Published On: Tue, Apr 2nd, 2013

Menyikapi Perbedaan

Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah saw pernah berpesan kepada sekelompok pasukan: “Jangan shalat Ashar seorang di antaramu, kecuali di perkampungan Bani Quraizhah.” Perjalanan demikian panjang, dan waktu Ashar telah hampir berlalu. Maka sebagian anggota kelompok melaksanakan shalat Ashar sebelum tiba di tempat yang dituju, sedangkan yang lain berpegang pada bunyi teks dan bersikeras melaksanakannya di tempat yang dituju meskipun waktunya telah berlalu.

Ketika perbedaan ini dilaporkan kepada Rasulullah, beliau tidak menyalahkan siapa pun. Keduanya dibenarkan walaupun berbeda.

Tulisan ini mengajak kita semua untuk melihat salah satu fenomena dalam kehidupan keseharian kita, dimana kita melihat berbaga perbedaan di kalangan kaum muslimin sebagaimana beragamnya pemikiran, mazhab dan kelompok.

Ada dua kelompok ekstrim di tengah masyarakat kita yang mensikapi fenomena seperti ini:

Pertama, kelompok yang membenarkan semuanya. Mereka berpendapat bahwa Islam bagaikan pelangi. Kita tidak bisa memvonis setiap kelompok yang ada bahwa mereka itu salah karena kita sendiri tidak memiliki wewenang untuk itu? Menurut kelompok ini, kebenaran itu sangat tergantung sudut pandang masing-masing. Kebenaran itu bisa relatif, karena sangat dipengaruhi oleh cara pandang yang berbeda terhadap masalah tersebut.

Kedua, adalah kelompok yang memvonis salah semua kelompok diluar kelompoknya sesat, dan karena itu mereka masuk neraka. Yang benar adalah kelompoknya sendiri. Kelompok yang kedua ini lalu memperkuat pandangannya dengan beberapa ayat dan hadits yang nampak bersesuaian dengan pandangannya. Manakah dari keduanya yang akan kita ambil? ataukah selama ini kita adalah bagian dari salah satunya? Semoga Allah senantiasa memberikan taufiq dan hidayah-NYA kepada kita semua..amien…

Mereka pun berbeda pendapat …
Ada sementara opini yang berkembang atau terlanjur difahami salah oleh sebagian masyarakat muslim, “Bahwa seolah-olah kalau pendapat ulama salaf maka itu hanya satu. Atau kalau kembali kepada manhaj As-salafus shalih maka tidak boleh ada perbedaan pendapat. Padahal kalau kita melihat kembali pemahaman salafus shalih, maka kita akan menemukan banyaknya perbedaan pendapat di kalangan mereka.

Di antaranya adalah apa yang diriwayatkan tentang terjadinya ikhtilaf antara Imam Syafi‘I dan Yusuf Ash-Shadafi’. Sampai saat keduanya akan berpisah tak ada kata sepakat di antara mereka. Lalu Imam Syafi‘I mendatanginya seraya berkata: “ Wahai Abu Musa, meski kita berbeda pendapat dalam satu masalah namun kita tetap bersaudara.” (Siyar A‘laam Nubala’, X /i6) demikianlah mereka bersilang pendapat namun tetap menjaga nilai persaudaraan. Sampai- sampai Imam Adz-Dzahabi memberikan komentar: “Hal ini, menunjukkan keulama’an dan kematangan Syafi‘i”.

Bahkan kita juga mendapati perbedangan pandangan dikalangan para sahabat.

Dalam hal Apa kita boleh berbeda pendapat?
Dalam suatu atsar disebutkan, “Manusia masih dikatakan baik selama mereka berbedabeda, karena jika mereka sama-rata maka mereka akan hancur.”( Uyunul Akhbar, II/2) Hal ini karena perbedaan pendapat ini sudah merupakan watak manusia, sebagaimana hadits Nabi SAW: “Sesungguhnya Allah telah membagikan pada kalian perilaku kalian, sebagaimana Ia telah membagikan rizqi kalian.” (HR. Ahmad, I/387)

DR. Imaarah membatasi permasalahan keragaman pemikiran dan madzhab dalam islam pada dua titik tolak, yaitu pada masalahmasalah prinsip Islam (Ushul) dan masalahmasalah cabang (Furu).

