Published On: Tue, May 22nd, 2018

Pesona Keimanan Seseorang

Pesona KeimananMukaddimah
Seseorang yang telah mengikrarkan syahadat dengan lisan, meyakininya dengan hati dan membuktikannya dengan seluruh gerak serta langkah organ tubuhnya, maka ia senantiasa mempesona dalam seluruh dimensi kehidupannya. Ia akan memahami tentang apa yang harus ia lakukan untuk menerjemahkan keyakinannya ke dalam amalan-amalan fisik, ia akan mengambil sikap istiqamah setelah mengucapkan “Rabbunallah” (Tuhan kami Allah) dan ia senantiasa kokoh serta tsabat dalam menghadapi ujian-ujian sepanjang jalan keimanan. Oleh karenanya Allah berfirman;  “Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” QS 3:146

Sayyid Qutub mengomentari ayat ini dalam Kitabnya “Dzilaal Al-Quran”; “….Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama jama’at yang besar (dari pengikutnya), yang mana jiwa-jiwa mereka tidak pernah lemah karena bencana, kepayahan, kesulitan dan luka yang menimpanya. Kekuatan mereka tidak pernah pudar untuk terus berjuang dan mereka tidak pernah lesu serta menyerah kepada musuh-musuhnya…inilah tabiat seorang mukmin yang mempertahankan aqidah dan agamanya. (Fii Dzilaal Al-Quran, Sayyid Qutub, jilid I, hal 482, Daar al-ilm, Jeddah)

Jalan keimanan adalah jalan yang selalu ditaburi onak dan duri ujian. Jalan terjal yang memerlukan kekuatan kesadaran dan pemahaman akan tabiat yang telah digariskan Allah dalam jalan ini. Inilah jalan manusia besar dan manusia sejarah di saat melukiskan tinta emas kebenaran dam kebaikan dalam seluruh ruang kehidupannya. Dan jalan “ribiyyuun”, yaitu hamba-hamba Allah yang telah berjuang dengan seluruh potensi yang dimilikinya dan yang tidak pernah future dalam menghadapi godaan dan ujian keimanan.

Jihad siasi dan keimanan itu
Setelah nilai keimanan mengkristal dalam jiwa seorang mukmin, maka ia harus mampu menjadi “ruh jadid” (jiwa baru) yang terus mengalir dalam tubuh ummat untuk menciptakan “hayat quraniah”. Ia harus menjadi cahaya baru yang mampu memberikan pencerahan kehidupan matrialis dengan nilai-nilai ilahiah dan ia senantiasa menyerukan risalat nabawiah di tengah-tengah masyarakatnya. Karena api perjuangan tidak akan pernah padam sampai hari kiamat. Artinya setiap kita yang telah mengikrarkan diri kita sebagai mukmin harus terus membawa obor estafet jihad sepanjang kehidupan kita. Baik itu jihad jasadi, jihad maali, jihad ilmi, jihad amali, jihad siasi dan seterusnya.

Ternyata, kita –sebagai mukmin- telah melakukan barter dengan Allah SWT; kita jual seluruh jiwa, raga dan harta kita kepada Allah SWT semata dengan imbalan “jannah-Nya”. Oleh karenanya Jihad dan dakwah adalah keniscayaan iman. Dan pengorbanan di atas jalan ini adalah suatu keharusan dan kewajiban seorang mukmin. Karenanya Allah berfirman;

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” QS 9:111     

Rasulullah SAW telah bersbda: “Barang siapa yang meninggal, sedangkan ia tidak pernah berperang dan tidak pernah meniatkannya, maka ia akan mati di atas cabang kemunafikan.” (HR Imam Muslim)

Jihad jasadi yang dilakukan saudara-saudara kita yang berada di bumi Palestine, Negeri Seribu Satu Malam Irak dan bumi Afganistan adalah bentuk utuh barter yang dilukiskan dalam ayat di atas. Sementara ummat Islam di belahan negeri lain, mereka memiliki kewajiban jihad dengan dimensi yang lain. Mereka berkewajiban untuk menggalang dana dan kontribusi lain demi membantu dan menta-yid (mendukung) perjuangan saudara-saudara mereka yang sedang menghdapi kezaliman dan kebiadaban musuh-musuh Allah. Ini juga merupakan bentuk jihad yang dianjurkan Al-Islam. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang membiayai orang yang berperang di jalan Allah, maka sesungguhnya ia telah berperang. Dan barang siapa membantu dengan kebaikan keluarga orang yang berperang, maka ia sesungguhnya telah berperang.” (Muttafaqun Alaih)

