Published On: Mon, Nov 24th, 2014

ISTIQAMAH

Share This
Tags

istiqomahI. MUKADIMAH

Setiap muslim yang telah berikrar Allah adalah Rabbnya, Islam agamanya, dan Muhammad rasulnya, harus senantiasa memahami arti ikrar ini serta mampu mengimplementasikan nilai-nilainya dalam realitas kehidupan. Hal ini mengharuskan seluruh dimensi kehidupan seorang muslim terwarnai dengan nilai-nilai ikrar tersebut, baik dalam kondisi aman maupun terancam..Namun, dalam realitas kehidupan dan fenomena ummat, kita menyadari bahwa tidak setiap muslim—meskipun memiliki pemahaman yang baik tentang Islam—mampu meimplementasikan nilai-nilai ikrar tersebut dalam seluruh kisi kehidupannya. Bahkan, orang yang mampu mengimplementasikannya pun belum tentu bisa bertahan sesuai dengan yang diharapkan Islam, yaitu komitment dan istiqamah dalam memegang teguh nilai-nilai Islam sepanjang perjalanan hidupnya.

Maka, istiqamah dalam memegang tali Islam merupakan kewajiban asasi serta sebuah keniscayaan bagi hamba-hamba Allah yang menginginkan husnul khatimah dan berharap akan surga-Nya. Mengenai hal ini, Rasulullah saw. bersabda,

“Berlaku moderat dan beristiqamahlah. Ketahuilah, sesungguhnya tidak ada seorang pun dari kalian yang selamat karena amalnya. Mereka bertanya, “Apakah engkau juga, ya Rasulullah? Beliau bersabda, “Ya, demikian juga aku (tidak selamat). Hanya saja, Allah SWT telah meliputiku dengan rahmat dan anugerah-Nya.” (HR Muslim dari Abu Hurairah)

Perintah untuk istiqamah ini ternyata bukan hanya diperintahkan kepada manusia biasa saja, melainkan juga kepada manusia-manusia besar sepanjang sejarah peradaban dunia, yaitu para Nabi dan Rasul. Perhatikanlah ayat berikut ini,

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat beserta kamu dan janganlah kamu melampui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Huud: 112)

II. DEFINISI

Istiqamah adalah anonim dari thughyan (melampaui batas atau penyimpangan). Adapun Istiqamah bisa berarti berdiri tegak di suatu tempat tanpa pernah bergeser. Hal ini dikarenakan akar kata istiqamah berasal dari kata qaama, yang berarti berdiri. Maka secara etimologi, istiqamah berarti tegak lurus, sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, istiqamah diartikan sebagai sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen.

Adapun secara terminologi, istiqamah dapat diartikan dengan beberapa pengertian di bawah ini,

  • Ketika Abu Bakar as-Shiddiq ra. ditanya tentang makna dari istiqamah, maka ia menjawab bahwa istiqamah adalah kemurnian tauhid (tidak menyekutukan Allah dengan siapa dan apapun jua). 
  • Umar bin Khattab ra. berkata, “Istiqamah adalah komitment terhadap perintah dan larangan Allah, serta tidak boleh menipu, sebagaimana tipuan musang.”
  • Utsman bin Affan ra. berkata, “Istiqamah adalah mengikhlaskan amal hanya untuk Allah SWT.”
  • Ali bin Abu Thalib ra. berkata, “Istiqamah adalah melaksanakan kewajiban-kewajiban.” 
  • Al-Hasan berkata, “Istiqamah adalah melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksitan.”
  • Mujahid berkata, “Istiqamah adalah komitmen terhadap syahadat tauhid, sampai bertemu dengan Allah SWT.”
  • Ibnu Taimiah berkata, “Mereka beristiqamah dalam mencintai dan beribadah kepaada-Nya, tanpa menengok ke kiri-kanan.”

Jadi, muslim yang istiqamah adalah muslim yang selalu mempertahankan keimanan dan aqidahnya dalam situasi dan kondisi apapun. Ia bak batu karang yang tegar menghadapi gempuran ombak yang datang silih berganti. Ia tidak mudah loyo atau futur dan degredasi dalam menapaki perjalanan dakwah. Ia senantiasa sabar menghadapi seluruh godaan dalam medan dakwah yang diembannya, walaupun tahapan dakwah dan tokoh sentralnya mengalami perubahan. Itulah manusia muslim yang sesungguhnya, senantiasa istiqamah di sepanjang jalan dakwah dan di seluruh tahapan-tahapannya.

III. DALIL-DALIL

Dalam Al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw., banyak sekali ayat dan hadits yang berkaitan dengan masalah istiqamah. Diantaranya adalah sebagai berikut.

