Published On: Wed, Jan 16th, 2013

Pilar-Pilar Kekuatan Ummat

Pilar-Pilar Kekuatan UmmatKinerja indikator dakwah Islam bertolak dari keyakinan kita secara total bahwa di dunia ini tidak ada sebuah sistem pun yang bisa memenuhi kebutuhan umat yang sedang bangkit dengan baik ini, melainkan sebagaimana yang diberikan oleh Islam. Al Qur’an memotret aspek ini secara khusus dan menguraikannya dengan sangat cermat dan jelas.

Kekuatan umat ini sangat tergantung pada kualitas setiap individunya. Ketika setiap insane muslim berpegang teguh pada sumber-sumber kekuatan ini, maka mereka pasti akan sampai pada apa yang mereka tuju (nahw an-nur) dan umat ini akan kembali menemukan masa keemasan dan kejayaannya.

Kita meyakini bahwa Islam menyimpan seluruh faktor kebangkitan dan aspek kekuatan penting yang sangat dibutuhkan seluruh umat dan menjadi sandaran seluruh bangsa.

Ruhiyah

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu, dan bersabarlah…” (QS. 8: 45-46)

Ayat di atas mengisyaratkan kepada kekuatan ruhiyah umat ini. Syeikh Islam Ibnu Taimiyah pernah mengutip perkataan generasi sebelumnya dengan mengatakan, “Takutlah akan dua fitnah; fitnahnya ulama yang tidak taat dan fitnahnya ahli ibadah yang bodoh.”

Dalam sejarah juga tercatat pengaruh kekuatan ruhiyah yang memiliki andil besar dalam setiap kemenangan. Oleh karena itu Amirul mukminin Umar bin Khathab selalu mengingatkan pasukannya yang akan bergerak menuju medan pertempuran agar tetap menjaga nilai-nilai ruhiyah selama dalam pertempuran. Pesona ruhiyah juga memiliki pengaruh terhadap kekuatan umat saat ini di bidang politik, hukum, ekonomi dan sosial. Ruhiyah yang baik akan melahirkan nilai keadilan, kejujuran, moralitas dan kebaikan di tengah-tengah kehidupan.

Ilmu

“… Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. 39: 9)

Allah memberikan kepada manusia dua kekuatan dalam dirinya, yaitu kekuatan hati dan kekuatan akal. Dari dua kekuatan ini, lahir kebeningan jiwa dan kecerdasan berpikir. Dua hal ini jadi alat manusia untuk mengelola bumi kepada arah dan tujuan yang baik sesuai dengan kehendak Allah. Dan sepanjang sejarah peradaban Islam, ilmu pengetahuan sangat memiliki peran dalam menopang kejayaannya.

Sesungguhnya isyarat akan pentingnya pilar ini sudah terbaca sangat jelas di saat wahyu pertama diturunkan. Kata pertama dari ayat pertama yang termaktub dalam wahyu pertama adalah perintah membaca “Iqra’..!”, karena membaca adalah pilar terpenting keilmuan. Dan perpaduan yang harmonis antara ilmu dan keimanan yang benar akan menghantarkan umat ini kepada derajat yang lebih tinggi. Dalam untaian kata bijak tersebutkan, “Barang siapa menghendaki dunia, maka ia butuh ilmu, yang mengharap akhirat, ia memerlukan ilmu dan yang mengharap dapat menggapai keduanya, maka ia pun membutuhkan ilmu.” Bahkan dalam masalah yang paling mendasar dalam ber-Islam, yaitu masalah aqidah, yang intinya terangkum dalam “laa ilaaha illallah”, Allah dalam firman-Nya tetap mendahulukan ilmu, -”Fa’lam Annahu Laa ilaaha illallah

“Barang siapa menghendaki dunia, maka ia butuh ilmu, yang mengharap akhirat, ia memerlukan ilmu dan yang mengharap dapat menggapai keduanya, maka ia pun membutuhkan ilmu.”

Bersaudara karena Allah

“Sesungguhnya orang-orang mukmin bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. 49: 10)

Ukhuwah imaniyah ini adalah pilar kekuatan dan kehormatan umat yang akan melahirkan ikatan yang solid, loyalitas yang tinggi, serta jauh dari perselisihan, perpecahan, permusuhan dan saling merendahkan satu sama lain.

