Published On: Tue, Oct 1st, 2013

Mari Berqurban

mari berqurbanLewat peristiwa besar yang melatari Idul Adha, Allah hendak memberikan pelajaran bagi umat manusia bahwa kemuliaan itu hanya bisa diraih melalui pengorbanan. Nabi Ibrahim AS, merupakan ikon kemuliaan dalam sejarah kemanusiaan. Allah memuliakannya sebagai Bapak para Nabi, sebagai Khalilullah, kekasih Allah. Namanya diabadikan dalam Al Qur’an. Umat Islam diajarkan Rasulullah SAW untuk menyebut namanya dalam shalawat, bersanding dengan penutup para Nabi yang merupakan salah satu keturunannya, Muhammad SAW.

Al Qur’an menyebutkan kisah Ibrahim AS, dan kisah-kisah manusia sukses lainnya di sisi Allah, bukan sekedar untuk wisata kesejarahan, melainkan sebagai teladan bagi mereka yang menginginkan kemuliaan dan kesuksesan abadi, di dunia 3 dan akhirat.

Beberapa persoalan berikut bisa menjadi renungan yang akan menghadirkan semangat berkurban sebagai salah satu karakter kita dalam kehidupan ini.

Mengokohkan Tauhid
Pengorbanan puncak dari seorang manusia adalah berserah diri secara total kepada Allah SWT. Seperti Nabi Ibrahim AS, ketika diperintahkan menempatkan keluarganya di padang tandus, ketika diperintahkan menyembelih puteranya, maka jawabannya adalah sami’na wa atha‘na, kami dengar dan kami taat.

Pengorbanan sangat erat kaitannya dengan ketauhidan. Semakin kuat tauhid seseorang, semakin kuat untuk berkorban. Hal inilah yang melatari sikap para Nabi dan salafus shalih dalam pengorbanan mereka, berkorban di jalan Allah, dengan semua yang dimiliki, harta maupun jiwa.

Berbeda dengan mereka yang mempunyai masalah dalam ketauhidan, seperti orang munafik, Allah memberikan informasi seputar sifat mereka, malas beribadah, selalu bimbang dan ragu, tidak yakin terhadap janji Allah. Maka hasil yang mereka dapat adalah kerugian di dunia dan akhirat.

Mengokohkan tauhid merupakan langkah pertama untuk meraih sukses, menatap masa depan yang cerah.

Merindukan Surga
Untuk meraih sesuatu yang lebih besar dan abadi, pengorbanan apapun menjadi ringan untuk dilakukan. Allah SWT menyuruh kita untuk berlomba meraih surga, tempat kenikmatan abadi. Di dalamnya ada kenikmatan yang belum pernah dipandang mata, belum pernah didengar telinga dan tidak terbersit dalam hati manusia di dunia saat ini. Ke sana seharusnya bermuara tujuan kita. Karena surga adalah kampung halaman kita. Bukankan Adam AS, berasal dari sana? Kemudian untuk sementara waktu ditempatkan di bumi ini untuk memakmurkannya, setelah itu akan kembali kesana?

Sementara neraka adalah kampung halaman iblis dan balatentaranya, jangan sampai kita salah alamat. Sebab, setiap waktu iblis dan pasukannya selalu mencari kelengahan supaya kita tidak mendapatkan pahala sebagai tiket ke surga.

Orang yang merindukan surga dengan segala kenikmatannya akan terus istiqomah beramal dengan amalan yang dapat mendekatkan kepadanya. Mengorbankan waktu, harta dan bahkan jiwa untuk meraihnya. Firman Allah SWT, “Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh dengan kenikmatan.Mereka duduk di atas dipandipan melepas pandangan. Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup yang penuh kenikmatan. Mereka diberi minum dari khamar murni (tidak memabukkan) yang tempatnya masih dilak (disegel). Laknya dari kesturi. Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS: At-Tatfif (83): 22-26)

Cara meraih surga juga dijelaskan oleh Allah SWT, yaitu menjadi orang yang bertakwa dengan segala pemaknaan yang dikandungnya. “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. (QS: Ali Imran (3): 133)

Melatih Berinfak Secara Kontinyu
Pengorbanan besar harus diawali dengan latihan yang kontinyu. Untuk itulah Allah SWT menjelaskan salah satu karakter orang yang bertakwa sebagai orang yang berinfak dikala lapang maupun sempit. Menjadi dermawan di kala lapang merupakan hal yang biasa, tetapi di kala sempit tetap sebagai orang dermawan, merupakan hal yang luar biasa. Lihatlah bagaimana Allah menggambarkan sifat orang-orang Anshar, bahwa mereka lebih mengutamakan saudara mereka dari kalangan Muhajirin, meski mereka juga sangat membutuhkan. Jadi, pengorbanan itu membutuhkan latihan.

