Published On: Mon, Oct 14th, 2013

Hikmah Dibalik Kisah-Kisah Al-Qur’an

Hikmah Dibalik Kisah-Kisah Al-Qur’anMukadimah

Kisah–kisah dalam Al-Qur’an memiliki sisi urgensi yang sangat besar.  Ia adalah  unsur terpenting dari proses pendidikan dan informasi. Dengan kisah-kisah itu, dakwah mampu menembus relung hati yang dalam dari pendengarnya, objek dakwah. Dakwah Islam juga bisa ditampilkan melalui media kisah, sehingga tujuan-tujuannya  sebagai tugas agama bisa tercapai. Kisah merupakan sarana yang sangat ampuh dalam proses pendidikan. Oleh karenanya, kisah adalah variabel penting yang ditampilkan Al-Qur’an, dan untuk itu, kisah-kisah di dalamnya sangat mendominasi mayoritas surah yang ada dalam Al-Qur’an. Karena itu, merupakan sebuah tuntutan bagi kita,  Kaum Muslimin—yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pembimbing utama dalam hidup, untuk memahami kisah-kisah yang ada di dalamnya dan memahami hikmah yang ada dibaliknya. Hal ini agar kita bisa mengambil pelajaran dan tuntunan darinya.

Metode (Manhaj) Kisah Al-Qur’an

Kisah Al-Qur’an memiliki metode unik yang sangat berbeda dengan gaya kisah-kisah lainnya. Kisah Al-Qur’an dipaparkan sesuai dengan tujuan-tujuan mengapa ia dikisahkan. Kisah dalam Al-Qur’an bukan hanya karya seni semata yang kosong dari nilai, tetapi ia membawa pesan agama yang luhur sebagai petunjuk bagi manusia, walaupun kisah tersebut ditampilkan dengan beragam bentuk dan corak serta gaya pemaparannya. Untuk menampilkan keindahan kisah yang ada agar sampai kepada nilai yang diinginkan, Al-Qur’an memiliki satu kelebihan yang tidak mungkin ditemukan  di tempat lain, yaitu unsur i’jaz. Artinya, seluruh kisah  Al-Qur’an adalah wahyu dari Dzat Yang Maha Mengetahui segala sesuatu, yaitu Allah SWT.  Diantara metode kisah Al-Qur’an adalah sebagai berikut.

Pengulangan
Kita sering menemukan dalam Al-Qur’an satu kisah berulang beberapa kali dalam surah yang berbeda-beda, seperti kisah Nabi Musa as. dan Fir’aun, kisah Nabi Nuh as., dan kisah penciptaan Nabi Adam as. Akan tetapi, pengulangan kisah-kisah itu berbeda halnya dengan makna pengulangan yang terjadi pada kisah-kisah buatan manusia. Sebab, pada setiap  pengulangan terdapat sisi lain yang menjadi titik fokus  kisah tersebut, yang memiliki keterkaitan dan kesesuaian dengan tema yang diurai pada surah tersebut. Ketika terjadi pengulangan kisah, maka kita akan memperhatikan bagaimana gaya bahasa serta redaksinya berbeda dengan yang ada sebelumnya, walaupun dari sisi muatan sama, sehingga ketika kita membacanya, kisah itu seolah kisah yang baru yang belum terlintas dan terdengar sebelumnya. Sebagai contoh, Allah memaparkan kisah para nabi dan berita umat-umat terdahulu pada surat Hud, dan kisah-kisah itu akan ditemukan kembali pada surat al-Qamar. Namun, kita akan melihat perbedaan yang banyak, baik dari sisi gaya bahasa, metode penyampaian, maupun penggunaan kata-kata, seolah kita sedang berhadapan dengan kisah yang belum pernah kita baca dan  dengar. Kemudian, kita pun akan menemukan pelajaran, nasehat, dan makna yang tidak kita temukan pada pemaparan yang pertama.