Dalam bingkai jihad siasi (politik) yang sedang berlangsung dan diemban sebagian ummat Islam, dimensi ruhiah imaniah harus terus mendapatkan ri’ayah (pemeliharaan) yang serius, tentunya dengan tidak mengasimpangkan ri’ayah-ri’ayah pada dimensi lainnya. Karena medan jihad siasi sangat terjal dan penuh rintangan. Godaan harta yang tidak layak dan tidak semestinya di miliki oleh politikus muslim akan senantiasa mewarnai medan perjuang ini. Maka seorang muslim yang telah diamanahi jabatan-jabatan strategis dalam bidang siasat (politik) harus mampu menjaga citra Islam, membangun susasana politik yang kondusif dengan nilai-nilai kebenaran dan kepribadiannya senantiasa mempesona dengan pesona-pesona keislaman. Ia harus bisa mempengaruhi orang yang ada di sekitarnya dengan nilai-nilai kebaikan dan keindahan Islam. Bukan sebaliknya, menjadi liar dan menggunakan jurus aji mumpung untuk menggolkan kepentingan-kepentingan sesaat. Terkontaminasi dengan budaya-budaya murahan yang dikembangkan oleh sebagian politikus sekarang. Oleh karenanya siasat (politik) harus menjadi “midzallat” (payung) dakwah. Berpolitik harus selalu mengacu pada kaidah-kaidah da’awiah. Seorang pakar dakwah berkata; “Wahai saudara…., kalian bukanlah “jam’iah khairiah” (lembaga social), bukanlah “hizban siasian” (partai politik) dan bukanlah lembaga yang didirikan untuk tujuan-tujuan tertentu. Akan tetapi kalian adalah ruh baru yang mengalir pada jiwa umat ini. Ruh yang menghidupkannya kembali dengan Al-Quran. Cahaya baru yang senantiasa bersinar. Cahaya yang mehapus kegelapan matrialisme dengan ma’rifat kepada Allah dan suara yang bertalu-talu nan membahana. Suara yang senantiasa menyeru kepada dakwah Rasul SAW….” (Baina al-Amsi wa al-Yaum, Majmu’at ar-Rasaail, hal 110, Daar at-tauzii’ wa-an-nasyr al-islaamiah)                

Selain menjadikan politik sebagai payung yang melindungi gerakan dakwah, seorang muslim harus menjadikan panggung politik sebagai mimbar gerakan “amar ma’ruf nahi munkar”. Bukan tipologi pekerja politik yang pasif, apalagi pedagang politik yang selalu mencari keuntungan pribadi dengan langkah dan geraknya selama duduk di lembaga tinggi legeslatif. Namun ia harus menjadi petualang politik yang senantiasa memperjuangkan nilai-nilai kebenaran, menyuarakan nilai-nilai perbaikan dan terdepan dalam menghadang virus-virus kezaliman. Seorang muslim dengan nilai-nilai keimanannya, harus menjadi teladan perbaikan bagi yang lain di manapun ia berada dan siapapun ia. Ia senantiasa mempesona dalam semua lini kehidupan, Bahkan ia mampu menshibghah dan menta-tsir orang lain dengan nilai-nilai kebenaran yang diyakininya. Inilah mukmin yang ideal dan mukmin haqqan yang tanpa lelah memikul beban dakwah dan jihad dengan semua maknanya sepanjang kehidupannya. Sabar dan tsabat bersama orang-orang yang hanya menginginkan Allah dalam langkah dan gerak dakwahnya. Allah SWT berfirman;

