Published On: Fri, Oct 4th, 2013

Memaknai Kembali Keyakinan Akan Kebenaran Islam

Memaknai Kembali Keyakinan Akan Kebenaran IslamMukadimah
Setiap muslim harus memahami dengan benar serta menghayati nilai-nilai yang terkandung dalam “Diinul Islam”. Dan selanjutnya ia harus mampu mengimplementasikan nilai-nilainya dalam seluruh ruang kehidupannya. Ia harus tunduk dan berserah diri kepada Allah SWT baik lahir maupun batin dengan melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Dengan demikian ia telah memasuki rumah Islam secara kaffah (sempurna), tidak ada sisi kehidupannya kecuali ia mewarnai dengan nilai-nilai luhur Islam. Oleh karenanya Allah berfirman;

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. 2:208)

Di saat seorang muslim mampu menerapkan syari’at Allah dalam seluruh dimensi kehidupannya; aqidah, ibadah, akhlak, politik, ekonomi, pendidikan, militer dan social budaya, maka ia telah menjadi salah satu dari “Khiru ummat”, ia termasuk dari golongan “Ummatan wasathan” (umat yang selalu menegakkan nilai kebenaran dan keadilan) dan niscaya ia menjadi salah satu dari “Almukminuuna haqqan” (manusia-manusia mukmin yang sebenarnya). Inilah identitas seorang muslim apabila telah mampu menyerap seluruh nilai-nilai Islam dalam ruang kehidupannya. Perhatikan beberapa ayat Allah di bawah ini;

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu…” (QS 2:143)

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…” (QS 3: 110)   

 “Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (ni’mat) yang mulia.” (QS 8:74)

Di sini, seorang muslim memiliki izzah (kemulyaan) dan kekuatan di hadapan manusia-manusia lain. Karena izzatul islam dan muslimin tidak mungkin dicapai kecuali dengan kembali kepada ajaran Islam itu sendiri, yaitu dengan mengaplikasikan nilai-nilainya dalam setiap dimensi kehidupan. Umar bin Khattab ra berkata: “Kami dahulu adalah kaum yang paling hina, lalu Allah menjadikan kami mulia dengan Islam. Maka manakala kita mencari kemulyaan dengan selainnya yang mana Allah menjadikan kita mulya dengannya, maka Allah tentu akan menjadikan kita hina.” (dikeluarkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak dan disepakati pula oleh Ad-Dzahabi dalam Talkhisnya)

Untuk menuju proses panjang kesempurnaan Islam, maka kita bisa memulai dengan meyakini kembali beberapa aspek yang erat kaitannya dengan kebenaran Islam. Dan dengan keyakinan ini, diharapkan mampu melahirkan kesadaran penuh tentang agama agung ini, dan selanjutnya buah-buah amal islami bisa dirasakan dan dinikmati oleh semua manusia di bumi kita ini.

Beberapa Aspek Keyakinan Seorang Muslim Terhadap Islam
Seorang muslim harus meyakini kembali beberapa aspek yang sangat erat hubungannya dengan Islam untuk melakukan perbaikan keimanan dan kepribadiannya. Aspek-aspek keyakinan ini adalah sebagai berikut;

Pertama, Islam adalah wahyu Allah
Islam adalah agama yang tidak hanya diwahyukan kepada Muhammad saw saja, akan tetapi agama ini merupakan risalat para Nabi sebelumnya yaitu, risalat tauhid (QS 21:25). Tidak seorangpun dari rasul-rasul yang ada kecuali ia menyeru kepada ummatnya untuk berpegang teguh pada kalimat tauhid (pengesaan Allah semata).

Oleh karenanya, seorang muslim harus memahami kembali tentang agama ini dan sekaligus meyakini ulang bahwasanya nilai-nilai Islam hanya bersumber kepada wahyu ilahi. Dan dengan keyakinan ini, ummat harus mengembalikan seluruh aspek kehidupannya kepada aturan-aturan ilahiah yang baku. Baik yang dikemas melalui ayat-ayat muhkamat maupun ayat-ayat mutasyabihat yang wajib diimani secara mutlak. Tidak ada yang boleh mengembalikan kepada logika akal yang secara emplisit mengandung kepentingan-kepentingan pribadi. Pada akhirnya ia meragukan kebenaran wahyu ilahi. Bahkan bisa jadi ia akan mengingkari aturan-aturan ilahiah yang dianggap tidak sesuai dengan logika akalnya. Seringkali kita dengar  pernyataan aneh dari seorang muslim yang telah terjangkit penyakit “syubhat” dan sekaligus penyakit “syahwat”, secara liar ia mengatakan: “Bahwasanya ayat-ayat waris perlu ditinjau ulang, kerana tidak sesuai dengan zaman, hukum qishah dan rajam adalah hukum barbarisme yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan. Dan seterusnya…..”. 

Maka apabila seorang muslim tidak kembali kepda wahyu yang telah digariskan oleh Allah dan memahaminya sesuai dengan qaidah-qaidah pemahaman Salaf Shaleh, niscaya ia akan kembali kepada aturan-aturan lain yang tidak dijamin akan kebenarannya. Ia akan mengusung paham sekuler dan bahkan mengingkari hukum-hukum Allah. Perhatikan Firman Allah di bawah ini;

“Dia  telah  mensyari’atkan  bagi  kamu  tentang  agama  apa  yang  telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan  kepada Ibrahim,  Musa  dan  Isa  yaitu: Tegakkanlah  agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat  berat  bagi  orang-orang  musyrik  agama  yang  kamu  seru  mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).” (QS 42:13)

Kedua, Islam adalah diinul haq
Karena Islam merupakan agama wahyu, maka ia memiliki kebenaran mutlak. Kebenaran hanya datang dari Allah semata, Robb semesta alam, Dzat yang Maha Tahu dan Mendengar segala apa yang ada di langit dan bumi. Tidak ada kebenaran mutlak yang disandarkan pada hasil perenungan dan akal budi manusia. Karena manusia memiliki sifat-sifat kekurangan, ia jahula (bodoh), ia dlo’ifa (lemah) dan ia halu’a (keluh kesah).

