Published On: Thu, Mar 14th, 2013

Indikasai & Kiat Shalat Khusyu’

Indikasai & Kiat Shalat Khusyu’Setiap muslim pasti tahu bahwa shalat lima waktu adalah wajib. Tapi kenyataannya masih banyak yang mengaku muslim atau muslimah tapi tidak shalat. Bahkan shalatnya hanya hari Jum’at (shalat Jum’at), atau hari raya Idul Fithri dan Idul Adha saja. Ada juga yang shalat tapi tidak lengkap, sehari hanya satu, dua, tiga atau empat waktu saja. Padahal yang diwajibkan adalah lima waktu, tidak boleh kurang.

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya amal hamba yang kali pertama dihisab pada hari kiamat adalah shalat. Allah berfirman kepada para malaikatnya (padahal Allah lebih tahu), “Periksalah shalat hamba-Ku, apakah ia melaksanakan (sholat lima waktunya) dengan sempurna atau tidak”. Jika shalatnya sempurna, maka sempurnalah amalnya. Jika ada yang kurang, maka 3 Allah berfirman (kepada malaikat-Nya), “Lihatlah, apakah hamba-Ku itu punya (pahala) shalat sunnah? Kalau punya, maka sempurnakanlah shalat wajibnya yang kurang dengan shalat sunnahnya. Setelah itu barulah amal lainnya dihisab. (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan dishahihkan Syekh al-Albani).

Shalat Khusyu’
Jika kita simak hadits tersebut, seharusnya bukan saatnya kita membicarakan bagaimana kita bisa melaksanakan shalat lima waktu secara lengkap. Tapi konsentrasi kita adalah bagaimana kita bisa melaksanakan shalat lima waktu itu dengan khusyu’. Dengan demikian, ada peningkatan kualitas dalam ibadah shalat kita. Allah berfirman, Sungguh beruntung orangorang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya.” (QS. al-Mu`minun: 1-2).

Kenapa kita harus berusaha semaksimal mungkin agar bisa khusyu’ dalam melaksanakan shalat, baik yang wajib maupun yang sunnah ?. Karena shalat bagian rukun Islam yang lima. Shalat merupakan tiang agama, pembeda antara kita dengan orang kafir. Shalat merupakan palang pintu iman agar tidak lekang digerus zaman. Shalat juga merupakan media untuk dzikrullah yang paling efektif. Sehingga shalat merupakan amal yang kali pertama dihisab.

Allah berfirman, “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, dan sesungguhnya yang demikian itu sangat berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’. (QS. al-Baqarah: 45).

Ibnu Taimiyah berkata, “Ayat tersebut mengandung celaan atas orang-orang yang tidak khusyu’ dalam shalatnya. Celaan tidak akan terjadi kecuali karena yang bersangkutan meninggalan perkara-perkara penting atau wajib, atau karena status keharaman perbuatan yang dilakukan”.

Definisi Khusyu’
Pakar Tafsir, Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya mengatakan bahwa Khusyu’ adalah: Ketenangan, tuma’ninah, pelan-pelan, ketetapan hati, tawadhu’, serta merasa takut dan merasa diawasi oleh 5 Allah. Sedangkan Imam Ibnul Qayyim al- Jauziyah rahimahullah berkata, “Khusyu’ adalah menghadapnya hati ke hadapan Allah dengan sikap tunduk dan rendah diri.” (Lihat Kitab Madarijusslikin: 1/520).

Syekh Abdurrahman Nashir as-Sa’di (Pakar Tafsir Terkini) berkata, “Khusyu’ adalah Hadirnya hati di hadapan Allah, seraya mengkonsertasikan hati agar terasa dekat dengan-Nya, sehingga hati jadi tenang, gerakannya terarah, sikapnya beradab, konsentrasi pada apa yang diucapkan dan sadar atas apa yang dilakukan dalam shalat, dari awal sampai akhir, dan jauh dari was-was syetan. Khusyu’ merupakan ruh shalat. Shalat yang tidak meiliki kekhusyu’an adalah shalat yang tidak ada ruhnya.” (Lihat Kitab Tafsir Taisiru Karimir Rahman).

Macam Khusyu’
Perlu diketahui bahwa khusyu’ itu ada dua macam. Khusyu’un nifaq (munafiq) dan Khusyu’ul iman (mukmin). Khusyu’un nifaq adalah Khusyu’ yang tampak pada permukaan anggota badan dan lahiriyah saja, karena dipaksakan dan dibuat-buat, sementara hatinya tidaklah khusyuk. Waspadai perasaan khusyu’ di keramaian, tapi tidak khusyu dalam keheningan. Hudzaifah bin Yaman radhiyallahu ‘anhu berkata: “Jauhilah oleh kalian khusyu’ munafik, lalu dia ditanya, “Apa yang dimaksud dengan khusyu’ munafik?” Dia menjawab: “Engkau melihat jasadnya khusyu’ sementara hatinya tidak”.

Sedangkan Khusyu’ul iman adalah khusyu’nya hati kepada Allah dengan penuh pengagungan, pemuliaan, disertai ketenangan  rasa takut dan malu saat berhadapan dengan Allah. Hatinya terfokus pada Allah, penuh tawadhu’ dan tadhorru’. Dengan demikian secara otomatis hati menjadi khusyu’ yang kemudian diikuti khusyu’nya anggota badan lainnya.”

