Published On: Wed, Nov 15th, 2017

Menyelami Bahtera Nikmat Allah Azza wa Jalla

Menyelami Bahtera Nikmat Allah Azza wa JallaKita sering mendapati di antara manusia saling berterima kasih bahkan saling memuji satu dengan yang lainnya, lantaran bantuan atau pertolongan yang diterima dari sesama mereka, meskipun bantuan dan pertolongan itu tidak seberapa nilainya. Tetapi sangat disayangkan sangat sedikit manusia memuji dan berterima kasih kepada Allah Ta’ala yang telah melimpahkan nikmat yang tak terhingga nilainya.  Kalau ada pujian, itupun hanya basa-basi, dan ironisnya banyak dari nikmat-nikmat itu digunakan untuk hal-hal yang tidak diridhoi Allah Ta’ala. Sungguh ini merupakan sebuah kelalaian, keingkaran dan kekufuran. Kita berlindung kepada Allah dari yang demikian.

Karena itu, Al-Qur’anul karim mengajari dan mewanti-wanti kita untuk senantiasa memperhatikan dan memikirkan nikmat-nikmat Allah yang telah kita terima agar muncul kesadaran untuk memuji Sang Pemberi dengan sebenar-benarnya pujian dan senantiasa bersyukur kepada-Nya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang  yang berakal.” (QS. Ali Imron: 190). “…Dan diberiNya kamu rezki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur” (QS. Al-Anfal: 26).  

Alangkah mulianya kalau kita berhenti sejenak, meluangkan waktu untuk merenungkan dan memikirkan nikmat-nikmat Allah guna mengevaluasi sudah sejauh mana respon positif kita terhadap nikmat-nikmat tersebut sebagai bukti aktualisasi atau implementasi syukur kita yang hakiki kepada Zat yang Maha Memberi.

Nikmat-nikmat Yang Agung Itu 
Pada dasarnya semua nikmat Allah yang dianugerahkan kepada hamba-hambanya-Nya, sekecil apapun nikmat itu, memiliki nilai yang tak terhingga dalam kehidupan mereka. Sebagai contoh kemampuan untuk mengedipkan mata yang dengan nikmat tersebut mata kita menjadi dinamis dan harmonis dalam menjalankan fungsinya. Sekilas nikmat tersebut kelihatan kecil dan remeh, tetapi fungsi dan manfaatnya sungguh sangat besar. Oleh karenanya pantang bagi hamba Allah yang beriman untuk meremehkan atau tidak memperhatikan sekecil apapun nikmat yang Allah berikan, terlebih lagi atas nikmat-nikmat yang besar. Sebagaimana firman Allah dalam surat Adz-zariyat ayat 21 “Dan juga pada dirimu sendiri, Apakah kamu tidak memperhatikan?”

Iman Dan Islam
Melalui nash-nash Al-Qur’an maupun hadits jelas sekali bahwa Iman dan Islam adalah nikmat yang paling agung diantara sekian banyak nikmat Allah Ta’ala. Allah menegaskan hal tersebut dalam firman-Nya “Sesungguhnya Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh mereka itu adalah sebaik-baiknya makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal didalamnya selama-lamanya. Allah ridho terhadap mereka dan merekapun ridho kepada-Nya. Yang demikian itu adalah balasan bagi orang yang takut kepada Tuhan-Nya (QS. al:Bayyinah: 7-8).

Dan firman Allah yang menjelaskan tentang agungnya nikmat Islam diantaranya: “Sesungguhnya agama yang diridhoi disisi Allah hanyalah agama islam” (Q.S. Ali Imron: 19). Dan dalam ayat lain “Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima agama itu daripadanya dan  dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi “ (QS. Ali Imron: 85)

Dengan Iman dan Islamlah kebahagian, ketenangan, keberuntungan baik di dunia maupun di akhirat akan didapat. Sebaliknya tanpa Iman dan Islam kesengsaraan dan kerugianlah yang akan menjadi muara kehidupan ini. Akan tetapi sebagian besar dari mereka yang mengaku sebagai mukmin dan muslim masih kurang bisa menghargai dan mensyukuri nikmat yang sangat agung ini, bahkan banyak diantara mereka yang menelantarkan Iman dan Islam. Na’udzubillahi min dzalik.

Faktor utama dari hal tersebut adalah minimnya pengetahuan (jahil) mereka tentang Iman dan Islam, sebagai konsekwensinya mereka menjalani agama ini secara asal-asalan, ikut-ikutan dan parsial.

