Published On: Thu, Sep 25th, 2014

Tantangan Untuk Intelektual Muslim; Antara Liberal dan Literal; Pilih Mana?

Share This
Tags

liberal-literalPerdebatan tentang metode unggulan dalam interpretasi al-Qur’an termasuk dominan dalam sejarah tafsir. Metode tafsîr bi al-ma’tsûr dan tafsîr bi al-ra’yi merupakan dua metode yang saling melengkapi dan dianggap ideal dalam mendekati makna al-Qur’an. Kedua metode inilah yang sering digunakan oleh para mufassir dalam aktifitas penafsiran mereka.

Kecendrungan untuk mengunggulkan salah satu metode hanyalah terkait dengan ilmu yang dikuasai seorang mufassir. Oleh karenanya, ulama berusaha menyusun kriteria ilmu yang seharusnya dimiliki oleh orang-orang yang hendak memasuki gerbang penafsiran. Kriteria ilmu yang ditetapkan itu ada yang berkategori utama, seperti ilmu-ilmu al-Qur’an dan hadits (Tafsir al-Qur’an dengan al-Qur’an, al-Qur’an dengan Hadits, al-Qur’an dengan pendapat sahabat, al-Qur’an dengan pendapat tatbi’in), ada pula yang berkategori pelengkap seperti, ilmu bahasa dengan berbagai cabangnya, ilmu qira’at, ilmu ushuluddin, Ilmu Fiqh, ilmu Ushul fiqhi dan lainnya

Bagi penafsir yang terampil dalam ilmu-ilmu utama secara mendalam maka penafsiran yang dilakukan terhadap al-Qur’an akan bercorak salaf. Dengan demikian, tafsir mereka tampak mengarah kepada metode ma’tsûr. Tipe yang mewakili kecendrungan ini adalah Ibnu Jarîr al-Tabarî (224 H.) dan Ibnu Katsîr (700 H). Demikian pula intelektual yang meiliki keunggulan dalam ilmu yang berkategori pelengkap, kesan yang tampil adalah kecenderungan kepada tafsîr bi al-ra’yi dalam elaborasi tafsirnya. Tipe ini diwakili oleh Fakhruddîn al-Razî (544 H) pada zaman pertengahan Islam dan Tantawi al-Jauhari (1287 H) dan Muhammad Abduh (1849 M) pada zaman modern.

Brangkat dari sisi ini, seorang mufassir bisa dikategorikan cenderung kepada salah satu metode tafsir dari dua metode yang ada, metode ma’tsûr atau metode ra’yi. Walaupun sebenarnya tidak ada mufassir yang membatasi diri secara ketat dalam satu metode tanpa melibatkan metode lain, walaupun sangat terbatas adanya. Sehingga bisa dipastikan bahwa tafsir yang ditulis oleh seorang mufassir hanya lebih menekankan salah satu metode dibanding metode lainnya.

Demikian pula yang terjadi pada Ibnu Taimiyah (661 H – 749 H), seorang yang terkenal dengan metode ma’tsûr dalam menafsirkan al-Qur’an. Konsistensi beliau dalam menegaskan tafsir bi al-ma’tsûr, sebagaimana dalam kitab Majmu‘ Fatawa mengesankan seolah beliau menentang tafsîr bi al-ra’yi. Kesan ini tampaknya, secara sekilas, nyata dalam kaedah teoritis penafsiran al-Qur’an yang dituangkan dalam kitabnya, Muqaddimah fî Ushûl al-Tafsîr. Sikap ini kemudian berefek pada anggapan bahwa Ibnu Taimiyah anti terhadap tafsîr bi al-ra’yi. Padahal, Ibnu Taimiyah sesungguhnya tidak mengharamkan tafsîr bi al-ra’yi secara mutlak, tetapi dia hanya mengharamkan seseorang menafsirkan al-Qur’an berdasarkan rasio semata (ra’yi mujarrad).