Kiat Khusyu’
Dewasa ini banyak sekali buku-buku yang telah dicetak dan diterbitkan di pasaran yang membahas tentang kiat khusyu’ dalam shalat. Tidak hanya itu, pelatihan (training) juga banyak diadakan untuk membimbing peserta agar khusyu’ dalam shalat. Namun khusyu’ tidak dapat diraih dalam pelatihan sesaat. Perlu perjuangan yang terus menerus. Karena godaan syetan dalam shalat seseorang terus datang secara bergantian. Bahkan Iblis punya pasukan khusus untuk menggoda dan merusak khusyu’ shalat kita, yang bernama Khinzib.

Berikut ini kiat meraih khusyu’ dalam shalat.

Pertama, pelajari cara shalat seperti yang dicontohkan Rasulullah, “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat Aku shalat, “ (HR. Bukhari).

Kedua, persiapkan diri dengan baik. Pakaian bersih dan suci, pakai wewangian dan tempat shalat kondusif (QS. al-A’raaf:31).

Ketiga, berwudhu dengan sempurna.

Keempat, berdo’a mohon perlindungan dari godaan syetan (QS. al-Mukminun: 97-98).

Kelima, niat ikhlas, “Setiap amal perbuatan tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai apa yang diniatkan…”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Keenam, thuma’ninah (tenang dan tidak tergesa-gesa), laksanakan setiap rukun dan gerakan shalat dengan thuma’ninah.

Ketujuh, ingat mati (anggap sebagai shalat terakhir), “Apabila engkau shalat maka shalatlah seperti orang yang hendak berpisah (mati)”. (HR. Ahmad).

Kedelapan, baca surat atau ayat secara tartil (QS. al-Muzammil: 4).

Kesembilan, memahami bacaan shalat dan menghayati gerakannya (QS. Shaad:29).

Kesepuluh, menyadari bahwa kita sedang berdialog dengan Allah, dan Allah pun menyimak setiap apa yang kita baca.

Kesebelas, melihat ke arah tempat sujud, “Jika Rasulullah shalat, beliau menundukkan kepala serta mengarahkan pandangannya ke tanah (tempat sujud)”. (HR. Hakim).

Keduabelas, laksanakan shalat dengan berjamaah.

Ketigabelas, jika syetan merusak khusyu’ kita saat shalat, saat itu pula meludahlah secara simbolis ke bawah sebelah kira, lalu bacalah isti’adzah secara pelan, niscaya gangguan itu hilang.

Tanda Kekhusyu’an
Allah berfirman, “Dan dirikanlah shalat. Karena sesungguhnya shalat mencegah perbuatan keji dan munkar…”. (QS. al-‘Ankabut: 45). Keberhasilan seseorang dalam melakukan sesuatu biasanya diiringi dengan tanda-tanda tertentu yang bisa dikenali, yang menunjukkan akan keberhasilannya.

Ayat di atas menjelaskan, di antara tanda keberhasilan shalat seseorang (baca; tanda khusyu’nya) adalah terkendalinya orang tersebut dari perbuatan keji dan munkar dalam kesehariannya.

Adapun tanda khusyu’ lainnya adalah;

Pertama, selalu menjaga waktu shalat, ia sangat rindu panggilan shalat karena ia merasakan kenikmatan luar biasa dalam dalam khusyu’nya.

Kedua, ikhlas dan tulus dalam kesehariannya, orientasi hidupnya lillahi ta’ala. Tidak larut dalam pujian atau penghargaan, tidak takut celaan dan cacian orang bila ia benar.

Ketiga, tertib dan disiplin, karena ia sudah terbiasa dengan shalat yang waktunya telah ditentukan.

Keempat, cinta kebersihan dan kesucian, karena ia telah terbiasa melakukan

hal itu setiap hendak shalat.

Kelima, tenang dalam hidupnya, karena ia merasakan kehadiran Allah dalam hidupnya, dan kebersamaan Allah dalam setiap problematika hidupnya.

Keenam, prilakunya santun dan tawadhu’, karena ia sadar akan pengawasan Allah sebagaimana yang selalu ia hadirkan dalam setiap shalatnya.

Ketujuh, penyabar, karena setiap melaksanakan shalat apalagi yang khusyu’, butuh kesabaran yang berlipat dan pengendalian nafsu yang cenderung sesat.

Penutup
Marilah kita evaluasi diri kita masingmasing. Kalau kita termasuk orang yang rajin shalat tapi tingkah laku keseharian kita masih jauh dari tuntunan syari’at, berarti khusyu’ kita belum maksimal atau malah belum dapat, sehingga masih perlu dilatih dan ditingkatkan lagi. Bukan konsep shalatnya yang salah, tapi praktiknya yang belum benar. Siapapun kita, pejabat atau rakyat, kaya atau miskin, laki atau perempuan, pimpinan atau bawahan, perlu terus belajar ilmu khusyu’ dan melatihnya.

Hudzaifah bin Yaman radhiyallahu ‘anhu berkata, “Yang pertama kali akan hilang dari agamamu adalah khusyu’, dan hal terakhir yang akan hilang dari agamamu adalah shalat. Hampir saja tiba suatu masa, engkau memasuki masjid, sementara tidak ditemukan di antara mereka orangorang yang khusyu’ hatinya.” (Kitab Madarijus Salikin: 1/521). Wallohu ‘alam.

Latest posts by admin (see all)

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Close
Dukung Kami !!!
Klik tombol dibawah ini, Terima Kasih