Published On: Thu, Jan 16th, 2014

Iman Dan Jujur, Keteladanan Hathib Bin Balta’ah

Adakah manusia yang dapat terhindar dari debu dosa dan bersifat ma’shum. Jawabannya, tidak seorang pun, kecuali Rasulullah saw.! Beliau manusia agung yang terpelihara dari salah dan dosa. Dan memang sudah sepantasnya beliau ma’shum adanya, sebab beliau adalah nabi akhir zaman yang padanya melekat seluruh akhlak terpuji.

Hatib bin Balta’ah, seorang dari 113 sahabat Rasulullah saw. Yang turut serta dalam perang Badar. Dimana Allah Ta’ala telah memberikan jaminan syurga dan ampunan bagi ahli Badar melalui firman- Nya dalam hadits qudsi, “Berbuatlah apa saja yang kalian ingin lakukan, karena sesungguhnya Aku telah mengampuni kalian”.

Apa yang dilakukan seorang sahabat Rasulullah saw. yang juga ahli Badar, Hathib bin Balta’ah, memang dapat dikategorikan sebagai sebuah pengkhianatan terhadap pimpinan tertinggi.

Ketika ia berusaha membocorkan rahasia penaklukan kota Mekah kepada keluarganya yang ada di sana. Namun atas kehendak dan izin Allah Ta’ala sekaligus sebagai ijabah atas doa Rasulullah saw. agar rencana penaklukan ini tak diketahui seorang pun, terbongkarlah upaya yang ingin dilakukan oleh Hathib bin Balta’ah. Dan sebagaimana yang kita ketahui misi fathu Makkah berjalan sukses.

Hathib bin Balta’ah adalah seorang Muhajirin yang turut hijrah ke Medinah, meninggalkan seluruh harta benda dan keluarganya.

Meninggalkan segala kenangan indah dan pahit yang ia alami di tengah masyarakat Quraisy yang mengusirnya bersama sang Rasul dan kaum Muslimin dari tanah kelahiran mereka.

Para sahabat Muhajirin itu nyaris hanya membawa pakaian yang melekat pada tubuh mereka, tak ada harta dan sanak keluarga, kecuali sebuah harapan bahwa kenikmatan iman dan islam yang telah mereka rasakan selama ini mendapatkan tempat yang layak, dan risalah sang Nabi ini menemukan lahan subur untuk bertumbuh dan kelak menyebar ke seluruh pelosok negeri.

Berawal ketika kaum kafir Quraisy melanggar perjanjian Hudaibiyah yang telah mereka buat dahulu dengan Rasulullah saw. Yang membuat pembesar Quraisy akhirnya ketar-ketir dan mengutus Abu Sufyan bin Harb agar menemui Muhammad saw. untuk meminta maaf dan melakukan rekonsiliasi. Namun, upaya tersebut gagal dan Abu Sufyan kembali ke Mekah dengan tangan hampa.

Yang dilakukan Rasulullah saw. Kemudian adalah memerintahkan kaum Muslimin untuk bersiap-siap menaklukkan kota Mekah secara tiba-tiba dan tak terduga, 5 sehingga kaum Quraisy Mekah tidak memiliki kesiapan menghadapi mereka. Dengan demikian proses penaklukan dapat berjalan mudah sekaligus untuk meminimalisir jatuhnya korban. Karena itulah dalam doa-doanya Rasulullah saw. memohon, “Ya Allah, tutuplah berita ini atas mereka (Quraisy).”

Rasulullah saw. Lalu menyampaikan kepada sekelompok sahabat mengenai sasaran yang akan mereka tuju. Di antara sahabat tersebut adalah Hathib bin

Balta’ah. Seteah mengetahui bahwa mobilisasi pasukan yang dilakukan Rasulullah saw. adalah untuk menyerang kota Mekah, Hathib bin Balta’ah segera menulis sepucuk surat dan mengirimkannya melalui seorang wanita musyrik yang konon datang ke Mekah untuk mencari nafkah.

Dalam surat tersebut Hathib bin Balta’ah menyampaikan kepada penduduk Mekah perihal persiapan yang dilakukan Rasulullah saw. Untuk menyerang mereka, dengan harapan bahwa Hathib yang bukan berasal dari kalangan Quraisy mendapatkan pertolongan mereka untuk melindungi dan menyelamatkan keluarga dan hartanya di Mekah saat serangan berlangsung.

Namun Allah Azza wa Jalla mencurahkan ilham pada diri Rasul-Nya sebagai bentuk ijabah atas doa yang ia panjatkan. Allah menginformasikan padanya tentang adanya surat tersebut.

Beliau segera mengutus sejumlah sahabat untuk mengejar wanita yang sedang dalam perjalanan menuju Mekah membawa sepucuk surat rahasia milik Hathib bin Balta’ah. Dalam riwayat Muslim dalam shahihnya berkata, “Dari Husain bin Abdurrahman, dari Sa’ad bin Ubaidah, dari Abi Abdirrahman as-Sulami, dari Ali ra. Berkata, “Aku diutus Rasulullah saw. Bersama 7 Murtsid bin dan Zubair bin Awwam, dan beliau berkata, “Berangkatlah kalian hingga sampai ke kebun Khakh, karena sesungguhnya di sana terdapat seorang wanita Musyrik dan bersamanya sepucuk surat dari Hathib bin Balta’ah yang ditujukan buat orang-orang musyrik.”

