Published On: Thu, Feb 14th, 2013

Jujur Tanda Beriman

Jujur Tanda BerimanSetiap kita tentu menyukai kejujuran dan senang bergaul dan berkawan dengan orang jujur, yang menyatukan kata dan perbuatan. Sebaliknya kita pun membenci sifat-sifat yang bertentangan dengan kejujuran; dusta dan khianat, sekaligus menghindari orang-orang yang memiliki sikap dan prilaku seperti itu. Dimana saja kebohongan dan dusta itu dibenci, termasuk di kalangan para penjahat, bandit atau perampok sekalipun yang notabene kerja mereka di sekitar kajahatan. Tidak seorang pun di antara penjahat itu yang menyukai ketidakjujuran, sehingga di antara mereka pun kerap terjadi saling bunuh karena adanya pengkhianatan yang terjadi di tengah mereka. Begitulah kejujuran menjadi sifat dan prilaku yang disukai setiap manusia karena sesungguhnya sifat itu sejalan dengan fitrah mereka.

Karena itulah kejujuran sekaligus menjadi tanda paling kuat keimanan seorang muslim. Suatu ketika Rasulullah saw. Ditanya seorang sahabatnya, “Ya Rasulullah, mungkinkah seorang Muslim berzina?” beliau menjawab, “Ya, mungkin.” Sahabat itu kembali bertanya, “Mencuri?” Rasul menjawab, “Ya, Mungkin.” Sahabat bertanya kembali, “Berdusta.” Rasul menjawab, “Tidak, demi Allah, dia tidak mungkin berdusta. Barang siapa berhati jujur tentulah ia tak akan mendustai hatinya yang tak pernah bisa didustai.

1-Jujur Kepada Allah Ta’ala
Konsekwensi iman kepada Allah Ta’ala adalah jujur terhadap apa yang diyakini sekaligus menjalankan berbagai kewajiban yang Allah Ta’ala wajibkan atas diri seorang mukmin. Bahkan memperjuangkan keyakinan tersebut disertai kesiapan menerima resiko apa pun yang menyertainya adalah konsekwensi lain daripada iman kepada-Nya. Kejujuran iman seperti inilah yang diperlihatkan para sahabat Nabi saw. Saat ketentraman dan rasa aman menyelimuti jiwa mereka setelah menyatakan iman kepada Allah Azza wa Jalla.

Lihatlah bagaimana sikap Mush’ab bin Umair kala kedua orang tuanya mengetahui bahwa putra tercintanya telah mengikuti agama Muhammad? Saat itu juga mereka memutuskan bantuan yang saban hari mereka berikan padanya. Mush’ab bin Umair yang dimasa jahiliyahnya dikenal sebagai lelaki perlenta, anak mami, mengenakan pakaian paling mewah dengan aroma wewangian menyeruak dari tubuhnya, akhirnya ia tinggalkan dan memilih kehidupan yang sangat bersahaja, kalau tidak disebut miskin papa, demi mempertahankan iman dan keyakinannya kepada Allah Ta’ala.

Kita juga akhirnya mengetahui bagaimana akhir kematian seorang Mush’ab bin Umair takkala Rasulullah saw. Menemukkan jasadnya terbujur kaku di atas medan Uhud dengan pakaian yang tidak cukup untuk menutupi tubuhnya. Kenangan Rasulullah saw. Tentang Mush’ab dimasa jahiliyah dahulu dan ketika ia memeluk Islam, jadi kenangan mengharu-biru jiwa beliau. Berkenaan dengan itulah Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya: “Di antara orang-orang yang beriman itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merobah janji mereka.” (Al Ahzab: 23)

Dikisahkan pula, bahwa dalam sebuah pertempuran sangat dahsyat datanglah seorang budak kepada Rasulullah saw. Yang ketika itu sedang menghitung ganimah. Beliau lalu member budak tersebut bagian dari rampasan perang. Namun budak itu berkata, “Bukan untuk ini berjihad.” Rasulullah saw. Balik bertanya, “Lalu, untuk apa?” Budak tersebut menjawab, “Agar saya bisa ikut membela Islam, kena tombak disini (sambil menunjuk ke puncak dadanya) dan saya mati karenanya sebagai syahid lalu masuk syurga.” Tak lama kemudian orang menemukan jasadnya. Ia telah syahid dengan luka persis di tempat yang ditunjuknya tadi. Rasulullah saw. Berkata, “Ia benar, maka Allah membenarkannya.” Dan di antara empat kelompok yang Allah berikan nikmat dan diletakkan kedudukan setelah para nabi, ialah ash- Shiddiqien. (QS. An-Nisa’: 69)