  • “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat beserta kamu dan janganlah kamu melampui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Huud: 112)
    Ayat diatas mengisyaratkan kepada kita bahwa Rasulullah saw dan orang-orang yang bertaubat bersamanya harus beristiqamah, sebagaimana yang telah diperintahkan. Dalam hal ini, seorang muslim harus istiqamah dalam mabda (dasar atau awal pemberangkatan), dan minhaj dan hadaf (tujuan) yang digariskan serta tidak boleh menyimpang dari perintah-perintah ilahiah.
  • “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” Kamilah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Fushshilat: 30-32)
    “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (al-Ahqaaf: 13-14)
    Lima ayat diatas menggambarkan urgensi istiqamah setelah beriman. Allah SWT menjanjikan pahala yang besar, seperti hilangnya rasa takut, sirnanya kesedihan, dan surga bagi hamba-hamba Allah yang senantiasa memperjuangkan nilai-nilai keimanan dalam setiap kondisi atau situasi apapun. Hal ini juga dikuatkan oleh beberapa hadits Nabi saw. di bawah ini,
  • “Aku berkata, “Wahai, Rasulullah, katakanlah kepadaku satu perkataan dalam Islam, yang tidak akan aku bertanya kepada seorang pun selain engkau. Beliau bersabda, “Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah (jangan menyimpang).’” (HR Muslim dari Abu ‘Amarah Sufyan bin Abdullah)
  • “Rasulullah saw bersabda, “Berlaku moderat dan istiqomahlah. Ketahuilah, sesungguhnya tidak ada seorang pun dari kalian yang selamat karena amalnya. Mereka bertanya, “ Apakah engkau juga, ya Rasulullah? Beliau bersabda, “Ya, demikian juga aku (tidak selamat). Hanya saja, Allah SWT telah meliputiku dengan rahmat dan anugerah-Nya.” (HR Muslim dari Abu Hurairah)

Selain ayat-ayat dan beberapa hadits di atas, terdapat juga beberapa pernyataan ulama tentang urgensi istiqamah. Ssebagaimana berikut ini.

  • Sebagian orang-orang arif berkata, “Jadilah kamu orang yang memiliki istiqamah, dan bukan menjadi orang yang mencari karomah. Sebab, sesungguhnya dirimu bergerak untuk mencari karomah, sementara Robb-mu menuntutmu untuk beristiqamah.”
  • Syekh al-Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Sebesar-besar karomah adalah memegang istiqamah.

IV. FAKTOTR-FAKTOR YANG MELAHIRKAN ISTIQAMAH

Dalam Madaarijus Salikiin, Ibnu Qoyyim menjelaskan bahwa ada enam faktor yang mampu melahirkan keistiqamah dalam jiwa seseorang. Faktor-faktor tersebut adalah sebagaimana berikut.

  • Beramal dan optimalisasi dalam beramal
    “Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (al-Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atau segenap manusia, maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (al-Hajj: 78)
  • Berlaku moderat antara tindakan berlebih-lebihan dengan kikir.
    “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.”
    (al-Furqan: 67)
    Rasulullah saw bersabda kepada Abdullah bin Amr bin al-Ash, “Wahai Abdullah bin Amr, sesungguhnya setiap orang yang beramal memeliki puncaknya dan setiap puncak akan menglami kefuturan (keloyoan). Maka, barang siapa yang pada masa futurnya (kembali) kepada sunnah, sungguh ia beruntung. Nmaun, barang siapa yang pada masa futurnya (kembali) kepda bid’ah, sunguh ia akan merugi.” (HR. Imam Ahmad dari Sahabat Anshar)
  • Tidak bertindak melebihi dari ilmu pengetahuannya.
    “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya.” (al-Israa’: 36)
  • Tidak bersandar pada sesuatu yang bersifat kontemporal, namun harus bersandar pada sesuatu yang jelas.
  • Ikhlas
    “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (al-Bayyinah: 5)
  • Mengikuti sunnah
    Rasulullah saw. Rasulullah saw. bersabda, “Siapa diantara kalian yang masih hidup sesudahku pastilah dia akan melihat perbedaan yang keras. Maka, hendaklah kalian mengikuti sunnahku dan sunnah para Khalifah Rasyidin (yang lurus). Gigitlah ia dengan gigi taringmu.” (HR.Abu Daud dari al-Irbadl bin Sariah)
    Mengenai hal ini, Imam Sufyan berkata, “Tidak diterima suatu perkataan, kecuali bila ia disertai amal. Tidaklah lurus perkataan serta amal, kecuali dengan niat. Tidaklah lurus perkataan, amal, dan niat, kecuali bila sesuai dengan sunnah.”

