Published On: Sat, Nov 23rd, 2013

Pacaran dan Nikah Sirri Dalam Pandangan Islam

Pacaran dan Nikah Sirri Dalam Pandangan IslamMukadimah
Sebagai seorang muslim, setiap gerak, langkah, ucapan, dan pemikiran haruslah ter-shibghah (tercelup) dengan nilai-nilai kebenaran Islam. Pemahaman Islam yang benar—yang ada dalam frame pemikiran dan paradigma akal—haruslah terlukiskan dalam kanvas kehidupannya. Pemahaman Islam bukan hanya sekedar gambaran semu dalam wilayah pemikirannya, yang tidak pernah membumi dalam hamparan kehidupannya. Oleh karena itu, setiap muslim—siapa pun dan dimana pun ia berada—harus kembali mengaplikasikan nilai-nilai luhur Islam dalam setiap dimensi kehidupannya. Perhatikan firman Allah SWT sebagai berikut,

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu” (al-Baqarah: 208)

Pemahaman dan pengaplikasian nilai-nilai Islam ini sangat penting. Terlebih lagi untuk para pemuda-pemudi muslim. Mereka harus benar-benar memahami visi dan misi kehidupannya, sehingga terbayang dan tergambar secara jelas di depan matanya peran yang harus dimainkan dalam panggung kehidupannya. Mereka harus menyadari bahwa mereka adalah tumpuan masa depan umat, dan dipundaknyalah tertumpuk mas’uliyah (tangung jawab) besar untuk mencapai kemajuan dan kebaikan umat ini. Maka, yang diharapkan dan didambakan umat ini adalah munculnya sosok pemuda yang tegar menghadapi segala rintangan kehidupan: lahirnya kembali pemuda-pemuda Kahfi— yang siap mempertahankan keimanan yang telah tertanam dalam relung kalbunya; lahirnya kembali generasi-generasi Yusuf—yang senantiasa menjaga kesucian jiwanya dari kotoran-kotoran dosa dan noda-noda kemaksiatan, seperti memandang wanita ajnaby (wanita lain), mojok berdua, berpacaran, bergaul bebas, dan berselingkuh. Umat hanya membutuhkan pemuda yang selalu ada dalam lingkungan ibadah dan lingkaran kebaikan. Ia selalu menjaga dan memelihara mata, telinga, tangan, hati, dan kakinya dari zina.  Sebab, semua itu adalah awal dari lahirnya dosa-dosa besar. 

Adapun pemuda-pemudi muslim yang memiliki sifat dan nilai luhur tersebut kelak akan mendapatkan kebahagian di dunia dan di akhirat. Mereka kelak akan mendapatkan naungan, yaitu pada hari di mana tidak ada seorang pun yang mendapatkan naungan, kecuali naungan Allah SWT.  Perhatikan hadits dibawah ini,

“Ada tujuh golongan dimana Allah akan menaungi mereka dengan naungan-Nya, pada hari dimana tidak ada naungan, kecuali naungan-Nya, yaitu Imam yang adil, pemuda yang tumbuh besar dalam beribadah kepada Allah,….” (Muttafaqun alaih)   

A. PACARAN

1. Pengertian dan Hukum Pacaran
Dalam kosa kata bahasa Arab, pacaran identik dengan kata mahabbah (kecintaan), dan ‘isyqun (kerinduan), terhadap ajnabi (laki-laki lain) atau ajnabiah (wanita lain) sebelum akan nikah. Kata-kata ini  mengandung pengertian mengenai seseorang yang ingin selalu berada di dekat kekasihnya, bertemu, bercakap, saling memandang, dan hal-hal lainnya yang diharamkan Islam.

Memang, istilah pacaran tidak pernah ditemukan dalam kamus marfologi dan sosiologi Islam. Yang ada hanya pembahasan tentang memandang wanita dan berkhalwat dengannya. Karena itu, hukum pacaran belum bisa kita konklusikan sebelum kita membahas hukum memandang wanita dan berkhalwat dengannya.

Islam selalu mengarahkan ummatnya untuk menjauhi dosa-dosa kecil. Hal ini disebabkan nantinya akan mengakibatkan lahirnya dosa-dosa besar Contohnya adalah   memandang wanita lain. Dosa kecil ini akan melahirkan dosa selanjutnya, yaitu meraba, mencumbu, dan akhirnya melahirkan dosa besar, yaitu berzina. Oleh karena itu, Islam mewajibkan kepada ummatnya untuk selalu menjaga pandangannya. Sebagaimana yang dilukiskan dalam beberapa ayat Al-Qur`an dan hadits Rasulullah saw.