Berdasarkan hasil penelitian Sabri Mutawalli (1981 M), teori penafsiran yang dikembangkan Ibnu Taimiyah dalam Muqaddimah Fî Ushûl Tafsîr memang secara nyata menegaskan, tafsîr bi al-ma’tsûr. Tetapi penelitian baru mengungkap bahwa sumbangan besar yang dihasilkan Ibnu Taimiyah dalam memperaktekan teori yang dikembangkannya adalah terletak pada sisi rasional. Peranan Ibnu Taimiyah dari sisi inilah yang menobatkannya sebagai lokomotif (imam) dalam mazhab Ahlu Sunnah pada umumnya dan yang menjadi titik distingsinya (perbedaan atau spesifikasi) dengan para pemikir salaf sebelum dan sesudahnya. Bahkan hal itu pula yang membedakan tafsirnya dibanding metode tafsîr bi al-ma’tsûr lainnya. Ini pula yang menjadi alasan kenapa Ibnu Taimiyah sering disebut memiliki metode tersendiri pada setiap ilmu yang digeluti, termasuk dalam penafsiran.

Membatasi diri dengan metode ma’tsûr –walaupun itu adalah metode tafsir yang sangat mulia kedudukannya- membuat penafsiran hanya merupakan pengulangan antara pendahulu dengan penafsir yang datang belakangan. Bahkan, metode demikian (mengangkat dalil–dalil dari al-Qur’an dan Sunnah serta Atsar) hanya bermanfaat bagi orang-orang yang kosong akalnya dari pemikiran yang menyimpang. Teks (nash) yang ada siap disajikan bagi siapa pun yang hendak membacanya, tetapi terdapat perbedaan yang sangat jauh antara orang yang memiliki pemahaman yang lurus dengan orang yang salah memahami teks dan menyikapi teks.

Bagi Sabri, di antara pemerhati pemikiran Islam, terdapat komunitas yang memiliki kecerdasan dan kebersihan hati. Di sisi lain, terdapat pula komunitas yang dianggap mengidap penyakit keilmuan yang membuat mereka berusaha mencekik leher teks-teks agama agar bisa berpihak kepada tujuan dan dasar-dasar pemikiran yang mereka anut. Kelompok kedua inilah yang menjadi sorotan utama ilmuan seperti Ibnu Taimiyah. Pada posisi demikian, apa pun yang dilakukan tidaklah bermanfaat kecuali berusaha membenturkan antara hujjah dengan hujjah dan dalil dengan dalil. Pada kondisi seperti ini tidaklah cukup hanya menggelar berbagai ayat, hadits dan atsar yang ada, apalagi terhadap komunitas yang berhiaskan dengan keyakinan-keyakinan yang menyimpang. Tetapi lebih dari itu, ilmuan harus berusaha mencopot pemahaman yang salah tersebut dengan kemampuan rasional, lalu kemudian menginternalisasikan ilmu yang benar kepada mereka. Inilah sesungguhnya tugas utama seorang penafsir terhadap ayat-ayat al-Qur’an .

Dalam pemikiran Ibnu Taimiyah, akal adalah pengetahuan dasar yang diterapkan oleh seseorang dalam hidupnya. Kata ini sering digunakan secara mutlak terhadap garîzah manusia yang digunakan untuk mengetahui dan membedakan antara sesuatu yang bermanfaat dan hal yang berbahaya. Ibnu Taimiyah menulis, “Di antara ahli, ada yang berpendapat, akal adalah ilmu yang mendasar, dan diantara mereka ada pula yang mengatakan, akal adalah mengamalkan tuntunan ilmu-ilmu dasar tesebut. Yang benar adalah, pengertian akal mencakup kategori dan kedua sekaligus. Bahkan kata akal terkadang menunjukkan garîzah yang terdapat pada diri manusia. Dengan garîzah itu, manusia bisa mengetahuai, membedakan dan menghendaki apa yang bermanfaat dan menghindari apa yang berbahaya.”

