Published On: Fri, Jan 4th, 2013

Taubat Nasuha

Taubat NasuhaSaat masuk usia baligh, setiap manusia mulai mengalami fase taklif, memikul beban tugas dari Allah SWT, mengabdi dan beribadah kepadaNya. Setiap kata dan perbuatan mulai dicatat oleh para malaikat, baik maupun buruk. Tak ada satu pun yang luput dari peng awasan Allah dan para malaikatNya.

Dan pada saat itu ada jiwa-jiwa yang berseri-seri karena mendapatkan ampunan Allah dan ditempatkan dalam kehidupan yang memuaskan di surga Allah. dan ada pula jiwa-jiwa yang merana, bermuka muram nan hitam karena tahu tempatnya adalah neraka, tempat paling buruk yang diciptakan Allah.

Menuju ampunan Allah
Semua fasilitas hidup di muka bumi ini Allah ciptakan untuk manusia. Tetapi acap kali manusia mengingkari karunia Allah, tidak bersyukur dan bahkan yang ada adalah penentangan dan kekufuran kepada Allah. tidak mau tunduk kepada aturan Allah, tidak mau taat kepada utusan Allah dan lain sebagainya. kita berlindung kepadaNya semoga tidak menjadi hamba yang ingkar.

Tentu ada kesalahan dan juga dosa yang pernah kita perbuat, karena memang kita tidak terpelihara dari dosa dan maksiat. Namun kita juga tidak patut berkubang dalam dosa, sementara Allah menyeru kita segera bertaubat kepadaNya. Dia membuka pintu maaf bagi siapa yang kembali kepadaNya.

Seperti dijelaskan dalam hadis sahih bahwa Allah membuka pintu ampunannya di siang hari untuk mengampuni mereka yang berdosa di malam hari, Dia juga membuka pintu ampunannya di malam hari bagi mereka yang berdosa di siang hari. Dan itu berlangsung sampai matahari terbit dari barat. (HR. Muslim)

Jadi mengapa kita tidak kembali kepada Allah?

Belumkah kita terpanggil oleh seruan Allah ini, “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS: Ali Imran (3) : 133)

Bertaubat kepada Allah
Para ulama menjelaskan bahwa taubat hukumnya wajib dari semua dosa yang pernah dilakukan, dosa kecil maupun dosa besar. Jika dosa itu terkait dengan Allah, ada tiga syarat yang harus dilakukan:

Pertama, meninggalkan perbuatan dosa yang diperbuat.

Kedua, menyesal telah melakukan dosa.

Ketiga, berjanji tidak akan mengulanginya kembali. Apabila salah satu syarat ini tidak terpenuhi maka taubatnya dianggap tidak sah.

Dan jika terkait dengan manusia, di samping syarat tersebut ada satu syarat lagi yaitu meminta maaf kepadanya.

Sebesar apapun dosa yang dilakukan jika kita sadar dan memohon ampunan Allah serta jujur kepadaNya maka Allah adalah Dzat yang Maha Pengampun dan penerima taubat.

“Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS: An Nuur (24) : 31)

Memperbanyak istighfar
Memperbanyak kalimat “astaghirulloh” aku memohon ampun kepamu ya Allah. Ungkapan yang penuh dengan kesadaran yang bersumber dari hati yang tulus. Sebagai implementasi ayat Allah, “Dan hendaklah kamu memohon ampunan kepada Tuhanmu dan bertobat kepadaNya. (QS: Hud (11) : 3)

Rasulullah Saw mengajarkan kepada kita seperti yang diungkapkan oleh Abu Hurairah Ra, “Demi Allah, aku memohon  ampun kepada Allah dan bertaubat kepadaNya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.” (HR. Bukhari).

