Published On: Fri, Nov 22nd, 2013

Sejarah Yahudi & Israel’

Sejarah Yahudi & Israel’Kalimat  Pembuka
Seperti telah diketahui, semua tanah Palestina, khususnya Yerusalem, adalah suci untuk orang-orang Yahudi, Nasrani, dan Muslim. Alasannya adalah karena sebagian besar nabi-nabi Allah yang diutus untuk memperingatkan manusia menghabiskan sebagian atau seluruh kehidupannya di tanah ini.

Legetimasi dari masing-masing tiga agama inilah yang kemudian memunculkan konflik horizontal. Di sinilah perlu dijelaskan secara obyektif tentang asal usul bangsa Yahudi dan sekaligus tanah suci palestina.

Landasan Syar’i
”Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.” (al-Baqarah: 132)

Inti Gagasan
Menurut studi sejarah yang didasarkan atas penggalian arkeologi dan lembaran-lembaran kitab suci, Nabi Ibrahim, putranya, dan sejumlah kecil manusia yang mengikutinya pertama kali pindah ke Palestina, yang dikenal kemudian sebagai Kanaan, pada abad kesembilan belas sebelum Masehi. Tafsir Al-Qur’an menunjukkan bahwa Ibrahim (Abraham) AS, diperkirakan tinggal di daerah Palestina yang dikenal saat ini sebagai Al-Khalil (Hebron), tinggal di sana bersama Nabi Luth (Lot). Al-Qur’an menyebutkan perpindahan ini sebagai berikut:

Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”, mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. Dan Kami seIamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia.” (Qur’an, 21:69-71)

Daerah ini, yang digambarkan sebagai “tanah yang telah Kami berkati,” diterangkan dalam berbagai keterangan Al-Qur’an yang mengacu kepada tanah Palestina. Sebelum Ibrahim AS, bangsa Kanaan (Palestina) tadinya adalah penyembah berhala. Ibrahim meyakinkan mereka untuk meninggalkan kekafirannya dan mengakui satu Tuhan. Menurut sumber-sumber sejarah, beliau mendirikan rumah untuk istrinya Hajar dan putranya Isma’il (Ishmael) di Mekah dan sekitarnya, sementara istrinya yang lain Sarah, dan putra keduanya Ishaq (Isaac) tetap di Kanaan. Seperti itu pulalah, Al-Qur’an menyebutkan bahwa Nabi Ibrahim mendirikan rumah untuk beberapa putranya di sekitar Baitul Haram, yang menurut penjelasan Al-Qur’an bertempat di lembah Mekah.

Akan tetapi, putra Ishaq Ya’kub (Jacob) pindah ke Mesir selama putranya Yusuf (Joseph) diberi tugas kenegaraan. (Putra-putra Ya’kub juga dikenang sebagai “Bani Israil.”) Setelah dibebaskannya Yusuf dari penjara dan penunjukan dirinya sebagai kepala bendahara Mesir, Bani Israel hidup dengan damai dan aman di Mesir.

Suatu kali, keadaan mereka berubah setelah berlalunya waktu, dan Firaun memperlakukan mereka dengan kekejaman yang dahsyat. Allah menjadikan Musa (Moses) nabi-Nya selama masa itu, dan memerintahkannya untuk membawa mereka keluar dari Mesir. Ia pergi ke Firaun, memintanya untuk meninggalkan keyakinan kafirnya dan menyerahkan diri kepada Allah, dan membebaskan Bani Israil yang disebut juga orang-orang Israel. Namun Firaun seorang tiran yang kejam dan bengis. Ia memperbudak Bani Israil, mempekerjakan mereka hingga hampir mati, dan kemudian memerintahkan dibunuhnya anak-anak lelaki. Meneruskan kekejamannya, ia memberi tanggapan penuh kebencian kepada Musa. Untuk mencegah pengikut-pengikutnya, yang sebenarnya adalah tukang-tukang sihirnya dari mempercayai Musa, ia mengancam memenggal tangan dan kakinya secara bersilangan.