Bagi Ibnu Taimiyah, jika akal terbebas dari berbagai kerancuan (syubhat dan syhbat) maka rasio bisa menjadi standar dalam menerima apa-apa yang ada. Dengan akal itu, manusia bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Dan di antara karakter akal yang paling menonjol adalah kemampuannya mengetahui hal-hal yang serupa dan hal-hal yang berbeda. Jika akal melihat dua hal yang serupa maka ia mengetahui bahwa hal ini sama dengan hal itu sehingga menghukuminya dengan satu hukum yang sama. Hanya saja, menurut Ibnu Taimiyah, cahaya akal tidaklah bisa menemukan kebenaran secara mandiri kecuali dengan bantuan cahaya lain yang ikut menyertainya, yaitu cahaya risâlah. Akal bagaikan mata yang tidak dapat melihat kecuali dengan bantuan cahaya.

Dalam konsep Ibnu Taimiyah, dalil rasional terbagai dua: ada dalil rasional yang bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah dan ada pula dalil rasio murni yang tidak bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah. Dengan pembagian teori demikian, Ibnu Taimiyah tidak melihat adanya pertentangan antara dalil naqlî (teks-teks agama dan dalil aqlî. (ilmu pengetahuan).

Muhammad Sayyid al-Julainid (1973) melihat bahwa antara Ibnu Taimiyah, filosof muslim dan ahli kalam terdapat orientasi berbeda dalam usaha mengintegrasikan wahyu dan akal. Bagi filosof dan ahli kalam, landasan mereka dalam integrasi wahyu dan rasio yaitu, jika wahyu bertentangan dengan akal maka akal dipriorotaskan dan diutamakan daripada wahyu. Sedang proses integrasinya sendiri menggunakan ta’wil sebagai sarana penting. Sementara Ibnu Taimiyah berusaha menjabarkan masalah ini lebih spesifik dengan membedakan antara akal sharîh dengan akal yang mengandung syubhat yang merusak, yang terkadang hinggap pada akal sehingga tidak bisa mengetahui kebenaran apa adanya. Bahkan, Ibnu Taimiyah dengan manhajnya berkesimpulan bahwa tidak ada hal yang masuk akal secara sharîh (mutlak) yang mungkin bertentangan secara diametral dengan dalil naql yang shahîh (Teks-teks agama yang bersifat mutlak). Sehingga, dalam pemikiran Ibnu Taimiyah, ta’wil bukanlah suatu keharusan untuk menyelaraskan antara wahyu dengan akal. Sikap ini, menurut al-Julainid, bertentangan dengan metode para filosof dan ahli kalam.

Untuk lebih jelasnya, terdapat qânûn (prinsip dan langkah-langkah kerja) untuk membangun relasi dan menjembatani pertentangan antara tafsîr bi al-ma’tsûr dengan tafsîr bi al-ra’yi al-mahmûd yang sedang dipresentasikan Ibnu Taimiyah dalam prinsip dan aktivitas tafsirnya, sebagai berikut :

  • Antara dalil rasional qath’î (pasti) dan dalil naqli qath’î (pasti)
  • Salah satu bersifat qath’î (pasti) dan yang lain bersifat zhannî (belum pasti)
  • Kedua-duanya zhannî.

kemungkinan pertama tentu tidak boleh adanya pertentangan. Sedang yang kedua, tentu yang qath’î (tesis) lebih diutamakan dibanding yang zhannî (hipotesis)). Dan, ketiga, jika ada kemungkinan menggabungkan keduanya maka tentu hal itu mutlak dilakukan. Tetapi jika tidak, maka tafsîr ma’tsûr dari Nabi harus didahulukan jika jalurnya shahîh, demikian pula atsar sahabat jika jalurnya shahîh. Karena informasi yang benar penisbatannya kepada kalangan sahabat dalam penafsiran lebih bisa diterima oleh jiwa karena adanya kemungkinan mereka mendengarnya secara langsung dari Rasulullah saw.

