Published On: Sat, Jan 5th, 2013

Meraih Kemuliaan

Meraih KemuliaanIslam mengajarkan konsep kemulian hidup yang harus diraih setiap muslim. Yaitu dengan memanfaatkan waktu yang diamanahkan, mulai waktu fajar, duha, siang, malam, hingga perubahan hari menjadi bulan, tahun dan seterusnya. Ketika Allah Swt. Bersumpah dengan semua waktu yang ada, maka indikasi penghargaan terhadap momentum sungguh besar artinya dalam kehidupan setiap muslim. Sebab, peredaran waktu dan perubahannya akan terus menjadi teman yang selalu menyertainya melewati halte-halte kehidupan menuju stasiun dan terminal berikutnya.

Lewat informasi yang valid, kesuksesan ternyata beriringan dengan pemanfaatan waktu yang dimiliki. Surat al-Ashr, menjadi bukti kuat bagi setiap muslim bahwa Allah Swt. menginginkan kita meraih kesuksesan dan kemuliaan hidup dengan mengikuti tuntutan-Nya secara konsisten dan berkesinambungan.

Iman Harus Melahirkan Buah
Keimanan setiap muslim merupakan pondasi untuk merangkai sukses. Hal ini tidak diragukan eksistensinya dalam hati masing-masing. Hanya saja, terkadang keimanan hanya berbentuk keyakinan semata, dan belum terlihat efeknya dalam kehidupan nyata.

Inilah sebentuk keimanan yang belum sempurna, masih rapuh dan lemah, sehingga banyak melahirkan dualism kepribadian, ketaatan yang dilakukan bersama kemaksiyatan, gampang berdusta, mudah berkhianat, taat dikala ramai dan maksiyat dikala sepi dan seterusnya.

Tugas utama setiap muslim adalah memantapkan keimanannya kepada Allah Swt. Mengokohkan pondasinya lewat perkenalan yang baik dengan Allah, mengenal asma dan sifat-Nya. Mentadabburi dan merenungkan firman-Nya, menyertakan Allah dalam setiap aktifitasnya. Inilah yang akan mengantarkan setiap muslim memiliki keimanan seperti yang digambarkan Allah: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya kepada mereka, bertambah kuat imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.” (QS. al-Anfal : 2)

Buah dari keimanan itu adalah amal shalih dengan semua bentuknya, ibadah ritual, sosial, dan mengabdikan dirinya kepada Allah secara total

Seperti terungkap dalam janji setianya kepada Allah: “Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. Al-An’am : 162)

Pemanfaatan Waktu
Waktu yang dimiliki setiap orang sama durasinya. Ada yang memanfaatkannya untuk sukses dunia semata, yang ini dilakukan oleh orang-orang kafir yang melihat kehidupan hanya ada di dunia. Dan ada yang memanfaatkannya untuk sukses dunia dan akhirat, inilah tuntunan Allah kepada setiap muslim. Seperti terekam dalam doa yang diajarkan Allah: ‘Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. al-Baqarah : 201)

Kemuliaan dunia haruslah mengantar kepada kemuliaan akhirat. Itu berarti semua aktifitas yang dilakukan di dunia harus bernilai ibadah. Jika melihat tuntunan Rasulullah Saw., maka aktifitas beliau semuanya bernilai akhirat. Seperti dalam sebuah hadis, Rasulullah Saw. bersabda, “Bertakwalah kamu kepada Allah dimanapun kamu berada. Iringilah perbuatan burukmu dengan perbuatan baik, niscaya perbuatan baik akan menghapus perbuatan yang buruk, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi)

Bisa dilihat bahwa tuntunan Rasulullah Saw. mengajarkan kepada kita untuk menyertakan Allah dalam semua aktifitas. Apa pun dan dimana pun kita berada, Allah Mahamelihat, Mahamendengar, Mahamengetahui. Karena itu hendaklah kita merasakan pengawasan Allah, berhatihati dalam berbuat, melihat akibat dan dampak yang akan terjadi.

Hal ini menjadikan setiap muslim berpandangan jauh ke depan, berfikir panjang, tidak terlena oleh kenikmatan sesaat yang akan berakibat buruk baginya. Sebab, setiap aktifitas akan mendapat balasan dan semua tercatat rapi disisi Allah. Semua anggota tubuh akan menjadi saksi; tangan, kaki, bahkan kulit akan berbicara mengungkap semua yang dilakukan ketika di dunia. Setiap kata yang terucap tidak hilang begitu saja, melainkan tercatat rapi di sisi Allah Swt.