Meskipun Firaun menolak permintaannya, Musa AS dan kaumnya meninggalkan Mesir, dengan pertolongan mukjizat Allah, sekitar tahun 1250 SM. Mereka tinggal di Semenanjung Sinai dan timur Kanaan. Dalam Al-Qur’an, Musa memerintahkan Bani Israil untuk memasuki Kanaan  (Al-Maidah : 21)

Setelah Musa AS, bangsa Israel tetap berdiam di Kanaan (Palestina). Menurut ahli sejarah, Daud (David) menjadi raja Israel dan membangun sebuah kerajaan berpengaruh. Selama pemerintahan putranya Sulaiman (Solomon), batas-batas Israel diperluas dari Sungai Nil di selatan hingga sungai Eufrat di negara Siria sekarang di utara. Ini adalah sebuah masa gemilang bagi kerajaan Israel dalam banyak bidang, terutama arsitektur. Di Yerusalem, Sulaiman membangun sebuah istana dan biara yang luar biasa. Setelah wafatnya, Allah mengutus banyak lagi nabi kepada Bani Israil meskipun dalam banyak hal mereka tidak mendengarkan mereka dan mengkhianati Allah.

Karena kemerosotan akhlaknya, kerajaan Israel mulai memudar dan ditempati oleh berbagai orang-orang penyembah berhala, dan bangsa Israel, yang juga dikenal sebagai Yahudi pada saat itu, diperbudak kembali. Ketika Palestina dikuasai oleh Kerajaaan Romawi, Nabi ‘Isa (Jesus) AS datang dan sekali lagi mengajak Bani Israel untuk meninggalkan kesombongannya, takhayulnya, dan pengkhianatannya, dan hidup menurut agama Allah. Sangat sedikit orang Yahudi yang meyakininya; sebagian besar Bani Israel mengingkarinya. Dan, seperti disebutkan Al-Qur’an, mereka itu yang: “: telah dila’nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan ‘Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. (Al-Qur’an, 5:78) Setelah berlalunya waktu, Allah mempertemukan orang-orang Yahudi dengan bangsa Romawi, yang mengusir mereka semua keluar dari Palestina.

Tujuan penjelasan yang panjang lebar ini adalah untuk menunjukkan pendapat dasar Zionis bahwa “Palestina adalah tanah Allah yang dijanjikan untuk orang-orang Yahudi” tidaklah benar. .

Zionisme menerjemahkan pandangan tentang “orang-orang terpilih” dan “tanah terjanji” dari sudut pandang kebangsaannya. Menurut pernyataan ini, setiap orang yang berasal dari Yahudi itu “terpilih” dan memiliki “tanah terjanji.” Padahal, ras tidak ada nilainya dalam pandangan Allah, karena yang penting adalah ketakwaan dan keimanan seseorang. Dalam pandangan Allah, orang-orang terpilih adalah orang-orang yang tetap mengikuti agama Ibrahim, tanpa memandang rasnya.

Al-Qur’an juga menekankan kenyataan ini. Allah menyatakan bahwa warisan Ibrahim bukanlah orang-orang Yahudi yang bangga sebagai “anak-anak Ibrahim,” melainkan orang-orang Islam yang hidup menurut agama ini:

“Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman.” (Qur’an, 3:68)

Pembentukan Negara ‘Israel
Sejak abad ke-16, orang-orang Yahudi mulai bergerak mencari tanah air bagi bangsanya sambil meminta dukungan penuh dari negara-negara Eropa untuk mendukung rencana tersebut. Upaya yang paling populer adalah apa yang pernah dilakukan oleh Theodore Hertzel (tokoh Zionis internasional) mengumpulkan orang-orang Yahudi pada tahun 1897 dalam kongres Basel di Swiss. Di sana mereka mengumumkan akan pendirian tanah air bangsa mereka. Kemudian mereka mulai mencari tanah (tempat) yang cocok bagi bangsa ini. Dan pada tahun 1905, dalam kongres Zionis kelima, mereka menentukan pilihannya kepada tanah Palestina.

Pada masa itu juga, orang-orang Eropa mencari formulasi bagaimana memperpanjang usia peradabannya. Maka para ilmuwan mereka berkumpul pada tahun 1905-1907 dalam sebuah kongres Bannerman di London, Inggris. Dalam kata sambutannya, C. Bannerman mengatakan:”Peradaban Eropa terancam punah, untuk itu dalam konferensi kali ini kita akan mencari cara yang efektif agar peradaban itu tidak punah ditelan masa.”

Konferensi itu akhirnya mengeluarkan keputusan yang isinya adalah rencana kerja sama untuk mencegah munculnya persatuan negara-negara Timur dengan Arab. Dan cara yang paling efektif untuk itu adalah dengan membentuk institusi nasionalis barat yang berada di bagian timur Terusan Suez dan menjadi sekutu bagi negara-negara Eropa (negara pembatas).