Dengan demikian, Ibnu Taimiyah tidak meragukan ilmu yang dihasilkan oleh akal, walaupun tetap memandangnya nisbi(relatif). Ibnu Taimiyah hanya meragukan akurasi kesimpulan akal yang bertentangan dengan sumber lain yang lebih otoritatif (wahyu yang telah pasti kandungannya). Menerima pengetahuan raional tetap penitng dalam pemikiran Ibnu Taimiyah, tetapi dengan syarat tidak adanya pertentangan dengan sumber lain yang lebih kuat; baik sumber itu adalah rasio sendiri ataupun dalil naqli. Jadi, pada waktu yang bersamaan, Ibnu Taimiyah tidak percaya begitu saja terhadap kesimpulan rasio dan tidak pula meragukannya secara mutlak. Rasio tetaplah merupakan salah satu jalur ilmu yang benar dalam manhajnya. Hanya saja rasio bukanlah satu-satunya jalan dan sumber independen untuk memperoleh keyakinan secara mutlak. Oleh karenanya, rasio harus mendapatkan arahan dan petunjuk dari sumber lain.

Posisi rasio seperti di atas itulah yang hendak diungkap dari tafsir Ibnu Taimiyah sehingga tampak bahwa sesungguhnya dia telah menggabungkan antara tafsîr bi al- ma’tsûr dan tafsîr bi al-ra’yi al-mahmûd tanpa harus menggunakan ta’wil secara berlebihan sebagai alat untuk mendamaikan pertentangan antara wahyu dan rasio, sebagaimanan kecendrungan umum dalam hal ini. Karena memang dalam pemikiran Ibnu Taimiyah tidak ditemukan adanya masalah antara wahyu dan akal yang harus diseselesaikan dengan metode ta’wil. Karena Ibnu Taimiyah memandang, wahyu mengandung argumentasi rasional yang lebih jelas dibanding argumentasi rasional kalangan ahli kalam dan filosof muslim ketika berasumsi akan adanya silang pendapat antara rasio dengan wahyu itu. Kesimpulan ini diharapkan nantinya memberikan kontribusi penting dalam meluruskan pemahaman bahwa Ibnu Taimiyah dalam membela pemahaman salaf tidaklah meninggalkan rasio dan semua produk intelektualitasnya. Bahkan, sebaliknya bisa dikatakan beliaulah yang berperan besar mengintegrasikan wahyu dan rasio dalam satu kesatuan yang utuh, tanpa mengorbankan salah satu diantaranya atas nama rasio semata. Dan, juga membuktikan bahwa Ibnu Taimiyah telah membuka metode panafsiran baru yang memadukan dua metode yang telah ada; ma’tsur dan ra‘yi dengan cara yang apik.