2-Jujur Kepada Diri sendiri
Shidiq pada diri manusia itu ada tiga macam, yaitu:

Shidiq pada niat.
Setiap kita yakin dan percaya adanya pengawasan Allah (muraqabah) kita mengetahui bahwa Allah mengetahui isi hati kita. Orang yang shidiq di hati senantiasa jujur pada hati kecilnya. Ketika ia berbuat kebaikan maka hatinya pun berniat untuk berbuat kebaikan. Dalam melakukan ibadah maka niat dalam hatinya juga ditujukan untuk ibadah kepada Allah. Orang yang hatinya tidak shidiq, bisa jadi ia melakukan suatu kebaikan namun ternyata dalam hatinya justru sangat membencinya. Bisa jadi ia berkata tentang keimanan tapi justru hatinya begitu busuk.

Kita tentu kenal dengan nama Abdullah bin Ubai, yang ketika shalat fardhu berjama’ah selalu berusaha di belakang Nabi saw. Pakaian yang ia kenakan baru, rapi dan wangi. Gerakan shalatnya kelihatan begitu khusyu. Namun ternyata di akhir hayatnya Rasulullah saw. Diberi tahu Allah Ta’ala lewat Jibril bahwa Abdullah bin Ubai sebenarnya adalah seorang munafik.

Dalam sejarah Islam, Abdullah bin Ubai terkenal sebagai gembong kaum munafik. Ia mengaku beriman padahal sebenarnya dalam hati ia sangat benci ajaran yang dibawa oleh Rasulullah saw. Lain di mulut lain di hati! Kesu dahan bagi orang yang munafik tentu saja adalah neraka jahannam. Naudzubillah min dzalik! Jadi orang-orang yang beriman adalah orangorang yang hatinya shidiq. Hatinya membenarkan bahwa ia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan juga mengakui kebenaran terhadap apa yang dibawa oleh Rasul Allah.

Rasulullah saw. dalam hadits tadi menggambarkan kesudahan yang jelek bagi orang-orang yang melakukan amalan-amalan yang sebenarnya bernilai ibadah demi mendapatkan pujian dari orang lain. Mereka mendapatkan pujian tetapi tidak mendapatkan balasan dari Allah. Orang-orang seperti itu termasuk tidak shidiq/ jujur hatinya.

Shidiq pada Lisan
Shidiq pada lisan digambarkan dalam firman Allah berikut : “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar”. (QS 33 : 70) Inilah bentuk kejujuran lisan yaitu senantiasa berkata yang benar atau biasa kita sebut jujur. Bahkan Rasulullah pernah bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia berkata yang baik atau (lebih baik) diam” (HR Bukhari dan Muslim).

Jujur pada diri sendiri adalah tahap pertama dan beberapa etape kejujuran yang harus dilalui setiap kita. Walau kita tahu bahwa menumbuhkan kejujuran dalam diri sendiri juga bukan perkara mudah. Terkadang kita mengingkari sesuatu di dalam hati yang justru kita akui kebenarannya, lalu berusaha mencari berbagai alasan sebagai pembenar atas pengingkaran yang kita lakukan. Sifat inilah yang bila tumbuh subur di dalam hati maka secara perlahan akan menguatkan sifat nifak dalam diri.

Jujur kepada diri sendiri juga dapat dilakukan dengan berusaha menjadi diri sendiri, tidak membohongi diri sendiri, berani mengakui kelemahan dan kesalahan serta berani mengatakan kebenaran dan berbagai macam sikap dan prilaku yang mencerminkan kata hati. Terkait dengan hal ini, Rasulullah saw. Bersabda, “Allah merahmati seseorang yang mengetahui kadar kemampuan dirinya.” Artinya bahwa, menyatakan diri sesuati diluar kemampuan diri sama dengan melakukan dusta terhadap diri sendiri, bahkan kepada orang lain. Hanya saja sangat sedikit di antara kita yang dengan berani menyatakan sesuatu di luar batas kemampuannya.