Dengan begitu, kepentingan-kepentingan Zionis-Salibis bertemu pada sasaran yang sama.

Tahun 1916 terjadi perundingan Sykes Picot antara Inggris, Perancis dan sejumlah negara penjajah lainnya. Salah satu point perjanjian itu adalah soal Palestina, “Palestina adalah negara yang sifatnya komisariat (perwakilan) yang bertanggungjawab tentang situasi negara, baik yang sifatnya politik, pemerintahan dan ekonomi, yang menjamin berdirinya tanah air bangsa Yahudi,” demikian bunyi salah satu isi perjanjian tersebut.

Tanggal 2 November 1917 keluarlah deklarasi Balfour, yang isinya:”Pemerintahan Raja yang terhormat memandang perlu mendirikan tanah air di Palestina untuk bangsa Yahudi.” Perjanjian itu sendiri ditanda-tangani sebelum penjajahan atas kota Al-Quds (Jerusalem) pada bulan Desember 1917.

Dalam memonya, Balfour mengatakan:”Bagi orang Palestina, kami tidak perlu meminta masukan (tidak perlu musyawarah) dari penduduk asli negeri ini (Palestina). Empat kekuatan besar dunia (saat itu, Inggris, Perancis, Amerika dan Rusia) telah menyatakan komitmen untuk mendukung Zionisme. Baik faham ini benar atau salah, baik ia baik atau jelek sebab ia sudah mengakar dalam ideologi agama, kebutuhan masa kini dan harapan masa depan. Faham ini lebih agung dibandingkan dengan kegelapan dan kepentingan 700.000 bangsa Arab yang sekarang ini tinggal negeri kuno ini.”[1]

Setelah Deklarasi Balfour, gerakan Zionisme mulai mendorong migrasi kaum Yahudi ke Palestina. Sesuai keputusan konferensi Zionisme internasional pertama di Basel tahun 1897 gerakan migrasi dan penguasaan tanah Palestina dilakukan dengan cara-cara, pertama, pembelian tanah orang Arab-Palestina secara besar-besaran untuk membangun pemukiman Yahudi. Dana untuk pembelian tanah dari orang Arab-Palestina cukup besar, tapi ternyata animo orang Yahudi untuk berimigrasi ke Palestina sangat rendah. Untuk memaksa orang Yahudi berimigrasi, kaum Zionis terpaksa melakukan tindakan kedua, yaitu melakukan terror-gelap terhadap orang-orang Yahudi sendiri di Eropa, untuk memaksa mereka mau ber-exodus ke Palestina; ketiga, selain itu kaum Zionis juga melakukan embargo terhadap pemukiman Arab-Palestina dengan menutup jalur suplai kebutuhan sehari-hari dan kadangkala dengan cara-cara intimidasi, sehingga mereka jatuh miskin dan terpaksa atau dipaksa menjual tanah atau berpindah tempat meninggalkan kampung halaman mereka; keempat, disamping itu gerombolan-gerombolan teroris Zionis seperti Haganah, Stern Gang, Bachnach, Irgun Levi L’ummi dan sebagainya, secara terus menerus melakukan terror dan pembunuhan gelap terhadap orang Arab-Palestina untuk memaksa mereka meninggalkan tanah dan tempat tinggalnya. Tindakan itu dilakukan sejak tahun 1920 sampai dengan sekarang; dan yang terakhir, kelima, membangun kepemimpinan orang Yahudi di Palestina di bidang ekonomi dan politik.

Pada tanggal 22 Juli 1922 Liga Bangsa-Bangsa (League of Nations) menetapkan Palestina sebagai wilayah ‘mandat’ bagi Inggris. Selanjutnya sesudah PD II Majelis Umum PBB (United Nations) memutuskan Palestina dibagi dua menjadi wilayah Israel di barat dan wilayah Trans-Yordania di timur. Para pemimpin Zionis kecewa sekali, karena wilayah negara Yahudi yang dipahami oleh kaum Zionis adalah dari sungai Nil sampai sungai Eufrat, sekurang-kurangnya seluruh Palestina. Karena kekecewaan itu mereka memutuskan mengangkat senjata dengan melakukan gerakan teror terhadap kepentingan Inggris di Palestina untuk memproklamasikan negara Zionis Israel pada tanggal 14 Mei 1948 pukul 4 sore (waktu setempat) ketika mandat Inggris berakhir di Palestina. David Ben-Gurion, perdana menteri Israel pertama menyatakan ‘perang kemerdekaan’ dan bertekad untuk merebut kembali tanah Israel yang ditetapkan oleh Konferensi Perdamaian Versailes 1919. “Kita harus menyerang di semua lini. Tidak hanya sebatas wilayah Palestina, atau wilayah Israel semata.” [2]  Tindakan teror yang paling kejam adalah membunuh dan membantai wanita dan anak-anak Palestina di Dier Yasin, kota Al-Quds (Jerusalem) pada tanggal 9 April 1948 yang menewaskan lebih dari 360 warga Palestina. Operasi ini langsung dibawah komando langsung Menachem Begin, kepala geng Yahudi ‘Irgun’.