Setiap kita pasti mampu berlatih, dengan infak harian, pekanan, bulanan atau bahkan mungkin tahunan. Skalanya tentu berbeda satu sama lain sesuai dengan kadar ketakwaan dan kemampuan. Berinfak dengan harta termasuk salah satu dari dua hal yang disebut Allah sebagai tiket ke surga. “Sesungguhnya Allah membeli dari orangorang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.” (QS. At Taubah (9): 111)

Disamping melatih jiwa supaya tidak kikir, berinfak merupakan ibadah berdimensi sosial, membantu sesama, tolong menolong dalam kebaikan. Di dalam harta kita ada hak orang lain yang harus ditunaikan. Supaya dapat bersama mengabdi kepada Allah dan menyelamatkan manusia dari kefakiran yang mungkin menggelincirkan kepada kekufuran.

Tuntutan berinfak secara tidak langsung menyeru manusia muslim untuk bersemangat dalam mencari karunia Allah, rizki yang halal. Allah menyuruh setiap muslim untuk bertebaran di muka bumi, seperti diperintahkan Allah dalam firmanNya, “Apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyakbanyaknya agar kamu beruntung.” (QS: Al-Jumu’ah (62): 10)

Berlatih Mengorbankan Waktu
Mengorbankan waktu untuk Allah termasuk keutamaan dalam meraih kemuliaan. Di samping menunaikan kewajiban di waktu-waktu yang telah ditetapkan, pribadi muslim tidak hanya sebatas itu, tetapi mengorbankan waktu istirahatnya untuk Allah, untuk meraih kemuliaan abadi di sisiNya. Lihatlah betapa indah gambaran penghuni surga, ketika mereka di dunia mampu mengorbankan sebagian waktunya untuk Allah. “Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam. Dan pada akhir malam mereka mohon ampunan kepada Allah.” (QS: Az Zariyat (51): 17-18)

Waktu yang dimiliki manusia muslim demikian berharga, ia tidak memboroskannya untuk sesuatu yang tidak berguna. Rasulullah SAW, memberikan wejangan kepada pengikutnya bahwa “Termasuk kebaikan seorang muslim adalah meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi)

Mengorbankan waktu untuk berdakwah kepada Allah, mengajak manusia meniti jalan yang diajarakan Rasulullah SAW. Siang dan malam rela dikorbankan untuk meraih keridhaan Allah. Bersiaga mengikat diri hanya untuk Allah, ketika ada panggilan jihad, selalu siap menjawabnya. Seperti kisah Handzalah, seorang sahabat Nabi yang syahid dengan dimandikan para malaikat. Ia rela mengorbankan kesenangan duniawinya, berada bersama isteri tercinta di malam pengantin, dan panggilan jihad menyeru sebelum sempat mandi wajib. Kemudian gugur sebagai syuhada. Maka malaikat pun memandikannya. Sungguh, sebuah episode pengorbanan agung untuk meraih surga.

Anda Seorang Dermawan
Ketika jiwa telah terpatri dengan citacita luhur, maka semua hal yang mengarah kepadanya pasti dilalui dengan penuh kecintaan. Seperti seseorang yang diberikan kabar gembira meraih kecintaan Allah lewat informasi Malaikat, ketika dalam perjalanan hendak bersilaturahim kepada saudaranya, tanpa ada pamrih apapun selain kecintaan karena Allah, maka Allah pun mencintainya. Seperti para sahabat Anshar yang rela mendahulukan kepentingan Muhajirin dibandingkan kepentingan diri mereka, maka Allah meridhai mereka. Seperti seorang sahabat yang selalu menutup bacaan shalatnya dengan surah Al Ikhlas karena cinta kepada Allah, maka Allah pun mencintainya.

Yakinlah bahwa Anda termasuk salah satu dari mereka yang menginginkan kemuliaan abadi di sisi Allah. Tujuan hidup Anda adalah mengabdi kepada Allah, melaksanakan semua yang diperintahkan dan menjauhi laranganNya. Untuk itu pastikan bahwa Anda adalah seorang dermawan, yang mampu mengorbankan waktu, harta dan jiwa di jalan Allah SWT.

Jauhi Rayuan Setan
Dalam perjalanan meniti keridhaan Allah sebagai orang yang selalu semangat berkurban, hendaknya tetap waspada terhadap musuh abadi, syetan dan semua tipu dayanya. Setiap saat selalu mencari kelengahan kita agar bisa diajak menjadi kawannya. Semua upaya diperjuangkan setan untuk menggelincirkan kita dari jalan Allah. Bisikannya selalu mengikuti setiap langkah kita. Untuk itu kita perlu mengambil pelajaran berharga dari Allah, bahwa setan tidak bisa merayu mereka yang hidupnya ikhlas hanya untuk Allah. Hatinya bersih dari perbuatan syirik, maksiat dan dosa. Tidak menyisakan ruang untuk menjadi teman syetan dalam hatinya.

Mari Berkurban
Sebagai langkah taktis mengalahkan syetan adalah melakukan ibadah kurban yang diperintahkan Allah dan Rasulullah SAW, mengambil pelajaran agung dari Nabi Ibrahim AS, sebagai bukti kepatuhan dan ketundukan mutlak kepada Allah SWT. Berkurban merupakan bukti riil bagi ketundukan yang akan menghasilkan pengakuan dari Allah sebagai hambaNya yang taat dan patuh. Semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita untuk selalu berkurban. Amin.

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Close
Dukung Kami !!!
Klik tombol dibawah ini, Terima Kasih