Mengungkap orientasi rasional dalam tafsir Ibnu Taimiyah sangat penting artinya. Dari segi sejarah, tampilnya Ibnu Taimiyah sebagai juru bicara ahlussunnah (salaf) memiliki efek signifikan dalam perkembangan wacana Ilmu Kalam. Ketika itu, kelompok Asy’ari merupakan komunitas utama yang bisa dikatakan merajai pemikiran kalam. Faktor utama yang membuat Teologi Asy’ari diterima luas oleh intelektual dan masyarakat karena banyaknya ulama dari kalangan Asy’ari yang memiliki posisi kuat dalam lingkaran kekuasaan. Kondisi ini membuat mereka memiliki akses lebih dalam memberlakukan mazhab Asy’ari sebagai mazhab resmi negara. Hal ini mirip dengan kondisi yang kita hadapai saat ini, yang mana teologi Asy’ari menjadi kecendrungan umum dalam masyarakat umum dan akademisi. Dengan mengungkap bentuk orientasi rasional dalam tafsir Ibnu Taimiyah maka kita dapat memetakan penyesuaian antara nash-nash syari’ah dan rasio dalam pemikiran tafsir Ibnu Taimiyah. Bahkan, dalam membangun orientasi dan relasi baru antara nash syari’ah dan rasio secara proporsional, tanpa adanya kesan memenangkan satu sumber dengan mengorbankan yang lain. Sekali pun atas nama takwil. Karena jika hal ini dibiarkan maka rasionalitas pemikiran luar lebih berhak berkata demikian dibanding dengan kalangan muslim. Inilah yang menjadi argumen muktazilah masa lalu ketika merasa diserang oleh kalangan pemikir Asy’ari. Bahwa konsep kita sama tapi kenapa kalian menyerang kami dengan konsep serupa. Keutuhan dalam mengikuti al-Qur’an, baik dari sisi manhaj, konten, pemahaman dan praktek akan memberikan kekokohan intelektual sebenarnya sehingga kita memiliki spesifikasi intelektual sebagaimana yang dikehendaki al-Qur’an itu. Sehingga konsep utama peradaban Islam terlihat unggul dari berbagai segi debanding konsep apa pun dan di mana pun adanya. Bahkan, kita disebut berislam secara benar jika semua itu dipenuhi dengan baik.

Dari segi da’wah, judul ini penting untuk diangkat mengingat bahwa dengan mengungkap orientasi rasional dalam tafsir Ibnu Taimiyah diharapkan dapat memberikan landasan kokoh dan legalisasi bagi juru da’wah bahwa argumentasi rasional merupakan bagian dari metode dakwah yang telah lama dipromosikan al-Qur’an dan Sunnah. Bahkan, argumentasi rasional al-Qur’an dan Sunnah telah menekuk dengan sangat fantastis para penentang dakwah dari semua kalangan; komunitas pagan Arab, kalangan sekuler (dahriyin) dan komunitas kaun munafikin yang mengidap penyakit skeptis akut. Posisi teks wahyu terhadap akal selama ini menjadi polemik antara masing-masing pemikiran filosofis dalam Islam. Masing-masing pemikiran filosofis mengakui bahwa cara yang mereka tempuh dalam memberlakukan teks-teks ketika menghadapi pertentangan dengan akal adalah cara yang tepat dan sempurna. Walaupun tidak sedikit terlihat bahwa pemikir teologis terkadang mendahulukan akal untuk tidak mengatakan menciptakan hegemoni dan superiorotas baru bagi rasio ketika berhadapan dengan teks-teks syari‘at dalam banyak kasus dengan menetapkan akal sebagai standar utama kebenaran. Sehingga rasi menjadi tuan sedang wahyu hanya sebagai pengekor. Kalau prinsip ini benar maka al-Qur’an bisa menjadi kitab kaum sekuler dan liberal. Ditafsirkan seenaknya saja oleh masing-masing pemikir berdasarkan prinsip rasional mereka nmasing-masing, tanpa meberikan hak apa pun kepada wahyu untuk menjelaskan dirinya sendiri, seperti yang dikhehendaki Allah. Naudzubillah. Inilah yang terjadi dalam aktivitas intelektual kaum orientasli dan pengikut mereka dari kalngan liberal dalam setiap masa. Argementasi kekafiran dan sekuler mereka hanya direproduksi denga format yang lebih baru berdasarkan temuan mutakhir silmu pengetahuan yang tersekulerkan, termasuk Hermenenuutika Barat, yang digadang-gadang sebagai rumusan tafsir baru, pengganti ushul tafsir. Sungguh hal ini telah dilakukan oleh Nasr Hamid Abu Zaid dalam karya intelektualnya; Mafhum an-Nash. Dan al-Hamdulillah, telah diungkap secara brilian oleh Ust. Fahmi salaim dalam sebuah karya kademik, Kritik Terhadap Studi al-Qur’an Kaum Liberal.

