Published On: Thu, Nov 14th, 2013

Pengaruh Dosa Dan Maksiat

Pengaruh Dosa Dan MaksiatMUKADIMAH
Dari sekian hal yang mesti diketahui adalah bahwasanya dosa dan kemaksiatan itu berbahaya. Bahayanya terhadap hati sebagaimana halnya bahaya racun terhadap tubuh sesuai dengan tingkat kebahayaannya. Tidak ada kejahatan dan penyakit yang terjadi di dunia dan akhirat melainkan penyebabnya adalah dosa dan kemaksiatan. Bukankah penyebab dikeluarkannya Adam a.s. dari surga tempat segala kenikmatan menuju ruang yang penuh kesengsaraan dan kesedihan serta musibah adalah dilakukannya pelanggaran? Bukankah yang menyebabkan keluarnya iblis dari kelompok malaikat di langit dan menjadikan diri mereka makhluk terlaknat, serta menjadikan rupa mereka rupa yang menakutkan dan jelek adalah pembangkangan terhadap perintah Allah SWT yang telah mereka lakukan. Dengan kata lain, itu semua akibat dosa. Jadi, jelaslah bahwa pengaruh dosa sangatlah berbahaya terhadap pelakunya.

PENGARUH DOSA
Betapa banyak pengaruh yang ditimbulkan oleh dosa dan kemaksiatan. Sebagian pengaruh itu telah kita bahas pada bahasan yang pertama. Maka, atas izin Allah kita akan bahas pengaruh-pengaruh lainnya.

1. Kemaksiatan memperpendek umur dan menghapus keberkahannya
Para ulama berbeda pendapat tentang pengaruh maksiat terhadap perpendekan umur pelakunya. Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan memperpendek umur adalah hilangnya kebarakahan dari umur yang Allah berikan kepadanya. Sebab, pada dasarnya umur sebagai amanat Allah apabila dipergunakan untuk melakukan pengabdian dan ketaatan, maka walaupun umurnya pendek, dia akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda seolah-olah dia hidup lebih dari itu. Sebagian lainnya berpendapat bahwa yang dimaksud memperpendek umur memiliki makna yang sebenarnya, sebagaimana kemaksiatan mengurangi rezeki pelakunya.

Sebagian dari mereka berpendapat bahwa yang dimaksud dengan memperpendek umur akibat maksiat adalah kematian hati. Sebab, hakikat kehidupan menurut mereka adalah kehidupan hati. Oleh sebab itu, Allah menganggap orang kafir sebagai orang mati.

Secara keseluruhan, pendapat para ulama di atas menunjukkan bahwa seseorang yang berpaling dari Allah dan sibuk dengan kemaksiatan akan hilang hari-hari kehidupannya yang sebenarnya, dan kelak dirinya akan menyesali perilaku yang dipertontonkannya tatkala berada di dunia. Dari gambaran ekspresi penyesalan itu, Allah berfirman,

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata, ‘Ya, Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?’” (al-Munaafiquun (63) : 10)

“…dan orang kafir berkata, ‘Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah.’” (an-Naba` (78) : 40)

Dalam ayat yang lain Allah menggambarkan ekspresi penyesalan itu.

“Dia mengatakan, ‘Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.’” (al-Fajr (89) : 24)

Rahasia permasalahan ini adalah bahwasanya umur manusia selama hayatnya—dan tidak ada kehidupan melainkan untuk menghadap Allah dengan segala yang ada pada dirinya, dan merasa nikmat dengan mencintai dan mengingat-Nya, serta mendahulukan keridhaan-Nya.[1]

2. Kemaksiatan penyebab kehinaan pelakunya di hadapan Allah dan manusia
Berkata Al-Hasan al-Bashri, ”Mereka menghinakan Allah, maka mereka bermaksiat kepada-Nya. Seandainya mereka memuliakan-Nya, niscaya Dia akan menjaga mereka. Dan apabila seseorang menghinakan Allah dengan bermaksiat kepada-Nya, maka tidak akan ada seorang pun yang memuliakannya.” [2]

Allah SWT berfirman dalam kitab-Nya : “…Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorang pun yang memuliakannya….”  (al-Hajj (22) : 18)

3. Meremehkan dosa pertanda kehancuran
Apabila seseorang tidak henti-hentinya melakukan dosa hingga dirinya menganggap kecil dosa yang dilakukannya, maka hal tersebut merupakan tanda kehancuran dirinya oleh karena dosa, manakala dianggap kecil oleh manusia, justru semakin besar dihadapan Allah SWT.[3]

