Published On: Fri, Aug 23rd, 2013

Jangan Berhenti Membina Diri

 

Jangan Berhenti Membina DiriBerbahagialah kita manakala dapat tinggal bersama dengan komunitas orang-orang yang baik dan di tengah lingkungan yang kondusif. Sehingga kita dapat maksimal dalam mengaktualisasikan idealism keislaman yang kita inginkan dan mendapatkan kenyamanan serta ketenteraman di bawah naungan al-Islam Namun realitas menunjukkan tidak semua kita dapat mendapatkan hal tersebut. Sebagian dari saudara-saudara kita justru di hadapkan pada lingkungan yang tidak terlalu ramah dengan Islam, tidak simpati dengan simbol-simbol Islam serta sikap apatis terhadap segala yang berlebel Islam.

Dampaknya adalah segala aktivitas yang menjadi gizi spiritulnya tidak dapat dikonsumsi karena terhalang oleh orang-orang tertentu yang ada di kantornya, perusahaannya atau di lingkungan tempat tinggalnya. Di sinilah kita membutuhkan strategi khusus untuk menyiasati kondisi yang kurang harmonis dalam pertumbuhan kondisi spiritual dan kehidupan keberagamaan yang kita inginkan. Strategi khusus itu adalah Tarbiyah Dzatiyah (Mandiri Membina Diri).

Apa itu Tarbiyah Dzatiyah?

Kata Tarbiyah Dzatiyah secara etimologi berarti mandiri membina diri. Adapun dalam pendekatan terminologi Tarbiyah dzatiyah adalah usaha swadaya meraih Islam dan cinta Allah dengan mentarbiyah dirinya; meningkatkan mentalitas diri, akhlaq diri, wawasan diri dan semua yang dianggap perlu dalam rangka meraih Islam dan cinta-Nya.

Sementara Abdullah al-’idan dalam buku At-Tarbiyah adz-Dzatiyah ma’alim wa tajihaat mengatakan, Tarbiyah Dzatiyah adalah metode-metode pembinaan yang dilakukan oleh seorang muslim terhadap dirinya sendiri untuk membentuk kepribadian Islami yang komprehensif yang meliputi aspek ilmu pengetahuan, aspek keimanan, aspek akhlak, aspek sosial dan lainnya serta meningkatkan derajat kesempurnaan manusia.

Jadi tarbiyah Dzatiyah adalah upaya untuk mendapatkan kesempurnaan di mata Allah swt melalui renovasi dari dalam yaitu diri sendiri. Namun esensi tarbiyah Dzatiyah ini tidak boleh menghilangkan bentuk pembinaan yang lainnya. Pembinaan diri harus integratif, saling melengkapi dan mendukung. Karena pembinaan diri tanpa adanya majelis ilmu, lingkungan yang shalih (kondusif) dan ikatan persaudaraan Islam yang kokoh, maka ini akan seperti menguras air laut. Akan kalah dengan Iblis bersama sekutunya, tentara dan para staf ahlinya.

Metode

Untuk menggapai sosok muslim yang berkepribadian Islami dengan pendekatan Tarbiyah Dzatiyah tentu membutuhkan metode-metode yang efektif guna menggapai sasaran mulia tersebut. Karena manakala pembinaan ini tidak dipola dengan baik maka usaha ini akan menyebabkan pendangkalan makna pembinaan itu sendiri. Berikut ini adalah metode-metode Tarbiyah Dzatiyah :

Muhasabah (Otokritik)

Otokritik dalam tarbiyah ini mengandung dua muatan, yaitu otokritik dalam hubungan kita kepada Allah saw dan otokritik kita dalam hubungan bermasyarakat. Nilai plus dari otokritik ini adalah selalu tersedianya bensin pendorong saat jiwa telah jatuh ke lembah nafsu. Sebab dengan melakukan evaluasi yang kontinyu itulah kita akan selalu berusaha memperbaiki kekurangan dan kesalahan yang kita lakukan. Otokritik dengan cara mengkomparasikan amal kebaikan kita dengan saudara kita seaqidah yang lebih baik akan menggerakkan pikiran kita untuk terus berbenah diri dan menggapai yang terbaik, begitu juga otokritik kita dalam konteks hubungan kita dengan Allah akan selalu mengingatkan kita kepada-Nya.