Jika kita melihat kapasitas yang dimiliki Ibnu Taimiyah dalam sisi ilmiah (akademik), dapat disimpulkan bahwa da’wah yang dilakukan tampak konprehensif, baik dari segi materi maupun dari segi objek. Dari segi materi, kita mendapati Ibnu Taimiyah memiliki kapasitas sebagai seorang da’i yang mumpuni dengan bermodalkan semua wawasan keislaman yang berkembang pada zamannya. Maka tidaklah mengherankan kalau karyanya mencakup semua bidang keilmuan Islam, hingga merambah bidang Filsafat yang selama ini banyak dicerca oleh ulama sebelum dan semasanya. Dari sisi objek, Ibnu Taimiyah ikut berpartisipasi aktif menda’wai semua lapisan masyarakat, baik dari kalangan kaum muslimin maupun non muslim. Bahkan terhadap kaum muslim sendiri, dia menda’wahi pemimpin negara dan rakyat biasa secara bersamaan.

Dari sisi politik, pemikiran Ibnu Taimiyah telah berpengaruh pada beberapa pemikir, komunitas da’wah dan beberapa komunitas politik seperti partai, lembaga kemasyarakatan dan negara. Dengan mengungkap orientasi rasional dalam hal ini maka bisa dipahami bagaimana masing-masing kelompok di atas berusaha mempertahankan eksistensinya. Apalagi kita mengenal bahwa Ibnu Tainiyah memiliki teori tersendiri tentang politik Islam yang tertuang dalam kitabnya al-Siyâsah al-Syar’iyah. Karenanya, mengungkap orientasi rasional dalam tafsir Ibnu Taimiyah tampaknya relevan untuk diangkat sebagai bahan penelitian.

Ada beberapa alasan yang melatari kenapa judul ini menjadi pilihan penulis, diantaranya :

  1. Ibnu Taimiyah memiliki konsep integrasi wahyu dan akal yang sangat berbeda dengan konsep sarjana muslim lainnya. Kiranya konsep ini perlu dikonfirmasi untuk melihat hal-hal yang relevan dalam mengatasi problema yang sedang dihadapi umat muslim saat ini, terutama dalam masalah tafsir al-Qur’an.
  2. Ibnu Taimiyah merupakan ilmuan yang tergolong kontraversial. Bagi pendukungnya, ia merupakan mujaddid, pemberantas bid’ah dan monumen keilmuan yang kokoh. Tapi bagi sejumlah kritikusnya, Ibnu Taimiyah dipandang tidak lebih dari seorang mujassimah, pembual, dan penebar fitnah. Karena itu, perlu adanya penelitian yang berusaha menjadikan tulisan-tulisan Ibnu Taimiyah sebagai juru bicara. Darinya kita bisa melihat sejauh mana kebenaran dan kesalahan kedua penilaian di atas.
  3. Sejak munculnya semangat keislaman di beberapa negeri muslim, sering terdengar seruan kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah serta kehidupan para salaf. Dalam seruan tersebut, Ibnu Taimiyah sering disebut-disebut sebagai ikon yang dipercaya mampu menjadi juru bicara yang mendamaikan antara kecendrungan wahyu dan akal. Sehingga penelitian ini diharapkan dapat merepresentasikan ajakan tersebut dan sejauh mana efektifitasnya dalam menyelesaikan dan mendamaikan beragam pemikiran, dengan mengembalikan pemahaman worldview, konsep-konsep utama dan semua bentuk perdebatan dan pertentangan kepada hakim utama; al-Qur’an dan Sunnah, sebagaimana seruan Allah Swt dalam al-Qur’an. Karena, seperti diyakini. Kondisi kesatauan ummat dan keberhasilannya tidak akan tercapai kecuali dengan menempuh metode yang telah ditempuh oleh Rasulullah saw diawal dakwahnya.

About the Author

- Ketua Program Kajian Islam PSI Al-Manar & Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Al-Manar

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Close
Dukung Kami !!!
Klik tombol dibawah ini, Terima Kasih