Published On: Mon, Sep 30th, 2013

Sabar Dalam Prespektif Islam

Sabar Dalam Prespektif IslamMukaddimah
Shabar adalah salah satu akhlak mendasar yang harus dimiliki oleh setiap orang. Apalagi bila ia adalah seorang muslim yang menjadikan Rasulullah saw sebagai tauladan dalam kehidupannya. Sebagaimana sifat ini juga melekat dalam diri “Ulul azmi” dari Rasul-rasul Allah. 

Kesabaran dapat mengantar seseorang  meraih kesuksesan dan kebahagian hidup di dunia dan akhirat. Dengan kesabaran dan keikhlasan atas musibah yang menimpa dirinya, dia akan memperoleh pahala yang besar serta ampunan Allah, sekaligus sebagai kekuatan untuk mengalahkan rintangan dan ujian hidup yang membentang dihapannya. Namun, bila ia tidak bersabar atas musibah dan derita itu, maka ia akan hidup dalam derita dan sesal yang berkepanjangan.

Bila kesabaran menciptakan beragam akhlak terpuji, antara lain ialah ketenangan, keteguhan, sifat santun dan sebagainya, maka ketidaksabaran juga akan mendatangkan akhlak buruk yang beragam, misalnya cepat marah, tak mampu menahan diri, tergesa-gesa dalam segala perkara, tidak tenang dan sebagainya.

Oleh karena itu, untuk menghindari lahirnya beragam akhlak buruk lainnya diperlukan pengetahuan yang benar serta latihan sabar secara maksimal sehingga sifat ini melekat dalam kepribadian seorang muslim.           

Definisi Shabar
Sabar adalah akhlak yang lahir atau bagian dari kekuatan kehendak, yaitu kemampuan diri memikul beban kesulitan, kesusahan dan kesedihan. Juga kemampuan menahan diri dari kemarahan, rasa bosan, ketakutan, tamak, syahwat dan hawa nafsu.

Dengan kesabaran seseorang akan melakukan tindakan-tindakan yang antara lain ialah:

  1. Dengan mudah, tenang dan terbiasa meletakkan sesuatu pada tempatnya.
  2. Melakukan sesuatu dengan jernih dan penuh pertimbangan
  3. Menyelesaikan sesuatu pada waktu yang tepat dan dengan cara bijaksana.

Sedangkan sifat tidak sabar akan melahirkan tindakan dan prilaku yang antara lain ialah:

  1. Melakukan sesuatu dengan tergesa-gesa.
  2. Meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya.
  3. Mengerjakan sesuatu dengan tegang.
  4. Salah dalam pengaturan waktu.

Wilayah-wilayah kesabaran:
Sifat sabar ada pada wilayah-wilayah berikut ini:

  1. Kemampuan menghilangkan rasa takut dan tekanan jiwa saat menghadapi kesulitan dan kejahatan.
  1. Kemampuan menghilangkan rasa bosan dan jenuh saat melakukan pekerjaan yang membutuhkan ketekunan dan kesungguhan dengan rentang waktu yang cukup. Walaupun orang-orang yang tidak bersabar akan melihatnya sebagai waktu yang lama.
  2. kemampuan menahan diri dari ketergesaan saat menginginkan terwujudnya tujuan dan keinginan yang sifatnya material dan atau spiritual.

            Adalah benar jika dikatakan bahwa tabiat manusia adalah tergesa-gesa dan ketidakmampuan menunggu saat yang  tepat untuk merealisasikan sebuah cita-cita. Mereka selalu ingin memetik buah yang ranum sebelum masanya tibanya.