Hal ini ditegaskan dalam sabda Rasulullah saw. : “Sesungguhnya, orang mukmin melihat dosa seolah-olah dia berada di bawah gunung. Dia merasa ngeri apabila gunung itu menimpanya. Adapun orang jahat melihat dosa seolah-olah lalat yang hinggap di batang hidungnya. Maka, dia mengatakan dengannya demikian hingga lalat itu terbang.” (HR. Bukhari) [4]

4. Dosa membuat pelakunya dilaknat Allah dan Rasul-Nya
Sesungguhnya, dosa memaksa pelakunya untuk masuk dalam laknat Allah dan Rasul-Nya. Allah melaknat pencuri, peminum khamar, pemberinya, pemerasnya, penjualnya, pembeli, pemakan harga, pembawanya, dan setiap pihak yang membantu terjadinya kemaksiatan khamar. Allah juga melaknat orang yang menghardik kedua orang tuanya dan pelaku dosa-dosa lainnya. Rasulullah saw. pun telah melaknat pelaku dosa seperti melaknat laki-laki yang menggunakan pakaian wanita, dan wanita yang memakai pakaian lakai-laki, pemberi suap dan yang menerima suap, serta perantara yang menimbulkan pelanggaran berupa suap-menyuap, dan lain sebagainya.[5]

5. Terhalang dari doa Rasulullah saw. dan doa para malaikat yang mulia
Sesungguhnya, Allah SWT telah memerintahkan kepada Nabi-Nya untuk memintakan ampun bagi orang mukmin laki-laki dan perempuan.

Allah berfirman : “(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan), ‘Ya, Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala. Ya, Tuhan kami, masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara  bapak-bapak  mereka, dan istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya, Engkaulah Yang Mahaperkasa  lagi Mahabijaksana, dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Dan orang- orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar.’” (al-Mukmin (40) : 7-9)

Inilah doa para malaikat Allah bagi orang-orang mukmin yang bertobat dan mengikuti kitab-Nya dan sunnah Rasulullah, yang tidak ada petunjuk selain keduanya. Maka, orang-orang yang tidak memiliki sifat yang didoakan di atas, termasuk pelaku kemaksiatan, tidak berhak mendapatkan kebaikan doa para makhluk Allah yang mulia itu.[6]

6. Terjadinya kehancuran di muka bumi     
Apabila skala pembangkangan semakin meluas, maka skala akibat yang akan terjadi dari pembangkangan itu pun menjadi luas. Lihatlah, betapa banyak bencana yang terjadi di darat, di laut, dan di udara. Kita pun ikut merasakan itu semua sebagai pengaruh dan akibat para pelaku kejahatan yang sudah memperluas radius kejahatannya. Oleh sebab itu, Allah SWT menjelaskan semua kehancuran yang ada di atas planet bumi ini akibat ketidakcocokan perilaku pengurusnya dengan keinginan Allah SWT.[7]

Sebagaimana firman-Nya : “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan  manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (ar-Ruum (30) : 41)

Rasulullah saw. bersabda : “Wahai, kaum Muhajirin, ada lima hal yang aku berlindung kepada Allah semoga kalian tidak menemukannya. Tidaklah perzinaan merajalela dalam suatu kaum sehingga mereka melakukannya dengan terang-terangan, kecuali mereka akan ditimpa oleh bermacam-macam penyakit yang belum pernah terjadi pada kaum pendahulu mereka. Dan tidak ada suatu kaum melakukan kecurangan dengan mengurangi ukuran dan timbangan, kecuali akan ditimpakan kepada mereka keadaan paceklik dan mahalnya harga kehidupan, dan akan diangkatnya pemimpin yang zalim. Dan tidaklah suatu kaum menahan kewajiban harta mereka, kecuali mereka tidak akan diberi curah hujan dari langit. Seandainya saja tidak ada binatang ternak, niscaya tidak akan ada curah hujan. Dan tidaklah mereka melanggar perjanjian dengan Allah dan Rasul-Nya, kecuali Allah akan mengirim musuh dari selain mereka dan merampas sebagian yang mereka miliki. Seandainya para pemimpin mereka tidak mau berhukum dengan apa yang diturunkan Allah di dalam kitab-Nya, kecuali Allah akan menjadikan perseteruan dan pertempuran di antara mereka sendiri.” (HR. Ibnu Majah) [8]

Itulah beberapa akibat pelanggaran yang sangat mengerikan dan menakutkan dikarenakan sifatnya luas menjangkau seluruh manusia.

