Published On: Sat, Nov 2nd, 2013

Makin Akrab Dengan Kalender Hijriyah

Makin Akrab Dengan Kalender HijriyahSebentar lagi kita akan memasuki awal tahun hijriyah dan tidak lama kemudian tahun masehi, bila awal tahun masehi biasa dimulai pada setiap tanggal 1 Januari, maka awal tahun hijriah dimulai pada tanggal 1 Muharram.

Pergantiaan tahun Masehi selalu dirayakan secara meriah oleh seluruh manusia di muka bumi; dengan berbagai macam cara dan pesta meriah semalam suntuk. Berbeda dengan peringatan tahun Hijiriah yang bahkan kaum Muslimin pun tidak banyak yang akrab dengan penanggalan ini. Karena itu, sudah saatnya bagi kita mensosialisasikan lebih gencar lagi penanggalan tahun hijriah ini, sebagai momentum perubahan sebagai implementasi hijrah Rasulullah saw. dan para sahabatnya dari Mekah ke Medinah.

Hingga saat ini, kita mungkin percaya dan sudah terbiasa dalam penggunaan tahun baru masehi sebagai tahun baru yang bersifat universal dan berlaku bagi siapa saja dan dari komunitas mana saja, dan menganggap tahun baru Hijriah sebagai tahun baru khusus yang hanya berlaku bagi golongan tertentu, yaitu umat Islam. Padahal sebenarnya tidak demikian. Karena bila kita menelusuri jejak penanggalan tahun masehi, maka itu sesungguhnya kembali kepada komunitas dan budaya tertentu, yaitu budaya Romawi. Hal ini bisa dibuktikan dengan, bahwa Nama-nama bulan pada tahun Masehi ini diambil dari nama-nama dewa pada kepercayaan Romawi Kuno. Tanggal 25 Desember, yang oleh umat Kristen diyakini sebagai hari kelahiran Yesus, sebenarnya adalah hari lahir Dewa Matahari; dewa-nya Romawi Kuno. Dan entah dari mana asal muasalnya, tahun baru dihitung seminggu setelah 25 Desember ini. Tapi yang jelas, tahun baru masehi ini masih berkaitan erat dengan Dewa Matahari dan Romawi Kuno.

Dari fakta di atas menjadi jelas bagi kita bahwa sebenarnya tidak ada tahun baru yang benar-benar bersifat universal. Selama ini, kita hanya meyakini sesuatu berdasarkan kebiasaan, berdasarkan budaya dan tradisi yang telah begitu mengakar pada budaya kita. Adapun “Kesepakatan” yang terjadi sampai saat ini, bahwa tahun baru masehi merupakan tahun baru universal yang berlaku bagi siapa saja dan dari golongan mana saja, menjadi bukti bahwa budaya Romawi Kuno memiliki pengaruh sangat kuat pada peradaban dunia saat ini. Apakah kita mau mengikuti arus mainstream ini? Tidak ada larangan atau paksaan bagi siapa saja untuk mengikuti atau menolak mainstream manapun. Tapi kalau kita mengikuti sesuatu hanya karena ikut-ikutan, atau karena ketidaktahuan dan sama sekali tidak mau tahu, saya kira, kita telah mengambil keputusan yang keliru.

Penanggalan Hijriah di Nusantara
Sampai awal abad ke-20, kalender Hijriah masih dipakai oleh kerajaan-kerajaan di nusantara. Bahkan raja Karangasem, Ratu Agung Ngurah yang beragama Hindu, dalam suratsuratnya kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda Otto van Rees yang beragama Nasrani, masih menggunakan tarikh 1313 Hijriyah (1894 Masehi). Kalender Masehi baru secara resmi dipakai di seluruh Indonesia mulai tahun 1910 dengan berlakunya Wet op het Nederlandsch Onderdaanschap, hukum yang menyeragamkan seluruh rakyat Hindia Belanda.

Jenis kalender
Ada tiga jenis kalender yang dipakai umat manusia penghuni planet ini.

Pertama, kalender solar (syamsiyah, berdasarkan matahari), yang waktu satu tahunnya adalah lamanya bumi mengelilingi matahari yaitu 365 hari 5 jam 48 menit 46 detik atau 365,2422 hari.

Kedua, kalender lunar (qamariyah, berdasarkan bulan), yang waktu satu tahunnya adalah dua belas kali lamanya bulan mengelilingi bumi, yaitu 29 hari 12 jam 44 menit 3 detik (29,5306 hari = 1 bulan) dikalikan dua belas, menjadi 354 hari 8 jam 48 menit 34 detik atau 354,3672 hari.