Oleh karena itu, agar nikmat iman dan islam bisa kita rasakan secara optimal dan maksimal, maka kita harus menjadi mukmin dan muslim yang seutuhnya (kaaffah). Hal ini didasari oleh firman Allah, “ Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu kedalam Islam secara keseluruhannya dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al baqarah: 208) Dan Firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imron: 102)

Ukhuwah Islamiah
Sekarang marilah kita merenungkan anugerah Allah Azza wa Jalla yang berupa ukhuwah Islamiah (persaudaraan Islam), dimana ia adalah termasuk deretan nikmat-nikmat Allah yang sangat agung nilainya, sebagai salah satu pilar eksisnya umat Islam dimuka bumi ini. Ia adalah sumber kekuatan dan kemuliaan umat ini sekaligus sebagai indikator kokoh dan stabilnya keimanan seseorang. Allah berfirman, “ Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat” (Q.S Al Hujurat: 10)  

Rasulullah SAW bersabda, “ Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai dan berkasih sayang adalah ibarat satu tubuh, apabila satu organnya merasa sakit maka seluruh  tubuh akan sulit tidur dan merasakan demam.” (HR. Muslim).

Alangkah indahnya hidup di bawah naungan ukhuwah Islamiah dan cinta karena Allah yang dengannya orang yang beriman dapat merasakan manisnya keimanan dan lezatnya ta’liful qulub (kasih sayang). Hal ini tidak dirasakan kecuali oleh mereka yang mendapatkan anugerah dan rahmat dari Allah Ta’ala. Ia tidak mungkin bisa dibeli atau diganti sekalipun dengan dunia seisinya.” Dan Allahlah yang mempersatukan hati mereka orang-orang yang beriman walaupun kamu membelanjakan semua kekayaan yang berada dimuka bumi niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Anfal: 63)

Buah dari ukhuwah Islamiah tersebut adalah lahirnya sikap saling mencintai, saling menolong, saling menanggung, saling menasehati yang dengan itu akan melahirkan persatuan, dan dengan persatuan itulah umat islam akan memiliki kekuatan, izzah (kemuliaan) sekaligus kejayaan dan kemenangan di atas umat-umat yang lain.

Sungguh sebuah kondisi paradoks, dimana kelemahan dan keterpurukan mendera umat ini disaat mereka dalam posisi mayoritas. Itulah dampak dari sikap meremehkan dan menelantarkan nikmat ukhuwah yang telah Allah anugerahkan kepada mereka. Tidakkah kita sadar?

Nikmat Penciptaan
Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya.” (QS At Tiin :4).

Syaikh Sayid Quthub dalam tafsir Dzilalnya mengomentari ayat ini, “Bahwa tampak jelas bagaimana perhatian Allah dalam menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, memang Allah menciptakan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya tetapi dikhususkannya penyebutan manusia di sini dan di tempat-tempat lain dalam al-Qur’an dengan susunan yang sebaik-baiknya, bentuk yang sebaik-baiknya dan keseimbangan yang sebaik-baiknya. Hal ini menunjukan perhatian yang lebih dari Allah Swt kepada makhluk-Nya yang bernama manusia”

Tentu masih segar dalam ingatan kita sebuah tragedi yang menimpa seorang wanita (Siti Nur Jazila) di Surabaya beberapa waktu lalu, yang mengakibatkan hancur dan rusaknya wajah wanita tersebut, sehingga upaya medis untuk menolong wanita ini melalui oprasi face off melibatkan puluhan dokter ahli dan menelan biaya ratusan juta rupiah. Ini menunjukkan bahwa betapa agung dan mahalnya nikmat Allah dari sisi keindahan penciptaan. Tidakkah kita mengambil pelajaran dari kejadian ini?

Penglihatan Dan Pendengaran
Pernahkah kita membayangkan apa yang terjadi ketika penglihatan dan pendengaran kita diangkat oleh Allah Ta’ala, perubahan-perubahan mendasar pasti akan terjadi pada diri kita, baik secara fisik maupun psikis. Kita akan merasakan kehidupan yang sempit, terisolasi dan ruang gerak yang sarat belenggu. Dari sini kita menyadari betapa besar dan berharganya nikmat penglihatan dan pendengaran dalam hidup ini, karena dengan keduanya kita akan merasakan harmonisnya komunikasi dan interaksi di antara sesama kita. Dan yang lebih penting lagi, melalui penglihatan dan pendengaran kita dapat menikmati dan menangkap pesan-pesan Allah baik dalam ayat-ayat Quraniyah maupun kauniyah-Nya, yang dampak positifnya adalah ketenangan dan kebahagiaan jiwa.

