Published On: Mon, Feb 25th, 2013

Keteladanan Pemimpin

Berbicara tentang pemimpin dan kepemimpinan, maka teladan yang paling baik adalah kepemimpinan Rasulullah saw. Sebab, dalam kurun waktu yang singkat (sekitar 23 tahun) beliau berhasil dengan gemilang merekontruksi akhlaq masyarakat Mekah dari akhlaq jahiliyah menjadi masyarakat yang berakhlaq mulia. Kota Mekah yang tidak dikenal dalam sejarah peradaban manusia, menjadi kota yang banyak dibicarakan Bangsa-bangsa besar pada masanya. Tugas utama Nabi adalah untuk memperbaiki akhlaq manusia. Keberhasilan Nabi mengubah aspek moralitas tersebut menjadi alasan Michael Hart (seorang penulis non muslim) menempatkan nabi di urutan pertama di antara 100 tokoh paling berpengaruh di dunia.

Sekarang, meskipun lebih dari 1400 tahun Nabi wafat, namun model kepe- mimpinan beliau senantiasa relevan dan didamba umat. Tutur katanya diikuti, perilakunya menjadi suri teladan terbaik. Beliau adalah pemimpin paripurna. Jika kita menyimak sejarah hidup Rasulullah semakin membuat kita terpesona dengan model kepemimpinan yang beliau terapkan. Maha suci Allah yang telah mengutus rasul-Nya menjadi suri teladan terbaik dalam kepemimpinannya. Nabi saw. adalah pemimpin terbaik sepanjang masa, karena Rasulullah selalu memimpin dengan akhlaq mulia, adil dan menekankan pentingnya keteladanan.

Meskipun beliau adalah seorang kepala negara, namun beliau hidup sederhana, tidak bergelimang harta. Meskipun beliau adalah seorang panglima, namun beliau adalah panglima yang menyayangi prajurit-prajurit. Tutur katanya lembut, berwibawa dan menyenangkan siapa pun yang mendengar. Tatap matanya sejuk dan menenteramkan. Setiap kebijakannya selalu dituntun Allah SWT dan tidak ada kebijakan yang menyakiti umat. Kebijakankebijakan beliau tidak pernah merugikan satu kelompok atau menguntungkan kelompok yang lain. Semua kebijakan ditetapkan secara adil dan bijaksana.

Sebagai umat Rasulullah, sudah sepatutnya kita menjadikan beliau sebagai figure teladan utama, apapun profesi, pangkat dan jabatan yang kita sandang. Pada dasarnya setiap kita adalah pemimpin. Suami adalah pemimpin dalam rumah tangga. Ibu pemimpin bagi anak-anaknya. Seorang kepala negara adalah pemimpin bagi rakyatnya.

Untuk bangkit dari krisis multidimensional saat ini, agaknya Indonesia membutuhkan pemimpin yang berakhlaq mulia seperti yang dicontohkan Rasulullah. Kita merindukan pemimpin yang punya hati nurani dan hidup sederhana, bukan bergelimang kemewahan ketika rakyat sengsara. Kita merindukan pemimpin yang adil dan bijaksana, bukan pemimpin otoriter dan sok kuasa. Kita ingin pemimpin yang pro-rakyat, bukan pemimpin yang menjadikan rakyat sebagai pijakan meraih kekuasaan. Kita merindukan pemimpin yang peduli rakyat, bukan pemimpin yang mementingkan citra politik dan melanggengkan kekuasaanya. Kita merindukan pemimpin yang tutur katanya merupakan solusi masalah, bukan menjadi sumber masalah.

Jadilah Pemimpin dalam Ketaqwaan
Para ibaadurrohmaan (Hamba Dzat yang Maha Pengasih) selalu berdoa seperti yang diabadikan oleh Al-Qur’an: “…….dan Jadikanlah Kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa” (al-Furqaan (25): 74)

Dalam menafsirkan ayat ini Mujahid menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kepemimpinan di sini adalah para pemimpin dalam ketakwan, sampai kita dapat meneladani orang sebelum kita dan orang-orang setelah kita dapat meneladani kita. Artinya orang yang memiliki keteladanan yang baik mengikuti jejak para pendahulunya dalam kebaikan dan menjadi teladan bagi orang-orang sesudahnya. Dia memimpin manusia dalam berbuat baik dan manusia pun mengikutinya, sebagaimana dia telah mengikuti orang-orang saleh di antara para pendahulu umat ini. Inilah yang menjadi sebab mengapa orang-orang mempercayainya dan mengikutinya serta bersabar bersamanya.

Namun untuk menjadi pemimpin dalam ketakwaan di era modern dan matrealisme bukan perkara yang mudah untuk diwujudkan. Tarikan duniawi yang begitu kuat seringkali mengubah keshalehan menjadi kesalahan dan ketaatan menjadi kemaksiatan. Hanya pemimpin yang dirahmati Allah-lah yang bertahan dengan nilai-nilai rabbani dalam memikul amanah kepemimpinan. Di sinilah penting seorang pemimpin untuk terus menjalin kemesraan hubungan vertikal kepada Rabbnya seperti yang diteladankan Rasullullah SAW dan para sahabatnya.