Bersifat ringkas
Ketika Al-Qur’an memaparkan sebuah kisah pemaparannya bersifat ringkas, maka ia hanya bertumpu pada kejadian-kejadian  yang berkaitan langsung dengan tujuan dari kisah tersebut. Oleh karenanya, jarang sekali kita menemukan Al-Qur’an memaparkan sebuah kisah dengan menjelaskan kejadian sejarahnya secara terperinci, sesuai dengan peristiwa yang terjadi. Sebab, hal itu bisa mengaburkan tujuan utama dari kisah tersebut. Sebagai contoh, Al-Qur’an mengkisahkan tentang ashhabul kahfi, dan firman Allah berkaitan dengan  kisah itu dimulai sebagai berikut.

“Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk; dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri lalu mereka berkata, ‘Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi, kami sekali-kali tidak menyeru Ilah selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran. Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai ilah-ilah (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka) Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-ada kebohongan terhadap Allah?’” (al-Kahfi:13-15)

Pada ayat di atas, kita saksikan bahwasanya Allah memulai kisah ini dengan menjelaskan sifat ashhabul kahfi; mereka adalah sekelompok pemuda yang melarikan diri dari kaumnya dengan membawa keimanan kepada Allah, berbeda dengan sikap kaumnya yang menyekutukan Allah dan mengingkari-Nya. Oleh karena itu, mereka berniat untuk mengasingkan diri dan keluar dari rumah dan desanya. Begitulah kisah itu dipaparkan. Akan tetapi, akan timbul pertanyaan,  siapakah mereka itu, di negeri mana mereka tinggal, berapa jumlah mereka, dan siapakah namanya? Pertanyaan-pertanyaan ini sesuai dengan urutan sejarah yang harus dijawab oleh kisah tersebut. Namun, seandainya semua pertanyaan itu dijelaskan secara terperinci, maka kisah ini tidak akan memenuhi tujuan dari pemaparannya.  Lebih dari itu, pembaca hanya akan memperhatikan kejadian-kejadian sejarah semata dan melupakan nasehat serta pelajaran-pelajaran yang untuknya kisah itu dijelaskan.

Ketika Al-Qur’an mengkisahkan penciptaan Adam, maka Al-Qur’an menjelaskan Allah menempatkan dia di surga, untuk kemudian diturunkan ke bumi. Kisah itu tidak mejelaskan di daerah mana dia turun, bagaimana turunnya, dan bagaimana menjalani kehidupan di dalamnya dikala itu? Seandainya pertanyaan-pertanyan itu dijelaskan secara terperinci, hal tersebut akan membawa pembaca kepada arah lain selain dari tujuan agama, walaupun hal tersebut akan menambah kesempurnaan kisah. Hal lain tersebut seperti hanya tertuju pada penghapalan rentetan sejarah semata, dan jauh dari tujuan utama pemaparan kisah penciptaan Adam tersebut. Allah hanya mengkisahkannya dengan firman-Nya sebagai berikut.

“…Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh sebahagian yang lain. Maka, jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan ia tidak akan celaka.” (Thaahaa: 123)

Akan tetapi, tidak semua metode pemaparan kisah Al-Qur’an bersifat ringkas. Karenanya, ada kisah yang dipaparkan secara terperinci sesuai dengan kejadian sejarah sampai hal-hal yang kecil dari kisah. Hal itu terjadi ketika tujuan utama dari pemaparan kisah adalah penetapan wahyu Tuhan, dan penguatan kenabian Rasulullah saw, atau ketika kisah itu dipaparkan bertujuan untuk  ralat atas  kisah atau kejadian sejarah yang menyimpang dan salah. Sebagai contoh, kisah yang ditampilkan secara terperinci adalah kisah Nabi Yusuf as. dan kisah Maryam dan kelahiran Nabi Isa as. Dalam kedua kisah ini, Al-Qur’an merinci kejadian-kejadian sejarah secara detail, dan pemaparan itu bertujuan untuk menetapkan kenabian Yusuf, dan menyingkap kebatilan yang dianut dan diikuti oleh sebagian manusia tentang Maryam dan Nabi Isa as.