  1. kemampuan menahan amarah saat merasakan sesuatu yang dapat membangkitkan amarahnya. Karena mengumbar keinginan marah tidak akan menghasilkan tindakan atau ucapan yang bijaksana serta pertimbangan yang matang.
  2. Kemampuan menahan rasa takut pada saat menghadapi sesuatu yang mungkin membuatnya takut. Agar ia tidak menjadi penakut pada saat seharusnya ia berani.
  3. Kemampuan menahan diri dari sifat tamak saat jiwa dipengaruhi oleh kemungkinam lahirnya sifat tamak.
  4. Kemampuan menahan diri dari memperturutkan hawa nafsu dan kehendak-kehendak naluri pada saat tujuan dari kehendak itu adalah buruk dan tidak bermanfaat.
  5. kemampuan diri  memikul beban kesulitan, kesusahan dan kesedihan. Pada saat ia mengandung kebaikan dalam waktu cepat atau lambat.

Keutamaan sabar
Sifat sabar sesungguhnya adalah salah satu unsure yang lahir dari kekuatan kehendak, kesempurnaan akal dan kemampuan menghilangkan rasa takut dan gentar dalam diri. Sekaligus sebagai terapi yang digunakan untuk menyelesaikan kesulitan-kesulitan hidup.

Adapun buah yangdapat diraih dari kemuliaan sifat ini antara lain ialah :

  1. munculnya kayakinan dalam diri bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah kehendak dan ketentuan Allah.
  2. Merenungkan kembali segala perkara dan ketentuan yang telah diatur Allah dengan berusaha memetik hikmahnya.
  3. Menghayati kembali kehidupan ini, bahwa disana ada ujian dari Allah.
  4. Rela dan ikhlas atas takdir Allah yang berlaku atas dirinya.

Oleh karena itu Rasulullah saw mengatakan dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Malik Al-Haris al-Asy’ari: “kesabaran itu adalah cahaya”. Dia adalah cahaya yang membimbing manusia kembali ke jalan Tuhannya. Sehingga dengan itu ia tidak menyesali musibah atau derita yang terjadi pada dirinya, karena semua itu dia yakini sebagai takdir Allah.

Selain itu, sifat ini juga merupakan senjata paling kuat untuk memperbaiki hubungan dengan musuh atau menaklukkannya. Ia adalah akhlak tertinggi yang padanya ujian itu diletakkan. Oleh karena itu Allah swt berfirman:

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad, diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar”.

Esensi Sabar Dalam Kehidupan
Apabila kita mengamati setiap sisi kehidupan kita yang harus selalu disertai dengan kesabaran, maka kita akan mengambil kesimpulan bahwa kesabaran adalah hal yang sangat esensial dan dibutuhkan dalam setiap aktivitas kita, apakah itu positif atau negatif.

Pada saat kita mencari penghidupan, maka dibutuhkan kesabaran. Demikian pula saat berada ditengah masyarakat, melakukan kewajiban-kewajiban agama, berada di tengah kehidupan yang keras dengan segala tantangannya, semua itu membutuhkan kesabaran. Demikianlah rangkaian seluruh kehidupan manusia tak dapat lepas dari sifat ini, kesabaran.

Beberapa ayat Allah memperkuat penjelasan di atas:

ayat tentang sabar dalam beribadah:
“dan tidaklah Tuhanmu lupa.Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam  beribadat kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?”
(Surat Maryam :64-65)

maksud dari kata “berteguh hatilah”  adalah bersabarlah. Karena ibadah yang dilakukan harus dibarengi dengan kesabaran untuk senantiasa taat dan patuh dalam melaksanakan kewajiban itu. Sebagaimana dibutuhkan kesabaran untuk meninggalkan perilaku yang bertentangan dengan perintah Allah, haram atau dibenci.

ayat tentang sabar dalam bermasyarakat.
“Dan kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar?; dan adalah Tuhanmu maha Melihat.”
( Surat al-Furqan :20)

ayat ini menjelaskan bahwa ujian yang Allah berikan pada manusia bisa datang melalui sesama mereka. Maka keberhasilan menghadapi mereka hasus dibarengi dengan kesabaran.

ayat tentang sabar saat berjihad:
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu serta tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.”
(Surat al-Imran: 200)

Pada ayat Allah swt memerintahkan orang-orang beriman agar bersabar dan menguatkan kesabaran saat menghadapi musuh mereka di medan jihad. Apabila musuh-musuh mereka bersabar saat menghadapi mereka, maka mereka harus melipatgandakan kesabaran mereka agar mampu mengalahkan kesabaran musuh-musuhnya. Inilah yang dimaksud dengan “Mushabarah.”