Ketiga, kalender lunisolar, yaitu kalender lunar yang disesuaikan dengan matahari. Oleh karena kalender lunar dalam setahun 11 hari lebih cepat dari kalender solar, maka kalender lunisolar memiliki bulan interkalasi (bulan tambahan, bulan ke-13) setiap tiga tahun, agar kembali sesuai dengan perjalanan matahari.

Kalender Masehi, Iran, dan Jepang merupa kan kalender solar, sedangkan kalender Hijriah dan Jawa merupakan kalender lunar. Adapun contoh kalender lunisolar adalah kalender Imlek, Saka, Buddha, dan Yahudi.

Arab Pra-Islam
Sebelum kedatangan agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw, masyarakat Arab memakai kalender lunisolar, yaitu kalender lunar yang disesuaikan dengan matahari. Tahun baru (Ra’s as-Sanah = “Kepala Tahun”) selalu berlangsung setelah berakhirnya musim panas sekitar September. Bulan pertama dinamai Muharram, sebab pada bulan itu semua suku atau kabilah di Semenanjung Arabia sepakat untuk mengharamkan peperangan. Pada bulan Oktober daun-daun menguning sehingga bulan itu dinamai Shafar (“kuning”). Bulan November dan Desember pada musim gugur (rabi`) berturut-turut dinamai Rabi`ul-Awwal dan Rabi`ul-Akhir. Januari dan Februari adalah musim dingin (jumad atau “beku”) sehingga dinamai Jumadil-Awwal dan Jumadil-Akhir. Kemudian salju mencair (Rajab) pada bulan Maret. Bulan April di musim semi merupakan bulan Sya’ban (syi’b = lembah), saat turun ke lembah-lembah untuk mengolah lahan pertanian atau menggembala ternak. Pada bulan Mei suhu mulai membakar kulit, lalu suhu meningkat pada bulan Juni. Itulah bulan Ramadan (“pembakaran”) dan Syawwal (“peningkatan”). Bulan Juli merupakan puncak musim panas yang membuat orang lebih senang istirahat duduk di rumah daripada bepergian, sehingga bulan ini dinamai Dzul-Qa`dah (qa`id = duduk). Akhirnya, Agustus dinamai Dzul-Hijjah, sebab pada bulan itu masyarakat Arab menunaikan ibadah haji ajaran nenek moyang mereka, Nabi Ibrahim a.s.

Setelah masyarakat Arab memeluk agama Islam dan bersatu di bawah pimpinan Nabi Muhammad s.a.w., maka turunlah perintah Allah SWT agar umat Islam memakai kalender lunar yang murni dengan menghilangkan bulan nasi’. Hal ini tercantum dalam kitab suci Alqur’an Surat at-Taubah ayat 36 dan 37. Dengan turunnya wahyu Allah di atas, Nabi Muhammad saw mengeluarkan dekrit bahwa kalender Islam tidak lagi bergantung kepada perjalanan matahari. Meskipun nama-nama bulan dari Muharam sampai Dzul-Hijjah tetap digunakan karena sudah populer pemakaiannya, bulan-bulan tersebut bergeser setiap tahun dari musim ke musim, sehingga Ramadan (“pembakaran”) tidak selalu pada musim panas dan Jumadil-Awwal (“beku pertama”) tidak selalu pada musim dingin.

Perhitungan Tahun Hijriah
Pada masa Nabi Muhammad saw., penyebutan tahun berdasarkan suatu peristiwa yang dianggap penting pada tahun tersebut. Misalnya, Nabi Muhammad saw. lahir tanggal 12 Rabi‘ul-Awwal Tahun Gajah (‘Am al-Fil), sebab pada tahun tersebut pasukan bergajah, raja Abrahah dari Yaman berniat menyerang Ka’bah.

Ketika Nabi Muhammad saw wafat tahun 632, kekuasaan Islam baru meliputi Semenanjung Arabia. Tetapi pada masa Khalifah Umar ibn Khattab (634-644) kekuasaan Islam meluas dari Mesir sampai Persia. Pada tahun 638, Gubernur Irak Abu Musa al-Asy‘ari berkirim surat kepada Khalifah Umar di Madinah, yang isinya antara lain: “Surat-surat kita memiliki tanggal dan bulan, tetapi tidak berangka tahun. Sudah saatnya umat Islam membuat tarikh sendiri dalam perhitungan tahun.”

