Published On: Fri, Dec 6th, 2013

Mewaspadai Wabah Depresi

Mewaspadai Wabah DepresiKetika dunia mengalami krisis ekonomi global, sangat nyata terjadi kepanikan-kepanikan di kalangan komunitas hedonis. Betapa tidak, suka atau tidak suka, krisis ini akan mempengaruhi ekonomi mereka yang berefek pada perubahan gaya hidup. Bagi orang-orang yang bermadzhab Kapitalisme dan Materialisme hal ini menjadi sesuatu yang mencekam dan menakutkan. Sehingga bagi mereka yang tidak memiliki kematangan psikologis dan pegangan ideology yang kuat akan jatuh pada depresi yaitu gangguan kejiwaan dalam menghadapi permasalahan hidup yang menimpanya dalam bentuk kecemasan dan kegundahan.

Dalam konteks keindonesiaan, pasca pemilu legislatif ternyata menyisakan penyakit yang membahayakan yaitu depresi. Hal ini muncul akibat kekecewaan terhadap obsesi kekuasaan yang tanpa kendali agama. Sehingga pemerintah harus menyiapkan rumah sakit depresi bagi para caleg yang gagal. Ironis memang, sebuah hajat besar  bernama pemilu yang diselenggarakan untuk memilih wakil-wakil rakyat dan mengangkat martabat dan kesejahteraan bangsa, namun harus menyisakan banyak cerita dan peristiwa yang erat kaitannya dengan penyakit stress dan sampai tingkat depresi. Hal ini, jelas merupakan isyarat ketidak matangan dan ketidaksiapan para caleg baik secara keagamaan, psikologis maupun fisik.

Dalam realitas kehidupan, ternyata depresi merupakan wabah yang berbahaya bahkan lebih berbahaya dibandingkan penyakit kanker, flu burung dan semacamnya. Berbeda dengan penyakit fisik, baik TBC, kanker, jantung, malaria yang relatif mudah dideteksi oleh dokter. Depresi ternyata tidak dapat atau sulit dideteksi dengan alat-alat kedokteran. Sesuatu yang menjadi kekuatiran adalah depresi atau problema kejiwaan ini menempati rengking satu. Dan penyakit ini muncul banyak disebabkan global burden disease (penyakit akibat beban globalisasi). Prof Ernaldi Bahar, dalam risetnya pada tahun 1995 mengatakan bahwa 1-3 dari sepuluh orang di Indonesia mengalami gangguan jiwa. Tahun di mana kondisi ekonomi negeri ini masih relatif stabil. Bagaimana dengan dengan tahun 2009? sungguh diperkirakan angka itu mengalami peningkatan.

Faktor-Faktor yang Melatari Depresi

Depresi muncul tidaklah secara tiba-tiba, namun penyakit ini menjangkiti seseorang akibat akumulasi factor yang melatarinya. Diantaranya adalah :

Pertama, Lemahnya Imunitas Keimanan.

Lemahnya iman menjadi factor utama seseorang mengalami depresi. Hal itu muncul atas respon keinginan duniawi, baik materi, jabatan, kekuasaan dan lainnya yang tidak ia dapatkan sesuai dengan cita-cita dan obsesinya. Orang-orang yang depresi adalah mereka yang tidak mengakui atas keputusan Allah. Baginya seluruh obsesi dan cita-cita dunia wajib ia peroleh, tidak ada kamus tidak. Pemikiran inilah yang dulu pernah didengungkan oleh kaum Qodariyah. Bahwa apa yang terjadi pada manusia tidaklah ada intervensi Allah. Susah dan bahagia, tawa dan senyum, kegagalan dan kesuksesan berpulang kepada manusia. Paham inilah yang menyengsarakan umat, karena manakala yang digapainya adalah hal-hal yang negative bisa dipastikan rumah sakit depresi telah menantinya.    

Kedua, Lingkungan Keluarga yang Materialistik

Keluarga adalah lingkungan awal tempat seseorang tinggal dan berinteraksi dengan orang terdekatnya. Dalam dunia kapitalis, keluarga berjalan berdasarkan paham materialisme. Sang ibu merasa mengasuh, mendidik anak tidak lebih berharga dibandingkan bekerja, belanja atau bersolek. Akibatnya, ibu sering mengabaikan fungsinya sebagai guru pertama bagi anaknya. Sang ayah pun merasa mendidik anak bukan tanggung jawabnya dan juga tidak lebih berharga dibandingkan bekerja. Sebab, menurut pandangan materialis, bekerja menghasilkan uang sedangkan mendidik dan memperhatikan anak tidak menghasilkan uang. Akibatnya sang ayah lebih condong bekerja dan dengan bekerja ia merasa telah menyelesaikan tanggung jawab dengan memberi uang saku yang besar pada anaknya. Padahal seorang anak tidak hanya membutuhkan makanan, minuman, pakaian dan kebutuhan fisik lainnya, tapi juga membutuhkan kasih sayang dan pendidikan dari orang tua. Apalagi, sang ayah dan ibu sering bertengkar karena urusan-urusan sepele dan merasa saling direndahkan. Hal itu yang akan menjadi puncak gangguan jiwa yang berujung pada broken home dan serentetan dampak yang mengikutinya seperti anti social.