Maka yang akan memenangkan pertarungan dan peperangan itu adalah mereka yang memiliki kesabaran berlipat ganda apabila keduanya memiliki kekuatan perang yang seimbang atau nyaris seimbang. Selain bahwa dengan iman, kekuatan ruh orang-orang beriman kian berlipat ganda melebihi musuh-musuh yang sepuluh kali lebih banyak.

ayat sabar tentang marah:
Menahan dan memadamkan bara amarah serta membalas dengan prilaku terpuji adalah perkara yang membutuhkan kesabaran. Orang yang tidak menghiasi dirinya dengan kesabaran, niscaya akan sulit baginya mengendalikan amarahnya, apatahlagi membalasnya dengan kebaikan. Firman Allah:

Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. (34) Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar. (35) Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”(36)

Dalam kehidupan social dan masyarakat selalu saja ada pertentangan, perselisihan dan atau permusuhan yang terjadi di antara mereka. Apakah itu disebabkan oleh harta, ucapan, atau prilaku lainnya yang membuat harga diri dan kehormatan terhina, keluarga yang disakiti atau hak-hak yang disepelekan. Kesemuanya itu terjadi tanpa dapat dihindari.

Prilaku-prilaku semacam ini yang datang dari saudara kita hendaknnya tidak dibalas dengan kejahatan atau prilaku yang sama, tapi dibalas dengan kebaikan dan kelapangan hati. Dan tetap berupaya menahan diri untuk tidak berbuat hal yang sama terhadapnya.

Balasan dengan kebaikan seringkali membuahkan hasil yang baik. Seseorang yang pada awalnya adalah musuh, mungkin saja berbalik menjadi kawan karib yang siap menjadi pendukung dan pembela.  

Sabar menghadapi musibah
Islam menyeru pengikutnya agar menghiasi dirinya dengan akhlak sabar saat menghadapi musibah dan terhadap segala sesuatu yang menciptakan kesedihan dan kesulitan hidup dalam dirinya.

Islam juga menyuruh orang-orang beriman agar senantiasa redha atas segala ketentuan dan takdir Allah yang berlaku pada dirinya, sekaligus menjelaskan bahwa  ujian dan cobaan yang terjadi dalam kehidupannya adalah sesuatu yang mungkin ia benci dan menyakitkan dirinya. Demikian pula pada pandangan manusia. Tapi dibalik itu semua tersimpan hikmah dan kebaikan bagi dirinya. Apabila kebaikan tercurah pada dirinya, maka itu adalah berkah dan kasih sayang Allah. Dan apabila menyakitkan, maka itu hasil dari buah tangannya sendiri.

Namun demikian, Allah swt. Menjanjikan pahala yang besar bagi mereka yang bersabar atas takdir dan ketentuan Allah yang berlaku atas dirinya.

Beberapa firman Allah berikut ini menguatkan penjelasan diatas:
firman Allah yang pertama dalam surat al-Baqarah : 155-157
Artinya: Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali). Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Ayat ini menjelaskan bahwa adanya petaka yang terjadi pada diri dan harta adalah salah satu dari bentuk cobaan dalam kehidupan dunia. Oleh karena itu ayat ini pula membimbing setiap muslim agar menghiasi diri mereka dengan kesabaran sebagai tameng menghadapi setiap cobaan dan ujian. Termasuk didalamnya ujian ketakutan, kelaparan, kematian dan sebagainya.

Adapun etika orang-orang yang bersabar saat mendapatkan musibah ialah dengan mengucapakan “Inna lillahi waina ilahi roji’uun (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali)”, sebagai tanda keimanan bahwa sesungguhnya segala seuatu yang ia miliki dari Allah dan kepada-Nya tempat kembali.