Menurut beliau perbedaan pemahaman pada masalah–masalah dasar syariah adalah terlarang dan berbahaya. Hendaklah semua kelompok meyatukan pemahamannya pada kesepaatan kaum muslimin sejak dulu sampai sekarang, karena barangsiapa menyimpang darinya maka ia telah keluar dari The Basic Islamic Mindframe dan oleh karenanya tidak dapat ditoleransi. Hal ini seperti manyangkut masalah masalah aqidah, dasar-daar ibadah dan mu‘amalah.

Adapun perbedaan pendapat, pemikiran dan aliran pada aspek cabang-cabang syari‘ah maka hal tersebut dibolehkan dan ditolerir oleh islam, sepanjang masih didasarkan pada dalildalil yang kuat dan benar serta metode pengambilan hukum-hukumnya juga telah dilakukan dengan cara yang benar. Dan hal ini biasanya berkaitan dengan masalah wasilah (sarana) dan uslub (metode)

Jadi sebagaimana gambaran dua kelompok ekstrim yang dijelaskan diatas, maka kita tidak memilih dengan membenarkan semua perbedaan atau sebaliknya, menyalahkan orang lain yang berbeda dengan yang kita yakini kebenarannya. Karena memang ada hal-hal dimana kita boleh berbeda dan ada juga permasalahan tertentu yang tidak membuka ruang untuk berbeda’.

Bagaimana seharusnya bersikap?
Dalam mensikapi setiap perbedaan yang ada, tentu ada beberapa hal yang perlu dijadikan patokan agar perbedaan yang ada selama masih dalam koridor yang dibolehkan tidak mencoreng persaudaraan, merusak ukhuwah dan menceraikan persatuan umat. Beberapa hal yang perlu kita jadikan pegangan adalah sebagai berikut:

Fahami hakikat perbedaan
Dalam ayat ini, “DIA-lah yang menurunkan Al-Kitab (Al-Quran) kepadamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat (jelas), dan itulah pokok-pokok isi Al-Qur’an dan yang lainnya adalah (ayat-ayat) mutasyaabihaat (samar), adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan ALLAH, dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi RABB kami.” dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 7)

Pada ayat ini kita memahami bahwa ada beberapa ayat di dalam Al-Qur’an yang tidak semua maknanya jelas dan tegas (muhkamat), melainkan ada yang samar dan tidak jelas (mutasyabihat). Para ulama lalu menyatakan bahwa diantara hukum-hukum fiqh itu ada yang manshush-‘alayhi (ditegaskan secara eksplisit) ada pula yang maskut-‘anhu (hanya bersifat implisit saja); ada yang qath’iyyat (bersifat pasti) ada pula yang zhanniyyat (belum pasti); ada yang sharih (jelas) ada pula mu’awwal (memungkinkan berbeda tafsirnya). (Al-Qaradhawi, Ash-Shahwah Al-Islamiyyah bayna Al-Ikhtilaf Al-Masyru’ wa At-Tafarruq Al-Madzmum )

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rahimahullah- menyatakan bahwa perbedaan pendapat ada 2 macam, ada ikhtilaf at-tanawwu’ (komplementer) ada ikhtilaf at-tadhadh (kontradiktif). Ikhtilaf tanawwu’ adalah perbedaan tapi yang diambil dari sumber yang sama. Seperti perbedaan dalam qira’at, tata cara adzan, doa iftitah, dan perlu diketahui bahwa perbedaan pendapat dalam masalah seperti ini semuanya bisa saja benar. Sedang ikhtilaf at-tadhadh adalah dua hal yang bertentangan yang tidak dapat disatukan.