Meski demikian, masih ada harapan sekiranya kita bisa memanfaatkan waktu. Dosa dan kesalahan yang telah berlalu bias dihapuskan dengan cara bertaubat dan memperbanyak amal kebaikan. Allah Mahapengasih dan Mahapengampun, memberikan kesempatan itu kepada kita, karena Dia Mahatahu bahwa kelemahan kita membuat terperosok dalam bisikan dan rayuan setan, tunduk dan taat kepada hawa nafsu. Syaratnya adalah berpacu dengan waktu memperbanyak amal baik selagi kesempatan masih diberikan.

Waktu sangatlah bernilai, setiap detik bisa menghasilkan pahala dan sebaliknya juga bisa menghasilkan dosa. Maka berhati-hatilah. Musuh abadi manusia, iblis laknatullah dan balatentaranya terus berupaya mencuri waktu kita.

Allah memberikan pengajaran supaya jangan menyia-nyiakan waktu. Di antara karakter orang-orang beriman yang sukses adalah mereka yang menjauhkan diri dari perkataan dan perbuatan yang tidak berguna. (QS. al-Mukminun : 3)

Maka sudah sepantasnya setiap detik, menit dan jam orang-orang berimana bernilai ibadah, penuh keseriusan dan disiplin menggunakannya untuk meraih kemuliaan.

Meraih Kemuliaan
Satu dari momentum kemuliaan yang dianugerahkan Allah adalah Ramadhan, bulan penuh rahmat dan ampunan Allah. Saat ini, kita berada di bulan Rajab, salah satu dari 4 bulan suci yang ditetapkan Allah yang urutannya 2 bulan sebelum Ramadhan. Pada bulan ini semua amal shalih dilipatkan pahalanya dari bulan lainnya. Rajab juga merupakan momentum untuk menyucikan diri, memperkuat spiritual dan amalan shalih lainnya, sehingga bisa meraih dan mengoptimalkan amaliyah Ramadhan dalam kondisi yang sangat baik.

Sesungguhnya momentum ini sering dan akan terus terulang. Seandainya kondisi keimanan kita stabil, maka insya Allah datangnya momentum ini akan menambah keimanan dan spiritual yang semakin tinggi.

Layaknya emas yang secara berkala disepuh, akan semakin menampakkan sinar kemilaunya. Maka demikian pulan dengan jiwa yang setiap kali disucikan akan bersinar yang kemilaunya Nampak dalam akhlak mulia. Seperti yang disabdakan Rasulullah, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah mereka yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi)

Aisyah Radiallahu Anha, ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah, menyatakan bahwa, “Akhlak beliau adalah Al-Qur’an.” Berinteraksi dengan Al-Qur’an adalah cara mudah meraih kemuliaan. Setiap hurufnya diberikan pahala sepuluh kebaikan, mentadaburinya dianggap ibadah, melaksanakan hukumnya akan membawa kepada kebahagiaan hidup. Maka pertanyaan yang harus dijawab, “Sejauh mana upaya kita berinteraksi dengan Al-Qur’an?”

Ada lima hal yang harus kita tunaikan terkait dengan amanah Al-Qur’an: membacanya, memahaminya, menghafalnya, melaksanakan hukumnya dan mendakwahkannya.

Kemudian bulan Sya’ban semakin mendekatkan diri kita kepada Ramadhan. Pada bulan ini Rasulullah Saw. memberikan teladan dengan memperbanyak puasa sunnah. Secara fisik tampak sebagai latihan serius supaya terbiasa dengan nyaman. Secara psikis, puasa akan membawa kepada kondisi spiritual yang tinggi. Tidak heran jika do’a orang yang berpuasa tidak tertolak, tidak heran pula jika dua kenikmatan menanti orang yang berpuasa, ketika berbuka dan ketika bertemu Allah Swt.

Semua aktifitas ibadah, sejatinya bias membuat kita memiliki imunitas dari godaan syetan. Sehingga keimanan menjadi stabil, aktifitas semakin berkualitas, visi dan misi meraih kemuliaan semakin tajam. Hidup secara ikhlas diperuntukan mengabdi kepada Allah, tidak lagi terkecoh dengan jebakan dunia yang menjauhkan dari akhirat. Namun, semua itu tentu harus mendapat ijin dan taufiq dari Allah. Karenanya, tawakal kepada Allah merupakan karakter seorang mukmin sejati.

Latest posts by admin (see all)

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Close
Dukung Kami !!!
Klik tombol dibawah ini, Terima Kasih