Untuk itu, kita harus meyakini kebenaran Islam dengan mengimplementasikan nilai-nilai dalam ruang kepribadian kehidupan kita. Keyakinan tentang kebenaran Islam akan melahirkan percaya diri dalam jiwa seorang muslim untuk selalu kompetitif dalam panggung kehidupan dan akan melahirkan rasa optimisme untuk meraih kemenangan di masa yang akan datang.

“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (QS 2:147)

“Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci.” (QS 61:9)

Ketiga, Islam adalah diin yang lurus
Islam adalah “shiraat mustaqiim”; jalan yang lurus tanpa ada bengkok sama sekali, jalan yang penuh rambu-rambu  kebaikan dan petunjuk. Jalan yang di dalamnya bertaburan ayat-ayat rabbaniah dan jalan kebenaran yang hakiki. Maka hanya dengan meniti jalan ini, manusia bisa sampai tujuan akhir yang dicita-citakan, manusia akan berada pada maqom takmil (maqom kesempurnaan) dan hanya dengan menempuh jalan ini manusia mampu menjadi model-model ideal dan mempesona di hadapan Robb dan masyarakatnya. Inilah jalan lurus yang apabila manusia terlena dan mengikuti jalan-jalan lain, maka ia pasti terjerumus dalam kenistaan dan kehinaan dunia akhirat. Dan jalan ini juga khusus diwasiatkan kepada hamba-hamba yang bertakwa. Perhatikan ayat berikut ini;

“dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS 6:153)

“Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya.  Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu.  Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia.  Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS 12:40)

Keempat, diin yang suci nan bersih
Islam adalah agama yang jauh dari segala kekurangan dan kesalahan. Karena agama ini senantiasa terjaga dari penyimpangan-penyimpangan manusia. Islam sangat jauh dan bersih dari debu-debu kesyirikan, kekurangan, kesalahan, campur aduk tangan manusia dan hawa nafsu.

Islam menyatukan lisan, langkah, gerak dan tindakan seorang muslim dalam satu titik tujuan yaitu Allah semata. Siapapun kita dan apappun jabatan kita, di saat memerankan peran-peran yang telah digariskan sebagai wasaa-il hayat (sarana-sarana kehidupan) harus mengarah kepada ridlo Allah. Inilah inti dari tauhid uluhiah yang harus diperankan setiap muslim. 

Dan Islam merupakan agama yang mana aturan-aturan dan nilai-nilai yang terkandung dalam ajarannya senantiasa layak dan sesuai dengan perkembangan zaman. Karena selain memiliki sifat tsabit (tetap) dalam bidang aqidah dan hukum-hukum muhkamat, di sisi lain ajaran Islam juga memiliki sifat murunah (fleksibel). Apalagi yang berurusan dengan dunia kita, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: “…kamu lebih tahu dalam urusan duniamu (pertanian, perkebunan dll..)”

Oleh karenanya, ajaran-ajaran ini tidak pernah mengenal sifat salah dan sifat kurang. Karena sumbernya dari Allah, Yang Maha Benar, Maha Tahu dan Maha Bijaksana. Tanpa ada campur tangan manusia dan malaikatNya dalam menentukan hukum. Maka masih ragukah kita tentang kebenaran Islam? Masihkah kita mempersoalkan Islam, sementara kita belum pernah mengaplikasikan niali-nilai secara utuh dalam dimensi kehidupan kita? Ataukah kita ingin mengikuti hawa nafsu musuh-musuh Allah, musuh Islam dan bahkan musuh kita sendiri, untuk menyoal dan menanggalkan hukum-hukum yang telah tsabit (tetap) seperti qishas, jihad, waris dll?

Bersih dari syirik
“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (QS 39:3)

Bersih dari kesalahan dan kekurangan
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS 4:82)

 Bersih dari campur tangan manusia dan hawa nafsu
“dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quraan) menurut kemauan hawa nafsunya.  Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS 53: 3-4)

Kelima, Islam adalah satu-satunya diin Allah dan Allah tidak akan menerima diin selain Islam
Keyakinan seorang muslim tentang wahyu, kebenaran dan  kesucian Islam akan mengrucut kepada sebuah keyakinan bahwasanya Islam adalah satu-satunya agama yang diridloi Allah. Ia tidak akan goyah dengan pernyataan-pernyataan orang lain bahwasanya agama itu sama, semuanya dari Tuhan. Ia akan menjadi batu karang di tengah gelombang bujuk rayu para misionaris dan zending yang selalu menghadang dan menggoda keimanannya.

Untuk memantapkan kembali keyakinan kita, marilah kita merenungkan kembali ayat-ayat Allah berikut ini; “Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab  kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” (QS 3:19)

“Barangsiapa  mencari  agama  selain agama Islam, maka sekali-kali tidak-lah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS 3:85)

Dengan meyakini beberapa aspek di atas, diharapkan kita bisa melakukan perbaikan-perbaikan kembali untuk menjadi muslim ideal nan mempesona di hadapan Rabb kita dan manusia lain.

Wallahu A’lam Bish-shawwab.

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Close
Dukung Kami !!!
Klik tombol dibawah ini, Terima Kasih