Khalifah Umar ibn Khattab menyetujui usul gubernurnya ini. Terbentuklah panitia yang diketuai Khalifah Umar sendiri dengan anggota enam Sahabat Nabi terkemuka, yaitu Utsman ibn Affan, Ali ibn Abi Talib, Abdurrahman ibn Auf, Sa‘ad ibn Abi Waqqas, Talhah ibn Ubaidillah, dan Zubair ibn Awwam. Mereka bermusyawarah untuk menentukan Tahun Satu dari kalender yang selama ini digunakan tanpa angka tahun. Ada yang mengusulkan perhitungan dari tahun kelahiran Nabi (‘Am al-Fil, 571 M), dan ada pula yang mengusulkan tahun turunnya wahyu Allah yang pertama (‘Am al-Bi’tsah, 610 M). Tetapi akhirnya yang disepakati panitia adalah usul dari Ali ibn Abi Talib, yaitu tahun berhijrahnya kaum Muslimin dari Mekah ke Madinah (‘Am al-Hijrah, 622 M).

Ali ibn Abi Talib mengemukakan tiga argumentasi.

Pertama, dalam Alquran sangat banyak penghargaan Allah Ta’ala bagi orang-orang yang berhijrah (al-ladzina hajaru).

Kedua, masyarakat Islam yang berdaulat dan mandiri baru terwujud setelah hijrah ke Madinah. Ketiga, umat Islam sepanjang zaman diharapkan selalu memiliki semangat hijriah, yaitu jiwa dinamis yang tidak terpaku pada satu keadaan dan ingin berhijrah kepada kondisi yang lebih baik.

Maka Khalifah Umar ibn Khattab mengeluarkan keputusan bahwa tahun hijrah Nabi adalah Tahun Satu, dan sejak saat itu kalender umat Islam disebut Tarikh Hijriah. Tanggal 1 Muharram 1 Hijriah bertepatan dengan 16 Tammuz 622 Rumi (16 Juli 622 Masehi). Tahun keluarnya keputusan Khalifah itu (638 M) langsung ditetapkan sebagai tahun 17 Hijriyah. Dokumen tertulis bertarikh Hijriah yang paling awal (mencantumkan Sanah 17 = Tahun 17) adalah Maklumat Keamanan dan Kebebasan Beragama dari Khalifah Umar ibn Khattab kepada seluruh penduduk Kota Aelia (Jerusalem) yang baru saja dibebaskan laskar Islam dari penjajahan Romawi.

Sistem Kalender Hijriah dari Muharram sampai Dzulhijjah, setiap bulan 30 atau 29 hari sehingga 354 hari setahun. Dalam setiap siklus 30 tahun, 11 tahun adalah kabisat (Dzul-Hijjah dijadikan 30 hari), yaitu tahun-tahun ke-2, 5, 7, 10, 13, 16, 18, 21, 24, 26 dan 29. Pada tanggal 31 Januari 2006, kita memulai tahun baru 1 Muharram 1427 Hijriyah, tahun ke-17 dalam siklus 1411-1440. Oleh karena peredaran bulan adalah sesuatu yang eksak, maka awal 11 puasa dan Idul fitri pada masa mendatang sudah dapat dihitung secara ilmiah! Setiap 32 atau 33 tahun, dalam satu tahun Masehi terjadi dua kali Idulfitri (awal Januari dan akhir Desember) seperti pada tahun 2000 yang lalu. Idulfitri berdekatan dengan Tahun Baru Masehi. Fenomena ini pernah terjadi pada tahun 1870, 1903, 1935, 1968, dan akan berlangsung lagi tahun 2033, 2065, 2098, 2130, dan seterusnya.

Konversi tahun Hijriyah ke tahun Masehi atau sebaliknya dapat dilakukan dengan memakai rumus: M = 32/33 H + 622 H = 33/32 ( M – 622 ) Kalender Hijriah setiap tahun 11 hari lebih cepat dari kalender Masehi, sehingga selisih angka tahun dari kedua kalender ini lambat laun makin mengecil.

Angka tahun Hijriah pelan-pelan ‘mengejar’ angka tahun Masehi, dan menurut rumus di atas keduanya akan bertemu pada tahun 20526 Masehi yang bertepatan dengan tahun 20526 Hijriah. Saat itu kita entah sudah berada di mana. “Demi waktu! Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian…” demikian pesan suci Alqur’an dalam surat al-Ashr. Semoga pada tahun baru Hijriah ini kita dapat lebih baik dari tahun sebelumnya, kita lebih akrab lagi dengan tahun baru Islam dan secara perlahan-lahan menjadikannya sebagai tanggalan universal yang tidak hanya digunakan oleh umat Islam, tapi seluruh manusia di jagat raya ini. Amin.

Latest posts by admin (see all)

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Close
Dukung Kami !!!
Klik tombol dibawah ini, Terima Kasih