Sifat-sifat Bani Israil
Bani Israil mempunyai sifat-sifat buruk. Diantaranya adalah :

1. Sombong
Bani Israil mempunyai sifat sombong disebabkan mereka merasa sebagai manusia pilihan. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah, “Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami  ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya….” (al-Maidah: 18)

Kenikmatan dan kemuliaan yang dianugerahkan Allah SWT ternyata disalah- gunakan oleh Bani Israil. Mereka menjadi  ujub(bangga pada diri sendiri) dan congkak sehingga  memandang rendah kepada manusia lainnya. Allah  SWT sangat murka terhadap sikap tersebut, dan Dia  memberikan jawaban-Nya dalam kelanjutan ayat tersebut, “… Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya….” (al-Maidah: 18)

Jawaban Allah tersebut sekaligus membantah bahwa Bani Israil adalah manusia istimewa yang mendapatkan hak-hak khusus dari Allah SWT.  Perlakuan Allah SWT kepada mereka tetap sama seperti manusia lainnya. Bila mereka bersalah dan berbuat kejahatan,  maka azab Allah tetap ditimpakan kepada mereka.

2. Menyalahgunakan Ilmu
Allah SWT telah memberikan berbagai macam ilmu kepada Bani Israil.  Akan tetapi, mereka menyalahgunakannya. Ilmu yang ada tidak dimanfaatkan untuk kepentingan agama. Mereka bahkan menjadi takabur dan membangga-banggakan dirinya sendiri. Banyaknya kaum ulama atau ilmuwan dari golongan Bani Israil diterangkan Allah dalam Al-Quran  sebagai berikut

“Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa ulama Bani Israil mengetahuinya.” (asy-Syu’ara:197)

3. Suka Megingkari Janji
Bani Israil adalah gambaran satu kaum yang tidak konsisten  terhadap keyakinannya. Mereka bersikap seperti itu sejak dahulu hingga sekarang. Setelah selamat dari pengejaran Fir’aun, mereka seharusnya beriman kepada Musa as. dan Harun as.. Namun, mereka bersikap sebaliknya. Sifat dan sikap Yahudi itu juga tercatat dalam sejarah Islam, yaitu saat  Nabi  Muhammad saw. mengadakan perjanjian dengan tiga golongan Yahudi: Bani Qainuqa, Bani Nadhir, dan Bani Quraidzah.  Perjanjian ini mula-mula dirusak oleh  Bani Qainuqa.  Mereka  membuat keonaran, hasutan-hasutan, dan provokasi di kalangan penduduk Madinah. Peristiwa ini juga kita saksikan sekarang,  yakni dalam sederet perjanjian antara Yahudi dengan pihak Palestina.

Kalimat Penutup
Sejarah telah mengajarkan kepada kita tentang kesombongan, penghianatan orang-orang Yahudi di masa lalu dan  sekarang. Karena kaidah sejarah mengatakan, sejarah akan mengulangi dirinya. Di sinilah setiap muslim harus senantiasa mewaspadai bentuk makar orang-orang Yahudi sekecil apapun makar itu.  Perjuangan multi dimensi melawan bangsa Yahudi adalah perjuangan yang harus dilakukan oleh seluruh keluarga besar kaum muslimin di dunia. Karena tangan-tangan mereka tidak hanya mengotori dan menodai negeri palestin akan tetapi mereka jugalah yang mendengungkan bentuk invasi pemikiran selain invasi negara.



[2] . Zionisme, gerakan menaklukkan dunia, Z.A. Maulani, hal; 30-34.

Latest posts by admin (see all)

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Close
Dukung Kami !!!
Klik tombol dibawah ini, Terima Kasih