Ketika kita dihadapkan pada dua pilihan antara nikmat pendengaran dan penglihatan dengan harta dunia sebanyak apapun, maka dapat dipastikan kita akan memilih nikmat pendengaran dan penglihatan. Lalu kenapa kedua nikmat yang agung itu banyak kita gunakan untuk kemaksiatan dan dosa? “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman: 13). 

 Nikmat Akal
Keagungan dan kekuasaan Allah tampak sangat jelas pada penciptaan akal yang dianugerahkan kepada manusia, karena dengan akal mereka mampu menyerap berbagai informasi dan ilmu pengetahuan agar mampu membangun peradaban di muka bumi ini. Prestasi inilah yang menjadikan manusia memiliki nilai lebih dibanding makhluk-makhluk yang lain. Maka bagi mereka yang beriman, akal akan menjadi sarana yang akan menghantarkan mereka kepada makrifatullah (mengenal Allah), merenungkan dan memikirkan nikmat-nikmat dan ciptaan-Nya. Tetapi bagi mereka yang kufur, akal hanya akan menjadi sarana untuk memuaskan nafsu hewani yang pada akhirnya membuat mereka lalai dan berpaling dari tanda-tanda kekuasaan Tuhan mereka. “Dan banyak sekali tanda-tanda kekuasaan Allah di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling daripadanya” (QS. Yusuf: 105)    

Syaikh Musthafa Masyhur dalam buku Fiqih Dakwahnya memberikan nasehat kepada kita, “Mari kita menyadari nilai nikmat akal ini dan menggunakannya untuk mengenal Allah serta mengenal segala hal yang bermanfaat untuk diri dan agama kita. Jangan sampai menggunakannya untuk hal-hal yang membuat Allah murka” 

Sudahkah Kita Bersyukur?
Beberapa nikmat yang disebutkan di atas hanyalah sebagaian kecil dari nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada kita. Sengaja kita menyebutkannya karena nikmat-nikmat tersebut sangat dekat dengan kita bahkan berada dalam diri kita. Sehingga memudahkan kita untuk merenungi dan menyelaminya. Sebagaimana firman Allah dalam surat Adz-zariat ayat 21 yang telah disebutkan di atas. Sungguh suatu hal yang mustahil bagi kita, untuk dapat menghitung dan memaparkan semua nikmat Allah yang maha luas itu. Karena Allah telah berfirman, “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menghitungnya” (QS. Ibrahim: 34)

Pembahasan di atas menyisakan satu pertanyaanpenting dan mendasar bagi kita semua, “Sudahkah kita bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat tersebut? Atau justru sebaliknya?” Hanya ada dua pilihan bagi kita; syukur atau kufur. Dengan bersyukur yang sebenar-benarnya mencakup syukur hati, lisan maupun perbuatan, Allah akan melipatgandakan nikmat-nikmat yang ada pada diri kita dan menjauhkan kita dari marabahaya dan azab-Nya. Sebaliknya kufur nikmat hanya akan mendatangkan murka dan siksa Allah baik di dunia maupun di akhirat. Na’udzubillahi min dzalik. Allah berfirman “Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui” (QS. An-Nisa’: 147). ”Dan ingatlah juga, tatkala Tuhanmu memaklumkan : Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim: 7).

Sesungguhnya kemampuan untuk bersyukur itu adalah anugerah tersendiri dari Allah Ta’ala, bahkan ia lebih utama dari nikmat yang disyukuri itu sendiri. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW “Tidaklah Allah memberi nikmat kepada seorang hamba, lalu ia mengucapkan Alhamdulillah, kecuali apa yang diberikan{rasa syukur itu) lebih baik dari  apa yang ia terima (nikmat). (HR Ibnu Majah). Ini disebabkan karena nikmat syukur (Alhamdulillah) adalah nikmat keimanan (rohani), sementara nikmat dunia yang tidak dibarengi rasa syukur adalah bencana.

 Sebesar apapun syukur yang kita persembahkan kepada Allah tak akan sanggup menandingi besarnya nikmat-nikmat Allah. Ada baiknya kita renungi sebuah bait nasyid  The Dzikr Malaysia, “Harga  selautan syukurku hanyalah setitik nikmat-Mu di bumi”. “Ya Allah bantulah kami untuk senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu dan beribadah kepada-Mu dengan baik”. Aamiin. Wallahu A’lam bisshowab.

Latest posts by admin (see all)

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Close
Dukung Kami !!!
Klik tombol dibawah ini, Terima Kasih