Aghar bin Yasar al Muzani meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah dan mohonlah ampunanNya. Sungguh, aku bertaubat kepada Allah seratus kali dalam sehari.” (HR. Muslim)

Memperbanyak kebaikan
Pilihan amal kebaikan begitu banyak dan beragam, setiap kita pasti bisa melakukannya. Amalan baik seperti diinformasikan Rasulullah Saw dapat menghapus amalan buruk. Sabda Rasulullah, “Dan ikutilah perbuatan burukmu dengan perbuatan baikmu, niscaya perbuatan baik itu menghapus perbuatan buruk.” (HR. Tirmidzi)

Puncak perbuatan baik adalah berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa. Pintu kebaikan lainnya adalah menunaikan amalan wajib dengan istiqomah seperti sholat berjamaah di masjid, menunaikan zakat, berpuasa ramadhan dan haji ke baitullah.

Kemudian diikuti dengan amalan sunnah, seperti bershodaqoh, puasa sunnah, menuntut ilmu, membantu orang lain dalam kebaikan, membaca al qur’an dengan tadabbur maknanya dan ibadah sunnah lainnya.

Yang tidak kalah pentingnya adalah berakhlaq baik dalam pergaulan, dengan istri dan anak-anak, berbakti kepada kedua orang tua, menghormati tetangga, memuliakan tamu, senyum ketika bertemu dengan saudara. Semua ini termasuk penghapus keburukan yang pernah kita lakukan.

Jujur dan menjauhi dusta
Kisah diterima taubatnya tiga orang sahabat Rasulullah Saw yang tidak ikut serta dalam perang tabuk tanpa ada alas an yang dapat diterima adalah karena kejujuran dan menjauhi kedustaan. Ketika Rasulullah Saw kembali dari peperangan, semua orang munafik berdusta mencari alasan agar dapat dimaafkan Rasulullah Saw. Sedangkan ketiga orang sahabat beliau berkata jujur dan tidak berdusta sehingga kemudian Allah menerima taubat ketiganya.

“Dan terhadap tiga orang (Ka’ab bin Malik, Hilal bin Umayyah dan Mararah bin Rabi’) yang ditinggalkan. Hingga ketika bumi terasa sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah pula terasa sempit bagi mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari siksaan Allah, melainkan kepadaNya saja, kemudian Allah menerima tobat mereka agar mereka tetap dalam tobatnya. Sungguh Allah maha penerima tobat, Maha Penyayang. Wahai orangorang yang beriman. Bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar.” (QS: At Taubah (9): 118-119)

Dalam bertaubat dibutuhkan sikap jujur yang timbul dari hati lalu kemudian bersegera menuju Allah dan meninggalkan masa lalu yang kelam.

Taubat Nasuha
Bertaubat adalah memulai hidup baru dan meninggalkan masa lalu yang kotor, penuh dengan dosa, jangan membiarkan ikatan dengan dosa, jangan kembali mendekatinya. Putuskan semua ikatan atau halhal yang dapat menyebabkan kembali kepadanya. Jangan berikan ruangan dalam hati untuk mengingatnya. Tatap masa depan yang bersih, hadapi setan yang selalu meniupkan bisikan dosa, kendalikan hawa nafsu agar selaras dengan apa yang dikehendaki Allah dan RasulNya.

“Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau mendzalimi diri sendiri, segera mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya. Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosadosa selain Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui. (QS: Ali Imran (3): 135)

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu.” (QS. At Tahrim (66: 8)

Supaya tercapai taubat nasuha, maka diantara sarananya adalah menambah ilmu yang dapat mengokohkan iman, melembutkan hati dan menajamkan akal. Semua itu dapat diraih dengan lebih aktif mempelajari al Qur’an sebagai petunjuk bagi orang-orang bertakwa dan mempelajari hadis-hadis Rasulullah Saw sebagai bentuk aplikatif dari ajaran Islam.

Penutup
Kembali kepada Allah lewat taubat adalah kembali kepada Dzat yang Maha Suci, Dzat yang mencintai kesucian dan keindahan. Sebagai balasan atas kembali kepada kesucian ini telah disediakan di akhirat kelak tempat yang memuaskan, yaitu surga Allah yang penuh dengan kenikmatan, luasnya seluas langit dan bumi.

Ya Allah, terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha penerima Taubat. Amin.

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Close
Dukung Kami !!!
Klik tombol dibawah ini, Terima Kasih