Published On: Tue, Jul 23rd, 2013

Pintu Harapan & Permohonan Selalu Terbuka

 

Pintu Tarapan & Permohonan Selalu TerbukaUjian adalah sunnatullah.  Selama roda kehidupan berputar, seseorang takkan berhenti menuai berbagai ujian.  Jadi… dihadapkan pada suatu ujian?  Itu biasa.  Yang tidak biasa adalah jika kita tidak pernah dihadapkan pada suatu ujian dan berharap jangan pernah dihadapkan pada suatu ujian.  Justru yang terpenting adalah bagaimana kita bisa lulus dari setiap ujian yang kita lalui.  Kaya, misalnya, adalah ujian untuk mengetahui tingkat syukur seseorang, sedangkan miskin adalah ujian untuk mengetahui tingkat kesabaran seseorang.

            ”Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : ’Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?  Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” 

(QS. Al Ankabut : 2-3)

Jika kita merasakan kesempitan hidup yang teramat sangat, penderitaan yang hampir-hampir meledak dalam dada, bahkan air mata yang nyaris telah membeku… maka ingatlah bahwa kita memiliki Rabb yang Maha segala-galanya, jangan pernah berputus asa –walau hanya sekejap- akan rahmat-Nya.

            ”Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.  Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.”  (QS. Yusuf : 87)

            ”Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Ilah selain Dia.  Hanya kepada-Nya lah aku bertawakal.”  (QS. At Taubah : 129)

            ”Ya’kub menjawab, ’Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya.”  (QS. Yusuf : 86)

Suatu ujian sesungguhnya menjadi ”besar” ataupun ”kecil” sangat tergantung pada cara pandang kita dan tentu saja keridhoan kita menerima semua ujian itu.  Ada suatu kisah yang menarik untuk kita simak…

Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang pemuda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air mukanya ruwet. Pemuda itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia. Tanpa membuang waktu, sang pemuda menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak, mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta pemuda itu untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan. “Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya..”, ujar Pak tua itu.

“Asin. Asin sekali”, jawab sang pemuda, sambil meludah kesamping.

Pak Tua itu sedikit tersenyum. Ia lalu mengajak sang pemuda untuk berjalan ke tepi telaga dekat tempat tinggalnya. Keduanya berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka di tepi sebuah telaga yang tenang. Pak Tua itu lalu kembali menaburkan segenggam garam ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu.

“Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah”. Saat sang pemuda selesai mereguk air itu, Pak Tua berkata lagi,  “Bagaimana rasanya?”.  “Segar.”, sahut pemuda itu.

“Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?”, tanya Pak Tua lagi.  “Tidak”, jawab si pemuda.

Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si pemuda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu.

“Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama. Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kita merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kita lakukan. Lapangkanlah dada menerima semuanya. Luaskanlah hati untuk menampung setiap kepahitan itu.”

Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat. “Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”

Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan “segenggam garam”, untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa.  

Jadi, buatlah hati kita seluas telaga, yang menerima dengan ikhlas segala ujian hidup.  Jadikanlah ia juga merasa lega dengan segala masukan yang membangun demi kehidupan kita yang semakin membaik.

Yang juga perlu kita ingat adalah bahwa ujian bukan hanya sesuatu yang datang dari luar diri kita, tapi yang juga sering terjadi adalah kita merasa malu pada diri kita yang telah banyak melakukan kelalaian dan kekhilafan.  Maka ingatlah segera bahwa kita memiliki Rabb yang Maha Pengasih dan rahmat-Nya begitu luas melebihi tumpukan dosa-dosa yang telah kita perbuat.

            ”Katakanlah, ’Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.  Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.  SesungguhnyaDia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”  (QS. Az Zumar : 53)

Yang terpenting adalah kita bersegera untuk bertaubat dan memohonkan ampunan dari Allah, menyesali segala keburukan yang telah kita lakukan, maka sungguh Allah maha Pengampun dan Maha Mulia.  Segalanya akan diganti dengan kenikmatan tak ternilai…

            ”Akan didatangkan orang yang paling keras ujian dan cobaannya, lalu dikatakan ’Celupkanlah ia ke dalam surga.’  Maka ia pun dicelupkan ke dalamnya dengan sekali celupan.  Lalu, dikatakan kepada si fulan, ’Apakah yang menimpamu itu adalah suatu kebaikan ataukah penderitaan?’  Maka dia pun berkata, ’Sama sekali aku tidak mengalami penderitaan dan kesusahan’.”  (HR. Muslim-Ahmad)

”Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.” 

(QS. At Taubah : 111).

Sungguh indah beroleh rahmat serta kemuliaan dari Yang Maha Rahman.  Tentu kita tidak ingin melewatkan kesempatan agar termasuk dalam golongan orang-orang yang beruntung ini.  Semoga masih ada kesempatan bagi kita untuk melengkapi sisa-sisa umur kita dengan amal sholeh.  Pintu harapan dan permohonan itu selalu akan terbuka, namun kita perlu menggenggam erat kunci-kuncinya, agar senantiasa ada ketika kita membutuhkannya…

1. Bersabarlah dan tegakkan sholat  

            ”Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu.  Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.”  (QS. Al Baqaroh : 45)

2. Banyak bersedekah

            “… dan bersedekahlah kepada kami, sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersedekah.”  (QS.  Yusuf : 88)

3. Tidak terbiasa dengan melakukan dosa

            “Sesungguhnya barangsiapa datang kepada Rabb-nya dalam keadaan berdosa, maka sesungguhnya baginya neraka Jahannam.  Ia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula)  hidup.”  (QS. Thaha : 74)

4. Jika dalam kondisi sakit, yakinlah setiap penyakit ada obatnya.

            Abu Hurairah menuturkan bahwa Nabi saw bersabda :

            “Allah tidak menurunkan suatu penyakit, melainkan pasti Dia juga menurunkan obatnya.”  (HR. Bukhari)

5. Memilih teman yang baik

Abu Hurairah menuturkan bahwa Rasulullah saw bersabda :

“Seseorang itu tergantung atas agama temannya, maka hendaknya salah seorang dari kalian melihat dengan siapa dia berkawan.”, sedangkan Muammal berkata, ”…dengan siapa dia bersahabat.” (HR. Abu Dawud-At Tirmidzi- Ahmad)

Mari kita berbenah dan terus berbenah untuk mempersembahkan yang terbaik dalam masa hidup kita.  Mari senantiasa torehkan kemuliaan dan semangat pantang menyerah, dimanapun, kapanpun dan dengan siapapun.  Selama Allah swt menjadi ”JUST THE ONLY ONE GOAL”, insyaAllah kita akan beroleh “KEBAHAGIAAN”.

Sebagaimana doa yang sering kita lantunkan…

Untuk kebahagiaan dunia dan akhirat…

Wallahu a’lam bishshowab

 

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Close
Dukung Kami !!!
Klik tombol dibawah ini, Terima Kasih