Ayat ini juga menyampaikan berita gembira bagi orang-orang bersabar dengan firman-Nya “Dan gembirakanlah orang-orang yang bersabar”. Adapun dua berita gembira tersebut ialah:

  1. Shalawat dan       
  2. kasih sayang dari Tuhan mereka.

Mereka yang bersabar atas segala musibah berhak mendapatkan berita gembira ini, karena mereka sesungguhnya telah mendapatkan petunjuk ke jalan kebahagiaan. dari ayat ini juga kita mengatahui bahwa rahmat dan kasih sayang Allah sangat beragam. Salah satunya dalam bentuk salawat Allah pada seorang hamba-Nya

Firman Allah yang kedua dalam surat al-Hajj : 34-35
Artinya : maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah), yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan sembahyang dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah  Kami rezkikan kepada mereka.

Ayat ini menjelaskan keutamaan sabar yang ukurannnya sama dengan orang-orang yang hatinya bergetar mendengar asma Allah disebut, yang menegakkan sholat dan orang yang berinfak di jalan Allah.

a. Musibah sebagai Penghapus Dosa
Takkala seorang mukmin mengetahui bahwa Allah swt menguji tingkat kesabaran dan keihlasannya dengan musibah yang ditimpakan padanya, maka dia akan termotivasi memikul beban musibah itu. Karena dia meyakini adanya pahala dan ganjaran dari Allah untuknya.

Ketika ia mengetahui bahwa Allah tidak hanya memberinya pahala tetapi juga menghapus kesalahan dan dosa-dosanya dengan musibah itu, maka motivasinya semakin bertambah untuk tetap sabar dan redha.

Rasulullah saw telah menjelaskan bahwa betapun kecil kadar musibah yang ditimpakan pada seorang hamba, bila ia beresabar dan redha maka pengaruhnya sangat besar dalam menghapus kesalahan dan dosanya.

Hadist-hadit tersebut antara lain ialah:

  1. diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda: “tidaklah seorang mukmin ditimpa oleh kepenatan yang sangat, penyakit, kesedihan dan dukacita, derita dan kegalauan hingga duri yang melukainya kecuali Allah menghapus kesalahannya.”
  2. Diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa yang dikehendaki Allah kebaikan maka Allah akan mengujinya dengan musibah.”
  3. Diriwatkan oleh at-Turmudzi dengan sanad hasan dari Anas, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Jika Allah menghendaki kebaikan pada diri hamba-Nya maka Ia akan menyegerakan balasan-Nya di dunia. Dan bila Ia menginginkan keburukan baginya, maka Ia akan menunda balasan atas dosa-dosanya, hingga Ia menimpakan-Nya kelak pada hari kiamat.”
  4. Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Tidaklah petaka itu menimpa seorang mukmin; pada dirinya sendiri, anak-anak atau hartanya, sehingga ia bertemu dengan Allah dan tak ada dosa sedikitpun yang melekat pada dirinya.” (HR.Bukhari. Hadist hasan sohih)

Dari bebrapa hadist di atas kita mengetahui bahwa ada dua kebaikan yang kembali kepada diri seorang hamba yang bersabar atas musibah yang menimpanya:

  1. Bahwa musibah itu akan menghapus dosa dan kesalahannya. Itu berupa percepatan balasan atas dosa yang dilakukan.
  2. Adanya pahala yang diberikan Allah. Ini adalah berkat rahmat dan kasih-sayang-Nya pada hamba-hamba-Nya.

b. Larangan Mengharap Kematian kerena Beratnya Musibah
Musibah yang menimpa seorang mukmin harus selalu disadari bahwa itu adalah ujian bagi keimanan. Oleh karena itu tidaklah dibenarkan bila seseorang mengharap kematian agar ia segera terbebas dari musibah yang maha berat itu. Karena setiap detik dari usia yang diberikan Allah sesunggunya adalah kesempatan untuk memperbanyak dan menambah kebaikan. Bilapun orang itu jahat dan prilakunya selalu berkubang dosa, maka itu adalah kesempatan baginya untuk bertaubat dan membersihkan diri. Oleh karena itu Rasulullah saw melarang orang-orang beriman mengharap kematian. Bebrapa hadist yang terkait dengan hal ini:

  1. diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw bersabda: “janganlah di antara kalian mengharap kematian. Karena bila ia orang baik, maka semoga kebaikannya bertambah, dan bila ia adalah orang jahat, maka semoga ia membersihkan diri dan bertaubat.”
  2. Dalam hadist lain diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Janganlah seorangpun diantara kalian mengharapkan kematian, dan janganlah ia memohon untuk itu sebelum kedatangannya. Karena bila ia mati maka terputus seluruh amalannya. Dan sesungguhnya usia seorang muknim tidak bertambah kecuali dengan kebaikan yang ia lakukan.”
  3. Dari Anas r.a berkata, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Janganlah seorangpun di antara kalian mengharap kematian karena penyakit yang menimpanya. Bila ia tak sanggup untuk tidak melakukannya maka hendaknya dia berkata: “Ya Allah, hidupkanlah aku bila kehidupan ini lebih baik bagiku dan matikanlah aku bila kematian ini lebih baik untukku.”  (HR. Bukhari dan Muslim)

c. Contoh Orang-orang yang bersabar Menghadapi Musibah

1. Sabarnya Nabi Ibrahim dan Ismail a.s.
Kisah tentang kesabaran ini diperankan dengan sangat baik dan sempurna oleh dua anak manusia yang juga sebagai ayah dan anak, mereka adalah Nabi Ibrahim a.s dan putranya, Ismail a.s. kisah yang sangat monumental diabadikan Allah dalam al-Quran al-Karim.

Takkala Nabi Ibrahim a.s menerima perintah Allah swt. ;melalui mimpinya agar ia menyembelih putranya, maka ia segera melaksanakan perintah tersebut setelah terlebih dahulu meminta pendapat Ismail, putranya. Ia berkata: “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam tidurku bahwa aku menyembelihmu, lalu bagaimanakah pendapatmua?” walaupun itu hanya sekedar mimpi, tapi mimpi para Nabi sesungguhnya mengandung kebenaran dan kewajiban yang harus dilaksanakan.

Saat mendengar ucapan ayahnya, Ismail, anak yang berbudi itu dengan  tenang dan penuh ketaatan berkata: “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang Allah perintahkan padamu, sesungguhnya engakau akan mendapatkanku termasuk orang yang sabar.”

Al-Qur’an al-karim menampilkan kisah yang agung ini sebagai pujian atas kemulian akhlak sabar yang dimiliki oleh Nabi Ibrahim a.s dan putranya, Ismail a.s. Dengan segala ketaatan, ketegaran dan keberanian mereka melaksanakan perintah tersebut walau itu mengancam jiwa mereka. Kisah ini juga sebagai tuntunan agar jiwa setiap muslim senantiasa siap menghadapi segala petaka dan musibah yang menimpa.

2. Kisah Nabi Ayyub a.s.
Kisah tentang kesabaran Nabi Ayyub adalah kisah yang patut diteladani. Nabi dan hamba Allah yang sholeh yang diuji Allah dengan kekayaan yang melimpah ruah dan anak keturunan yang banyak. Dengan segala kenikmatan itu ia bersyukur kepada Allah swt.

Para sejarawan menyebutkan bahwa beliau sesungguhnya adalah seorang pemimpin yang kaya raya dan baik budi. Allah swt. kemudian mengujinya dengan petaka dan musibah yang tiada henti. Seluruh harta kekayaannya habis musnah, anak-anaknya mati semua dan ditimpakan padanya penyakit yang sangat parah. Namun demikian, beliau senantiasa sabar atas musibah itu. Begitulah Nabi Ayyub a.s mensyukuri nikmat Allah swt yang tercurah padanya dan tetap bersabar kala musibah datang menimpa.

