Published On: Mon, Sep 23rd, 2013

Induk-Induk Akhlak Tercela

Induk-Induk Akhlak TercelaAkhlak tercela memiliki akar-akar yang satuan-satuannya dapat dikelompokkan. Jika akar perilaku manusia ada dalam pikiran dan jiwanya, maka akar-akar penyakit akhlak juga akan selalu ada di sana.

Ibnul Qayyim al-Jauzhi menyebutkan dua akar penyakit akhlak, yaitu:

1. Penyakit Syubhat
Syubhat
adalah penyakit yang menimpa wilayah akal manusia, yang dalam hal ini kebenaran menjadi tidak jelas baginya (samar) dan bercampur dengan kebatilan (talbis). Ia menghilangkan kemampuan dasar manusia untuk memilih suatu hal dengan tepat.

Penyakit ini terkait erat dengan dengan pemahaman dasar manusia serta struktur pemikirannya. Akarnya adalah ilmu yang belum sempurna dan tidak mendalam, yang bertemu dengan kecenderungan jiwa untuk melakukan penyimpangan (zaighun). Allah berfirman yang artinya :

 “…Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat (tersamar) untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya….” (QS: Ali ‘Imran: 7)

 Oleh karena itu, akar penyakit ini dapat ditelusuri melalui indikasi yang ada pada diri seseorang, yaitu:

  • Lemahnya kemampuan dasar untuk memahami;
  • Kelemahan logika atau penyalahgunaannya;
  • Ketidakmampuan memahami hakikat sesuatu secara benar;
  • Kesalahan-kesalahan metodologis dalam berpikir sehingga melahirkan kesimpulan-kesimpulan yang salah;
  • Penyimpangan pemahaman keagamaan yang menyebabkan lahirnya bid’ah; dan
  • Tumbuh dan maraknya aliran sesat;

Orang-orang yang menderita penyakit seperti ini biasanya mempunyai “keberanian” luar biasa terhadap Allah (kebenaran), kegemaran dalam berdebat, ngotot dalam mempertahankan pendapat pribadi, selalu ragu dalam segala hal, dan tidak memiliki keyakinan yang kuat.

Maka, lawan dari panyakit ini adalah ilmu yang benar dan mendalam, yang kemudian menimbulkan keyakinan kuat yang tidak disertai keragu-raguan, yang dapat menciptakan bid’ah dan nifak.

2. Penyakit Syahwat
Penyakit ini menimpa wilayah hati dan insting manusia. Dalam hal ini, dorongan kekuatan kejahatan di dalam hatinya mengalahkan dorongan kekuatan kebaikan. Penyakit syakwat menghilangkan fungsi dasar manusia untuk mengendalikan diri dan kemampuan dasarnya untuk bertekad secara kuat.

Penyakit syahwat pada umumnya lahir dari lemahnya kemauan baik dalam hati seseorang: entah itu dorongan untuk melakukan kebaikan atau dorongan untuk melawan kejahatan dalam dirinya. Allah SWT berfirman tentang Adam a.s.,

ولقد عهدنا إلى آدم من قبل فنسي ولم نجد له عزما    (طـه : ١١٥)

“Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat.” (QS: Thoha: 115)

Dorongan-dorongan kejahatan itu pada dasarnya berasal dari insting manusia, yang sebagiannya memiliki kebutuhan dasar yang memberikan vitalitas dan dinamika kehidupan manusia. Insting seksual, misalnya, dibutuhkan untuk menjaga dan meneruskan kelangsungan hidup manusia. Akan tetapi, hal itu akan menjadi sebuah kejahatan bila tuntutan pemenuhannya menyalahi aturan Allah. Selanjutnya, kemauan manusia itu melemah di hadapan dorongan kejahatan tersebut.

Ibnul Qayyim telah menjelaskan jenis-jenis syahwat ini, yang kemudian  menjadi akar semua bentuk dosa yang dilakukan manusia. Adapun jenis-jenis syahwat itu adalah sebagai berikut.

Syahwat kekuasaan
Syahwat kekuasaan adalah dorongan yang sangat kuat dalam diri seseorang untuk berkuasa sehingga ia sampai kepada tingkat mulai menyerapkan sebagian dari sifat-sifat yang hanya layak dimiliki Allah SWT. Berawal dari yang terkecil: senang dikagumi (sum’ah), senang disanjung di hadapannya (riya’), merasa diri (ghurur), sampai kepada yang besar, seperti kesombongan, keangkuhan, intimidasi, dan kezaliman. Inilah yang kemudian mendorong manusia hingga ke tingkat yang lebih jauh lagi, yaitu syirik. Inil pula yang membuat Firaun terlaknat.

Syahwat kesetanan
Syahwat kesetanan adalah dorongan kuat dalam diri seseorang untuk menyerupai setan dalam berbagai bentuk perilaku dasarnya, misalnya: benci, dengki dan dendam, gemar menipu, membuat ulah dan makar, menyebarkan gosip, memfitnah, menyesatkan orang lain, dan sebagainya. Penyakit ini biasanya mempertemukan kecerdasan dan dorongan setan. Oleh karena itu, pelakunya cenderung licik, culas dalam pergaulan, dan “bermuka dua”.

Syahwat binatang buas
Syahwat binatang buas adalah syahwat yang berasal dari nafsu amarah dan angkara murka, ibarat api yang cenderung membakar dan membumihanguskan. Penyakit ini kemudian bertemu dengan kekuatan fisik yang mendukung sehingga muncullah berbagai macam perilaku buruk, seperti perdebatan, permusuhan, perkelahian, penjajahan, perampokan, pembunuhan, dan tirani.

Syahwat binatang ternak
Syahwat ini berasal dari naluri kebinatangan dalam diri manusia, yang mendorongnya untuk memenuhi suatu keinginan secara berlebihan, terutama kebutuhan perut dan kemaluan. Penyakit ini mendorong manusia menjadi hedonis, permisif, dan berpikir pendek. Syahwat perut melahirkan sifat-sifat serakah, rakus, suka memakan harta anak yatim, kikir, gemar mencuri, korupsi, pengecut, penakut, dan sebagainya. Adapun syahwat kemaluan akan melahirkan perzinahan.

Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa sebagian besar manusia terjebak dalam penyakit ini karena pemenuhannya tidak membutuhkan banyak kecerdasan, kekuatan fisik, atau wilayah kekuasaan. Adapun syahwat binatang buas biasanya menimpa orang-orang yang kuat secara fisik namun tidak memiliki rasa kasih dan naluri sosial yang baik serta kemurahan hati, sedangkan syahwat kesetanan biasanya menimpa orang-orang cerdas namun tidak memiliki hati yang bersih dan niat yang baik.

Syahwat kekuasaan biasanya menimpa orang yang memiliki sangat banyak hal, seperti harta yang berlimpah, kekuasaan yang luas, dukungan pasukan militer yang kuat, teknologi tinggi dan canggih, sedang ia berada di tengah rakyat yang miskin dan tidak berdaya.

Kelemahan akal dan jiwa
Penyakit syubhat dan penyakit syahwat bersumber dari kelemahan akal dan jiwa. Syubhat bersumber dari kelemahan akal sehingga penderitanya tidak memiliki ilmu dan keyakinan, sedangkan penyakit syahwat bersumber dari kelemahan jiwa yang membuat penderitanya tidak memiliki kemauan yang kuat hingga sampai ke tingkat azam (tekad).

Wallahu A’lam Bisshowab

 

 

 

Latest posts by admin (see all)

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Close
Dukung Kami !!!
Klik tombol dibawah ini, Terima Kasih