7. Kemaksiatan memadamkan api cemburu serta menghilangkan rasa malu
Kecemburuan laksana pemanas insting bagi kehidupan seluruh badan. Cemburu adalah panasnya tubuh yang bisa menimbulkan sifat busuk dan tercela, sebagaimana menghilangkan kotoran dari emas perak dan tembaga. Adapun orang yang paling mulia dan paling tinggi keinginannya adalah orang yang paling memiliki kecemburuan terhadap dirinya dan umumnya manusia. Oleh sebab itu, Nabi adalah orang yang paling cemburu atas umatnya, dan Allah SWT lebih pencemburu lagi daripada Nabi-Nya.[9]

Rasulullah saw. bersabda : “Apakah kalian terkejut melihat kecemburuan Sa’ad? Sesungguhnya aku lebih pencemburu darinya dan Allah lebih pencemburu daripada aku.” [10]

Dalam hadits sahih lainnya, Rasulullah saw. bersabda : “Wahai umat Muhammad, tidak ada seorang pun yang lebih cemburu daripada Allah SWT ketika hamba-Nya laki-laki berzina dan hamba-Nya yang wanita berzina.” [11]

Adapun sifat malu adalah sesuatu yang inheren dengan keimanan. Di kala keimanan masih menempel pada diri seseorang, maka yakinlah rasa malunya masih bisa ditemukan. Akan tetapi, di kala salah satu dari keduanya hilang, maka jangan diharapkan yang lainnya bisa ditemukan.[12]

Rasulullah saw. bersabda : “Dari sebagian yang didapatkan manusia dari perkataan kenabian yang pertama adalah, ‘Apabila kamu tidak memiliki rasa malu, maka berbuatlah sesuai dengan keinginanmu.’” [13]

PENUTUP
Allah SWT menurunkan kitab-kitab-Nya, mengutus para nabi dan rasul-Nya sebagai pertanda kasih dan sayang-Nya kepada manusia sehingga manusia dapat mengarungi kehidupan ini dengan baik dan memiliki alur yang lurus dan jelas serta mudah. Sebab, semua hal yang berkaitan dengan juklak (petunjuk dan pelaksanaan) hidup manusia di alam ini telah dijelaskan dengan tuntas. Lebih dari itu manusia malah diberikan contoh nyata agar dijadikan suri teladan. Namun, sifat manusia yang zalim tidak mau menerima dengan baik kasih sayang Allah itu. Malahan, sebagian mereka memilih jalan lain yang berseberangan dengan kehendak Allah SWT. Maka, akibatnya tidak diragukan lagi kesesatan, ketidak jelasan, kesemerawutan, dan akibat-akibat buruk lainnya yang kembali kepada diri manusia itu sendiri. Sikap itulah yang disebut pembangkangan, ketidaktaatan, dan kemaksiatan.

Hal-hal yang disebutkan diatas adalah sebagian kecil dari pengaruh dosa yang bersifat sementara atau dalam kehidupan di dunia, padahal akibat yang paling mengerikan dari segala bentuk dosa itu adalah kebencian Allah yang akan diterima kelak oleh pelaku dosa itu di kehidupan yang tidak berujung, yaitu kehidupan akhirat. Allah akan menampakkan kebencian-Nya dengan azab yang mengerikan dan tidak seorang pun yang mampu menahan azab-Nya. Akhirnya, kita sebagai orang yang beriman berusaha untuk dapat menjauhi segala bentuk pelanggaran dengan dibarengi doa semoga Allah memberikan kekuatan untuk menghindarinya, dan semoga kita dijauhkan dari murka dan azab neraka-Nya. Amin.


[1] . Ibnu Qayyim al-Jauziyah. al-Jawabul Kaafi. Tunist: Maktabah Darut. 1989 M/1409 H, hlm. 107-108

[2] . Ibid, hlm.112

[3] . Ibid.

[4] . Shahih Bukhari. Kitab ad-Da’awaat. “ Bab: Taubah”. Jilid 4 juz 7. Beirut: Darul Fikr 1981 M/1401 H, hlm.145-146

[5] . Al-Jauziyah, hlm.115-119

[6] . Ibid, 119-120

[7] . Ibid, hlm. 124-125

[8]  Ibnu Majah. Sunan. Kitab al-Fitan “Bab: al-‘Uqubat”. Juz 2. Beirut: Daar al-Fikr 1995 M/1415 H, hlm. 502-503 No Hadist. 4019

[9] . Al-Jauziyah, hlm. 127

[10]. Shahih Bukhari. Kitab an-Nikah “Bab: al-Ghirah”. Jilid 3 Juz 6, hlm.156

[11]. Ibid.

[12]. Al-Jauziyah, hlm. 131-133

[13]. Shahih  Bukhari. Kitab al-Adab Bab: Idza Lam Tastahi Fasna’ Masyi’ta”. Jilid 4 Juz 7, hlm.100

 

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Close
Dukung Kami !!!
Klik tombol dibawah ini, Terima Kasih