Nabi Ayyub a.s juga memiliki seorang istri mukmin yang bernama Rahmah. Salah seorang cucu Nabi yusuf a.s. Dialah yang senantiasa menemani suaminya pada saat sehat dan dalam kenikmatan maupun pada saat derita dan musibah. Dalam dua suasana Salah satu kejadian penting yang terjadi saat musibah menimpa Nabi Ayyub a.s ialah adanya usaha syetan untuk merusak agamanya dengan cara menggoda dan mengatakan padanya bahwa dia akan binasa dengan banyaknya musibah yang menimpa dirinya. Karena gagal menggoda Ayyub, syetan lalu mendatangi isterinya yang akhirnya tergoda oh bisikan Syetan. Ia lalu datang kepada suaminya mengeluhkan musibah yang menimpa mereka. Mendengar keluhan istrinya Nabi Ayyub menjadi marah dan berkata bahwa kenikmatan yang mereka rasakan selama delapan tahun belumlah sepadan dengan derita yang menimpa mereka selama tujuh tahun.

“Saya malu memohon kepada Tuhanku agar Ia membebaskanku dari derita ini, karena derita dan musibah yang kurasakan belumlah sebanding dengan kenimkmatan yang pernah kuperoleh.”

Ketika penderitaan itu semakin berat ia rasakan. Dimana semua orang ;termasuk istrinya meninggalkannya, Nabi Ayyub lalu memohon kepada Tuhan-Nya agar Ia membebaskannya dari musibah itu. Lalu terjadilah kehendak Allah. Ia menyembuhkan Nabi-Nya dan mengembalikan kesehatannya, anak keturunannya, rezki dan kekayaannya seperti sediakala.

Firman Allah swt.:

“ Dan  ingatlah  akan  hamba   Kami Ayyub  ketika   ia menyeru Tuhan-nya:  “Sesungguhnya aku  diganggu  syaitan dengan kepayahan dan siksaan”.(41) (Allah  berfirman):   “Hantamkanlah kakimu;  inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum”.(42) Dan  Kami   anugerahi   dia  (dengan mengumpulkan  kembali) keluarganya dan  (Kami tambahkan)  kepada mereka  sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran.(43) Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput),  maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar.  Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia  amat  ta’at  (kepada Tuhan-nya) (44)  

Esensi Sifat Sabar bagi Seorang Pemimpin
Manusia yang paling berhak menghiasi dirinya dengan sifat sabar adalah mereka yang mengemban amanah kepemimpinan. Baik sebagai pemimpin negara ataupun sebagai pemimpin agama. Sifat ini akan membantu mereka dalam menangani dan menyelesaikan banyaknya perkara atau urusan negara dan rakyat. Tanpa sifat ini, mereka akan gagal dan jatuh dari derajat kepemimpinannya.

Hal ini sudah menjadi sunnah atau ketentuan dalam masyarakat manusia, sebagaimana diperkuat oleh pengalaman masa lalu, catatan sejarah dan dalil-dalil al-Qur’an al-Karim. Adapun ayat-ayat yang terkait dengan hal di atas ialah:

1. dalam surat as-Sajadah ayat 23-24

“Dan Sesungguhnya Kami telah berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat), maka janganlah kamu (Muhammad) ragu menerima (Al-Quraan itu) dan Kami jadikan Al-Kitab (Taurat) itu petunjuk bagi Bani Israil.(23) Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.”(24)

Ayat ini menjelaskan bahwa sifat sabar adalah prilaku yang harus melekat dalam diri seorang pemimpin agama. Karena merekalah yang akan membimbing dan mengarahkan menusia kejalan yang benar. Memberi mereka petunjuk melalui al-Qur’an yang ada di tangan mereka.