V. DAMPAK ISTIQAMAH

Manusia muslim yang istiqamah dan yang selalu komitment dengan nilai-nilai kebenaran Islam dalam seluruh aspek hidupnya, akan merasakan dampak yang positif dan buah yang lezat sepanjang kehidupannya. Adapun dampak dan buah istiqamah dalam diri seseorang adalah sebagai berikut.

a. Syaja’ah (Keberanian)
Muslim yang selalu istiqomah dalam hidupnya akan memiliki keberanian yang luar biasa. Ia tidak akan gentar menghadapi segala rintangan dakwah. Ia tidakakan pernah menjadi seorang pengecut dan penghianat dalam hutan belantara perjuangan. Tidak seperti orang yang di dalam hatinya ada penyakit nifaq—yang senantiasa menimbulkan kegamangan dalam melangkah, dan kekuatiran serta ketakutan dalam menghadapi rintangan-rintangan dakwah. Perhatikanlah firman Allah SWT.

“Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-oang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata, “Kami takut akan mendapat bencana.” Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.” (al-Maaidah: 52)

Dalam hal ini, kita bisa melihat kembali keberanian para sahabat dan para kader dakwah sebagaimana di bawah ini.

  • Ketika Rasulullah saw menawarkan pedang kepada para sahabat dalam Perang Uhud, maka Abu Dujanah seketika berkata, “Aku yang akan memenuhi haknya. Kemudian, ia membawa pedang itu dan menyabetkannya pada kepala orang-orang musyrik.” (HR. Muslim)
  • Pada saat seorang sahabat mendapat jawaban dari Rasulullah saw. bahwa ia masuk surga jika mati terbunuh dalam medan pertempuran, maka ia tidak menyia-nyiakan waktunya lagi. Ia pergi seraya melempar kurma yang ada di genggamannya, kemudian ia meluncur ke pedan pertempuran, dan akhirnya mendapatkan apa yang diinginkannya, yaitu syahadah (mati syahid). (Muttafaqun Alaih)
  • Rasulullah saw. bersabda kepada Ali bin Abi Thalib setelah menerima bendera Islam dalam peperangan Khaibar sebagai berikut, “Jalanlah, jangan menoleh sampai Allah SWT memberikan kemenangan kepada kamu.” Ali lalu berjalan. Kemudian, ia berhenti sejenak dan tidak menoleh seraya bertanya dengan suara yang keras, “Ya Rasulullah, atas dasar apa aku memerangi manusia?” Beliau bersabda, “Perangi mereka sampai mereka bersaksi bahwasanya tiada Tuhan selain Allah.” (HR. Muslim)
    Itulah gambaran keberanian para sahabat. Keberanian yang lahir dari keistiqamahan. Satu hal yang harus diteladani oleh generasi-generasi penerus dalam menegakkan nilai-nilai kebenaran, kebaikan, dan keindahan Islam.

b. Ithmi’nan (ketenangan)
Keimanan seorang muslim yang sampai pada tangga kesempurnaan akan melahirkan tsabat dan istiqamah dalam medan perjuangan. Tsabat dan istiqamah sendiri akan melahirkan ketenangan, kedamaian, dan kebahagian pada diri seseorang. Betapapun ia harus melalui rintangan dakwah yang panjang, jalan terjal perjuangan, dan menapak tilas lika-liku belentara hutan keniscayaan. Hal ini dikarenakan ia meyakini bahwa inilah jalan yang pernah ditempuh oleh hamba-hamba Allah yang agung yaitu, para nabi, para rasul, generasi terbaik sesudahnya, dan generasi setelahnya yang bertekad membawa obor estafet dakwah mereka. Sebagaimana firman Allah SWT.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Bilakah datangnya pertolongan Allah.” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (al-Baqarah: 214)

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (al-An’aam: 82)

“…(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah.Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (ar-Raad: 28)

c. Tafa’ul (optimis)
Pada akhirnya, keistiqamahan yang dimiliki seorang muslim juga akan melahirkan sikap optimis. Ia jauh dari sikap pesimis dalam menjalani dan mengarungi lautan kehidupan. Ia tidak merasa lelah dan gelisah—satu sifat yang akan melahirkan frustasi dalam menjalani kehidupan. Kefuturan yang mencoba mengusik jiwanya, kegalauan yang ingin mencabik jiwa mutmainnahnya, dan kegelisahan yang menghantui benaknya, akan terobati dengan keyakinannya kepada kehendak dan keputusan Ilahiah. Sebagaimana yang diisyaratkan oleh beberapa ayat di bawah ini.

“Tiada sesuatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Luhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (al-Hadiid: 23)

“Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (Yusuf: 87)

“Ibrahim berkata, “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat.” (al-Hijr: 56)

Maka, dengan tiga buah dari istiqamah ini, seorang muslim akan selalu mendapatkan kemenangan dan merasakan kebahagian, baik pada saat di dunia maupun di akhirat kelak. Allah SWT berfirman sebagaimana berikut. “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari (Tuhan) Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Fushshilat: 30-32)

Wallahu ‘alam bish-shawwab.

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Close
Dukung Kami !!!
Klik tombol dibawah ini, Terima Kasih