“Kami segera mengejar wanita tersebut dan menemukannya sedang menunggang unta sebagaimana digambarkan Rasulullah saw. Kami lalu mengintrogasi wanita itu, namun ia mengelak dan mengaku tak membawa surat yang dimaksud. Karena wanita itu tidak juga mengaku, kamipun berkata dengan nada ancaman, “Rasulullah saw. Tidak mungkin berdusta. Jadi keluarkanlah surat itu atau kami menelanjangimu”. Saat melihat keseriusan kami, wanita itupun luluh dan mengambil surat yang ia bawa itu dari tali pinggangnya lalu menyerahkannya kepada kami”.

Kami lalu pulang menemui Rasulullah saw. Membawa surat tersebut. Saat mengetahui kenyataan itu, Umar bin Khatthab segera berseru, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya dia telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya dan orang-orang beriman, maka biarkanlah aku untuk menebas batang lehernya.”

Rasulullah saw. Lalu bertanya balik kepada Hathib bin Balta’ah, “Apa gerangan yang mendorongmu melakukan hal ini?”

Hathib menjawab, “Demi Allah, sesungguhnya aku tidak melakukan apa pun kecuali beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Aku hanya ingin mendapatkan bantuan dari kaum Quraisy yang dengannya Allah melindungi keluargaku dan harta benda milikku. Dan tidak seorang pun dari sahabatmu kecuali ia sanak famili disana yang dengan mereka Allah lindungi keluarga dan harta bendanya.” Rasulullah saw. Pun berkata, “Dia benar dan jujur, maka janganlah kalian mengatakan sesuatu tentang dirinya kecuali kebaikan.” Umar berkata, “Sesungguhnya dia telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya dan orang yang beriman. Maka biarkanlah aku menebas lehernya”. Rasulullah saw. Lalu balik bertanya kepadanya, “Bukankah Hathib adalah seorang dari ahli Badar? Sesungguhnya Allah telah mengenal ahli Badar dan berfirman kepada mereka, “Berbuatlah sekehendak kalian, karena sesungguhnya surga itu telah pasti untuk kalian (atau aku telah mengampuni kalian)”. Seketika Umar menangis mendengar kalimat itu seraya berkata, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu”.

Ada beberapa hikmah dan pelajaran penting yang dapat ditarik dari kisah ini, sekaligus sebagai asbab nuzul turunnya ayat dalam surat al-Mumtahanah.

Pertama, yang patut untuk direnungkan adalah tindakan Hathib bin Balta’ah yang nota bene adalah seorang sahabat muhajirin dan ahli Badar yang diistimewakan Allah dengan ampunannya, semakin memperjelas sisi kemanusiaan manusia, sebagai seorang sahabat sekalipun terjadi penyimpangan jiwa dalam diri Hathib, pada saat dimana ia seharusnya berada pada puncak keimanan. Namun pada kondisi tertentu ia menjadi lemah dan lunglai, dan tak ada yang dapat menjaga kondisi jiwa yang demikian kecuali hanya Allah semata yang Maha Menolong.

Kedua, bahwa Rasulullah saw. tidak serta merta memutuskan hukuman dan menjatuhkan vonis salah terhadap Hathib. Beliau justru bertanya, “Apa yang mendorongmu melakukan hal ini?” Sebuah pertanyaan yang disampaikan tulus penuh kasih sayang, dan dijawab oleh Hathib dengan jujur penuh sesal. Rasulullah saw. Pun percaya pernyataan itu, lalu berkata, “Dia benar dan jujur, maka janganlah kalian mengatakan sesuatu padanya kecuali kebaikan”. Tampak batul bahwa Rasulullah saw. Ingin membantu mengembalikan ketergelinciran Hathib. Beliau sama sekali tidak mengusir Hathib walau kesalahan besar tersebut membuat Umar ra. Murka dan hendak menebas batang lehernya.

Ketiga, bahwa kita juga menemukan keimanan yang tajam dan kokoh yang terdapat dalam diri Umar ra. Apa yang ia lihat adalah sebuah pengkhianatan dan ketergelinciran. Dan itu serta merta mem- bangkitkan ketegasan imannya. Adapun Rasulullah saw. Melihat kasus ini secara lebih luas mencakup sisi kemanusiaan yang ada pada diri Hathib. Maka cara penyelesaiannya pun disertai kehati-hatian dengan melihat segala aspek dan kondisi.

Keempat, bahwa pandangan Hathib bin Balta’ah tentang takdir Allah perihal sebabsebab duniawi sesungguhnya berasal dari iman yang benar. Saat ia berkata, “Sesungguhnya aku ingin mendaptkan bantuan dari kaum kafir Quraiys yang dengannya Allah melindungi keluargaku dan harta bendaku.” Jadi dalam hal ini Hathib tetap menyandarkan perlindungan kepada Allah Ta’ala melalui tangan-tangan mereka. Hal ini lalu diperkuat dengan ungkapan beliau, “Tidak seorang pun dari sahabatmu melainkan memiliki sanak famili yang dengannya Allah melindungi keluarganya dan harta bendanya.”

Apa yang dilakukan oleh Hathib bin Balta’ah tetaplah sebuah kesalahan. Namun alasan yang ia kemukakan tetap disertai kejujuran dan keimanan kepada Allah semata, bahwa hanya Allah semata yang mampu memberikan pertolongan bagi hamba-hamba-Nya. Dan pada kisah ini pula kita belajar tentang kepemimpinan Rasulullah saw. Di tengah para sahabat yang mencintainya.

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Close
Dukung Kami !!!
Klik tombol dibawah ini, Terima Kasih