi orang tersebut.

Jadi, janganlah merasa tidak disayangi Allah bila kita ditimpa musibah, tetapi sebaliknya rasakanlah bahwa Allah senantiasa dekat dan sayang kepada kita sehingga senantiasa mengingatkan kita dengan musibah tersebut. Itulah sebabnya, seorang mukmin menganggap seluruh hidupnya adalah ujian. Mereka berhati-hati dalam mengerjakan setiap soal dalam kehidupannya. Ia selalu berpedoman pada petunjuk Allah dan Rasul-Nya agar tidak menyalahi kehendak Allah dan Rasul-Nya. Dengan demikian, kita hendaknya senantiasa mengontrol kadar keimanan kita, agar ia terus naik sehingga kita dapat mencapai derajat  taqwa.

Untuk itu, ada beberapa faktor yang dapat memperkuat keimanan kita, di antaranya adalah sebagai berikut.

A. Memurnikan ibadah hanya kepada Allah SWT. Maksudnya adalah memberikan hak uluhiyah secara sempurna, berupa pengagungan, cinta, dan ketundukan secara mutlak. Untuk itu, ada tiga hal yang dapat dilakukan, yaitu:

  1. Tidak mencari tuhan lain untuk diagungkan sebagaimana ia mengagungkan Allah. ”Katakanlah, apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan  bagi segala sesuatu….” (al-An’aam: 164)
    Jadi, segala sesuatu yang oleh manusia dijadikan Tuhan harus digugurkan atau dihilangkan.
  2. Tidak menjadikan selain Allah sebagai wali, sebagaimana Allah berfirman : “Katakanlah, ‘Apakah akan aku jadikan pelindung selain dari Allah yang menjadikan langit dan bumi, padahal Dia memberi makan dan tidak diberi makan?’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku diperintah supaya aku menjadi orang yang pertama sekali menyerah diri (kepada Allah), dan jangan sekali-kali kamu masuk golongan orang-orang musyrik.’” (al-An’aam: 14)
    Konsekwensi tauhid menuntut seseorang untuk memurnikan cintanya kepada Allah dan tidak menjadikan wali atau pesaing yang ia cintai sebagaimana cintanya kepada Allah, sebab wilayah (cinta kasih, pelindung, dan loyalitas) hanyalah untuk Allah.

    “Atau patutkah mereka mengambil pelindung-pelindung selain Allah? Maka Allah, Dialah pelindung (yang sebenarnya) dan Dia menghidupkan orang-orang yang mati, dan Dia adalah Mahakuasa atas segala sesuatu.”
    (asy-Syuura: 9)
  3. Tidak mencari hakim selain kepada orang-orang yang menaati hukum dan ketentuan Allah, sebagaimana ia taat kepada-Nya. “Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al-Qur`an) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al-Qur`an itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka, janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu.” (al-An’aam: 114)
    Sebab itu, hak untuk menghukumi dan membuat perundang-undangan bagi hamba-Nya dalam urusan agama dan dunia mereka hanyalah Allah SWT semata.

B. Berlepas diri dari orang-orang yang menyembah atau memberikan loyalitasnya kepada thagut (orang yang melampaui batas). Berlepas diri dari thagut dan menyatakan diri beriman hanya kepada Allah SWT dapat menjadi barometer bertambahnya keimanan, sebagaimana ia telah berpegang teguh kepada tali agama Allah dengan kuat (al-Baqarah: 256). Hal ini juga yang akan membedakan seorang mukmin dengan orang yang sekadar menyatakan beriman, sedangkan keimanannya tidak terealisasi dalam bentuk pengingkaran terhadap segala macam bentuk kebatilan dan berlepas diri dari penganutnya.

C. Menghindari kemusyrikan dan berhati-hati darinya, mulai dari bentuk musyrik yang besar hingga bentuk musyrik yang kecil, yang tidak tampak di depan mata. Ia senantiasa membebaskan diri dari segala hal yang berbau syirik, dan pada saat yang sama mewaspadai jendela dan pintu-pintunya. Itulah sebabnya, Al-Qur`an memvonis Ahli Kitab dengan menamakan mereka sebagai musyrikin oleh karena mereka memberikan hak pembuatan syariat kepada pendeta dan rahib, lalu mereka menaati apa yang dihalalkan atau haramkan. Al-Qur`an menyejajarkan hal ini dengan penyembahan mereka terhadap al-Masih bin Maryam.

 “Dan (inilah) suatu permakluman dari Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari Haji Akbar bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrikin. Kemudian jika kamu (kaum musyrikin) bertobat, maka bertobat itu lebih baik bagimu; dan jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak dapat melemahkan Allah. Dan beritakanlah kepada orang-orang kafir (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.” (at-Taubah: 3)

D. Meningkatkan ruhiyah.
Iman itu senantiasa bergerak naik dan turun. Seorang hamba, dalam melaksanakan tugasnya kepada Allah, juga pasti mengalami fluktuasi iman tersebut. Saat keimanannya menurun, tentu saja berdampak terhadap aktivitas ibadahnya, seperti malas. Saat inilah seorang Muslim dituntut untuk senantiasa memperbaiki, dan meningkatkan kualitas ruhiyahnya. Jangan pernah ada kata malas dalam meningkatkan ruhiyah. Kemudian, ia mengupayakan membaca Al-Qur`an setiap saat dan berusaha men-tadabbur-inya, meningkatkan ibadah-ibadah sunnahnya, terutama shalat malam, dalam rangka mendapatkan energi yang lebih besar dari Allah melalui komunikasi dengannya di malam hari. Dengan demikian, ia dapat mengendalikan diri dan emosinya, serta mempunyai daya pandang yang jernih dan tidak mudah tergoda oleh rayuan setan melalui hawa nafsunya.