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (an-Nuur: 30-31)

Ayat di atas memberikan isyarat kepada kita akan kewajiban menundukkan pandangan, baik bagi laki-laki maupun perempuan, dari hal-hal yang diharamkan dan yang dapat menimbulkan fitnah. Hal ini disebabkan pandangan itu bisa menjadi pintu pertama kemungkaran, membuat hati sibuk dengan lintasan atau memori kemaksiatan, dan membuat jiwa terombang-ambing. Jiwa menjadi terombang-ambing  karena perasaan was-was yang datang dari setan yang menyesatkan. Selain itu, pandangan merupakan sumber fitnah, kerusakan, dan amoral dalam kehidupan. Perhatikanlah asbabun nuzul ayat diatas.

Ibnu Murdawaih meriwayatkan dari Ali bin Abu Thalib—semoga Allah memuliakan wajahnya—bahwa ada seseorang pada zaman Rasulullah saw, lewat di jalan dari salah satu jalan-jalan di Madinah. Kemudian, ia memandangi seorang wanita, dan wanita itu memandanginya juga. Setan lalu menanamkan waswas kepada keduanya, hingga satu sama lain merasa heran. Sementara, ia  terus berjalan ke samping tembok sambil memandangi wanita tersebut. Akhirnya, ia menabrak tembok sampai wajahnya berdarah. Lantas, ia bersumpah, “Demi Allah, aku tidak akan membasuh darah ini sampai bertemu Rasulullah saw., dan menceritakan masalahku ini.”  Ia lalu mendatangi Rasulullah saw, dan menceritakan apa yang terjadi dengannya. Rasulullah saw. kemudian bersabda, “Inilah akibat dosamu.”  Allah SWT lalu menurunkan ayat 30-31 surat an-Nuur di atas.

Di samping itu, ada beberapa hadits yang berbicara tentang larangan dan bahayanya memandang wanita. Bahkan, Rasulullah saw menganologikan hal tersebut  sebagai anak panah beracun milik setan yang dilemparkan ke dalam jiwa seseorang. Anak panah ini mampu mengeruhkan kebeningan jiwa seorang mukmin, dan mampu menimbulkan fitnah, kemaksiatan, serta menimbulkan dosa yang lebih besar lagi. Mengenai hal tersebut  bisa kita temukan dalam beberapa hadits di bawah ini.

“Sesungguhnya pandangan itu bak anak panah iblis yang beracun. Maka, barang siapa yang meninggalkannya karena takut kepada-Ku, niscaya Aku gantikan hal itu  dengan keimanan yang menimbulkan kelezatan dalam jiwa.” (HR at-Tharany dari Ibnu Mas’ud)

“Tidaklah seorang muslim memandang tempat-tempat keindahan seorang wanita, namun kemudian ia mampu menundukkan pandangannya, kecuali Allah akan menggantikannya dengan sebuah ibadah  dimana di dalamnya akan ia temukan  kelezatan.” (HR Ahmad)

“Setiap anak Adam mendapatkan bagian zina, ia tidak mungkin lepas darinya. Zina dua matanya adalah memandang, zina dua telinganya adalah mendengar, zina lisan nya adalah mengucapkannya, zina kedua tangannya adalah menyentuh, dan zina kedua kaknya adalah melangkah. Adapun hati tergiur dan berhasrat, sedangkan farji membenarkan hal itu  atau mendustakannya.” (Muttafaqun Alaih)

“Takutlah kamu akan duduk-duduk di jalanan. Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, kami harus duduk-duduk dijalanan sambil membicarakan sesuatu (yang harus dibicarakan). Rasulullah saw. bersabda lagi, “Apabila kamu tidak bisa meninggalkannya, dan  harus duduk di jalan, berikanlah hak jalan itu. Mereka bertanya lagi, “Apa haknya jalan, ya Rasulullah? Beliau bersabda, “Menundukkan pandangan, menyingkirkan sesuatu yang membahayakan (menyakitkan), menjawab salam, dan amar ma’ruf dan nahi munkar.“ (Muttafaqun alaih)

Hadits-hadits diatas menunjukkan betapa besar perhatian dan pengarahan Islam terhadap ummatnya untuk menjauhi sumber-sumber kemaksiatan, khususnya memandang wanita lain yang bukan mahramnya. Hal ini disebabkan dari pandangan inilah seorang muslim akan terjerumus lebih jauh lagi dalam kubangan dosa dan kemaksiatan.

Oleh karena itu, seorang muslim harus senantiasa menjaga: matanya dari menikmati dan memelototi kemaksiatan yang ada didepannya, kecuali yang diperbolehkan seperti dalam khitbah, jaul beli, dan berobat—yang disertai mahram; telinganya dari mendengarkan kata-kata yang tidak dibenarkan Islam; lisannya dari mengucapkan perkataan yang tidak berfaedah, atau mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang membingungkan dan menyakitkan orang lain, terlebih terhadap sesama muslim;  tangan serta kakinya dari melakukan hal-hal yang dilarang dalam Islam. Inilah tipelogi muslim ideal yang mempesona di hadapan Allah dan masyarakatnya. Ia hidup dengan penuh kebaikan-kebaikan, baik yang bersifat individual maupun sosial, dan jauh dari noda-noda dosa kehidupan.