3-Jujur Kepada Orang Lain
Jujur kepada manusia atau orang lain sesungguhnya adalah manifestasi dari jujur kepada Allah dan diri sendiri. Kejujuran ini tumbuh subur dalam jiwa karena disiram oleh kekuatan iman kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebaliknya dusta dan kebohongan tumbuh dalam diri disebabkan kelemahan iman dan tidak adanya penghargaan kepada diri sendiri.

Abdullah bin Dinar meriwayatkan, suatu hari ia melakukan perjalanan bersama Khalifah Umar bin Khathab dari Madinah ke Mekah. Di tengah jalan mereka berjumpa dengan seorang anak gembala yang tampak sibuk mengurus kambing-kambingnya.

Seketika itu muncul keinginan Khalifah untuk menguji kejujuran si gembala. Kata Khalifah Umar, “Wahai gembala, juallah kepadaku seekor kambingmu.” “Aku hanya seorang budak, tidak berhak menjualnya,” jawab si gembala. “Katakan saja nanti kepada tuanmu, satu ekor kambingmu dimakan serigala,” lanjut Khalifah. Kemudian si gembala menjawab dengan sebuah pertanyaan, “Lalu, di mana Allah?”

Khalifah Umar tertegun karena jawaban itu. Sambil meneteskan air mata ia pun berkata, “Kalimat ‘di mana Allah’ itu telah memerdekakan kamu di dunia ini, semoga dengan kalimat ini pula akan memerdekakan kamu di akhirat kelak.” Kisah di atas merupakan gambaran pribadi yang jujur, menjalankan kewajiban dengan disiplin yang kuat, tidak akan melakukan kebohongan walau diiming-imingi dengan keuntungan materi.

Islam menganjurkan berlaku jujur bagi setiap orang —apa pun profesinya— dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Nabi Muhammad saw menegaskan, “Berlaku jujurlah, karena sesungguhnya kejujuran itu menuntun kepada kebaikan, dan sesungguhnya kejujuran itu menuntun ke surga. Dan jauhilah dusta, karena dusta itu menyeret kepada dosa dan kemungkaran, dan sesungguhnya dosa itu menuntun ke neraka.” (HR Bukhari).

Berlaku jujur memang sulit manakala ia berbenturan dengan kepentingan-kepentingan tertentu yang bersifat duniawi. Orang rela mengorbankan kejujurannya demi kepentingan materi, pangkat, jabatan dan semacamnya. Yang tergambar dalam pikirannya bahwa dengan banyaknya materi yang dia miliki segera akan dihormati orang banyak, dengan ke tinggian jabatan dan kedudukan yang dia sandang serta merta mendapatkan penghargaan dan prestise di masyarakat.

Dalam kaitannya dengan kejujuran ini, ada seorang sahabat masuk Islam, yang sebelumnya sangat gemar melakukan dosa besar — berzina, berjudi, merampok, dan lain-lain. Dengan sangat jujur dia ceritakan perbuatannya ini di hadapan Rasulullah. Setelah Nabi me mahami apa yang ia kisahkan itu, beliau memberi fatwa kepada sahabat ini dengan satu kalimat pendek, “Jangan berbohong.”

Awalnya, ia menganggap begitu sepele permintaan Rasulullah ini, namun ternyata implikasinya begitu indah, mampu membebaskannya dari segala perbuatan dosa. Setiap ada keinginan berbuat dosa, ia selalu teringat pada nasihat Nabi saw. Sedangkan untuk berkata jujur bahwa ia telah berbuat kejahatan, ia malu dengan dirinya sendiri. Akhirnya, dengan kesadaran penuh ia pun meninggalkan segala perbuatan dosa dan menjadi pengikut setia Rasulullah saw.

Latest posts by admin (see all)

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Close
Dukung Kami !!!
Klik tombol dibawah ini, Terima Kasih