Taubat dari berbagai jenis dosa

Taubat merupakan metode efektif dalam pembinaan diri. Karena taubat merupakan cara seorang hamba melakukan penyesalan terhadap seluruh dosa. Taubat adalah energi spiritual yang mendorong kita untuk lebih dekat dengan Allah saw. Di sinilah jalinan keakraban kita dengan sang Khalik akan menjadi kita merasa tenteram dan damai dalam hidup. Maka merespon perintah bertaubat merupakan sebuah kewajiban yang tidak boleh ditawar dengan usia tua seperti dilakukan sebagian orang. Allah swt berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman bertaubatlah kepada Allah dengan taubat nasuha….” (at-Tahrim : 8)

Memperluas wawasan keislaman

Memperdalam ilmu pengetahuan islam merupakan metode yang efektif guna pembinaan diri secara mandiri. Karena dengan mengetahui ilmu pengetahuan Islam yang kokoh, seorang muslim terdorong untuk komitmen dan mengaplikasikan dari apa yang ia ketahui lewat referensi tertinggi yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Adapun cara yang dapat ditempuh untuk memperdalam wawasan keislaman seperti konsisten menghadiri majelis ta’lim, membaca bacaanbacaan Islami secara kontinyu, mendengar tilawatul qur’an secara rutin, mengunjungi para ulama dan orang-orang shalih.

Mengaplikasikan Ibadah secara Disiplin

Shalat misalnya, yang dilakukan secara disiplin baik dari sisi ketepatan waktu dan syarat serta rukun akan berdampak positif terhadap orang yang melaksanakannya. Karena salat merupakan saat terdekat seorang manusia terhadap tuhannya. Bagi yang menyadari hal ini, akan berdampak

semua gerakan yang ada dalam salat melahirkan gaung keimanan di dalam aktivitas hidupnya. Dalam berdiri dia ingat menunggu hisab saat di padang Mahsyar, saat rukuk’ ia ingat Allah mengawasi kita begitu seterusnya.

Tilawatul Qur’an dengan disiplin juga merupakan energi spiritual yang luar biasa. Karena Al-Qur’an adalah bacaan spektakuler. Ia ajaib, besar, memukau sekaligus mudah. Ia adalah obat dan petunjuk. Begitu juga ibadah-ibadah yang lain seperti shaum, haji semua adalah power spiritual seorang muslim.

Manfaat

Apa yang kemudian kita dapatkan dari proses mentarbiyah diri kita secara mandiri adalah hal-hal berikut ini :

Kebahagiaan dan ketenangan

Setiap orang ingin menggapai kebahagiaan dan ketenangan dalam hidupnya. Namun sebagian orang salah dalam mencarinya. Karena mencari kebahagiaan itu pada apa makanan, minuman, musik, hawa nafsu, kemaksiatan yang mana mereka hanya dapatkan kebahagiaan itu hanya sebentar saja. Namun kembali kepada Allah dengan melakukan pembinaan diri orang akan mendapatkan ketenteraman yang hakiki. Allah swt berfirman : “Barang siapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik” (an-Nahl : 97)

Dicintai oleh Allah swt

Allah swt berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, kelak Allah Yang maha pemurah akan menanamkan dalam dirinya rasa kasih sayang” (Maryam: 96)

Allah swt tidak akan memberikan kasih sayang melainkan terhadap hambanya yang Dia cintai. Sehingga setiap muslim yang selalu membina dirinya yang kemudian melahirkan komitmen iman dan amal shalih itulah merupakan jalan untuk mendapat kasih sayang Allah swt.

Antibody diri dari kemaksiatan dan dosa

Rasulullah saw bersabda: “Jagalah Allah, pasti Dia menjagamu” (H.R at-Tirmidzi)

Maksudnya, komitmenlah terhadap perintah-perintah Allah, jangan mendekati atau bahkan melanggar batasan-batasan Allah, maka Dia akan menjaga kita dari berbagai nafsu, keksesatan dan berbagai bentuk dosa.

Tarbiyah Dzatiah: Proyek Masa Depan

Pada prinsipnya Tarbiyah Dzatiyah adalah kita hendak membangun diri kita langsung dari tangan kita. Usaha merancang kepribadian yang “new” memerlukan proses dan penekanan. Tarbiyah Dzatiyah menginginkan kepribadian, karakter dan pola pikir yang new. Sebab untuk mengatasi terpaan hidup yang di bawah kendali Iblis membutuhkan Islam luar-dalam. Misal cincin yang di luarnya saja yang dilapisi emas.

Bagaimanapun lama kelamaan emas di lapisan luar akan terkikis oleh suhu, air dan gas hingga tampak besi hitam sosok aslinya. Seorang muslim yang hanya mengandalkan majelis ta’lim, lingkungan yang kondusif dalam rangka mengislamkan dirinya, tak lebih sebatas emas di lapis luar cincin tadi. Keislaman yang dibentuk hanya pada lapisan kulit. Sedangkan yang diinginkan keislaman luar-dalam sampai pada daging, tulang, sumsum tulang, bahkan setiap selsel tubuhnya harus Islam.

Keislaman yang diinginkan adalah keislaman jangka panjang saat ia berkeluarga, saat telah menjadi tua dan saat menjadi sesepuh. Inilah mengapa tarbiyah Dzatiyah disebut proyek untuk masa mendatang.

 

Latest posts by admin (see all)

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Close
Dukung Kami !!!
Klik tombol dibawah ini, Terima Kasih