 2. Firman Allah dalam surat Yusuf  ayat 90:

“Mereka berkata: “Apakah kamu ini benar-benar Yusuf?”.  Yusuf menjawab: “Akulah Yusuf dan ini saudaraku.  Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami”. Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik”

 Kesabaran dan ketakwaan Nabi Yusuf a.s sekian tahun lama mengantar beliau menjadi pemimpin bangsa Mesir pada akhirnya. Derajat yang diberi Allah untuknya berkat sifat sabar beliau.

3. Dalam surat al-A’raf ayat 137 Allah swt berfirman:

“Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bahagian timur bumi dan bahagian baratnya yang telah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka.  Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka.”

Awalnya mereka adalah kaum yang lemah dan terhina dalam kekuasaan Fir’aun dan bala tentaranya. Namun ketika mereka mendapatkan hidayah, mengikuti perintah Tuhan mereka dan bersabar atas derita siksaan yang mereka terima dengan mengharap redha Allah swt, mereka akhirnya diselamatkan Allah, dan kepemimpinan itu diserahkan dan diwariskan kepada mereka. Allah menyebut sebab pemberian dan penyerahan warisan  kekuasaan itu karena kesabaran mereka.

Esensi Sifat Sabar bagi para Du’at        
Setiap da’I yang menyeru manusia ke jalan Allah dan kepada kebenaran hendaknya menghiasi dirinya dengan sifat sabar. Karena mereka yang membawa dan mengibarkan bendera da’wah tapi tidak memiliki sifat ini, maka dapat dipastikan bahwa ia pasti gagal dalam mengemban risalah ini. demikianlah ketentuan yang berlaku yang telah diketahui dan difahami dengan baik oleh mereka berhasil dalam dakwahnya. Sebagaimana kita tahu bahwa ada banyak kelompok penyeru kepada kebatilan, berhasil dalam misinya karena disertai dengan kesabaran. Dan tidak sedikit kelompok penyeru kepada kebenaran karena tak memiliki sifat sabar.

Oleh karena itu, para penyeru ke jalan Allah; para Nabi dan Rasul, menghiasi diri mereka dengan sifat sabar. walaupun kadar kesabaran diantara mereka berbeda-beda. Tapi pada dasarnya mereka memiliki sifat ini. sebagaimana diantara mereka ada yang disebut sebagai Ulul ‘Azmi.

Kesabaran Nabi Nuh a.s  di tengah kaumnya
Allah swt. telah menjelaskan bagaimana Nabi Nuh a.s bersabar menghadapi kaumnya. Beliau dengan sabar menyeru dan mengjak kaumnya kepada Allah selama 950 tahun lamanya. Sebagaimana Allah swt. abadikan dalam surat al-ankabut ayat 14-15:

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di  antara  mereka  seribu  tahun  kurang  lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim. (14)  Maka Kami selamatkan Nuh dan penumpang-penumpang bahtera  itu  dan  Kami jadikan peristiwa itu pelajaran bagi semua umat manusia.(15).

Dan firman Allah dalam surat Nuh ayat 5-10:

Nuh berkata: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran).(6) Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat. (7) Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka dengan cara terang-terangan(8), kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam(9), maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu,-sesungguhnya Dia Maha Pengampun.(10)

Kesabaran Nabi Ibrahim a.s
Kesabaran Nabi Ibrahim-pun patut diteladani. Ketika beliau harus menanggung resiko dari da’wah yang dia serukan berupa hukuman bakar setelah ia dengan sengaja menghacurkan patung sesembahan raja Namrud dan kaumnya. Menghadapi ancaman itu, beliau tidak gentar apalagi takut. Dengan  penyerahan diri yang total kepada Allah beliau menghadapinya. Yang pada akhirnya diselamatkan Allah dari panas luapan api. Firman Allah swt. :

“Wahai Api, jadi dinginlah engkau!  dan keselamatanlah bagi Ibrahim.”

Keutamaan Orang yang Bersabar di Sisi Allah swt.