Antara Kata dan Perbuatan Harus Sinergi
Sejarah membuktikan bahwa keberhasilan para pemimpin adalah ketika mereka menyeru dengan perbuatan. Orang tidak akan mempercayai seorang pemimpin dan sulit untuk menerima perkataannya ketika ia bergelimang nikmat yang tidak didapat oleh rakyatnya. Oleh sebab itulah Imam Ali berhati-hati terhadap dirinya sendiri dan dari pandangan orang lain, sehingga beliau memakai pakaian yang penuh dengan tambalan. Ketika sebagian di antara masyarakatnya keberatan dengan pakaiaannya, Beliaupun menjawab: “Mengapa kalian merasa keberatan dengan pakaian ini? Sesungguhnya pakaian ini lebih jauh dari kesombongan dan lebih layak untuk ditiru oleh setiap muslim. Dalam suatu riwayat Imam Ali Karamallahu wajhah menjawab, “Dengan pakaian ini hati menjadi khusyu’ dan orang-orang yang beriman mengikutinya”.

Sejarah pemimpin teladan terus mengalir dalam jiwa-jiwa para pecinta keluhuran. Imam Hasan Al-Basri sebagaimana dikatakan oleh Abdul Wahid bin az-Ziyad bahwa beliau tidak pernah menyampaikan suatu perintah kepada orang lain sebelum beliau melaksanakannya, dan jika beliau melarang orang lain dari larangan Allah swt, maka beliau adalah orang yang paling jauh dari larangan itu.

Keteladanan adalah harga mati bagi para pemimpin, apapun bentuk kepemimpinannya, baik berkaitan dengan dimensi spiritual, intelektual, keluarga, masyarakat, politik, negara atau yang lainnya. Sebagaimana pemimpin harus menjadi teladan dalam merespon setiap kebaikan, maka ia pun harus menjadi teladan dalam menghindari setiap keburukan dan kemaksiatan.

Dari sinilah, kita akan melihat bagaimana para sahabat saling memacu dan memotivasi satu dengan yang lainnya untuk berlomba-lomba dalam meningkatkan prestasi ibadah dan menjadi teladan bagi saudaranya. Dalam satu riwayat dikatakan bahwa Ibnu Abbas ketika melihat Ubaidillah sedang berpuasa Arafah beliau berkata, “Sesungguhnya kamu adalah pemimpin yang layak menjadi panutan”. Adalah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu melarang Abdurrahman bin Auf memakai khuff (sejenis sepatu dari kulit) sewaktu menunaikan ibadah haji karena Umar takut orang lain menirunya. Beliau berkata, Aku bertekad atas kamu kecuali jika kamu melepaskannya. Aku takut orang lain melihatmu lalu menirumu.

Obsesi keteladanan itu terus didengungkan oleh Umar bin Khattab radiyallahu ‘anhu. Pengingkaran beliau atas apa yang dilakukan sahabat Thalhah radhiallahu ‘anhu ketika memakai pakaian yang dicelupkan ke dalam pewarna saat waktu umrah.

Hal ini merupakan bukti kepedulian beliau terhadap urgensi keteladanan bagi tokoh masyarakat, karena masyarakat selalu melihat pemimpin dan tokoh yang ada di sekelilingnya. Maka beliau pun berkata kepada sahabat ini, “Sesungguhnya kamu wahai ar-Rahth adalah pemimpin yang menjadi panutan manusia”.

Kerinduan Umat terhadap Pemimpin Teladan
Hal yang paling ditunggu oleh umat dalam penantian panjangnya dalam masalah kepemimpinan adalah lahirnya pemimpin yang menjadi uswah (teladan) dalam kehidupan mereka. Pemimpin yang tidak hanya cerdas secara intelektual, yang dengannya ia pandai beretorika dihadapan para rakyatnya, beradu konsep dengan rivalnya namun deretan konsep itu hanya hadir dalam lesan-lesan mereka yang tidak pernah diaktualisasikan lewat kehidupan keseharian. Umat sudah terlalu jenuh dengan sederetan pemimpin dan juga calon pemimpin yang hanya pintar mengumbar janji. Namun yang ditunggu oleh umat ini adalah pemimpin teladan yaitu pemimpin mampu menyandingkan antara kata dan perbuatan seperti yang telah dicontohkan oleh Rasullullah saw, para sahabatnya dan para pemimpin pengikut setia beliau.

Harapan itu Masih Ada
Allah swt berfirman: “ Hai orang-orang yang beriman, Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui”. (al-Maidah (5): 54)

Ayat di atas merupakan isyarat tentang jaminan Allah swt akan lahirnya generasi yang lebih baik di masa yang akan datang. Inilah yang harus disikapi secara optimis bahwa pemimpin-pemimpin masa depan yang memiliki keteladanan itu masih ada.

Dan ciri pemimpin itu adalah memiliki integritas agama dan social. Allah swt berfirman: Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).

Latest posts by admin (see all)

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Close
Dukung Kami !!!
Klik tombol dibawah ini, Terima Kasih