Setiap kisah mencakup nasehat dan siraman rohani bagi orang yang beriman
Setiap tema dalam Al-Qur’an senantiasa memasukkan nasehat dan peringatan.      Al-Qur’an tidak membiarkan pembaca hanyut dalam sebuah tema dengan segala pikirannya, tanpa diselingi oleh nasehat dan peringatan dalam setiap bahasannya. Hal ini mengakibatkan adanya hubungan antara fikiran dan hatinya dengan ikatan rasa takut kepada Allah dan perasaan diawasi oleh-Nya, ketika ia mentafakuri dan mendalami ayat atau surat yang dibacanya. Oleh karena itu, tidak akan ditemukan dalam Al-Qur’an pasal-pasal khusus tentang perundang-undangan, atau pasal-pasal khusus tentang hal-hal yang gaib, seperti neraka dan surga serta yang terkait dengan keduanya, tetapi setiap tema selalu mengandung nasehat dan peringatan di dalamnya. Sebagai contoh, dalam setiap kisah dimasukan ungkapan nasehat dan peringatan ditengah pemaparan kisah atau tema tertentu.

“Berkata Fir’aun, ‘Maka siapakah Tuhanmu berdua, hai Musa?’ Musa berkata, ‘Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.’ Berkata Fir’aun, ‘Maka, bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu?’ Musa menjawab, ‘Pengetahuan tetang itu ada di sisi Tuhanku, di dalam sebuah kitab, Tuhan kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa; Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka, Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam. Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal.” (Thaahaa: 49-54)

Dalam ayat-ayat di atas, terjadi pemindahan  dari kisah yang sedang dipaparkan menjadi peringatan Allah terhadap manusia akan kebesaran dan kemahakuasaan-Nya, serta dalil-dalil tentang wujud-Nya. Lebih dari itu, kata ganti yang semula merupakan perkataan Nabi Musa untuk Fir’aun, berubah menjadi informasi Allah untuk manusia.

Dalam ayat yang lain, ketika Al-Qur’an memaparkan kisah tentang ashhabul kahfi, Al-Qur’an menyisipkan informasi bagi Rasul dan Kaum Muslimin tentang beberapa perintah dan nasehat, yaitu sebagai berikut.

“Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan, ‘(jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjingnya’, sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan, ‘(jumlah mereka) tujuh orang, yang kedelapan adalah anjingnya.’ Katakanlah, ‘Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan ) mereka kecuali sedikit.’ Karena itu, janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja, dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorang pun di antara mereka. Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu, ‘Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut), ‘Insya Allah.’ Dan ingatlah kepada Tuhanmu, jika kamu lupa dan katakanlah, ‘Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini.’” (al Kahfi: 22-24)

Pemaparan kisah yang bersifat personifikasi
Ketika Al-Qur’an memaparkan sebuah kisah, ia tidak bersifat pemberitaan, tetapi Al-Qur’an menampilkannya dengan gambaran yang hidup, seolah pembaca berada dihadapan kaset yang sedang diputar, sehingga kisah yang terjadi begitu meresap dalam ingatan dan perasaan. Hal ini akan memberikan kejelasan dan kekuatan ketika memaparkan sebuah kisah atau pemberitaan.

Pemaparan kisah tidak monoton
Al-Qur’an memiliki gaya yang berbeda dari satu kisah dengan kisah yang lainnya, terutama dalam kalimat pembuka, sehingga pembaca tertarik untuk menyelesaikan kisah yang ditelahnya, dan berkeinginan untuk mengkaji setiap fase dari kisah tersebut. Kisah Al-Qur’an pada umumnya diawali dengan kejadian yang dahsyat dan menakjubkan, sehingga kejadian itu bisa memberikan pengaruh terhadap perhatian pembaca.  Dari sinilah keindahan metode kisah Al-Qur’an akan dirasakan dan ditemukan pada setiap bagian dan fase kisah. Sebagai contoh, Allah membuka kisah Nabi Musa as. dan Fir’aun dengan firman-Nya sebagai berikut.

Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa? Ketika ia melihat api, lalu berkatalah ia kepada keluarganya, ‘Tinggallah kamu (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit daripadanya kepadamu, atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu.’” (Thaahaa: 9-10)

Visualisasi kisah
Untuk menampilkan pemandangan yang jelas dari sebuah kisah, Al-Qur’an memakai metode gambaran nyata dari kehidupan. Karena, ruh dan seni sebuah kisah akan sirna manakala pembaca disibukan oleh keterangan yang panjang. Kisah Al-Qur’an senantiasa memiliki metode ini.

“…Jangan kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat. Maka datanglah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dan katakanlah, ‘Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil bersama kami dan janganlah kamu menyiksa mereka. Sesungguhnya kami telah datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan Kami) dari Tuhanmu. Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk. Sesungguhnya telah diwahyukan kepada kami bahwa siksa itu (ditimpakan) atas orang-orang yang mendustakan dan berpaling.’” (Thohaa: 46-48)

Jika kita perhatikan, maka di awal ayat terjadi munajat Musa dihadapan         Rabb-Nya, dan Dia memerintahkan untuk pergi bersama saudaranya, Harun, meuju Fir’aun untuk memberi peringatan dan menyampaikan perintah Allah. Allah memberikan jaminan keamanan. Inilah episode pertama. Setelah itu, kita dihadapkan dengan  episode yang lain, yaitu pertemuan antara Nabi Musa dan Fir’aun yang melakukan diskusi tentang hakikat Allah serta dalil-dalil wujud-Nya. Episode ini dimulai dengan perkataan Fir’aun, “Siapakah Tuhan kalian, wahai Musa?”

Inilah beberapa metode (manhaj) kisah Al-Qur’an. Ternyata, seni dalam penyampaian kisah bukanlah satu-satunya tujuan dari kisah. Akan tetapi, puncak estetika dari Al-Qur’an pada umumnya dan kisah pada khususnya, adalah sarana untuk merealisasikan tujuan yang bersifat mendidik (tarbawi). Sebab, muatan           Al-Qur’an akan dipahami secara lebih cepat dan efektif menuju sasaran keyakinan, dan meresap ke relung hati yang dalam bila disampaikan dengan metode kisah.

Tujuan dan Hikmah di Balik Kisah Al-Qur’an

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, tujuan metode kisah yang pokok adalah mendidik manusia (hadf tarbawi) agar menjadi hamba Allah yang soleh, yang mampu merespon panggilan hidayah menuju keridhaan Allah. Akan tetapi, ada tujuan lain yang bersifat cabang, namun tidak keluar dari tujuan pokoknya, diantaranya adalah sebagai berikut.