E. Kesehatan fisik.
Faktor yang terakhir ini juga tidak kalah pentingnya dalam menambah kekuatan iman oleh sebab dengan badan yang sehat, maka seorang hamba akan mampu melakukan aktivitas ibadahnya dengan baik pula. Ibadah akan terasa nikmat kalau fisiknya sehat dan kuat. Bila kondisi tubuh menurun, apalagi sakit, acapkali pelaksanaan ibadah mengalami “ketidaksempurnaan”. Bila ini terjadi terus- menerus, pastilah akan mempengaruhi amal ibadahnya dan selanjutnya berimbas kepada keimanannya.

 Penutup
Seorang Muslim sejati hendaknya menyadari pentingnya keimanan yang kuat pada dirinya, dan meneguhkan pendiriannya agar tetap pada akidah yang benar sehingga apabila ia hidup pada lingkungan masyarakat sekitarnya, ia laksana gunung yang tinggi yang tidak mudah goyah oleh ombak dan gelombang yang besar sekalipun. Yakinlah bahwa pendirian dan iman yang kuat itu akan mengantarkan kepada kemampuan untuk memelihara amanat Allah.

 “Abdullah bin Abbas berkata, ‘Pada suatu hari aku berada di belakang Nabi Muhammad saw., lalu beliau bersabda, ‘Wahai pemuda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat sebagai berikut. Peliharalah perintah Allah, maka Allah akan memeliharamu, dan peliharalah larangan Allah, niscaya engkau dapati Allah selalu di hadapanmu. Apabila kamu meminta, mintalah kepada Allah dan apabila kamu meminta pertolongan, mintalah pertolongan Allah.’” (HRTurmudzi).

Wallahu a’lam bish-shawab.

About the Author

-

Displaying 1 Comments
Have Your Say
  1. untuk cara memperkuat keimanan sendiri bagaimana pak caranya?

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>


Donatur Ifthor 1435 H

  1. Bazar Indosat I Rp.550.000,-
  2. M. Iqbal Rp.1.000.000,-
  3. Sari Damayanti Rp.1.000.000,-
  4. Bazar Indosat II Rp. 2.950.000,-
  5. Zakiyah K. Rp.200.000,-
  6. Sri Diana Wati Rp.201.000,-
  7. Rizkiyani Rp.1.400.000,-
  8. Masjid Telkomsel Kuningan
    (proposal) Rp.1000.000,-
  9. Masjid Telkomsel Kuningan
    (amplop Jum,at) Rp. 923.000,-
  10. Bazar Indosat III Rp. 620.000,-
  11. Bazar Indosat IV Rp. 620.000,-
  12. Hamba Allah Rp. 100.000,-
  13. Bazar Indosat V Rp. 1.510.000,-
  14. Bazar Indosat VI Rp. 700.000,-
  15. Iskandar Ali Rp. 500.000,-
  16. Karina Rp. 400.000,-
  17. Febriana A. Rp. 1.000.000,-
  18. Pratitis Rp. 1.000.000,-
  19. Bazar Indosat VII Rp. 700.000,-
  20. Karina Rp. 200.000,-
  21. Jama'ah Jum'at Masjid
    KPP Matraman Rp. 371.900,-
  22. Jama'ah Jum'at Masjid
    Komplek BRI Rp. 505.000,-
  23. Jama'ah Jum'at Masjid
    KPP Gambir Rp. 1.886.000,-
  24. Hamba Allah Rp. 250.000,-
  25. Hardi Rp. 500.000,-
  26. M. Irfan Rp. 1.040.000,-
  27. Fadhil Rp. 220.000,-
  28. Jama'ah Jum'atan Masjid
    Chase Plaza Rp. 5.215.000,- + $50
  29. Teguh Rp. 1.000.000,-
  30. Karina Rp. 100.000,-
  31. Ma'ani Rp. 1.000.000,-
  32. Adit & Citra Rp. 500.000,-
  33. Shofiyullah Rp. 500.000,-
  34. IIn Maesarah Rp. 520.000,-
  35. Belinda Rp. 420.000,-
  36. Yani Rp. 340.000,-
  37. Muhammad Dodi Rp. 140.000,-
  38. Fauzi Indrianto Rp. 100.000,-
  39. Lulu Rp. 400.000,-
  40. Leli Rp. 1.300.000,-
  41. Anis Reza Rp. 300.000,-
  42. Anton Shobirin Rp. 680.000,-
  43. Naufal Rp. 200.000,-
  44. Siti Zuchrianah Rp. 1.000.000,-
  45. Yaya Rp. 1.000.000,-
  46. Suharso Rp. 3.000.000,-
  47. Rofiqoh Rahmaniyah Rp. 50.000,-
  48. Fitri Maesyaroh Rp. 20.000,-
  49. Luthfah Eko Rohmani Rp. 2.000.000,-
  50. Hamba Allah Rp. 200.000,-

Total Sementara : Rp. 41.331.900,- + $50 USA

Close
Dukung Kami !!!
Klik tombol dibawah ini, Terima Kasih