 “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” QS 18:28

 “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” QS 38:26

Tarbiyah (membina) adalah keniscayaan iman
Manisnya iman, apabila ia bisa melakukan perubahan dalam diri seorang mukmin. Perubahan secara totalitas dalam semua lini kehidupan. Karena kekuatan iman yang sesungguhnya akan menjadi daya dobrak dan akan menimbulkan ledakan “inqilab syakhsi” (revolusi diri) dalam ruang kepribadian seseorang. Dan lezatnya keimanan kita apabila ia mampu memberikan ta-tsir (pengaruh) kepada orang lain. Ta-tsir ijabi (pengaruh positif) yang bersandarkan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan. Ta-tsir inilah yang disebut gerakan tarbiah. Gerakan da’awiah tarbawiah yang memfokuskan pada dimensi ishlahiah nafsiah (perbaikan diri), tazkiah (pensucian), tanmiah (pengembangan dan penumbuhan) self-skill dan ri’ayah (pemeliharaan dan penjagaan) potensi diri serta citra diri. Ini juga merupakan gerakan dan kerja nabawi yang diabadikan oleh beberapa ayat Al-Quran;

“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata” QS 62:2

Tarbiah adalah keniscayaan iman. Tarbiah selain kerja nabawi adalah konsekwensi logis keimanan seseorang. Para sahabat yang telah bersyahadat di hadapan Rasulullah SAW sangat memahami kerja da’awi tarbawi. Mereka selalu semangat menawarkan keimanan yang diyakininya kepada setiap orang yang ditemui. Mereka menjadi cahaya yang berjalan di tengah-tengah masyarakat Quraisy pada waktu itu. Meskipun konsekwnsinya harus mengorbankan jiwa dan raga. Dan mereka senantiasa melakukan “ittishal fardi” atau “da’wah fardiah” terhadap anggota keluarga dan kabilahnya. Oleh karenanya Abu Bakar ra sangat bersemangat untuk mempengaruhi setiap orang dengan nilai-nilai kebenaran Islam. Maka masuklah Utsman bin Affan, terekutlah Thalhah bin Ubaidillah dan bergabunglah Abdur Rahman bin auf dalam barisan dakwah.

Pada kondisi saat ini, semangat tarbawi dan da’awi harus digelorakan kembali. Dengan tarbawi pondasi ta’aruf (saling kenal) di antara kita bisa semakin kuat, tiang-tiang tafaahum (saling memahami) bisa semakin kokoh, bangunan ukhuwah bisa semakin mantap dan puncak takaaful (saling membantu) semakin indah. Begitu juga dimensi-dimensi lain yang harus diperhatikan dalam membangun gerakan tarbawi. Khususnya adalah dimensi ruhiah imaniah. Karena gerakan ini hanya menginginkan kader-kader militan dan yang memiliki jiwa yang hidup nan kuat. Seorang da’I berkata: “Kami hanya menginginkan jiwa-jiwa yang hidup, kuat nan muda. Hati yang baru nan berkibar-kibar. Emosi pencemburu yang menyala-nyala dan ruh-ruh yang memiliki obsesi tinggi, visioner dan yang selalu semangat demi menggapai cita-cita mulya dan tujuan-tujuan luhur…”

Karena urgensi tarbiah dalam kehidupan kita, Imam Syafi’I pernah berpesan kepada kaum muda dalam sebuah antologi puisinya;

“Orang yang pada masa mudanya tidak melakukan ta’lim (mentarbiah), maka takbirkan kepadanya empat kali takbir. Karena ia telah wafat (sebelum matinya).”

“Dan hakekat seorang pemuda -demi Allah…!- hanya dengan ilmu dan ketakwaan. Apabila ia tidak memilkinya, maka jangan sekali-kali dianggap sebagai pemuda”

Dengan iltizam dengan nilai-nilai kebenaran Islam, tsbabat dan istiqamah meniti jalan keimanan, melakukan gerakan dakwah serta amal jihad dengan seluruh maknanya dan melaksanakan gerakan tarbawi sepanjang kehidupan kita, niscaya Allah akan memberikan kemenangan dan kebahagiaan kepada kita. Kemenangan baik di dunia maupun di akhirat. Itulah cita-cita dan harapan kita yang paling mulya. Semoga kita diberikan kekuatan dan semangat untuk senantiasa melakukan dakwah dan tarbiah. Bukan manusia muslim yang siap ditakbirkan empat kali sebelum kematian kita yang sebenarnya.

Wallahu A’lam bish-shawwab.  

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Close
Dukung Kami !!!
Klik tombol dibawah ini, Terima Kasih