Ketiga, Lingkungan Masyarakat yang Distruktif

Masyarakat  adalah lingkungan berikutnya yang juga tidak kecil pengaruhnya terhadap seseorang. Sebab mau tidak mau setiap kita berinteraksi dengan masyarakat. Pada masyarakat materialis, segalanya dipandang dari sudut pandang materi dan kecenderungan individualis. Kepekaan terhadap lingkungan socialnya sangat rendah. Orang bersaing untuk dirinya sendiri dengan berbagai cara tanpa memperdulikan kepentingan orang lain. Hubungan interpersonal semakin fungsional dan cenderung mengabaikan nilai-nilai kemanusian seperti keramahan,perhatian, toleransi dan tenggang rasa. Akibatnya, tekanan isolasi dan keterasingan kian kuat; orang makin mudah kesepian di tengah keramaian. Inilah yang disebut lonely crowded (sendiri di tengah keramaian).

Mengatasi Depresi

Islam sebagai agama terakhir dan sekaligus agama terbaik menawarkan solusi agar seseorang tidak mengalami stress, depresi dan kegoncangan jiwa, apapun hal yang melatarinya. Langkah-langkah untuk mengatasi depresi itu adalah :

Pertama, Perkokoh Komitmen Aqidah

Ketika iman yang lemah menjadi factor utama seseorang mengalami keguncangan jiwa dalam bentuk depresi. Maka peneguhan komitmen aqidah merupakan sebuah keniscayaan bagi solusinya. Inilah rahasia mengapa wahyu-wahyu yang diturunkan oleh Allah swt kepada manusia termulya Rasullullah saw selama 13 tahun pertama dari usia kenabian beliau adalah bertema keimanan atau aqidah. Karena dengan memikili pemahaman yang baik tentang aqidah Islam seseorang akan memiliki sandaran yang kuat, tidak mudah terprofokasi dengan gejolak-gejolak nafsu yang cenderung  mencintai dunia, jabatan, kekuasaan dan semacamnya. Dunia bagi seorang muslim bukan lah negeri impian namun ia adalah sarana untuk menggapai negeri impian akherat yang sarat dengan kenikmatan yang hakiki. Sehingga efeknya adalah tatkala keinginan-keinginan duniawi tidak mampu ia wujudkan di dunia, maka sungguh negeri akherat telah siap untuk menggantinya dengan ganti yang jauh lebih baik.

Kedua, Mengubah Paradigma Berfikir Materialis

Pandangan materialislah yang menjadikan seseorang mengejar-ngejar dunia sehingga depresi ketika gagal mencapainya atau kehilangan sesuatu yang berharga secara materi, maka pandangan ini yang harus diganti dengan pandangan Islami. Allah swt mengajarkan kita pandangan Islam terhadap dunia. Firman Allah : “Bermegah-megahan telah melalaikan kalian sampai kalian masuk ke dalam kubur” (Q.S at-Takatsur (102) : 1-2). Rasullullah mengubah paradigma materialistic menjadi paradigma akherat tanpa meninggalkan dunia dengan selalu mengingatkan para sahabatnya firman Allah : “Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepada kalian (kebahagiaan) negeri akherat dan janganlah kalian melupakan bagian dari (kenikmatan) duniawi” (Q.S al-Qoshosh (28) : 77)

Walhasil, Rasullullah selalu menanamkan pandangan hidup yang sahih dan lurus, yaitu pandangan hidup Islami yang didasarkan pada aqidah Islam; menamkan bahwa kebahagiaan hidup adalah diperolehnya ridho Allah, bukan dicapainya hal-hal yang bersifat duniawi dan material, karena itu semua bersifat sementara.

Ketiga, Menegakkan Pilar-Pilar Islam di Rumah Tangga

Untuk meredam depresi suasana rumah tangga harus kondusif yaitu dengan menegakkan pilar-pilar Islam di dalamnya. Kehidupan suami istri layaknya para sahabat yang saling melengkapi dan saling mendukung. Allah swt berfirman : “Mereka itu (istri) adalah pakaian bagi kalian (suami) dan kalianpun adalah pakaian bagi mereka”. (Q.S al-Baqoroh (2) : 187)

Dengan kehidupan yang bersahabat ini, sang ibu tidak merasa rugi harus senantiasa mengurus rumah tangga karena itulah tanggung jawabnya serta tidak merasa rendah karena yang mencari nafkah adalah suaminya. Suami juga tidak merasa tinggi karena ia yang mencari nafkan. Selain itu, keduanya saling membantu, untuk kemudian berinteraksi dengan anak-anaknya penuh dengan kehangatan dan keakraban. Rumah tangga bagi mereka adalah madrasah yang selalu menghidupkan symbol-simbol keislaman yang menyejukkan hati.

Keempat, Menumbuhkan Solidaritas Islam

Kehidupan masyarakat laksana sekelompok orang yang mengarungi lautan dengan kapal. Jika ada seseorang yang hendak mengambil air dengan melobangi kapal dan tidak ada seorangpun yang mencegahnya niscaya kapal itu akan tenggelam. Masyarakat yang anggotanya mengembangkan bibit-bibit depresi, jika dibiarkan kan melahirkan masyarakat yang depresi. Sebaliknya masyarakat yang menumbuh suburkan kebaikan maka terwujud masyarakat yang baik. Oleh karenanya agar masyarakat memiliki imunitas dalam menghadapi depresi social harus ada upaya menumbuhkan solidaritas social dan menciptakan atmosfir keimanan serta mengembangkan amar makruf nahi munkar seperti masyarakat madinah pada masa Rasullullah saw.

About the Author

-

Displaying 2 Comments
Have Your Say
  1. anonim says:

    Bagus artikelnya. terimakasih

  2. anonim says:

    Terimakasih sharing artikelnya. Bagus sekali.

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Close
Dukung Kami !!!
Klik tombol dibawah ini, Terima Kasih