Larangan Berkhalwat
Selain larangan memandang dan menikmati wanita lain, Islam juga melarang ummatnya melakukan khalwat (berduaan antara lelaki dan wanita yang bukan muhrim), dan berikhtilath (bercampur-baur antara lelaki dan wanita). Berkhalwat merupakan situasi dan kondisi yang kondusif untuk melakukan kemaksiatan—yang sangat berbahaya dalam kehidupan umat Islam. Dalam hal ini terdapat pihak ke tiga, yaitu setan yang senantiasa bermain mengeruhkan masalah, dan selalu mengarahkan dua insan yang berbeda jenis ini melakukan dosa-dosa selain memandang, seperti meraba, mencumbu, bahkan selanjutnya berbuat zina. Beberapa hadits di bawah ini menjelaskan tentang hal tersebut.

“Takutlah kamu masuk kepada wanita-wanita. Kemudian, laki-laki dari sahabat Anshar bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang ipar? Beliau menjawab, “Ipar itu bak kematian.” (Muttafaqun Alaih)

“Janganlah sekali-kali seorang lelaki berkhalwat dengan wanita, kecuali bersama mahramnya.” Dalam riwayat yang lain disebutkan “…karena yang  ketiga adalah setan.” (Muttafaqun Alaih)

2. Hukum Pacaran
Adapun istilah pacaran yang berkembang di tengah-tengah masyarakat kita sangat identik dengan beberapa hal berikut ini.

  • Kerinduan dan kecintaan kepada laki-laki atau wanita lain.
  • Menikmati atau memandangi aurat laki-laki atau wanita.
  • Berkhalwat (mojok berdua)
  • Bergandeng tangan, meraba, dan mencumbu wanita atau laki-laki lain.

Akan tetapi, setelah melihat muatan-muatan yang terdapat dalam nash-nash Al-Qur`an dan Hadits Nabawiah di atas, kita bisa konklusikan bahwasanya pacaran dalam pandangan Islam hukumnya adalah haram. Pacaran hanya akan menimbulkan mafsadah (kerusakan), dan berdampak pada dekadensi moral yang membahayakan masyarakat, seperti hamil di luar nikah, stres berat ditinggalkan kekasih, melacur karena telah dikhianati dan dinodai oleh kekasihnya, dan bahkan akhirnya bunuh diri.

Sebenarnya, manusia yang mendukung pacaran dengan alasan sebagai media perkenalan dan sebuah proses untuk memahami tabiat seseorang adalah kedustaan belaka. Sebab, banyak manusia yang menjadi munafik dikala ia melakukan praktek pacaran. Sebagai contoh ekstrim, lihatlah kasus yang terjadi dikalangan seleberitis, mereka senantiasa berganti-ganti pasangan. Kadang-kadang, jauh sebelum menikah, mereka melakukan komunikasi dan hubungan yang mendalam untuk mengenali lebih jauh watak dan tabiat satu sama lain. Namun apa hasilnya, ada diantara mereka  yang hanya bebarapa bulan saja menikah, untuk selanjutnya melakukan gugatan cerai. Hal ini disebabkan kemunafikan mulai muncul, sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ditampakkan di depan kekasihnya.  Keharmonisan keluarga pun sirna bersama sejuta cita-cita yang ia didambakan sebelum menikah.

Oleh karena itu, ungkapan yang pas dan benar sekitar masalah pacaran ini adalah “pacaran adalah muara dan media setan yang akan menjadikan manusia diperbudak hawa nafsunya.” Akhirnya, pacaran mengakibatkan banyak manusia terperangkap dalam jaring lingkaran setan tersebut.

3. Hikmah diharamkan Pacaran dan Solusinya
Adapun hikmah diharamkan pacaran dalam Islam adalah sebagai berikut.

  • Pembersihan jiwa
  • Pemeliharaan farji dari kemaksiatan
  • Melahirkan kelezatan iman
  • Senantiasa berada dalam lingkungan ibadah
  • Penguasaan hawa nafsu
  • Peningkatan keimanan dengan menghadirkan rasa takut akan azab Allah di setiap waktu.      

Adapun solusi untuk pemuda-pemudi muslim yang masih melakukan perbuatan yang dilarang Allah ini adalah sebagai berikut.

Pertama, bertaubat kepada Allah dengan menyesali perbuatannya, bertekad untuk tidak mengulanginya kembali, terus beristighfar atas dosa-dosa yang lalu, dan yakin  Allah akan menggantikannya kelak dengan pasangan yang ideal.