Inilah bentuk yang digambarkan oleh Rasulullah saw dengan satu jasad, bak bangunan yang kokoh, satu sama lain saling menguatkan. Beliau bersabda, “Orang-orang mukmin itu bagaikan satu orang (jasad), apabila kepala terasa sakit, maka semua jasad terasa panas dan tidak bisa tidur.” (HR. Muslim) “Mukmin yang satu terhadap mukmin yang lain bagaikan bangunan yang sebagian menguatkan sebagian yang lain.”

Bahkan keimanan seseorang juga tidak akan mencapai tingkat kesempurnaanya jika ia tidak bisa mencintai saudaranya, sebagaimana sabda Rasulullah, “Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sampai ia dapat mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”.

Saling Menasihati

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang

beruntung.” (QS. 3: 104)

Al Khathabi berkata, “An Nushu (member nasihat) adalah menghendaki adanya kebaikan pada orang yang dinasihati.” Ini adalah satu dari sekian tugas para Nabi dan Rasul, juga mereka para shalihin yang mengikuti jejak Nabi dan Rasul.

Termasuk An Nushu adalah ‘amar ma’ruf nahi munkar, yang hanya dengan ini tertegaklah pilar umat, bahkan dunia seluruhnya. Tanpanya hilang atau berkuranglah kebaikan, keburukan membiak di bumi. Inilah tugas terpenting kaum muslimin yang mengenal mana yang ma’ruf dan mana yang munkar. Dengan inilah mereka menjadi umat terbaik.

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS. 3: 110)

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. (QS. 9: 71)

Nasihat ini mencakup semua jenjang social manusia dan memuat segala tema kebaikan dan perbaikan. Oleh karena itu, Rasul merangkum Dien (agama) ini dalam nasihat, sebagaimana sabdanya, “Ad Diinu An Nasihah”: “Agama itu adalah nasihat.”

Bersepakat Mengusung Kebenaran

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai ….” (QS. 3: 103)

Allah memerintahkan kepada mukminin untuk berpegang kepada tali Allah, melarang perpecahan. Kebersamaan dalam mengusung kebenaran adalah kekuatan, kehormatan, saling tolong menolong, tingginya kharisma di mata musuh Allah serta kemenangan. Sebagaimana dalam perselisihan dan perpecahan ada kelemahan, ketakutan, kegagalan, permusuhan, meningginya semangat musuh dalam menebar permusuhan di bumi ini.

Dan taatlah kepada Allah dan rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. 8:46)

Empat puluh tahun berlangsungnya penjajahan Israel terhadap Palestina, menggambarkan bahwa umat ini belum semuanya bisa bergabung bersama mengusung kebenaran. Bahwa mereka para penjajah itu adalah bagian dari kemunkaran yang mesti dienyahkan, melakukannya akan mendapat balasan yang melimpah dari Allah swt. Bayangkan, ketika statement “One Man One Dolar to Save Palestine” diusung bersama oleh umat Islam dunia, niscaya dengan izin Allah, umat ini tidak lagi diinjak kehormatannya dengan dijajahnya masjid yang pernah menjadi kiblat pertama umat ini.

Kebersamaan dalam mengusung kebenaran adalah kekuatan, kehormatan, saling tolong menolong, tingginya kharisma di mata musuh Allah serta kemenangan.

Istiqamah

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang Telah dijanjikan Allah kepadamu”.

Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. (QS. 41: 30 – 32)

Kekuatan ruhiyah dan ketaatan, kekuatan ilmu pengetahuan dan pemahaman, persaudaraan karena Allah, saling menasihati, dan bersepakat mengusung kebenaran, kesemuanya harus dibingkai dengan kekuatan istiqamah. Istiqamah dalam meningkatkan kualitas ruhiyah, istiqamah dalam mengembangkan sains dan teknologi, istiqamah dalam membina persaudaraan karena Allah, istiqamah untuk senantiasa saling menasihati, dan beristiqamah dalam mengusung kebenaran merupakan syarat mutlak dalam membangun sebuah kekuatan umat kembali.

Adalah suatu karunia yang luar biasa agung apabila setiap pribadi muslim saat ini kembali menemukan pilar-pilar kekuatannya. Sudah seyogianyalah kita harus berusaha keras untuk kembali memiliki enam pilar kekuatan itu, karena ini merupakan sumber energi umat untuk mengawali proses panjang menuju khilafah alaa minhaj nubuwwah. Semoga, kita termasuk salah satu dari mereka yang memiliki sumbersumber kekuatan itu.

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Close
Dukung Kami !!!
Klik tombol dibawah ini, Terima Kasih