Bedakan masalah yang Qath‘I dan Zhanni, Ushuly dan faru‘iy
Langkah penting dalam mensikapi ikhtilaf adalah membedakan apakah masalah tersebut bersifat ushuliyyah atau furu’iyyah? Apakah muhkamat atau mutasyabihat? Apakah masalah diniyah atau dunyawiyah? Jika masalah yang diperselisihkan merupakan masalah ushuliyah seperti wajibnya rukun iman, atau masalah furu’iyah yang qath’iy (pasti) seperti wajibnya shalat, zakat, puasa, hajji, jihad, atau haramnya zina, liwath, mencuri, khamr, riba maka berbeda pendapat dalam hal yang sudah jelas dan qath’iy ini mutlak diharamkan. Maka sikap kita dalam masalah ini adalah harus jelas dan tegas (kecuali dalam hal-hal yang dikhawatirkan akan mengakibatkan bahaya yang lebih besar).

Adapun perbedaan pendapat dalam masalah yang zhanni (masih bersifat dugaan kuat, tidak pasti) maka sepanjang perbedaan tersebut tidak syadz (nyleneh) dan memiliki dalil yang kuat maka yang demikian dibenarkan.

Berkenaan dengan yang perbedaan furu’iyyah ini, Imam Asy-Syafi’i berkata: “Perbedaan pendapat ada dua macam: Ada yang diharamkan dan ada yang tidak, yang diharamkan adalah segala hal telah Allah SWT berikan hujjah-NYA baik dalam kitab-kitab-NYA atau melalui lisan nabi-NYA secara jelas dan tegas maka hal ini tidak boleh berbeda pendapat bagi yang mengetahuinya. Maka Allah melarang perbedaan pendapat pada masalah yang telah dijelaskan secara tegas dalam nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah.” (Ar-Risalah lisy Syafi’i, hal-560)

Berbeda pendapat tetapi tidak terpecah belah
Salah satu yang sangat dijaga oleh agama ini adalah bagaimana agar hubungan bermuamalah tetap bisa berjalan dengan harmonis dibawah naungan nilai-nilai kebenaran. Oleh karena itu walaupun dalam beberapa hal Islam memperbolehkan adanya perbedaan pendapat. Namun tetap saja perbedaan itu tidak boleh melahirkan permusuhan dan perpecahan.

Imam asy Syatibi menjelaskan lebih rinci, sbb: “Perpecahan yang dilarang adalah perpecahan dalam agama (QS 6/159) dan (QS 3/7) dan bukan perbedaan dalam hokum agama. Perbedaan yang kedua ini kita temukan pada diri para sahabat ra setelah wafatnya nabi SAW yang berbeda pendapat dalam berbagai hukum agama. Pendapat mereka berbeda-beda tetapi mereka menjadi terpuji karena mereka telah berijtihad dalam masalah yang memang diperintahkan untuk itu. Bersamaan dengan itu mereka adalah orang-orang yang saling mencintai satu sama lain serta saling menasihati dalam persaudaraan Islam.”( Al-Muwafaqaat lisy-Syatibi, juz-4, hal-121, 1)

Untuk menjaga agar perbedaan ini tidak melahirkan perpecahan, maka perlu diperhatikan 7 Sikap bijak menghadapi perbedaan berikut ini:

  1. Yakinlah bahwa perbedaan dalam masalah furu‘ adalah bagian dari kemestian dan keleluasaaan.
  2. Ketahuilah bahwa, kebenaran yang kita yakini memiliki peluang untuk salah. Demikian pula dengan keyakinan orang yang berseberangan dengan kita yang berpeluang salah. Hormatilah pendapat orang lain!
  3. Jangan terlalu menyibukkan diri dengan perbedaan lalu meningalkan masalah-masalah besar yang dihadapi umat.
  4. Sebisa mungkin tetaplah berusaha bekerja sama dalam masalah yang disepakati.
  5. Tinggalkan fanatisme terhadap individu, madzhab dan golongan.
  6. Tetap pegang erat etika berbeda pendapat. Jangan menyakiti dan mencela. Karena kita adalah dai yang mengajak bukan hakim yang memvonis.
  7. Jaga selalu keikhlasan hati, berprasangka baik, jauhi perdebatan sengit dan berdialoglah dengan cara yang lebih santun.

Demikianlah pemaparan sederhana ini, semoga dapat menjadi pegangan dalam mensikapi perbedaan yang ada.

Wallahu A‘lam bisshawab.

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Close
Dukung Kami !!!
Klik tombol dibawah ini, Terima Kasih