Kedua, cepat menikah, menyadari kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat selama ini, dan bertekad untuk sama-sama memahami kembali ajaran Islam dengan benar, sehingga keharmonisan dan kebahagian keluarga yang didambakan akan terealisir dalam setiap kisi kehidupannya. Tentu, dengan mereka berdua terus beristighfar kepada Allah atas dosa-dosa yang pernah dilakukan.

B. NIKAH SIRRI

1. Pengertian Nikah Sirri
Pernikahan dalam Islam tidak dianggap sah, sampai terpenuhi rukun dan syarat-syaratnya. Adapun rukun dan syarat-syaratnya adalah sebagai berikut.

  • Diucapkannya shighat (ijab qabul).
  • Adanya dua orang mempelai.
  • Adanya  wali bagi pihak mempelai wanita.
  • Adanya dua saksi pernikahan.
  • Adanya mahar (mas kawin).

Hal-hal yang tersebut diatas berdasarkan hadits Rasulullah saw, sebagaimana disebutkan di bawah ini.

“Tidak sah suatu pernikahan, kecuali dengan wali dan dua saksi yang adil.” (HR ad-Darqutny dan Ibnu Hibban)

“Kewajiban dalam suatu pernikahan ada empat; wali, suami, istri, dan dua saksi.” (HR ad-Darqutny)

“Siapapun wanita yang menikah tanpa seizing walinya, maka nikahnya batal, batal, dan batal.” (HR Ahmad dan Imam empat, kecuali an-Nasa-i)

Adapun surat an-Nisa ayat 4 dan 24 berbicara mengenai mahar atau mas kawin yang harus dipenuhi oleh suami.

“Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.” (an-Nisaa’: 4)

“dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu ni’mati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu  Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (an-Nisaa’: 24)

Adapun secara etimologi, nikah sirri berarti nikah secara rahasia. Dalam asy-syarh al-Kabiir (2/236) dan asy-Syarh ash-Shaghir (2/336), disebutkan bahwa yang dimaksud nikah sirri adalah pernikahan dimana suami berwasiat kepada saksi-saksi untuk merahasiakan pernikahan dari istrinya (jika telah beristri), atau khalayak ramai, meskipun mereka berasal dari keluarga sendri. 

2. Hukum Nikah Sirri
Empat madzhab Islam (Hanafiah, Malikiah, Syafi’iah dan Hanabilah), sepakat bahwa saksi merupakan sarat sahnya nikah. Karena itu, apabila ada pernikahan yang tidak menggunakan saksi, maka pernikahannya tidak sah, sebagaimana disebutkan beberapa hadits di atas. Adanya saksi dalam pernikahan dapat menjadi penangkal tuhmah (tuduhan) yang tidak benar.

Sementara itu, dalam menentukan hukum nikah sirri dengan pengertian di atas,  para ulama berselisih pendapat, sebagaimana berikut ini.

  • Madzhab Malikiah berpendapat nikah sirri harus di-fasakh (dipisahkan) dengan talak ba-in, jika keduanya telah melakukan hubungan suami istri. Hal ini sebagaimana fasakhnya nikah tanpa saksi, jika keduanya telah melakukan hubungan suami istri. Keduanya harus dihukum dengan hukuman zina jika terjadi jima’  (persetubuhan), dan mengakuinya atau dengan empat saksi seperti dalam kasus perzinaan. Dalam masalah  ini,  tidak dibenarkan memakai alasan ketidaktahuan.
  • Madzhab Hanabilah berpendapat akad nikah tidak batal hanya karena diwasiatkan untuk merahasiakan atau menyembunyikannya. Maka, jika seandainya ada wali, suami, istri, dan dua saksi merahasiakan nikah, hukum pernikahan tersebut tetap sah sekalipun hukumnya makruh. (Lihat Ghayatul Muntahaa 3/27)

3. Penutup
Oleh karena itu, sunnah sebuah pernikahan adalah diramaikan dan diiklankan (diumumkan. ed.)  Sebagaimana sabda Rasulullah saw berikut ini.

“Iklankanlah pernikahan.” (HR Ahmad dan dishahihkan al-Hakim)

“Iklankanlah pernikahan dan ramaikan dengan rebana.” (HR. at-Tirmidzi,Ibnu Majah, dan al-Baihaqy)

“Iklankanlah pernikahan ini, lakukanlah dalam masjid, ramaikan dengan rebana, hendaknya kamu mengadakan walimah, meskipun hanya dengan satu kambing….”(HR At-Tirmidzy)

Wallahu a’lam bish-shawwab.

 

Latest posts by admin (see all)

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Close
Dukung Kami !!!
Klik tombol dibawah ini, Terima Kasih