Setiap manusia takkan lepas dari ujian yang datang dari Allah swt. Karena kadar keimanan seseorang akan semakin kokoh atau runtuh melalui ujian yang dihadapkan padanya. Oleh karena itu, mereka yang berhasil melampaui ujian tersebut akan memperoleh posisi yang mulia dan dicintai oleh Allah swt. Sebagaimana firmannya:

            “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (Ali-imran:146)

            “Sesungguhnya Allah bersama dengan orang-orang yang sabar.” (al-Baqarah:153)

            “Dan Allah bersama dengan orang-orang yang sabar.” (al-Baqarah: 249)

           

Rasulullah saw. Juga menjelaskan keutamaan orang-orang yang bersabar atas musibah yang menimpa mereka; bagi mereka pahala yang besar. Beberapa hadist beliau:

  1. Abu Hurairah berkata: Rasulullah saw. Bersabda: “Allah berfirman: “tiada pembalasan bagi seorang hambaKu yang telah saya ambil kembali  kekasihnya, kemudian orang itu mengharapkan pahala dari-Ku, selain dari balasan syurga.” (HR. Bukhari)
  2. Dari ‘Atha bin Rabah berkata: suatu ketika Abbas berkata kepadaku: “inginkah engkau aku tunjukkan padamu seorang wanita penghuni syurga?” “Ya.” Jawabku. “Wanita berkulit hitam ini suatu ketika datang kepada Rasulullah saw., dan berkata: “Sesungguhnya saya ini menderita penyakit ayan yang membuat pakaian saya tersingkap. Berdoalah kepada Allah untukku.” Nabi berkata: “Kalau engkau bersabar atas penyakit itu, niscaya bagimu syurga. Tapi jika engkau ingin agar aku memohon kepada Allah agar engkau disembuhkan, maka aku akan melakukannya.” Wanita itu lalu berkata: “Kalau begitu, saya akan bersabar. Tapi berdoalah untukku agar pakaianku tidak tersingkap saat penyakit itu kambuh.” Maka Nabipun melakukannya.” (HR. Bukhari)
  3. Dari Anas berkata: “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah ‘Azza wajalla berkata: “ Jika Aku menguji seorang hamba-Ku dengan mengmbil kembali kekasihnya lalu dia bersabar, niscaya akan menggantinya dengan syurga.” (HR.Bukhari)

Ujian dari kesabaran itu sesungguhnya terletak pada pukulan pertama sejak musibah itu datang menimpa. Karena pada saat itulah godaan dan bisikan syetan sangat kuat mempengaruhi jiwa untuk tidak bersabar. Maka apabila seseorang dapat mengalahkan gangguan tersebut, itulah awal keberhasilan.

Pada dasarnya, musibah yang menimpa takkan dikenang sepanjang masa. Sehingga kesedihan yang menyertainya takkan  bertahan dalam jiwa sepanjang usia orang itu. Lambat laun ia akan terlupakan. Maka beratnya derita hanya akan sangat terasa di awal kedatangannya.

Diriwayatkan oleh bukahri dan Muslim dari Anas berkata: “suatu ketika Nabi saw.  Berjalan melewati seorang wanita yang sedang menangis di depan kuburan. (Riwayat Muslim, menangisi bayinya yang meninggal) Maka Rasulullah saw.-pun menegurnya dan berkata: “sabarlah!” mendengar ucapan tersebut, wanita itu berkata –sementara ia tak tahu bahwa itu adalah Rasulullah- : “menjauhlah dariku! Sesungguhnya anda belum pernah ditimpa musibah seberat ini.” seseorang lalu berkata padanya setelah Rasulullah meninggalkan tempat itu : “Yang menegurmu tadi adalah Nabi.” Wanita itu lalu bergegas mendatangi rumah beliau dan berkata: “sesungguhnya saya tak tahu kalau itu adalah engkau.” Rasulullah kemudian berkata padanya: “sesungguhnya ujian dari kesabaran itu hanya pada pukulan pertama.”

 

Latest posts by admin (see all)

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Close
Dukung Kami !!!
Klik tombol dibawah ini, Terima Kasih