Pertama, Penetapan wahyu ilahi dan risalah kenabian bagi Rasulullah saw
Sebagaimana kita maklumi, Nabi Muhammad adalah buta huruf.  Sejarah serta para pakar telah menetapkan bahwa nabi tidak pernah pergi ke ulama Yahudi atau pun Kristen untuk mendengarkan berita dari mereka tentang Nabi Musa dan Isa serta para nabi sebelumnya. Seandainya nabi pernah melakukan itu, maka nabi tidak akan menutup-nutupinya, dan niscaya akan diketahui oleh siapa pun. Sebab, dirinya sudah dikenal—sepanjang usia empat puluh tahun—dengan karakter yang terpuji, jujur, benar, dan setia atas segala janji dengan siapapun. Adapun ketika Al-Qur’an menyampaikan kisah-kisah para nabi dan berita umat-umat yang terdahulu, dan kisah–kisah itu cocok dengan  apa yang diterangkan oleh Injil dan Taurat, maka ia merupakan dalil yang tidak diragukan lagi. Bahwasanya Al-Qur’an bukanlah perkataan hasil rekayasa, tetapi Al-Qur’an adalah wahyu yang diturunkan dari Allah azza wajalla. Oleh karenanya, pada akhir setiap kisah Allah selalu menutup dengan kalimat kunci yang menjelaskan bahwa semua informasi yang tertera dalam kisah tidak akan sampai kepada Muhammad saw, kecuali melalui jalur wahyu. Sebagai contoh, di akhir kisah Maryam dan kelahirannya serta pemeliharaannya yang dilakukan oleh Zakaria,  ditutup Allah dengan firman-Nya sebagai berikut.

“Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa.” (Ali Imran: 44)

Kedua, Kisah sebagi pelajaran dan nasehat
Kisah Al-Qur’an dipaparkan dengan harapan yang membaca dapat mengambil pelajaran darinya, dan sekaligus sebagai nasehat. Hal ini bisa terlihat dari dua hal.

  1. Penjelasan kemahakuasaan dan keperkasaan Allah untuk mampu mengungkap segala fitnah dan adzab, dengan segala bentuknya yang pernah ditimpakan kepada umat-umat terdahulu. Hal itu terjadi karena kesombongan dan pembangkangan mereka di hadapan kebenaran Allah,  sebagaimana adzab dan fitnah itu Allah timpakan kepada kaum ‘Aad, Tsamud, Fir’aun, Qorun dan lain sebagainnya. Barangsiapa mengikuti langkah mereka, Allah akan memberlakukan adzab yang sama seperti mereka, atau bahkan lebih dari itu.
  2. Sebagai peringatan  bahwa sesungguhnya agama samawi (langit) yang untuknya para nabi diutus adalah satu, dan sesungguhnya risalah (ajaran) para rasul dan nabi adalah satu, tidak kontradiksi padanya. Semuanya mengajak kepada keesaan Allah Rabbul’alamin.

Ketiga, Mempertegar hati Rasulullah saw dalam medan dakwah
Tidak diragukan lagi, bahwa pemberitaan yang disampaikan oleh kisah-kisah      Al-Qur’an tentang perjuangan para nabi terdahulu dalam melaksanakan risalahnya adalah sangat berat. Rintangan yang mereka dapatkan dari perlakuan pengikutnya yang sadis dan bertindak semena-mena dihadapi dengan ketabahan dan kesabaran. Dengan cara seperti itu, Allah  akhirnya menolong mereka dengan memberikan  kepada mereka ketegaran, ketenangan, dan kemenangan. Semua itu akan semakin menguatkan jiwa Rasulullah saw dalam mengemban risalahnnya. Untuk itu, Allah berfirman sebagai berikut.

Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka….” (al-Ahqaaf: 35)

Penutup

Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad saw. Kemukjizatannya tampak dari semua sisi;  bahasa, ilmu, perundang-undangannya, pemaparan hal-hal yang gaib, termasuk di dalamnya kisah-kisah. Barangsiapa yang mengkaji dan meneliti kisah-kisah Al-Qur’an dengan cermat, maka niscaya ia akan menemukan kemukjizatan itu, baik dari metode, muatan, tujuan, maupun hikmah-hikmahnya. Maka, tiada hal yang patut dilakukan oleh orang yang beriman, kecuali menjadikan Al-Qur’an sebagai pembimbing utama dalam hidupnya, dan menjadikan kisah-kisah yang dipaparkan di dalamnya sebagai pelajaran dan nasehat kehidupan, sebagai bekal menuju keridhaan Allah SWT.

 

 

Latest posts by admin (see all)

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Close
Dukung Kami !!!
Klik tombol dibawah ini, Terima Kasih